Romansa #CEO #Romansa CEO

Pelarian di Bawah Hujan

Penulis djoedo
24 January 2026

"Reza," perintah Adrian pelan namun mematikan. "Siapkan mobil. Kita keluar dari vila ini sekarang juga. Jangan percaya siapa pun. Termasuk pilot jet pribadi kita."

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan dingin, seolah membekukan sisa-sisa oksigen di dalam Safe Room. Reza tidak membuang waktu untuk bertanya. Pria itu mengangguk tegas, jemarinya bergerak cepat di atas layar tablet, mematikan akses jarak jauh ke sistem keamanan vila agar jejak kami tidak bisa dilacak dari luar.

"Jalur evakuasi Bravo," jawab Reza singkat, suaranya tenang namun sarat urgensi. "Mobil SUV hitam di garasi belakang. Tidak ada GPS yang terhubung ke jaringan Mahardika. Saya yang menyetir."

Adrian beralih menatapku. Tatapan matanya yang tadi nyalang penuh amarah kini melunak seketika saat menyapu wajahku. Ia menyadari kondisiku, masih mengenakan gaun tidur tipis yang lembap oleh keringat dingin, kaki telanjang, dan tubuh yang menggigil bukan hanya karena suhu ruangan, tapi karena sisa-sisa teror yang baru saja menghantam mentalku.

Tanpa bicara, Adrian melepas jaket taktis yang ia kenakan. Aroma tembakau mahal dan aroma maskulin yang khas langsung menyergap indra penciumanku saat ia menyampirkannya ke bahuku. Jaket itu kebesaran, hangat, dan berat, sebuah benteng kecil yang ia bangun untuk melindungiku.

"Kita pergi, Rini," bisiknya. Tangannya yang besar dan hangat menangkup pipiku, ibu jarinya mengusap sisa air mata yang mengering di sana. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi. Pegang tanganku. Jangan lepas."

Aku hanya bisa mengangguk. Tenggorokanku tercekat. Rasa lega karena Ayah aman di Singapura bercampur aduk dengan ketakutan baru: kami sedang diburu.

Kami keluar dari Safe Room dengan langkah cepat. Lorong vila yang biasanya terlihat mewah dengan lantai marmer dan lampu kristal kini terasa seperti labirin kematian. Setiap bayangan pilar tampak mencurigakan. Setiap suara angin yang menderu di luar jendela terdengar seperti langkah kaki penyusup.

Adrian berjalan di depanku, tubuhnya menjadi perisai hidup. Tangan kanannya menggenggam tanganku erat, sementara tangan kirinya waspada di sisi tubuh, siap bereaksi terhadap ancaman apa pun. Reza memimpin jalan, sebuah pistol terselip di balik jasnya, matanya menyapu setiap sudut dengan presisi militer.

Kami tidak melewati pintu utama. Reza membawa kami menuruni tangga sempit menuju area servis, tempat para staf biasanya memuat barang. Hujan di luar turun dengan deras, seolah langit Bali pun turut menangis malam ini.

"Masuk," perintah Adrian saat Reza membuka pintu belakang sebuah SUV hitam yang terparkir di sudut gelap.

Aku merangkak masuk ke jok kulit yang dingin. Adrian menyusul di sampingku, membanting pintu hingga tertutup rapat, memisahkan kami dari deru hujan dan ancaman yang mengintai di balik kegelapan vila.

Mesin mobil menderu hidup. Reza langsung menginjak gas, membawa kendaraan besar itu menembus gerbang belakang, melaju membelah malam yang pekat.


Hujan menghantam kaca depan mobil tanpa ampun, menciptakan tirai air yang mengaburkan pandangan. Lampu jalanan hanya tampak seperti noda cahaya yang memanjang dan pecah di permukaan aspal basah. Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik. Hanya suara wiper yang bergerak ritmis dan napas Adrian yang terdengar berat di sampingku.

Aku melirik Adrian. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke spion, memastikan tidak ada kendaraan lain yang mengikuti kami. Ia tampak seperti patung es yang retak, dingin di luar, namun aku bisa merasakan gejolak panas di dalamnya. Tangan kirinya masih menggenggam tanganku di atas jok, cengkeramannya begitu kuat hingga sedikit menyakitkan, seolah ia takut aku akan menghilang jika ia melonggarkan pegangannya barang semilimeter saja.

"Sakit, Adri," kataku pelan.

Adrian tersentak. Ia menunduk, melihat jemari kami yang saling bertautan, lalu dengan cepat melonggarkan genggamannya, meski tidak melepaskannya.

"Maaf," suaranya serak. "Maafkan aku."

"Kita mau ke mana?" tanyaku, mencoba mengalihkan rasa takut yang merayap di perutku. "Kenapa kita tidak bisa pakai jet pribadi?"

