Arga memejamkan mata sejenak, menahan amarah yang berdesakan di dadanya. Ia hampir masuk begitu saja, hampir mendobrak pintu jika bukan karena kalimat berikutnya.
“Nab, itu garis duanya udah kelihatan, kan?” tanyanya pelan.
Nabila menghela napas panjang, lalu berkata, “Aku cuma butuh waktu sebelum aku bisa bilang hal ini pada suamiku bahwa aku belum siap mengatakannya.”
Dari luar, itu terdengar seperti, “belum siap jujur karena ada sesuatu yang ia sembunyikan bersama laki-laki lain.”
Akan tetapi, saat pikirannya mulai berubah hitam seluruhnya, ia mendengar suara benda kecil diletakkan di atas meja.
Juan berkata pelan, “Ini keputusan besar, Nab. Tapi kamu nggak bisa simpan ini selamanya.”
Arga menahan napas. ‘Apa yang mereka maksud?’
Napasnya mulai memburu. Tangannya mengepal kuat. Detik ini, ia tinggal satu langkah dari ledakan.
Ia belum tahu bahwa yang sedang dibicarakan bukan perselingkuhan, melainkan kehamilan yang belum berani ia ceritakan. Dan pertanyaannya, Nabila hamil sama siapa? Meski Arga tahu, Nabila pernah berhubungan dengannya, tapi bisa jadi, Juan pun pernah melakukannya, begitulah yang ada di pikiran Arga, tapi kesalahpahaman itu bagai pintu neraka yang hanya menunggu sedikit dorongan.
Dan Arga baru saja menyentuh gagangnya. Ketegangan di dalam dada Arga sudah hampir mencapai puncaknya ketika tiba-tiba ....
“TRING!” bunyi gelas kaca jatuh dari dalam rumah.
Diikuti suara napas Nabila yang terdengar berat, hampir seperti tercekik sesaat.
“A-aku … pusing .…” Suaranya lirih, hampir terjatuh dari duduknya.
Juan terdengar kaget, “Nabila? Kenapa kamu pucat?” Juan mendekati Nabila dan memeluk tubuhnya agar tidak terjatuh dari tempat duduknya.
Arga tidak berpikir lagi. Dalam sepersekian detik, ada tiga hal terjadi sekaligus, yaitu rasa cemas, curiga, dan ketakutan bercampur menjadi satu hantaman besar di kepalanya, membuat nalurinya bergerak lebih cepat daripada logikanya.
“Brakk!”
Pagar tidak lagi jadi penghalang. Arga masuk ke teras, lalu menuju pintu yang tidak terkunci.
Dia membuka paksa, langkahnya berat, tapi cepat.
“NABILA!” serunya.
Juan menoleh kaget, sementara Nabila yang setengah terduduk di sofa tersentak, wajahnya pucat dan matanya masih basah.
Momen itu membeku sejenak, tiga pasang mata, salah satunya penuh emosi, kaget, salah paham dan rahasia yang nyaris pecah.
Sorot mata Arga penuh campuran amarah dan ketakutan, seperti seseorang yang merasa dikhianati dan takut kehilangan di waktu yang sama.
“Kamu .…” Suaranya rendah, tapi jelas terdengar, “ngapain di sini?”
Nabila tak bisa langsung menjawab. Napasnya goyah. Tangan yang tadi menggenggam test pack kini refleks menyembunyikannya di balik paha, tanpa sadar justru memperkuat kesan sembunyi-sembunyi.
Juan berdiri, hendak menenangkan situasi, tetapi posisi Arga sudah jelas-jelas marah dulu sebelum mendengar, dan ia pun menyerang sebelum memahami semuanya.
“Kamu ...?” Juan mencoba bicara, tapi belum sampai selesai.
“Jangan kamu yang jawab,” potong Arga dingin, matanya hanya tertuju pada Nabila. “Aku nanya ke istri aku.”
Nabila menunduk, tubuhnya gemetar oleh dua hal sekaligus, yaitu kehamilan yang baru disadari, dan kemunculan pria yang dari dulu dikira suaminya, yang salah paham total.
Di antara hening yang menekan, Arga maju selangkah, napasnya berat.
“Kenapa kamu sama dia? Kenapa diam-diam? Kenapa pergi dari rumah tanpa izin?”
