Menikahi Istri Kakakku - Senyum Pahit - Bab 35

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

Suasana mendadak hening, angin malam seolah ikut menahan napas.

**

Sementara itu, di tempat lain. Udara malam masih pekat, embun tipis menggantung di antara pepohonan. Suara mesin motor memecah kesunyian di desa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Juan menghentikan motornya di tepi jalan tanah yang becek, di depan deretan rumah-rumah kayu tua. Lampu petromaks menggantung di beranda salah satu rumah, berkelip kecil ditiup angin. Suasananya seperti kembali beberapa puluh tahun yang lalu. Listrik belum sampai di sana karena tempatnya tepat di bawah kaki gunung.

“Kita sudah sampai,” ucap Juan pelan, membantu Nabila turun dari motor.

Wanita itu masih memegang tongkatnya, tapi kini langkahnya lebih hati-hati dan perlahan. Aroma dedaunan basah dan tanah yang baru disiram hujan menyeruak di udara. Mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak kecil menuju rumah yang disebut orang pintar itu.

Beberapa langkah berjalan, rumah orang yang dimaksud pun semakin dekat.

Dari balik tirai bambu, muncul sosok tua berkerudung hitam. Wajahnya keriput, tapi tatapannya tajam, seperti bisa menembus isi hati siapa pun yang datang.

“Kau datang lagi, Anak Muda,” katanya lirih. “Kau membawa seseorang lagi.”

“Iya, aku membawanya untuk ritual kedua.”

Nabila mengangguk pelan. “Tolong, sembuhkan mataku. Kuharap, kedua kalinya ini, aku bisa melihat dengan normal lagi.”

Sang orang pintar menuntunnya masuk ke dalam rumah, sementara Juan menunggu di luar, menatap langit gelap di luar yang cukup cerah. Bintang dan bulan menghiasi malam, membuatnya semakin indah.

Sementara itu, di dalam ruangan, asap dupa mengepul, menebar aroma mistik yang membuat suasana terasa asing, tapi menenangkan. Orang pintar itu mulai berdoa dalam bahasa yang tak dimengerti Nabila, sambil meneteskan air dari kendi kecil ke kedua matanya. Ritual pun dimulai, dan Nabila pun siap dengan konsekuensinya. Hanya satu di dalam pikirannya, yaitu sembuh dan bisa melihat kembali.

**

Beberapa jam berlalu. Ritual pun selesai. Nabila membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram, tapi kali ini ada cahaya samar menembus kegelapan. Bentuk-bentuk mulai tampak meski belum jelas. Ia mengerjap, air mata mengalir tanpa sadar.

“Aku … aku bisa melihat, tapi masih sedikit,” ucapnya gemetar.

Senyum tipis muncul di bibir orang tua itu.

“Iya, itu karena ritual masih belum sempurna. Datanglah sekali lagi beberapa hari lagi. Saat itu, penglihatanmu akan kembali sepenuhnya.”

Nabila terdiam. Kalimat itu menggema dalam hatinya seperti pertanda. Ia tahu, perjalanan ini belum selesai. Kebenaran dan rahasia di dalam keluarga itu akan terbongkar tanpa ada yang tahu kondisi Nabila yang penglihatannya kembali normal.

Ia pun keluar dari rumah itu, melihat Juan yang tertidur di kursi panjang yang terletak di teras ruangan. Ia pun membangunkan Juan dan memintanya untuk segera kembali meski terlihat masih gelap. Juan tak menolaknya, ia pun bergegas melangkah meski masih ada rasa kantuk dalam dirinya.

Malam itu, berjalan pulang dari rumah orang pintar bersama Juan, bulan tampak menggantung di langit, buram di matanya yang mulai pulih, tapi cukup jelas untuk membuat hatinya bergetar.

“Aku akan bisa melihat kembali,” gumamnya pelan, seolah berjanji pada dirinya sendiri.

**

Sementara itu, di tempat lain, Arga sudah berhasil membuka topeng seseorang yang mungkin ia kenal. Cahaya bulan yang pucat menyorot wajah di balik topeng itu. Arga tertegun, napasnya tercekat, pupil matanya membesar karena terkejut.

Wajah yang baru saja ia lihat bukan wajah asing.

“Novita …?” suaranya serak, nyaris tak percaya.

Novita adalah gadis yang dulu menjadi kekasihnya di Universitas Gurama, kini berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara dingin dan sinis. Senyum tipis muncul di bibirnya, tapi bukan senyum hangat yang dulu ia kenal.

