Menikahi Istri Kakakku - Pria yang Akrab - Bab 38

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

‘Kalau pria itu bukan Dirga, aku mengandung anak dia?’ batin Nabila dalam hatinya.

Ada sesuatu yang sedang tumbuh, yaitu sesuatu yang bisa mengubah arah hidupnya entah ke mana. Hubungan di malam itu, rupanya benar-benar ‘membuahkan hasil’ meski ia tak bisa melihat suaminya secara langsung, tapi masih merasakan sesuatu yang masuk ke dalam dirinya.

Diam-diam, Nabila memutuskan membeli test pack. Ia tidak ingin siapa pun, termasuk suaminya tahu, sebelum ia benar-benar yakin. Kini, ia bisa berjalan sendiri karena pandangan dalam matanya sudah tak sepenuhnya gelap. Sore itu, setelah pura-pura hendak ke minimarket untuk membeli keperluan dapur, ia menyempatkan diri berhenti di apotek kecil di sudut jalan. Jemarinya gemetar saat membayar, seakan benda mungil itu bukan alat uji, melainkan kunci perubahan besar dalam hidupnya. Namun, ia tidak langsung pulang. Ada ketakutan yang menempel kuat pada pikirannya, yaitu bagaimana jika benar?

Ia butuh seseorang untuk mendengar tanpa menghakimi, dan nama pertama yang muncul di kepalanya adalah Juan.

Bukan karena Juan adalah keluarga, melainkan karena pria itu orang yang selalu hadir ketika ia sedang kacau. Meski kepribadiannya pendiam, tapi ia tahu bagaimana membaca kegelisahan. Lagi pula, Nabila tidak punya teman dekat yang cukup aman untuk menyimpan rahasia sebesar itu.

Tak ada basa-basi, tak ada tanda tanya sia-sia. Juan memang selalu begitu: ringkas, tapi sigap. Tanpa diduga dan disadari sebelumnya, ada suara yang memanggilnya saat berjalan sendirian menggunakan tongkat.

Ketika mereka bertemu, Juan langsung tahu ada sesuatu yang salah dari wajah Nabila dengan pucat, cemas, dan matanya enggan menatap lurus.

“Kenapa kamu berjalan sendirian? Ke mana suamimu” tanya Juan perlahan.

Nabila menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan. Lalu, dari dalam tas kecilnya, ia mengeluarkan plastik kecil berisi test pack yang masih tersegel. Juan mengerjap pelan, terdiam.

Bukan terkejut, lebih kepada memastikan bahwa ia mengerti situasinya dengan benar.

“Aku … merasa ada yang aneh pada tubuhku,” suara Nabila nyaris bergetar, “Jadi, aku membeli ini untuk mengetesnya. Tapi, aku tak mungkin bisa membacanya.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk, Juan menghela napas panjang. Ia tidak menghakimi, tidak juga mengasihani. Ia hanya menatap Nabila sebagai seseorang yang sedang menanggung beban berat.

“Jadi kamu mau aku temenin?”

Nabila mengangguk pelan.

Juan bersandar ke kursi, lalu berkata dengan suara rendah namun pasti, “Kalau kamu siap, kita cek sekarang. Aku nggak akan ninggalin kamu.”

Ucapan itu sederhana, tetapi bagi Nabila, rasanya seperti pegangan di tengah tebing yang licin. Ia menelan ludah, lalu menggenggam test pack itu lebih erat.

Malam itu, ia akan mengetahui jawabannya, dan entah ia siap atau tidak, hidupnya sedang menuju persimpangan yang tak bisa ia elakkan.

Juan mengajak Nabila ke rumahnya saja agar aman dan tak ada orang lain tahu.

“Di sini terlalu terbuka. Kalo kamu panik nanti, orang-orang bisa lihat,” katanya pelan.

Nabila pun akhirnya mengangguk menuruti saran dari Juan. Ternyata, Rumah Juan berada tidak jauh dari jalan itu, sebuah hunian sederhana dua lantai yang tampak tenang dari luar. Saat mereka tiba, rumah itu kosong dan senyap, bahkan tidak ada suara televisi atau percakapan keluarga.

“Orang rumah sedang ke luar kota,” Juan menjelaskan sambil membuka pintu. “Kamu tenang saja, nggak ada yang bakal lihat, dan aku enggak bakal bertindak jahat padamu.”

“Juan, kamu baik banget. Aku ingin tahu, kamu itu sebenarnya siapa?”

Juan pun terdiam sesaat, menatap Nabila sebentar, lalu tersenyum.

“Aku ... cuma orang biasa. Aku cuman ingin membantumu agar penglihatanmu pulih kembali.”

