Sosok itu mendekat, mengangkat pisau perlahan dan tanpa suara, ujung pisaunya diarahkan tepat ke arah Arga.
**
Sementara itu, di tempat lain, Fenny mondar-mandir di ruang tamu, menggenggam ponselnya erat-erat. Setiap detik terasa lambat, setiap detak jam di dinding terdengar menekan dada.
“Arga, kenapa kau belum juga pulang?” gumamnya pelan dengan rasa gelisah yang menyelimuti hatinya.
Ia menekan nomor di ponselnya lagi. Sambungan tersambung ke Tatik. “Bu, sampai sekarang, Arga belum pulang juga, aku coba telepon, tapi tak ada jawaban.”
Di seberang sana, terdengar helaan napas berat. “Aku juga heran, tadi Harto bilang; Arga sempat keluar dari perusahaan setelah ada sedikit keributan. Tapi setelah itu, dia menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana.”
Fenny memejamkan mata, perasaannya kian tak enak. “Hil … hilang? Maksud Ibu, tidak ada yang melihat dia?”
“Tidak ada, bahkan satpam pun tidak melihat dia keluar lewat gerbang utama.”
Keadaan pun mendadak sunyi sesaat, hanya suara detak jam yang terdengar di antara mereka.
Fenny menelan ludah, lalu dengan cepat menutup telepon dan menekan nomor lain, yaitu nomor suaminya, Harto. Telepon itu berdering lama sebelum akhirnya terdengar suara berat di ujung sana. “Ya, ada apa?”
“Arga belum pulang sampai malam ini, dia ke mana ya?”
Suara di seberang terdengar lelah. “Dia sudah dicari anak buahku. Semua area perusahaan dan parkiran sudah dicek, tapi belum ditemukan.”
Nada tegas itu tak mampu menutupi kecemasan yang terselip di baliknya.
Fenny menutup mulutnya dengan tangan. “Tuhan, semoga dia tidak kenapa-kenapa.”
“Mungkin Arga hanya butuh waktu menenangkan diri. Tapi kalau sampai besok pagi belum juga ada kabar, aku akan laporkan ke pihak berwenang.”
Telepon terputus. Fenny berdiri terpaku di ruang tamu. Lampu rumah terasa terlalu terang, tapi hatinya justru diselimuti gelap.
Dalam hati kecilnya, ia tahu, hal itu bukan sekadar hilang biasa. Sepertinya, ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya, dan Fenny bisa merasakannya.
Tak jauh dari sana, Nabila yang masih duduk di kursi rotan dekat pintu kamar, menatap kosong ke arah sumber suara. Meski matanya tak bisa melihat, telinganya tajam mendengar setiap nada dan pembicaraan orang lain.
Setelah mendengar percakapan tadi, Nabila berpikir panjang. ‘Arga? Siapa Arga?’ pikirnya bingung. Nama itu asing di telinganya. Namun, nada suara Fenny/ mertuanya terdengar begitu khawatir, seolah orang yang disebut itu sangat penting.
Ia tahu, ibu mertuanya tadi bicara dengan seseorang yang ia kenal, Ayah mertuanya - Harto.
Nama “Arga” yang terus disebut tadi membuat hatinya mulai gelisah. Ia menggenggam ujung gaunnya, menunduk, mencoba mengingat-ingat apa yang ia dengar tadi. ‘Kenapa bukan nama Dirga yang mereka sebut? Kenapa Arga?’
Nabila merasa, ada sesuatu yang salah. Detak jantungnya semakin cepat. Ia menelan ludah, suaranya lirih bergetar, “Arga … siapa Arga itu?”
Fenny yang menutup telepon sadar kalau kemungkinan Nabila mendengar percakapan tadi. Segera, wanita itu berjalan cepat menuju kamarnya dan bertanya untuk memastikannya.
“Bu?” “Iya, Nabila? Kenapa?”
Nabila menggeleng pelan, bibirnya bergetar. “Tadi, aku dengar Ibu bicara di telepon. Ibu sebut nama Arga. Siapa Arga itu, Bu? Kenapa bukan Dirga?”
Fenny terpaku di tempat. Napasnya tercekat. Pertanyaan itu terlalu menusuk ke dalam hatinya yang paling dalam.
Dalam sekejap, ruangan terasa hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Fenny menelan ludah pelan. Wajahnya memucat, tapi ia memaksakan senyum agar tidak terlihat panik. “Oh itu, Nabila,” ujarnya berusaha tenang. “Arga itu … adik kandung Dirga. Dia masih kuliah, tapi akhir-akhir ini bantu-bantu di perusahaan keluarga.”
Nabila mengernyit. “Adik kandung?” suaranya pelan, tapi nadanya jelas penuh tanya. “Iya, aku tahu, Bu. Ibu pernah mengatakan jawaban itu sebelumnya. Yang aku bingung, kenapa harus Arga?”