“Kau masih cepat mengenali, meski dalam gelap,” ucapnya pelan, suaranya datar tapi bergetar ringan di ujungnya.

Arga mundur setengah langkah, pikirannya kalut.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau menyerangku?”

Novita tidak menjawab langsung. Ia menatap Arga dari ujung kepala hingga kaki, lalu menghela napas seolah kecewa.

“Kau seharusnya tidak terlibat dalam urusan ini, Arga. Aku datang bukan untuk melukaimu, tapi untuk membawamu kembali ke kampus Gurama.”

Arga mengerutkan dahi, mencoba memahami maksudnya.

“Kampus? Untuk apa? Aku sudah lama meninggalkan tempat itu, dan kenapa dengan menggunakan cara yang menjijikan seperti ini?”

Senyum di wajah Novita melebar, berubah menjadi menyeringai licik.

“Kau pikir begitu? Tidak, Arga. Semua yang terjadi padamu karena untuk melawan dirimu yang keras kepala. Kau tak mau menuruti semua perkataanku dan memilih untuk mengikuti kata hatimu yang tak jelas itu.”

Arga menatapnya tajam, kebingungan dan kemarahan bercampur.

“Jangan berputar-putar, Novita! Katakan yang sebenarnya! Apa maksud semua ini?”

Novita menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi dengan pandangan dingin.

“Kau tidak akan mengerti kalau hanya kudengar dari mulutku. Tapi satu hal pasti, kalau kau tidak kembali ke sana, nyawamu tidak akan aman.”

Suasana kembali tegang. Angin malam meniup rambut Novita yang terlepas dari tudungnya, membuat bayangan di wajahnya tampak menyeramkan di bawah cahaya bulan.

Arga menatapnya, kali ini lebih dalam, seolah mencari sisa Novita yang dulu ia kenal. Namun, yang ia lihat hanyalah seseorang yang keras, terluka, dan menyembunyikan sesuatu yang besar.

Arga tahu betul dengan kepribadiannya, tapi kali ini, semua itu sudah berubah semenjak ia pulang dan meninggalkan Gurama.

“Aku tak akan ke sana … sebelum tahu siapa yang sebenarnya membunuh kakakku,” tegas Arga.

Mata Novita bergetar sesaat karena kaget dengan keputusan Arga, lalu ia berbisik lirih, “apa kau serius?”

“Iya, aku serius.”

“Kalau begitu, bersiaplah menghadapi akibatnya yang akan terjadi padamu, dan hubunganku padamu, anggap saja, malam ini adalah malam terakhir. Aku sudah tahu niat busukmu, Arga. Kau sudah mempunyai wanita lain dan menikahinya, kan?” tukas Novita.

“Da-dari mana kau tahu?”

“Aku tak bisa menjelaskannya. Kau sudah keterlaluan, kau sudah dibodohi oleh keluargamu. Semua itu manipulasi, kau dimanfaatkan!” ujar Novita.

Angin malam semakin kencang, meniup debu dan daun kering di sekitar gudang tua itu. Arga menatap Novita dengan tatapan tajam penuh kecurigaan, napasnya masih berat setelah pertarungan tadi.

“Terserah apa yang akan kamu katakan, tapi kau di sini … bersama orang-orang itu,” ujar Arga dengan nada rendah, tapi penuh tekanan. “Jangan bilang padaku … kau bersekutu dengan Dion untuk menangkapku?”

Novita menatapnya tajam balik, seolah tersinggung oleh tuduhan itu. Cahaya bulan menyorot sebagian wajahnya,setengah bayangan, setengah cahaya. Ia pun menggeleng pelan.

“Aku tidak bersekutu dengan siapa pun, Arga,” suaranya datar, tapi di ujungnya ada nada getir. “Aku hanya menuruti kata hatiku sendiri. Kalau aku ingin menemuimu, aku akan datang. Kalau aku ingin kau kembali ke Gurama, itu karena aku tahu … ada hal yang harus kau hadapi di sana.”

Arga mengerutkan kening, kebingungan sekaligus marah.

“Kata hatimu?” ia menegaskan dengan nada sinis. “Kau menyerangku, mengikatku, hampir membuatku mati di tempat ini dan kau menyebut itu kata hatimu?”

Senyum tipis muncul di wajah Novita, tapi kali ini senyumnya bukan lagi sinis, melainkan tersenyum pahit.

“Kau tidak mengerti, Arga. Aku harus melakukannya karena ....”