“Itu sajakah niatmu? Enggak ada niat lain?”

“Iya, cuman itu saja, aku senang jika kehidupanmu selalu bahagia.”

Nabila tak bertanya lagi. Ia tahu, Juan selama ini baik padanya, tapi belum tahu tujuan sebenarnya apa. Enggak mungkin seorang cowok melakukan kebaikan dengan cewek tanpa sebuah tujuan. Begitulah yang terlintas di benak Nabila.

Nabila masuk dengan langkah pelan. Ada rasa gugup yang jauh lebih besar daripada ketika ia membeli test pack tadi. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga nyaris terdengar di telinganya sendiri. Juan mengarahkannya ke kamar mandi di lantai bawah.

“Aku tunggu di ruang tamu. Kalau kamu butuh sesuatu, panggil saja namaku,” katanya.

Nabila mengangguk dan menutup pintu. Tangannya gemetar saat membuka bungkus test pack, sementara pikirannya penuh suara-suara ketakutan yang berkejaran. Proses itu hanya memakan waktu kurang dari satu menit, tetapi bagi Nabila rasanya seperti selamanya.

Ia tak bisa melihat dengan jelas, hanya pandangan samar saja. Garis pertama muncul, diikuti perlahan oleh garis kedua.

Meski buram, tapi ia tahu bahwa dirinya sudah mengandung hasil hubungan malam lalu. Napasnya pun tercekat, dunia seakan berhenti bergerak.

Tanpa sadar, air matanya menetes, bukan karena sedih semata, tapi karena hidupnya tiba-tiba berubah arah dalam sekejap.

**

Sementara itu, di tempat lain, Arga pulang dengan pikiran penuh strategi tentang Dion. Bagaimana cara agar Dion tak lagi bekerja di perusahaan milik keluarganya. Namun, sesampainya di rumah, ia mendapati ruang tamu sepi, kamarnya kosong, dan dapur gelap, dan yang paling membuatnya kaget, tidak ada Nabila di rumah itu.

Arga mulai bertanya-tanya. Nabila itu buta, tapi bagaimana bisa, dia keluar dari rumah, siapa yang mengajaknya atau membantunya memberi jalan?

Kecurigaan mulai menyesaki dadanya.

Arga saat itu berdiri di tengah rumah, rahangnya mengeras. Ada rasa cemas, tapi berselimutkan kecurigaan dan kemarahan tipis, jenis kemarahan yang lahir dari ketidakpastian.

‘Ke mana dia? Dan dengan siapa?’ Arga tahu, meski dia bukanlah suami sahnya, tapi dia mulai bergantung dengan wanita itu. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena rasa cinta yang mulai tumbuh dalam dirinya.

Ia lalu mengambil jaket dan keluar dari rumah untuk mencari keberadaan Nabila.

Ia menyusuri setiap jalan, tapi Nabila tak ada di sana, hingga pada akhirnya, ia masuk ke minimarket untuk membeli minum karena sudah haus.

Arga mulai kehilangan kesabaran. Nabila yang buta itu seenaknya pergi dari rumah.

Pikirannya liar, menebak-nebak hal terburuk, termasuk kemungkinan pengkhianatan.

Arga berpikir sejenak sambil memilih minuman yang ia suka, mencoba menautkan logika dengan firasat. Lalu muncul satu lintasan singkat bahwa Nabila tidak sedang sekadar berjalan-jalan atau berbelanja. Gerak-geriknya akhir-akhir ini sedikit berubah. Ia merasa Nabila lebih pendiam, sering termenung, seolah menyembunyikan sesuatu.

Arga mengambil minuman yang ia suka. Namun, saat hendak membayar minuman itu, Arga secara tak sengaja mendengar percakapan kedua kasir minimarket. Dua perempuan itu sepertinya sedang berghibah tentang wanita buta yang datang sendirian membeli testpek tanpa didampingi oleh suaminya.

“Kalian berdua baru saja melihat wanita buta di sini?”

“Iya, Pak. Belum lama dia keluar.”

“Wanita itu bagaimana?”

“Tingginya segini,” ucap salah satu kasir sambil menunjuk ketinggiannya, “berambut hitam panjang.”

Mendengar ciri-ciri itu, Arga sudah bisa menyimpulkan kalau wanita itu pasti Nabila.

“Setelah itu, dia pergi ke mana dan sama siapa?” tanya Arga memastikan.

“Ibu tadi keluar, lalu bicara sama seorang pria.”

“Seorang pria?”

“Iya, sepertinya dia begitu akrab, dan lalu pergi, tapi aku tak tahu ke mana.”

‘Sialan! Pasti dia!’ gerutu Arga dalam hatinya ....