Fenny tersentak sedikit, tapi cepat menutupinya. “Iya, karena Arga itu … anaknya agak pendiam, tidak banyak bergaul. Makanya Ibu sangat mengkhawatirkannya.”
Suasana hening sejenak. Nabila menunduk, jari-jarinya menyentuh ujung kursi rotan. “Lantas … apa terjadi sesuatu dengan adiknya Mas Dirga itu?”
Fenny menunduk, matanya bergetar menahan gugup. “Iya, ada sesuatu, katanya Arga menghilang. Tidak ada kabar sejak tadi siang. Ia sedang dicari.”
Nabila terdiam, ia kembali berpikir panjang, merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Kepekaan yang ia miliki adalah kelebihannya.
“Kalau begitu, kenapa Mas Dirga juga belum pulang?”
“Sepertinya, ia sedang ikut mencari adiknya.”
“Lho, bukankah seharusnya dia mengabariku kalau dia ikut mencari adiknya?”
Pertanyaan itu membuat Fenny seketika kaku. Senyum yang tadi dipaksakan kini benar-benar menghilang dari wajahnya.
“Mungkin Dirga memang ikut mencari Arga, tapi karena suatu keadaan, ia tak bisa mengabarimu.”
Nabila mengangguk pelan. Namun, di balik wajah tenangnya, pikirannya berputar cepat. Ia merasa ada sesuatu yang aneh, yaitu sesuatu yang tidak nyambung antara kata dan kenyataan.
‘Ada yang janggal, tapi ….’
Ia menggenggam tangannya erat, mencoba menenangkan diri, tapi perkataan ibu mertuanya membuatnya curiga, ada sesuatu yang ditutupi.
Malam harinya, Nabila duduk di tepi ranjang, menuju suaminya yang tak kunjung pulang, entah kapan. Namun, yang jelas, malam itu terasa berbeda, yaitu rumah yang begitu sunyi sepi, tak seperti hari-hari kemarin.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari arah jendela. “Tok …! Tok …!”
Nabila tersentak kecil, tapi segera tahu siapa yang datang.
Awalnya ia bingung, siapa orang yang mengetuk jendela, tapi setelah diingat-ingat, malam itu jadwal untuk terapi keduanya. “Juan?” bisiknya pelan.
“Ya, ini aku,” suara itu menjawab dari luar dengan nada lembut. “Kau siap?”
Tanpa banyak bicara, Nabila mengambil tongkat lipatnya, lalu perlahan berjalan menuju jendela. Juan membantunya membuka dan menuntunnya keluar dengan hati-hati. Udara malam menerpa wajahnya, dingin, tapi menenangkan.
“Maaf aku datang terlambat,” ujar Juan sambil menyalakan motornya pelan. “Tapi kalau kau ingin sembuh, terapi itu harus dilakukan tiga malam berturut-turut.”
Nabila tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, aku sudah siap. Demi kesembuhanku.”
Mereka pun berangkat dengan mengendarai motor.
Beberapa waktu kemudian, mereka menembus jalan pedesaan yang sepi. Hanya suara mesin motor dan angin malam yang menemani. Pepohonan di kiri kanan jalan bergoyang diterpa angin, menciptakan bayangan panjang di tanah berdebu.
Setelah beberapa menit, Nabila membuka suara. “Juan …,” katanya pelan di balik deru angin. “Terima kasih, ya … sudah membantuku. Aku tak tahu bagaimana bisa harus membalas kebaikanmu, tapi entah kenapa, aku merasa aman kalau bersamamu.”
Juan tersenyum samar, walau Nabila tak bisa melihatnya. “Kau tak perlu berterima kasih. Aku hanya ingin menolong, karena aku tahu, kau tampak kehilangan arah.”
Nabila mengangguk kecil. “Aku memang kehilangan arah. Bukan hanya karena mataku, tapi, karena semuanya terasa aneh. Keluargaku, suamiku, semua orang di rumah itu seperti menyembunyikan sesuatu dariku.”
Juan menoleh sekilas. “Maksudmu?”
“Entahlah,” lanjut Nabila dengan suara bergetar. “Mereka bilang suamiku, Dirga, sedang bekerja. Tapi aku sering mendengar mereka menyebut nama lain, yaitu Arga. Aku tak tahu siapa dia, tapi setiap kali aku tanya, mereka selalu mengelak dan mengatakan kalau orang itu adalah adik dari suamiku.”
Juan tak menjawab, ia diam bukan karena berpikir untuk mencari solusi, tapi karena ia tak mau ikut campur urusan keluarga.
Motor melaju perlahan menuruni jalan menanjak menuju desa terpencil di ujung hutan. Juan terdiam, tapi wajahnya menunjukkan tanda berpikir dalam. ‘Arga … nama itu aku juga pernah dengar. Sepertinya bukan orang sembarangan ....’