Menikahi Istri Kakakku - Penyelamat - Bab 34

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

‘Arga … nama itu aku juga pernah dengar. Sepertinya bukan orang sembarangan.’

Nabila menunduk, memeluk tas kecilnya erat-erat. “Aku hanya ingin tahu kebenaran. Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin bisa melihat. Setelah itu, aku akan membuka semuanya sendiri.”

Juan menatap jalan di depan, matanya redup oleh lampu motor. “Kalau begitu, malam ini mungkin langkah pertama menuju semua jawabanmu, Nabila.”

Suasana pun hening, hanya suara motor yang terdengar, Nabila tak menjawab, masih menikmati perjalanan di malam itu yang tak pernah kesampaian semenjak dirinya buta. Untuk kedua kalinya, ia merasakan nyaman jika ada Juan di sampingnya.

**

Sementara itu, di waktu yang sama, suasana kantor pusat PT Kohen Sinergi belum benar-benar sepi. Lampu di lantai direksi masih menyala terang. Di dalam ruang besar berhias kaca tebal, Harto berdiri di depan jendela, menatap kota yang perlahan gelap.

Ia menekan nomor di ponselnya untuk kesekian kali, tapi hanya suara operator yang terdengar.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”

Harto menghela napas berat, rahangnya menegang. “Arga, kau ke mana, Nak?” gumamnya pelan, tapi penuh cemas.

Ia merasa menyesal, tadi sempat memarahinya hanya karena penampilannya yang lusuh, sehingga membuat malu keluarganya.

Tiba-tiba, Sugito masuk terburu-buru, masih mengenakan jas abu gelap. “Saya sudah suruh orang memeriksa semua lantai, Pak, tapi tidak menemukan apa pun.”

Harto menatapnya tajam. “Bagaimana mungkin? Dia tak mungkin menghilang begitu saja! Bukankah kau lihat sendiri, terakhir dia di ruang belakang bersama para petugas kebersihan?”

Sugito mengangguk perlahan. “Iya, dan sejak itu, tak ada siapa pun yang melihatnya lagi. Satpam bilang, CCTV di koridor sudah diperiksa hasil rekaman tadi siang, tapi tak ada gerak-gerik Arga.”

Keheningan menyeruak di antara mereka. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.

Harto meninju meja kerja, membuat tumpukan berkas jatuh berantakan. “Ini pasti ulah seseorang!” suaranya berat dan bergetar menahan amarah. “Kemarin dia menuduh Dion membunuh kakaknya, dan sekarang dia menghilang! Kau pikir itu kebetulan?”

Sugito menatap Harto dengan sorot mata penuh arti. “Saya juga berpikir begitu, Pak. Tapi kita harus hati-hati. Bisa saja Arga dibawa seseorang yang ingin membungkamnya sebelum dia tahu kebenaran.”

Harto berbalik, menatap foto keluarga di dinding, yaitu foto lama bersama Dirga dan Arga yang masih kecil yang terpampang di ruangan kantornya. Suara Harto melemah, nyaris bergetar. “Aku sudah kehilangan satu anak, aku tak mau kehilangan anakku lagi.”

“Saya akan kirim orang untuk mencari ke seluruh area kota malam ini juga. Kita mulai dari tampat yang dekat dulu. Kalau benar ini penculikan, mereka tak mungkin membawa Arga jauh tanpa kendaraan.”

Harto mengangguk pelan. “Lakukan, tapi diam-diam. Jangan sampai Dion tahu soal ini dulu. Mungkin, dia orang yang merencanakan hal itu.”

Di luar ruangan, langit sudah benar-benar gelap. Hanya satu lampu di koridor yang masih menyala redup, dan di ujung sana, bayangan seseorang berdiri memperhatikan dari balik pintu kaca, sebelum perlahan menghilang ke kegelapan malam.

**

Sementara itu, Arga masih dalam dilema besar. Sosok itu berhenti tepat di hadapan Arga dengan mengarahkan pisau di depan wajahnya. Sekilas, Arga hanya bisa melihat sebagian wajahnya karena cahaya redup, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdegup kencang.

Dalam ruangan gelap dan berdebu itu, Arga menahan napas saat kilatan pisau memantul samar dari cahaya lampu gantung yang berayun pelan.

Pisau itu terangkat, dan sekejap Arga berpikir hidupnya akan berakhir di sana. Namun, yang terdengar hanyalah gesekan tajam logam memotong serat tali di pergelangan tangannya.

Tali itu putus satu per satu. Lalu, orang misterius itu menunduk, menarik lakban dari mulut Arga dengan gerakan cepat. Arga meringis karena perihnya, lalu spontan ingin bertanya,

“Siapa kau? Kenapa …? Kenapa?”

