"Dan kali ini, bukan Adrian sasarannya."
Kalimat itu menggantung, lebih berat dari kelembapan badai di luar. Lampu sorot mobil patroli Adrian menyapu gerbang vila, berhenti tepat pada satu titik yang membuat darahku berhenti mengalir. Sebuah kursi roda.
Kursi itu kosong. Satu rodanya berputar pelan, mencicit menyedihkan di tengah deru angin, seolah baru saja didorong paksa lalu ditinggalkan. Namun, bukan kekosongan itu yang mencekik paru-paruku.
Noda merah gelap mencoreng sandaran punggung dan dudukannya. Merah yang terlalu pekat. Merah yang berkilau basah di bawah terpaan hujan.
"Ayah..." Suaraku tercekat, nyaris tak terdengar.
Duniaku miring. Gelap menyergap. Aku merosot, lutut menghantam lantai marmer dingin dengan bunyi buk yang menyakitkan, tapi rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan teror yang meremukkan dada.
"Rini!"
Adrian bergerak secepat kilat. Sebelum tubuhku sepenuhnya ambruk, lengannya sudah menyambar pinggangku. Ia menarikku ke dadanya, menahan bobotku yang mendadak hilang tenaga. Aroma tembakau bercampur bau hujan dan bubuk mesiu dari pistol di tangannya menyerbu indra penciumanku—kombinasi yang memabukkan sekaligus mengerikan.
"Reza! Amankan area gerbang! Jangan sentuh kursi roda itu!" Adrian berteriak. Getaran suaranya merambat melalui dada bidangnya ke punggungku, menjadi satu-satunya jangkar realitas saat ini.
"Siap, Pak!" Reza langsung menerobos pintu depan, pistol teracung menembus tirai hujan menuju objek terkutuk itu.
Aku menggeleng lemah, pandangan kabur oleh air mata. Isak tangis histeris mulai merobek tenggorokan. "Itu darah Ayah... Adrian, mereka menyakiti Ayah... mereka mengambilnya..."
"Tatap saya. Rini, tatap mataku!"
Adrian mencengkeram rahangku lembut namun tegas, memaksa wajahku mendongak. Tidak ada dinding es di matanya kali ini. Hanya ada bara emosi, kemarahan yang membakar dan ketakutan telanjang.
"Dengarkan!" desisnya, napas memburu menerpa wajahku. "Kita belum tahu itu apa. Jangan menyimpulkan apa pun sebelum ada bukti."
"Tapi kursi roda itu..." Aku menepis tangannya, memukul dadanya dengan kepalan lemah. "Itu kursi roda Ayah! Aku tahu mereknya! Ada stiker doa tempelan Ibu di pegangannya... Aku melihatnya, Adrian! Itu milik Ayah!"
Adrian menangkap kedua pergelangan tanganku, menahannya tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang. Ritme liar di balik rusuknya mengkhianati wajahnya yang berusaha tenang.
"Saya bersumpah," ucapnya rendah, tajam seperti janji yang diukir di batu, "jika sehelai rambut pun jatuh dari kepala ayahmu karena ulah mereka, saya akan membakar dunia ini untuk menemukannya. Tapi sekarang, kamu harus bernapas. Breathe, Rini!"
Aku mencoba menghirup udara yang terasa tajam. Tapi bayangan Ayah, terbaring dengan lemah memakai selang infus, tak berdaya melawan penculiknya, terasa terus menghantui. Rasa bersalah menghantam seperti ombak pasang. Ini semua karenaku. Karena aku masuk ke dunia Adrian yang penuh monster.
"Bawa dia ke Ruang Aman," perintah Adrian tanpa menoleh, sepertinya bicara pada anggota tim keamanan lain yang baru muncul. Namun, sedetik kemudian ia meralat. "Tidak. Saya sendiri."
Tanpa peringatan, Adrian mengangkatku dalam gendongan. Aku membenamkan wajah di ceruk lehernya, bersembunyi dari hujan dan kursi roda berdarah itu.
Ruang Aman di vila ini tersembunyi di balik dinding panel kayu kamar utama. Ruangan itu sempit, lebih mirip bunker militer dengan dinding beton tebal, deretan monitor CCTV, dan persediaan medis lengkap. Tidak ada jendela, hanya lampu LED putih yang berdengung pelan.
Adrian mendudukkanku di sofa kulit hitam. Ia berlutut di depanku, menyeka wajahku yang basah oleh air mata dan keringat dingin dengan tisu. Gerakannya hati-hati, seolah aku boneka porselen retak yang siap hancur.
"Minum," perintahnya, menyodorkan sebotol air mineral.
Aku menolak. "Aku nggak butuh minum, Adrian. Telepon rumah sakit. Sekarang."