Adrian menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya yang tegang ke sandaran jok. Ia menatapku, dan dalam remang cahaya lampu jalan yang menerobos masuk, aku melihat kelelahan yang luar biasa di matanya. Bukan lelah fisik, melainkan beban mental dari seseorang yang menyadari bahwa benteng pertahanannya telah ditembus.

"Burhan tahu jadwal penerbangan kita," jawab Adrian datar. "Jika dia bisa menyusup ke sistem keamanan vila dan menaruh... benda itu di sana, artinya dia punya akses ke logistik perjalanan kita. Aku tidak bisa mengambil risiko membawa kamu ke bandara. Siapa pun di sana bisa saja sudah dibayar."

Aku menelan ludah, teringat suara distorsi di telepon tadi. Ancaman itu nyata. Mereka tahu Ayah di Singapura. Mereka tahu kami di Bali.

"Tapi Ayah..."

"Ayahmu aman, Rini. Percayalah padaku," potong Adrian tegas, namun nada suaranya lembut. "Rumah Sakit Mount Elizabeth punya protokol keamanan setingkat kepala negara untuk pasien VIP. Aku sudah menyewa firma keamanan swasta terbaik di Singapura untuk menjaga lantai tempat ayahmu dirawat. Burhan mungkin tahu lokasinya, tapi dia tidak akan bisa menyentuh ayahmu. Yang dia inginkan sekarang adalah kita. Dia ingin kita panik."

"Dan dia berhasil," gumamku getir, menarik jaket Adrian lebih rapat ke tubuhku. "Aku takut, Adri."

Adrian bergeser, melepaskan sabuk pengamannya sebentar hanya untuk menarikku ke dalam pelukannya. Aku membenamkan wajahku di dadanya, menghirup aroma tubuhnya yang familiar. Detak jantungnya berpacu cepat, tidak setenang wajahnya. Di balik setelan mahalnya, di balik gelar CEO yang angkuh, dia hanyalah seorang pria yang sedang ketakutan setengah mati akan kehilangan orang yang dia lindungi.

"Selama aku masih bernapas, tidak ada yang boleh menyentuhmu," bisiknya di puncak kepalaku. Bibirnya menempel di rambutku, memberikan kecupan-kecupan kecil yang menenangkan. "Aku yang menyeretmu ke dalam kekacauan ini. Aku yang akan membereskan semuanya. Aku janji."

Ada getaran aneh di dadaku mendengar janjinya. Ini bukan lagi soal kontrak. Bukan soal utang piutang perusahaan Ayah. Cara dia memelukku, cara tangannya mengusap punggungku yang gemetar, itu semua terasa terlalu nyata untuk sebuah sandiwara. Dinding es yang selama ini ia bangun di antara kami seolah meleleh malam ini, digantikan oleh naluri untuk melindungi.

"Tuan," suara Reza memecah momen intim kami. "Kita sudah sampai di Safe House cadangan. Lokasi ini tidak terdaftar di aset Mahardika Group. Ini properti pribadi atas nama kerabat jauh saya."

Mobil melambat, berbelok masuk ke sebuah jalan setapak berbatu yang dikelilingi pepohonan rimbun. Tidak ada gerbang megah, tidak ada kamera pengawas yang mencolok. Hanya sebuah rumah kayu bergaya tradisional Bali yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan Ubud. Gelap, sunyi, dan jauh dari hingar-bingar.


Rumah itu sederhana, jauh berbeda dari penthouse Adrian di Jakarta atau vila mewah kami di Seminyak. Lantainya terbuat dari kayu ulin yang gelap, perabotannya minimalis, dan udara di dalamnya terasa lembap karena hujan. Namun, justru kesederhanaan inilah yang membuatku merasa sedikit lebih aman. Tidak ada teknologi canggih yang bisa diretas. Hanya dinding kayu dan alam.

Reza segera memeriksa sekeliling rumah, menutup semua tirai, dan menyalakan lampu redup di ruang tengah.

Adrian mendudukkanku di sofa tua yang empuk. "Tunggu di sini. Aku akan ambilkan air minum."

Ia menghilang ke dapur kecil di belakang. Aku duduk diam, memeluk lutut. Mataku menyapu ruangan itu. Sepi. Hanya suara jangkrik dan sisa rintik hujan di atap genting. Ponsel pintarku yang untungnya sempat kumasukkan ke saku gaun tidur sebelum kekacauan terjadi, tergeletak di meja kopi. Layarnya gelap.

Tak lama, Adrian kembali membawa segelas air hangat. Ia berlutut di depanku, menyejajarkan tingginya denganku. Pemandangan CEO Mahardika Group berlutut di lantai kayu sebuah rumah tua, dengan kemeja putih yang kusut dan lengan digulung sembarangan, membuat hatiku berdesir.