Belum sempat kata itu selesai, ujung pisau dingin menempel di bibirnya. Suara rendah dan serak keluar dari balik masker:

“Diam! Jangan bersuara, kalau ingin keluar dari sini hidup-hidup.”

Arga menelan ludah, lalu dengan perasaan bingun dan berat hati pun mengangguk pelan. Wajah orang itu tak terlihat karena tertutup hoodie hitam dan masker gelap, hanya matanya yang tajam menatap lurus seperti mengukur ketakutan Arga.

Tanpa banyak bicara, orang itu berbalik dan melangkah cepat menuju pintu kayu di ujung ruangan. Tangannya memberi isyarat agar Arga mengikutinya. Arga sempat menoleh ke belakang, melihat kursi tempatnya tadi terikat, masih berdiri di tengah ruangan seolah menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi.

Udara malam yang lembap langsung menyambut saat pintu tua itu dibuka. Dari luar terdengar suara jangkrik dan angin yang menusuk dingin. Orang itu menoleh sebentar, lalu berbisik nyaris tak terdengar, “Jangan bicara. Ikuti aku sebelum mereka mengetahui pelarian kita.”

Arga mengangguk lagi, meski kepalanya dipenuhi tanda tanya, siapa yang menyekapnya dan siapa orang yang kini membawanya pergi? Namun, di saat itu, satu-satunya pilihan yang ia punya hanyalah percaya dan mengikuti langkah orang berhoodie itu, menuju kegelapan malam yang entah akan membawanya ke mana. Hal itu merupakan taruhan bagi dirinya. Bisa jadi, orang itu pun bukan orang baik-baik.

Begitu pintu itu terbuka, udara malam yang lembap langsung menyergap wajah mereka. Hawa dingin di malam itu sangata jelas berbeda dari di dalam ruangan yang terasa pengap. Namun, baru beberapa langkah keluar, sergapan bayangan dari arah kanan membuat keduanya terhenti. Arga memicingkan matanya, melihat siapa orang yang akan menyerangnya.

Terdengar suara langkah tergesa, lalu dari balik gelap muncul tiga orang bertopeng, masing-masing membawa besi dan tongkat kayu.

“Jangan biarkan mereka lolos!” Salah satu dari mereka berteriak.

Tanpa sempat berpikir panjang, orang berhoodie langsung menarik Arga ke belakang, menghindar dari ketiga orang tadi. “Bertahan di belakangku!” katanya singkat, suaranya tetap keras, tapi tenang.

Benturan pertama terjadi, logam menghantam udara, mengenai dinding besi tua. Orang misterius itu bergerak cepat, menangkis, lalu memutar tubuhnya dengan lincah, menendang satu musuh hingga terjatuh. Arga terpaku sejenak, lalu insting lamanya muncul. Meski tubuhnya masih terasa lemah, gerakan bela diri yang dulu ia pelajari, mulai muncul kembali secara refleks, dalam keadaan terdesak.

Ia menangkap tongkat lawan, memutarnya, lalu menendang keras ke arah lutut penyerang kedua. Dentuman kayu dan tubuh yang jatuh bergema di antara malam. Orang misterius itu menatapnya dengan kaget. Rupanya, orang yang ia tolong bukanlah orang sembarangan.

Pertarungan berlangsung singkat tapi brutal, hanya cahaya bulan yang menjadi saksi. Arga dan penolongnya bahu membahu, hingga akhirnya dua orang penyerang tumbang, sementara yang ketiga mencoba kabur.

Akan tetapi, sebelum sempat lari, Arga menarik kerahnya dan mengunci tangan lawan itu dengan teknik andalannya. Gerakan cepat, khas, sebuah kuncian yang pernah ia pelajari bersama seseorang di suatu tempat. Secara mengejutkan, penyerang itu berontak dengan gerakan yang membuat Arga melongo. Ia merasa, hanya satu orang yang tahu titik lemah gerakan andalannya. Setelah itu, Arga melakukan gerakan tak terduga untuk menguncinya kembali, dan akhirnya, usaha itu pun berhasil.

Tubuh penyerang itu terjepit, tak bisa bergerak. Arga menarik napas berat, lalu dengan tangan gemetar, menyibak topeng kain hitam dari wajah orang itu.

Begitu topeng terbuka, dunia seolah berhenti berputar.

Wajah pucat itu terlihat jelas di bawah cahaya bulan, dan Arga terbelalak kaget.

“Kau …?”

Matanya melebar tak percaya. Jantungnya berdetak keras, seolah tak sanggup menerima kenyataan siapa yang baru saja mencoba menyerangnya.

Suasana mendadak hening, angin malam seolah ikut menahan napas ....