"Reza sedang mengurusnya," jawab Adrian singkat. Ia meletakkan botol di meja, lalu menggenggam tanganku yang sedingin es. "Dengar, Arini. Pelakunya, siapa pun bajingan ini paham betul cara bermain dengan pikiran. Tablet berisi video looping di kamar tadi, speaker tersembunyi, dan sekarang kursi roda... ini teror psikologis. Mereka ingin mentalmu hancur. Mereka ingin saya lengah karena melihatmu hancur."
"Bagaimana aku bisa tidak hancur?" sergahku parau. "Dia satu-satunya keluargaku, Adri."
"Dia aman," potong Adrian cepat, tatapannya mengunci mataku. "Karena saya sudah mengantisipasi ini."
Aku mengerjap. "Maksud kamu?"
Adrian menghela napas panjang. Ia tampak bergulat dengan dirinya sendiri sebelum bicara. "Tiga jam lalu, sebelum listrik padam, saya mendapat laporan intelijen tentang pergerakan mencurigakan di sekitar RS Medika Jakarta. Orang-orang yang mengawasi ayahmu... mereka bukan amatir."
Ia merogoh saku jasnya yang basah, mengeluarkan ponsel satelit dan menekan beberapa tombol sebelum menyerahkannya padaku.
"Lihat."
Layar ponsel menampilkan video live feed. Bukan rekaman berulang yang mengerikan seperti di tablet tadi. Ini siaran langsung.
Di layar kecil itu, tampak kamar rumah sakit super mewah. Peralatan medis canggih berderet rapi. Dan di sana, terbaring tenang di atas ranjang pasien, Ayah sedang tidur pulas. Dadanya naik turun teratur. Seorang perawat berseragam putih bersih sedang memeriksa infusnya.
"Ini..." Aku menatap layar, lalu Adrian. "Ini di mana? Ini bukan RS Medika."
"Mount Elizabeth, Singapura," jawab Adrian datar. "Saya memerintahkan tim ekstraksi darurat memindahkan ayahmu via medivac segera setelah kita mendarat di Bali. Kursi roda di depan gerbang itu memang milik ayahmu yang lama. Mereka mencurinya dari RS Medika setelah ayahmu dievakuasi. Darah itu? Kemungkinan besar darah hewan atau cat sintetik."
Lega menghantamku begitu dahsyat hingga kepala terasa pening. Ayah selamat. Dia sudah berada di negara lain, jauh dari jangkauan monster-monster ini.
Namun, detik berikutnya, lega berganti amarah.
"Kau memindahkannya..." Aku menatap Adrian tak percaya. "Tanpa memberitahuku? Kau membiarkanku berpikir dia diculik? Kau melihatku hampir mati ketakutan di depan sana!"
Adrian tidak mundur. Ia justru mendekatkan wajahnya. "Saya tidak punya pilihan! Jaringan komunikasi kita tidak aman. Kalau saya memberitahumu lewat telepon, mereka akan tahu. Rencana evakuasi itu harus rahasia total sampai ayahmu mendarat."
"Kau jahat," bisikku. Air mata kembali menetes. "Kau membiarkanku menderita."
"Saya melindungimu!" bentak Adrian, suaranya meninggi, memantul di dinding beton. "Kamu pikir mudah bagi saya melihatmu menangis? Kamu pikir saya tidak ingin membunuh siapa pun yang menaruh kursi roda itu? Saya hampir gila melihat wajahmu pucat, Arini!"
Ia berhenti sejenak, napasnya menderu. Tangannya yang memegang sandaran sofa di samping kepalaku gemetar menahan emosi.
"Kamu kelemahan terbesar saya sekarang," bisiknya serak. "Mereka tahu itu. Mereka menggunakan ayahmu untuk menghancurkanmu, dan menggunakanmu untuk menghancurkan saya. Saya harus selangkah lebih maju, bahkan jika itu artinya kamu harus membenci saya sementara waktu."
Kata-katanya membungkam kemarahanku. Kamu kelemahan terbesar saya. Pengakuan itu begitu telanjang, datang dari pria yang membangun kerajaaan bisnis di atas fondasi ketidakpedulian.
Perlahan, aku menyentuh pipinya yang kasar. "Aku tidak membencimu," cicitku. "Aku hanya... takut kehilangan dia."
Adrian memejamkan mata saat jemariku menyentuh kulitnya. Ia memiringkan wajah, mencium telapak tanganku lembut. "Dia aman di Singapura. Penjagaannya dua kali lipat standar presiden. Tidak ada yang bisa menyentuhnya," gumamnya. "Maafkan saya karena tidak memberitahumu lebih awal."
Pintu Ruang Aman terbuka. Reza masuk dengan langkah tergesa, wajahnya sedikit lebih lega.
"Pak," lapor Reza, melirikku sekilas. "Analisis forensik lapangan selesai. Darah di kursi roda itu darah ayam. Masih segar."
"Brengsek," umpat Adrian pelan. "Benar dugaan saya. Teror murahan."
"Ada lagi, Pak," lanjut Reza serius. Ia menyerahkan tablet retaknya ke Adrian. "Kami melacak sinyal yang meretas sistem keamanan vila dan memutar video di kamar tadi. Sinyalnya bukan dari luar."