"Minum dulu," katanya lembut.

Aku menurut, meneguk air hangat itu. Rasanya menenangkan tenggorokanku yang kering. Adrian mengambil gelas kosong itu dan meletakkannya di lantai, lalu kedua tangannya kembali menggenggam tanganku.

"Kau kedinginan," katanya, merasakan tanganku yang masih sedingin es. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya ke punggung tanganku, mencoba mentransfer kehangatan tubuhnya.

"Aku baik-baik saja, cuma... syok," jawabku pelan. "Adri, apa yang sebenarnya Burhan mau? Kenapa dia melakukan ini? Kalau ini soal bisnis, kenapa harus meneror secara pribadi?"

Adrian menunduk, menatap lantai kayu sejenak sebelum kembali menatap mataku. Ada kemarahan yang tertahan di sana, bercampur dengan penyesalan.

"Ini bukan cuma soal bisnis, Sayang. Ini dendam," ungkap Adrian, suaranya berat. Penggunaan kata 'Sayang' yang biasanya ia ucapkan dengan nada sarkas atau untuk sandiwara di depan publik, kali ini terdengar begitu natural, seolah kata itu memang diperuntukkan bagiku.

"Burhan dulu adalah orang kepercayaan kakekku, sebelum Reza. Tapi dia serakah. Dia menggelapkan dana proyek konstruksi lima tahun lalu. Aku yang memecatnya dan memastikannya masuk daftar hitam di seluruh industri," jelas Adrian. Rahangnya mengeras saat mengingat masa lalu. "Dia kehilangan segalanya. Hartanya, reputasinya, keluarganya. Dia menyalahkanku atas kehancuran hidupnya. Dan sekarang, dia melihat celah untuk menghancurkanku lewat titik lemahku."

"Titik lemahmu?" tanyaku.

Adrian menatapku lurus, intensitas di matanya membuat napas tercekat. "Kau. Pernikahan ini. Dia tahu aku ditekan Kakek untuk menikah. Dia pikir jika dia bisa membuatmu hancur, membuatmu lari ketakutan, maka kontrak batal, Kakek akan kecewa, dan posisiku di Mahardika Group akan goyah. Erwin, saudara tiriku itu, pasti bekerja sama dengannya."

Aku tertegun. Jadi, semua teror ini - foto, kursi roda berdarah, ancaman - semuanya hanya untuk membuatku pergi?

"Dia salah kalau berpikir aku akan lari," ucapku tiba-tiba, sebuah keberanian yang entah datang dari mana muncul di dadaku. "Aku tidak akan membiarkan orang jahat seperti dia menang, Adri. Aku sudah menandatangani kontrak itu. Aku akan menyelesaikannya."

Adrian tampak terkejut. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang jarang sekali ia perlihatkan. Senyum yang tidak sinis, tapi tulus. Sebuah senyum kekaguman.

"Kau keras kepala, Arini Putri," katanya pelan, tangannya beralih menyentuh pipiku lagi, ibu jarinya membelai lembut tulang pipiku. "Keras kepala dan bodoh. Seharusnya kau lari. Seharusnya kau minta cerai dan pergi jauh-jauh dari pria berbahaya sepertiku."

"Dan membiarkan Ayahku kehilangan jaminan pengobatannya? Tidak mungkin," sanggahku, meski dalam hati aku tahu alasannya bukan hanya itu. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian menghadapi monster-monster ini.

Wajah Adrian mendekat. Tatapannya turun ke bibirku, lalu kembali ke mataku. Jarak di antara kami menipis. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di wajahku. Momen ini - di tengah pelarian, di rumah kayu antah berantah - terasa lebih intim dibanding pesta mewah mana pun yang pernah kami hadiri. Tidak ada kamera, tidak ada sandiwara. Hanya aku dan dia.

"Terima kasih," bisiknya, suaranya serak. "Karena tidak lari."

Jantungku berdegup kencang, menabrak rusuk dengan liar. Aku memejamkan mata, menanti sentuhannya. Namun, sebelum bibir kami sempat bertemu, suara dering notifikasi yang bertubi-tubi memecah keheningan.

Ting! Ting! Ting!

Bukan dari ponsel satelit Adrian. Tapi dari ponselku di atas meja.

Adrian langsung menarik diri, kewaspadaannya kembali dalam sekejap. Ia meraih ponselku dengan cepat, alisnya bertaut tajam saat melihat layar yang menyala terang.

"Jangan buka," larangnya saat aku hendak melihat.

"Kenapa? Itu ponselku, Adri," aku merebutnya dari tangan Adrian sebelum ia sempat menjauhkannya.

