Menikahi Istri Kakakku - Amarah Arga - Bab 39

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

‘Sialan! Pasti dia!’ gerutu Arga dalam hatinya.

Arga membayar ke kasir, lalu mengucapkan terima kasih kaku, kemudian keluar dengan napas panjang dan darah yang mendidih. Ini bukan sekadar kekhawatiran lagi, ini ketidakpastian yang berubah menjadi kecurigaan tajam.

Meskipun Nabila bukan istri sahnya, tapi entah kenapa, jika wanita itu bersama pria lain, ia akan cemburu buta. Ia melangkah menelurusi jalan dengan ekspresi yang tak jelas, antara marah atau khawatir seseorang akan bertindak sesuatu padanya.

Arga tahu, Nabila hanyalah wanita buta yang lemah dan rapuh. Bisa jadi, orang itu akan melakukan tindakan buruk pada Nabila.

Dalam benaknya, satu nama muncul samar – Juan.

Orang yang kemungkinan muncul di sekitar Nabila, meski tidak terlalu dekat, tapi setidaknya dalam pengetahuan Arga, Nabila menjalin pertemanan dengannya, dan pria itu, cukup sering membuatnya berada di lingkaran kecurigaan.

Pikirannya mulai bergerak liar, ‘Jika benar dia, maka Nabila ....’

Arga mengusap wajahnya keras-keras. Keringat dingin bercucuran.

Sementara itu, di dalam rumah Juan, Nabila keluar dari kamar mandi dengan mata yang sedikit basah. Ia memegang test pack itu kuat-kuat, seakan takut lepas.

Juan berdiri dari sofa, menatapnya perlahan. “Hasilnya …?”

Nabila tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, memperlihatkan dua garis itu.

Juan pun terdiam. Mengerti betapa besar beban yang kini ia pikul sendirian.

Akan tetapi, mereka belum tahu, bahwa di luar sana, seseorang sedang bergerak, mencari, dan sebentar lagi kecurigaan akan menjadi ledakan.

Ia tidak tahu bahwa saat ini, hanya beberapa blok dari tempatnya berdiri. Saat itu, Nabila sedang duduk di ruang tamu rumah Juan, berhadapan dengan realita baru yang ia takutkan, sementara Arga justru mengira dirinya dikhianati.

Nabila duduk pelan di sofa, punggungnya bersandar tapi tubuhnya tetap tegang. Kedua tangan masih menggenggam test pack itu, seolah kalau ia melepaskannya, kenyataan itu juga akan hilang. Namun, tidak begitu, kenyataan justru semakin kuat karena tertahan dalam genggaman.

Juan tidak langsung bicara. Ia duduk di seberangnya, memberi ruang pada keheningan beberapa detik. Keheningan yang justru membuat hati Nabila semakin sesak.

“Berapa lama kamu curiganya?” tanya Juan akhirnya, suaranya rendah dan hati-hati.

“Sudah beberapa hari aku mengalami hal ini,” jawab Nabila, matanya tak fokus. “Aku pikir cuma kecapekan. Tapi makin hari malah makin aneh rasanya.”

Juan mengangguk pelan. “Dan kamu belum bilang ke suamimu?”

Nabila tertawa hambar, sebuah tawa yang lebih mirip napas patah. “Aku bahkan nggak yakin dia mau dengar. Belakangan dia sibuk dengan urusannya sendiri atau lebih tepatnya, sibuk dengan pekerjaannya sendiri.”

Juan menunduk sedikit, tidak membantah. Ia sudah tahu cukup banyak tentang konflik dalam rumah tangga Nabila. Bukan keseluruhan, tapi cukup untuk mengerti beban yang perempuan itu bawa setiap hari.

“Aku takut, Juan,” ucap Nabila.

Juan menatapnya. “Takut sama kehamilannya? Atau takut sama suamimu?”

Nabila diam. Lalu pelan-pelan, ucapannya pecah, “Dua-duanya.”

Ia mengusap matanya. Bukan menangis tersedu, hanya diam-diam, seperti seseorang yang berusaha tetap kuat padahal hatinya sudah remuk.

“Aku nggak tahu dia suamiku atau bukan, tapi auranya Dirga. Yang aku takutkan, jika aku hamil anak orang lain, bukan Dirga.”

‘Dirga ...,’ batin Juan, berpikir panjang, mengingat nama yang pernah terlintas saat ia sedang di rumah mereka.

Juan bersandar, lalu berkata, “Bukannya penglihatanmu sudah cukup membaik. Kamu kan bisa mengira-ngira, dia suamimu atau bukan.”

Hening sejenak. “Aku bisa bantu kamu nyari petunjuk tentang pria itu kalau kamu ragu dia bukan suamimu.”

Nabila menghela napas panjang. “Aku cuma butuh sedikit ruang untuk berpikir. Setidaknya sebelum semuanya berubah.” Nabila terdiam cukup lama, ia memang dari awal setelah mengalami kecelakaan itu, suaminya telah berubah drastis dan meski penglihatannya belum cukup jelas, ia cukup mampu mengira-ngira siapa pria itu yang kemungkinan memang bukanlah Dirga.

