Secepatnya, ia bersumpah akan mencari tahu siapa sebenarnya mata-mata Dion atau Novita yang bersembunyi di antara mereka.
Setelah itu, Nabila menyusul ke kamar. Ia yang sedari dulu curiga dengan suaminya – Dirga pun menyipitkan pandangannya, tapi usaha itu sia-sia karena penglihatannya masih belum sembuh sepenuhnya.
“Na ... Nabila, kau kenapa?” tanyanya bingung dengan apa yang dilakukan tadi.
“Enggak ... enggak ada. Aku cuman mau nanya. Arga itu orangnya gimana? Kok bisa-bisanya kau sebagai kakak kok membelanya? Bahkan sempat melindunginya? Apa sih, istimewanya?”
Arga pun tersentak kaget mendengar pernyataan itu. Ia tak tahu harus bagaimana lagi untuk menjawabnya agar Nabila tak mencurigainya.
“Arga itu ... adik kesayanganku. Ia anaknya manja. Jadi, aku harus melakukan hal ekstra demi melindunginya, karena terkadang ... ia bertindak semaunya sendiri.”
“Oh begitu. Lantas, Arga yang kau sebut-sebut tadi, sekarang dia ada di mana? Kok sampai saat ini, aku belum pernah mendengar suaranya.”
‘Sial, sepertinya Nabila mulai curiga dengan kebohongan ini. Aku garus gimana? Mau aku teruskan atau berhenti dan berkata jujur saja? Tapi kalau aku jujur, aku takut merusak suasana hatinya,’ batin Arga mulai merasa panik. Ia tahu, sepintar-pintarnya menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium bau busuknya juga.
“Dia ... dia sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Kenapa tak bicara di sini saja, nanti aku sampaikan padanya.”
“Enggak bisa,” sela Nabila dengan cepat, “aku ingin bicara langsung dengannya.”
“Baiklah, kalau nanti dia sudah sembuh, akan aku ajak ke sini.”
“Beneran?’
“Iya, sekarang kamu tidur, ya, Nabila sayang. Udah malam, aku sangat ngantuk karena tadi sempat pingsan.”
Nabila tak menjawab, ia hanya mengangguk dan Arga pun membantunya merebahkan diri di kasur, dan malam itu, mereka berdua pun tertidur lelap.
**
Pagi harinya. Arga tidak masuk kerja keesokan harinya. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, bukan karena ada suatu urusan, melainkan dendam yang sejak semalam merayap dan menguasai pikirannya.
Bukan karena Novita yang melakukan tindakan kekerasan dengan menculiknya, tapi sikap Dion yang angkuh membuatnya marah. Ia merasa, tak akan lama lagi, Dion akan menghancurkan keluarganya.
Begitu bayangan wajah Dion muncul lagi di kepalanya, sikap yang dingin, tenang, dan seolah paling benar, dadanya kembali sesak oleh amarah yang tak sempat ia tumpahkan dulu. Yang paling ia benci, karena Arga tahu, Dion lah yang membunuh kakaknya, melakukan sesuatu agar kakaknya mati tanpa ada jejak.
Sejak saat itu, dendam menumbuhkan akar. Lalu, sosok yang berhoodie tadi malam pun membuatnya penasaran. Tiba-tiba ia hilang begitu saja tanpa pamit atau kata terakhir yang terucapkan.
Harinya saat itu, ia habiskan dengan mencari petunjuk dengan tujuan untuk melakukan balas dendam. Ia mengeluarkan motornya di dalam bagasi. Sekilas, ada mobil kakaknya yang masih terparkir di sana. Namun, ia tahu, dengan adanya mobil kakaknya yang masih utuh, berarti pembunuhan itu sudah direncanakan dengan baik oleh Dion.
Arga melaju dengan motornya menuju ke tempat kerja. Saat ia pergi, Nabila mengawasinya, meski tak bisa melihat, ia mampu mendengar ada suara deru motor yang tak mungkin Dirga yang menaikinya.
Setelah sampai di perusahaan. Ia tak menemukan Dion di kantornya, lalu ia memutuskan untuk menyusuri beberapa rute yang dulu sempat ia hafal sesuai dengan keterangan anak buah ayahnya. Ia menunggu di seberang warung kopi, tempat Dion kadang lewat, tapi nihil. Lalu ia berpindah ke persimpangan dekat rumah sakit, tapi masih tak ada juga ia di sana.
