“Kau tidak mengerti, Arga. Aku harus melakukannya karena aku ... aku menggunakan cara keras karena sudah membencimu.”
“Membenciku?”
“Iya, aku sudah memberikanmu hati dan cinta, tapi kau mengabaikanku.”
Arga menatapnya dalam-dalam, mencoba membaca kebohongan atau ketulusan dari nada suaranya. Tapi yang ia lihat hanya seseorang yang terjebak di antara dua sisi, seperti dirinya sendiri.
“Kalau begitu, kenapa tidak kau bicarakan dengan jujur sejak awal?” desak Arga.
Novita menunduk, lalu berbisik lirih, nyaris seperti orang yang menyesal:
“Karena tidak semua kebenaran bisa disampaikan tanpa harga yang harus dibayar, Arga.”
Hening sesaat. Hanya suara jangkrik malam dan helaan napas keduanya yang terdengar.
Arga menatapnya sekali lagi, kali ini dengan campuran emosi, antara rindu masa lalu dan kecurigaan masa kini.
“Aku tidak tahu lagi harus percaya siapa,” gumamnya.
Novita menatapnya tajam, kemudian melangkah mundur perlahan ke dalam kegelapan.
“Percayalah pada dirimu sendiri, Arga. Hanya itu yang tersisa.” Angin malam berputar liar, membawa debu dan serpihan daun kering berputar di antara dua sosok yang kini saling berhadapan lagi.
Arga menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Novita. Tatapannya bukan lagi curiga, melainkan tekad dingin yang tak bisa digoyahkan.
“Kini, sudah aku putuskan, aku tidak akan kembali ke Gurama,” ujarnya tegas. “Apa pun alasanmu, aku tak akan melanjutkan kuliahku di sana. Tolong sampaikan pada dosen.”
Novita menarik napas panjang, matanya berkilat di bawah cahaya bulan.
“Kau pikir kau bisa semudah itu, Arga?” katanya dengan nada nyaris meledak. “Semua yang terjadi di kampus itu belum selesai. Mereka masih mencarimu, dan kalau kau menolak kembali, berarti kau menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk mendapatkan nilai yang bagus.”
Arga mengepalkan tangan.
“Lebih baik begitu dari pada kembali ke sana, aku bisa melanjutkan kuliahku di tempat lain,” ujarnya dingin.
Mata Novita menyipit. Ia menurunkan jaketnya sedikit, memperlihatkan emblem kecil berbentuk lingkaran dengan ukiran huruf “Ω” di dada kirinya.
“Kalau begitu … aku tak punya pilihan lain.”
Dalam sekejap, tubuh Novita bergerak cepat. Ia melesat ke depan, tinjunya menghantam udara dengan tenaga besar. Arga menangkisnya, terdengar bunyi “plek!” keras saat tulang mereka bertemu.
Pertarungan pun kembali pecah. Gerakan keduanya saling menyambar di bawah sinar bulan pucat. Arga memutar tubuh, menendang ke arah perut Novita, tapi gadis itu memutar badan dan menahan dengan lutut, membalas dengan pukulan siku ke arah wajah Arga.
“Berhenti, Novita! Aku tidak mau melawanmu!” seru Arga sambil mundur setengah langkah. Namun, Novita tidak berhenti. Ia terus menerus menyerangnya karena mungkin sudah terlanjur benci.
“Kalau kau tidak mau kembali, maka aku akan memaksamu!” teriaknya, sambil menghantamkan serangan bertubi-tubi yang membuat Arga terdesak.
Arga menahan serangan demi serangan. Namun, satu pukulan keras menghantam bahunya, membuat tubuhnya tersentak. Ia bergeser, menendang balik, kali ini mengenai pinggang Novita hingga tubuhnya terpental ke tanah.
Keduanya terengah-engah. Cahaya bulan menyorot wajah mereka yang penuh keringat dan debu. Arga tahu, Novita memaksanya kembali mungkin punya tujuan lain.
“Kau dari dulu masih sama, masih keras kepala dan tidak berubah,” ucap Novita, mengusap darah di sudut bibirnya. “Selalu berpikir bisa menanggung semuanya sendirian.”
Arga menatapnya lekat-lekat, nada suaranya rendah, tapi menggema.
“Dan kau masih sama, selalu memaksakan kehendak dengan alasan ingin menolong.”
“Kau selalu memilih jalan yang sulit,” gumamnya lirih.
Arga tak menjawab, ia hanya terdiam karena posisinya sudah terpojok.
Mereka saling menatap untuk beberapa detik. Mereka adalah dua masa lalu yang kini saling melukai. Namun, sebelum salah satu sempat bicara lagi, suara deru kendaraan terdengar di kejauhan. Lampu-lampu senter mulai menyorot ke arah mereka.
Novita menoleh cepat.