Juan menatapnya lebih lama, bukan sebagai pria, tapi sebagai seseorang yang mengerti beratnya diam.

“Kalau nanti kamu butuh tempat aman buat ngerasa rapuh,” katanya pelan, “kamu bisa datang ke sini kapan pun. Selama kamu belum siap bilang ke suamimu kalau kamu sudah mengandung.”

Nabila menunduk. “Juan. Kamu satu-satunya yang nggak bikin aku merasa sendirian.”

Sementara itu, di luar sana, Arga tidak tahu. Dari kejauhan, ia hanya melihat bayangan pengkhianatan, bukan kerapuhan yang sebenarnya.

Ia belum sadar bahwa yang sedang ia kejar bukan wanita yang berkhianat, melainkan wanita yang ketakutan dan butuh perlindungan dari luka lain, bukan dari dosa.

Sementara Nabila masih duduk di ruang tamu rumah Juan, mencoba menata napas dan pikirannya, Arga di luar sana semakin gelisah. Ia memutari blok jalan terakhir yang menuju ke rumah Juan.

Sebelum sampai di depan rumahnya, Arga mengencangkan rahangnya.

Ia bukan tipe yang langsung menuduh, tapi intuisi gelapnya mulai menegaskan sesuatu: kalau bukan Juan, tak ada lagi pria lain.

Langkah kakinya berhenti di kawasan rumah-rumah yang pernah ia dengar jadi tempat tinggal Juan. Di kepalanya, ia tahu, Nabila pasti ada di dalam sana bersama Juan, entah apa yang sedang mereka lakukan.

“Dia pasti ada di sini,” gumamnya lirih.

Ia menatap rumah itu, tirai jendela tertutup, lampu ruang tamu menyala redup.

Lututnya terasa berat, bukan karena kelelahan, tapi karena sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada amarah, ketakutan bahwa kecurigaannya benar.

Untuk pertama kalinya meski ia dan Nabila belum resmi menikah, Arga merasa tidak lagi punya kendali atas keadaan.

Tangannya mengepal, kukunya menancap ke telapak. Ia melangkah pelan ke pagar, tapi berhenti sebelum menyentuhnya.

Kalau benar Nabila ada di dalam ... kenapa ia tidak pulang? Kenapa ia memilih Juan daripada dirinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terdengar seperti kecemburuan, terdengar seperti rasa dikhianati. Meski Nabila bukan istri sahnya.

Arga berdiri diam beberapa saat, dadanya sesak. Lalu keputusan yang ia buat berikutnya menjadi titik awal ledakan besar yang akan segera terjadi:

Ia tidak mengetuk, tapi mengintai dulu.

Ia menunggu celah, waktu yang tepat sebelum kebenaran, atau kesalahpahaman, menghancurkan segalanya.

Di luar pagar, Arga berdiri dalam diam, hanya bertumpu pada naluri dan curiga. Ia melangkah sedikit ke sisi rumah, mencari sudut jendela yang celah tirainya tidak sepenuhnya tertutup.

Dari dalam, terdengar suara samar.

Suara Nabila sedang berbicara pada seseorang.

Arga menahan napas, tubuhnya menegang dan mengaktifkan indra pendengarannya.

“Aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana, Juan .…”

Nada Nabila bergetar, terdengar seperti seseorang yang menyimpan rahasia besar.

Juan menjawab pelan, “Kamu nggak perlu jelasin sekarang kalau kamu belum siap. Yang penting kamu aman dulu.”

“Aman.”

Kata itu menancap dalam pikiran Arga seperti paku pertama pada peti. Aman dari siapa? Dari apa? Atau bagaimana?

Arga merapat sedikit ke dinding, mencari lebih jelas.

“Aku takut kalau dia tahu, dia pasti akan salah paham,” kata Nabila lagi, suaranya pecah.

Dari sudut pandangnya, Arga tidak melihat air mata Nabila, tidak melihat test pack di meja, tidak juga melihat ruang batin yang runtuh. Yang ia dengar hanya: aku takut dia tahu, dia akan salah paham.

Dan itu tepat seperti racun di telinga seseorang yang sejak awal sudah disusupi kecurigaan. Rahangnya mengeras dan matanya semakin tajam.

Juan merespons, pelan, tapi tegas, “Kalau emang suamimu adalah orang yang bisa kamu percaya, kamu nggak perlu takut sampai sembunyi-sembunyi seperti ini.”

Kata sembunyi-sembunyi itu semakin menusuk.

Bagi Nabila, itu pengakuan ketakutan, tapi bagi Arga itu terdengar seperti perselingkuhan.

Arga memejamkan mata sejenak, menahan amarah yang berdesakan di dadanya. Ia hampir masuk begitu saja, hampir mendobrak pintu jika bukan karena kalimat berikutnya ....