Tiga pertanyaan bagaikan tiga peluru yang dilancarkan oleh Arga, sebelum ia tahu bahwa yang ia tembak adalah perempuan yang sedang berjuang untuk tidak runtuh.
Nabila menggigit bibirnya, seolah napasnya tertahan. Ia belum menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca, bukan hanya karena takut, tetapi juga karena ia tahu situasinya jauh lebih rumit dari yang bisa ia tampung sendirian.
Dan Nabila, dengan mata yang mulai basah lagi, hanya mampu berbisik pelan,
“Aku … aku bisa jelasin semuanya, kenapa aku bisa di rumah Juan.” Namun, suaranya terputus karena tubuhnya goyah sesaat. Bukan pingsan, tapi karena tubuhnya yang mulai lemas dan terasa berat karena dalam kondisi mengandung.
Juan menghela napas pendek. “Hei kau tenang dulu, dia ....”
Namun, baru setengah kalimat, Arga langsung mendorongnya dengan brutal. Juan terhuyung ke belakang, hampir jatuh menimpa meja kecil yang masih memuat test pack, terjatuh ke bawah meja.
Arga menatap benda itu, dan emosinya semakin tak terkendali.
“Kau sengaja sembunyikan ini semua kan? Kau mencari kesempatan pada Nabila?” geram Arga, matanya merah menahan amarah, lalu tangannya bergerak akan menampar Juan.
Juan bangkit, menepis tangan Arga. “Gila? Aku cuma nolong dia! Nabila di sini karena ....”
“Bugh!”
Tinju Arga melayang cepat menghantam rahang Juan sebelum ia sempat selesai bicara. Juan terpental ke sisi sofa, pelipisnya memerah. Seketika itu juga emosi, amarah balasannya bangkit.
Juan berdiri lagi dan membalas dorongan itu, kali ini lebih keras. “Kau pikir semua orang mau merebut istrimu?! Aku cuman mau membantunya!”
Arga tak mendengar apa pun selain suara kepalanya sendiri. “Kalau bukan karena kau, dia nggak akan sembunyi! Kau pikir aku nggak tahu apa rencana kalian?!”
Juan mendekat, suaranya naik, setengah menahan sakit, setengah menahan harga diri.
“Rencana?! Aku justru yang nutupin semua kelalaianmu selama ini! Selama ini kau ke mana saja? Istrimu ini harus ditemani setiap waktu karena keterbatasan penglihatan!”
Ucapan itu membuat Arga makin hilang kendali. Mereka saling dorong, saling banting bahu, tubuh membentur meja dan kursi, menghasilkan suara gaduh yang membuat rumah bergetar. Nabila menutup mulutnya, air mata jatuh makin deras, panik, takut, dan tak tahu harus melakukan apa.
“Cukup, kalian berhenti!” teriaknya, tapi suaranya seakan tenggelam di tengah amarah dua pria yang sama-sama merasa benar.
Sebuah tumbukan keras terjadi; Juan dan Arga jatuh saling kunci, hampir berubah menjadi perkelahian penuh. Napas mereka memburu. Amarah menutup logika.
Ketegangan mencapai titik di mana satu kata lagi bisa memicu sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Dan dalam kekacauan itu, test pack yang tadi jatuh dari meja, terseret getaran benturan.
Garis dua-nya terlihat jelas. Satu rahasia lagi siap pecah kapan saja.
Tubuh Arga yang mendorong Juan lagi menghentak meja kecil di samping sofa dan crik! test pack yang tergelincir, meluncur hingga berhenti tepat di depan kaki Arga. Lalu, jelas terlihat di mata Arga.
Ia refleks menurunkannya pandangan. Matanya membeku. Nafasnya terputus sesaat.
Dua garis tebal, menandakan kalau itu positif.
Arga mengangkat wajah perlahan, kini bukan sekadar kemarahan yang ada di sorot matanya, tapi keterkejutan yang mengguncang sampai ke nadinya.
“Nabila?” suaranya rendah dan serak. Napasnya terengah.
Juan menatap Nabila dengan pasrah. Nabila berdiri dengan tubuh gemetar, tapi kali ini air matanya bukan sekadar takut , tetapi titik di mana ia harus memilih kebenaran daripada kebisuan.
Dengan langkah goyah, ia maju sedikit. “Ya … aku hamil.”
“Hamil? Hamil anak siapa? Apa bajingan ini yang menghamilimu ...?”