Layar ponselku penuh dengan notifikasi. Pesan WhatsApp dari Santi, DM Instagram yang membludak, dan tag di berbagai platform berita online.

Jantungku mencelos saat membuka pesan dari Santi.

Santi: Rini! Ya ampun, apa kamu baik-baik saja? Ini gila banget! Tolong bilang ini cuma editan!

Di bawah pesan itu, Santi melampirkan sebuah tautan berita dari portal gosip terkenal, Lambe Turah, yang baru saja diunggah sepuluh menit yang lalu.

Judulnya ditulis dengan huruf kapital yang mencolok: SKANDAL KDRT? FOTO ISTRI CEO MAHARDIKA GROUP MENANGIS HISTERIS DI VILA PRIBADI BOCOR!

Tanganku gemetar saat menekan tautan itu. Foto yang terpampang di sana membuat darahku membeku. Itu adalah foto yang diambil malam ini. Foto aku yang sedang bersimpuh di lantai Safe Room, menangis dengan wajah penuh ketakutan, sementara Adrian berdiri di atasku dengan tangan terulur—tapi dari sudut pengambilan gambar (angle) yang licik, Adrian tidak terlihat seperti sedang menolongku. Dia terlihat seperti sedang mengancamku. Gestur tangannya yang ingin meraihku justru terlihat seperti hendak memukul.

Keterangan fotonya lebih mengerikan lagi: "Sumber anonim membocorkan kondisi rumah tangga Adrian Mahardika yang sebenarnya. Sang istri, Arini Putri, terlihat ketakutan dan menangis di sebuah ruangan tertutup. Apakah pernikahan dongeng ini menyimpan mimpi buruk penyiksaan?"

"Mereka memutarbalikkan fakta," bisikku, rasa mual naik ke kerongkongan. "Mereka bilang kau menyiksaku, Adri..."

Adrian merebut ponsel itu dari tanganku, matanya memindai artikel itu dengan kilatan amarah yang menakutkan. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol.

"Reza!" teriak Adrian, suaranya menggelegar memenuhi rumah kayu itu.

Reza muncul dari pintu depan dengan wajah pucat, memegang tabletnya. "Saya baru saja melihatnya, Pak. Ini serangan cyber terkoordinasi. Foto itu diambil dari kamera tersembunyi di Safe Room sebelum saya mematikan sistemnya. Mereka memotong videonya, mengambil frame yang paling memberatkan Bapak."

"Saham Mahardika akan anjlok besok pagi begitu bursa dibuka," geram Adrian, membanting ponselku ke sofa, cukup keras hingga memantul, tapi tidak sampai pecah. Ia berjalan mondar-mandir, menyugar rambutnya dengan frustrasi.

"Mereka tidak hanya mengincar nyawamu, Rini," kata Adrian, berbalik menatapku dengan tatapan nanar. "Mereka ingin menghancurkan karakterku. Mereka ingin publik berpikir aku monster yang menyiksamu. Jika ini viral, Kakek akan terkena serangan jantung. Dewan Direksi akan memaksaku mundur dengan alasan moralitas."

Aku berdiri, kakiku terasa lemas. Burhan dan Erwin benar-benar licik. Mereka tahu mereka tidak bisa membunuh kami secara fisik dengan mudah, jadi mereka membunuh kami secara sosial. Mereka memaksa kami keluar dari persembunyian.

Jika kami diam, publik akan menganggap berita itu benar. Jika kami muncul untuk membantah, kami harus kembali ke Jakarta, kembali ke sorotan lampu, di mana penembak jitu atau ancaman fisik lainnya mungkin sudah menunggu.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku lirih.

Adrian berhenti mondar-mandir. Ia menatapku, lalu menatap Reza. Wajahnya kembali dingin, topeng CEO-nya kembali terpasang sempurna, namun kali ini ada kegelapan yang lebih pekat di matanya.

"Kita tidak bisa bersembunyi lagi," kata Adrian dingin. "Reza, siapkan jet. Kita kembali ke Jakarta malam ini juga. Persetan dengan pilot yang tidak bisa dipercaya. Aku sendiri yang akan menerbangkan pesawatnya."

"Adri, kau tidak serius..."

"Aku sangat serius, Rini," potongnya, menatapku tajam. "Kita akan pulang. Dan besok pagi, kita akan berdiri di depan semua kamera itu. Kita akan memainkan peran terbaik dalam hidup kita."

Dia melangkah mendekatiku, mencengkeram bahuku. "Kau siap menjadi Ratu Mahardika yang sesungguhnya? Karena mulai besok, perang kita bukan lagi di dalam bayangan. Kita akan berperang di depan seluruh dunia."

Hujan di luar berhenti, namun badai yang sebenarnya baru saja dimulai.