“Mereka datang. Mulai sekarang, kita sudah tak ada hubungan lagi, kita putus,” bisiknya.
Arga terkejut, menoleh ke arah cahaya itu, lalu kembali menatap Novita yang kini berdiri dengan senyum getir.
Seketika, dua bayangan lain yang tadi tersungkur, kini bangkit lagi, membuat Arga menegakkan tubuh, bersiap bertarung lagi. Namun, sebelum bentrokan berikutnya dimulai, orang berhoodie yang menolong Arga tadi menahan bahunya dan berbisik cepat, “aku baru menelepon pihak keamanan, dan mereka akan ke sini secepatnya.”
Mendengar pernyataan itu, mereka bertiga saling pandang dan terlihat jelas raut wajah takut. Sudah bisa dipastikan, orang-orang itu bukanlah orang Kohen, melainkan orang Gurama yang dibayar oleh Novita. Sementara, orang berhoodie tadi, merupakan orang Kohen, tapi identitasnya belum jelas.
Dalam sekejap, ketiga orang itu menghilang ke balik gelap malam, meninggalkan Arga dan orang berhoodie yang masih berdiri diam.
Sebelum Arga sempat bertanya lebih jauh, Novita menghilang, meninggalkan bayangan tubuhnya yang samar di bawah sinar bulan, sementara Arga berdiri diam di depan gudang, dengan dada yang sesak oleh tanda tanya baru.
Cahaya lampu mobil pun datang, menyilaukan pandangan Arga. Sementara sosok berhoodie tadi memerima panggilan telepon dari seseorang. Sosok itu berbicara dengan nada berat dan datar.
“Alan … cepat kembali ke sini. Arga tidak tahu identitas kita, kan?” ucap seseorang dari balik telepon.
“Siap, Bos. Dia tidak tahu,” jawabnya lalu segera melangkah pergi. Alan menarik tudung hoodie hitamnya hingga menutupi sebagian besar wajahnya, lalu melangkah cepat ke kegelapan. Langkahnya nyaris tak bersuara, seperti bayangan yang bergerak di antara pepohonan yang rindang.
Sementara itu, cahaya mobil menyilaukan mata Arga. Ia refleks menutupi sebagian matanya dan menyipitkan kelopak matanya.
Seseorang pun ke luar dari mobil itu. “Pak, Arga ditemukan,” lapornya pada seseorang di balik telepon. Rupanya, ia adalah anak buah Pak Harto yang ditugaskan mencari Arga. Namun, entah kenapa, setelah pertarungan dengan Novita tadi, tubuh Arga lemas. Ia pun ambruk dan tak lagi apa yang terjadi padanya. Hanya kegelapan yang menyelimuti pandangannya.
**
Beberapa jam kemudian, di rumah keluarga besar itu, suasana terasa tegang. Malam yang gelap, masih menyelimuti langit. Fenny bergegas menyambut dengan wajah pucat, sementara Nabila yang masih mengenakan pakaian rumah tampak berdiri di ujung tangga, bingung dan cemas. Bu Tatik dan Lusy ikut menatap dari ruang tamu, tapi sorot mata Arga yang baru terbangun dari pingsannya seakan menembus mereka satu per satu.
Ia tahu, di antara wajah-wajah itu … mungkin ada pengkhianat.
Fenny berlari menghampiri anaknya.
“Syukurlah kamu selamat, Nak.”
Arga hanya tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Bu.”
Tatapannya kemudian bergeser ke arah Bu Tatik dan Lusy yang berdiri tak jauh dari sana. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa curiga, entah siapa di antara mereka yang berhubungan dengan Dion atau Novita hingga sampai menculik Arga. Tapi Arga menahan diri, memilih untuk diam karena sekarang belum waktunya.
“Istirahat dulu,” kata Fenny lembut. “Kami semua khawatir padamu.”
Arga hanya mengangguk. Namun, saat matanya bertemu dengan Nabila yang berdiri di ambang pintu kamar, senyum tipis terlukis di bibirnya.
“Kau tak perlu khawatir, Nabila,” katanya, berusaha lembut seperti biasanya memerankan peran Dirga. “Aku berhasil menyelamatkan Arga … adikku.”
Nabila tampak lega, meski rautnya masih menyimpan tanya. Ia memang tak bisa melihat, tapi kepekaan itu adalah kelebihannya, dan saat itu, penglihatannya sudah mulai kembali.
“Syukurlah, aku sempat takut sesuatu terjadi padamu.”
Arga hanya tersenyum kecil, lalu melangkah menuju kamarnya, menutup pintu pelan. Namuh, dalam hatinya, amarah dan kecurigaan itu terus membara.
Secepatnya, ia bersumpah akan mencari tahu siapa sebenarnya mata-mata Dion atau Novita yang bersembunyi di antara mereka ....