Jantungku kembali berdegup kencang. "Maksudnya?"
Adrian menyipitkan mata membaca barisan kode di layar tablet. "Sinyalnya dari router internal," gumamnya.
"Artinya," sela Reza, "pelakunya ada di dalam area vila saat meretas sistem. Atau lebih buruk... mereka menanamkan akses backdoor fisik di perangkat kita. Dan... pola kodingnya, Pak. Bapak pasti kenal."
Adrian membeku. "Jangan bilang..."
"Burhan," Reza mengangguk, wajahnya keruh. "Ini gaya scripting Burhan. Kuno, tapi efektif membobol firewall kita."
Aku meremas tangan Adrian. Burhan. Kepala keamanan yang menghilang itu. Orang yang tahu segala celah keamanan Mahardika Group.
Adrian mengangguk kaku, rahangnya mengetat. "Orang yang menghilang lima tahun lalu... tepat setelah kecelakaan Sarah. Dia tahu semua celah keamanan Mahardika Group. Dia tahu kebiasaan saya, rute saya, bahkan protokol darurat yang saya buat."
"Dia bukan otak di balik ini," tambah Reza cepat. "Burhan itu eksekutor. Tipe prajurit yang butuh perintah. Pasti ada orang lain yang mengendalikannya. Seseorang yang tahu tentang masa lalu Bapak... dan Nyonya Sarah."
Tiba-tiba, dering ponsel memecah ketegangan. Ponselku.
Aku meraba saku gaun tidur. Layar menyala menampilkan nama penelepon.
AYAH
Napasku tercekat. Aku menatap Adrian dengan mata terbelalak. "Ayah... menelepon. Tapi... dia kan masih dibius di video tadi?"
Wajah Adrian memucat. Ia menyambar ponselku, menekan tombol loudspeaker, lalu memberi isyarat padaku untuk diam.
"Halo... Ayah?" suaraku bergetar hebat.
Hening sejenak. Hanya suara statis, seperti hujan yang direkam. Lalu, sebuah suara muncul. Suara berat yang didistorsi secara digital, namun nadanya riang mengerikan.
"Singapura indah sekali malam ini, ya, Nyonya Mahardika?"
Darahku membeku. Adrian langsung memberi isyarat pada Reza untuk melacak panggilan.
"Jangan repot-repot melacak, Reza," suara itu terkekeh. "Kalian pikir memindahkan orang tua itu ke Mount Elizabeth bisa menghentikan kami? Cerdas, Adrian. Sangat cerdas. Burhan titip salam."
Adrian menyambar ponsel itu. "Dengar, bangsat. Kalau kau sentuh dia..."
"Oh, tenang saja, Pak CEO. Kami tidak perlu menyentuhnya di sana. Kami hanya perlu memastikan kalian tahu bahwa tidak ada tempat aman. Bahkan di langit sekalipun."
Suara itu berhenti sejenak, memberikan efek dramatis yang memuakkan.
"Coba periksa saku jasmu, Adrian. Yang sebelah kiri dalam. Hadiah kecil untuk merayakan bulan madu yang tertunda."
Adrian mematung. Tangannya perlahan bergerak menuju saku dalam jasnya—saku yang seharusnya hanya bisa diakses oleh dirinya sendiri. Wajahnya menegang saat jarinya menyentuh sesuatu.
Ia menarik keluar selembar foto polaroid.
Foto itu menampilkan aku dan Adrian yang sedang tertidur di dalam pesawat jet pribadi saat perjalanan ke Bali kemarin. Sudut pengambilannya sangat dekat, tepat dari atas kepala kami.
Seseorang berdiri di samping kami saat kami tertidur di udara, memotret kami, dan menyelipkan foto itu ke saku Adrian tanpa dia sadari. Seseorang di dalam pesawat itu.
Di bagian bawah foto, ada tulisan dengan tinta merah menyala:
TIDUR YANG NYENYAK, SAYANG.
Adrian meremas foto itu hingga remuk. Panggilan terputus dengan nada bip panjang yang mengejek.
Kami tidak sendirian. Musuh bukan hanya di gerbang. Musuh sudah ada di dalam kulit kami, sedekat pakaian yang kami kenakan.
Tangan Adrian gemetar saat menatap remasan foto di tangannya.
"Mereka ada di pesawat..." desis Adrian. Suaranya terdengar seperti orang yang baru menyadari ia berdiri di atas ranjau aktif. "Burhan punya akses ke jadwal penerbangan... dan kru saya."
Adrian menatapku. Ketakutan di matanya bukan lagi tentang hantu masa lalu Sarah. Ini ancaman nyata yang siap mencabut nyawa.
"Reza," perintah Adrian dingin. "Siapkan mobil. Kita keluar dari vila ini sekarang. Jangan percaya siapa pun. Termasuk pilot jet pribadi kita."