Baru menjelang sore, saat sinar matahari mulai jatuh ke warna jingga kusam, ia melihat sosok itu, bukan tak lain selain Dion, turun dari mobil hitam polos, membawa setumpuk berkas di tangannya.
Detik itu juga, jantung Arga berhenti sepersekian. Napasnya berat, penuh bara.
“Ketemu juga,” gumamnya rendah.
Ia memperhatikan dari balik kaca gelap tempat ia bersembunyi. Dion rupanya tidak sendirian. Ada dua pria lain yang menyertainya, tampak seperti rekan kerja atau pengawalan tidak resmi. Situasi ini sama sekali tidak ideal. Menyerang sekarang sama saja bunuh diri. Belum lagi tempatnya semi-terbuka, lalu-lalang orang masih jelas terlihat, dan ada beberapa kamera CCTV menempel di sudut-sudut bangunan.
Arga mengepalkan tangannya, jemarinya memutih karena terlalu kuat menahan emosi. Mata itu ... ia ingin sekali menatap Dion dari jarak yang begitu dekat sampai pria itu sadar bahwa kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah membiarkan Arga keluar dengan napas tersisa.
Namun, ia bukan orang bodoh. Belum saatnya ia melakukan hal itu. Ia sadar, saat itu baru melakukan pengintaian, bukan penyerangan. Hari itu, untuk memastikan lawan tidak sadar bahwa ia diburu.
Ia menunduk sedikit, merapatkan posisi duduk agar tak mudah diketahui orang. Matanya tidak lepas dari Dion walau hanya satu detik.
Kakaknya pernah berkata, dendam yang matang adalah dendam yang tidak tergesa-gesa. Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa ia benar-benar memahami makna kalimat itu. Seolah, ia belum memukul, melainkan baru mengencangkan kuda-kuda.
Beberapa saat kemudian, mobil Dion pun kembali berjalan. Arga berdiri, menjaga jarak aman, mengikuti dari kejauhan. Ia kembali mengenakan helm dan menaiki motor sportnya. Mesin dinyalakan dan ia secara sembunyi mengikutinya.
Permainan baru saja dimulai. Dion bahkan belum sadar bahwa ia kini adalah buruan.
**
Sementara itu, jauh dari bayang-bayang Arga dan ambisi balas dendamnya, Nabila sedang mengalami kegelisahan yang sama sekali berbeda. Sejak bangun pagi tadi, tubuhnya terasa aneh, tidak seperti biasanya. Kepalanya sedikit pening, perutnya seperti melilit tanpa sebab, dan aroma makanan apa pun membuatnya ingin mundur selangkah. Apalagi, ia tadi sempat mendengar bunyi deru motor yang sama sekali tak ia kenal.
Ia duduk di tepi ranjang, memegangi perutnya pelan. Mual itu datang lagi.
Awalnya ia kira hanya kecapekan atau masuk angin, tetapi setelah beberapa hari belakangan rasa tidak nyaman itu muncul dengan pola yang sama. Kini, pikirannya mulai menyusun kemungkinan lain. Tangannya refleks menyentuh dada, napasnya teratur, tapi berat, seolah jantungnya baru saja menggumamkan jawaban yang membuatnya gugup sendiri. Hanya hari itu, berbeda dengan hari lainnya.
“Jangan-jangan …,” bisiknya hampir tak terdengar.
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Rasa hangat yang tak biasa merayap melalui batas emosinya, percampuran antara takut, rindu, dan harapan yang samar. Ia merasa, hubungannya dengan sang suami belakangan memang mulai membaik setelah drama kecelakaan yang diduga Dirga telah meninggal. Dan jika benar dugaannya, mungkin itu adalah awal baru, atau justru bab baru yang sama sekali tak ia duga.
Nabila menggenggam ujung selimut, menatap lantai kamar yang sunyi. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa minggu lalu. Kecelakaan yang ia alami memang sangat tragis. Namun, bagaimana bisa, Dirga masih hidup?
Ia menelan ludah, gugup. “Tidak mungkin atau justru ... mungkin saja?”
Dalam diam, tubuhnya memberi jawaban sebelum keberaniannya siap menerimanya. Bukan sekadar mual biasa.
‘Kalau pria itu bukan Dirga, aku mengandung anak dia ...?