Hujan di luar berhenti, namun badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
Kalimat itu menggema di kepalaku, memantul di dinding-dinding kayu rumah persembunyian yang lembap ini. Keheningan malam di Ubud yang biasanya menenangkan, kini terasa begitu mencekik. Suara jangkrik di luar sana bukan lagi nyanyian alam, melainkan hitungan mundur menuju kehancuran yang telah dirancang dengan rapi oleh musuh-musuh Adrian.
Aku merapatkan jaket taktis milik Adrian ke tubuhku. Aroma tembakau mahal dan parfum maskulin yang tertinggal di kain tebal itu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras. Itu adalah perisai imajinerku.
"Reza, siapkan mobil dalam lima menit. Kita tidak bisa menunggu sampai matahari terbit," suara Adrian memecah keheningan. Nadanya rendah, tajam, dan tidak mentolerir bantahan.
"Baik, Pak. Jalur belakang sudah diamankan. Pesawat siap lepas landas segera setelah Bapak tiba di landasan pacu pribadi," jawab Reza dengan efisiensi robotik, meski aku bisa melihat wajahnya yang pucat di bawah remang lampu kuning. Dia baru saja bertarung di medan perang digital, mencoba membendung air bah fitnah yang menenggelamkan nama Mahardika.
Adrian berbalik menatapku. Topeng CEO-nya telah kembali terpasang sempurna. Rahangnya mengeras, matanya yang tajam menyapu ruangan seolah mencari ancaman yang kasat mata. Namun, saat tatapannya mendarat padaku, ada retakan kecil di sana. Sebuah kekhawatiran yang nyaris tak terlihat.
"Rini," panggilnya. Bukan Arini, bukan Nona. "Kamu siap?"
Aku menelan ludah, merasakan sisa rasa mual yang tadi sempat menyerang. Kakiku masih terasa seperti jeli, tapi aku memaksanya untuk tegak. "Aku siap, Adri."
Dia melangkah mendekat, tangannya yang besar dan hangat menangkup pipiku. Ibu jarinya mengusap pelan kulitku yang dingin. "Dengar. Apa pun yang terjadi di Jakarta nanti, jangan lepaskan tanganku. Mereka ingin melihatmu hancur, mereka ingin melihatku kehilangan kendali. Kita tidak akan memberikan kepuasan itu pada mereka."
Aku mengangguk, meletakkan tanganku di atas tangannya. "Kita hadapi ini. Bersama."
Perjalanan menuju landasan pacu pribadi itu terasa surealis. Mobil SUV hitam yang kami tumpangi melaju membelah kegelapan hutan Ubud, meliuk-liuk di jalanan sempit yang diapit pepohonan besar. Tidak ada musik, tidak ada percakapan. Hanya deru mesin dan napas kami sendiri.
Aku melanggar satu-satunya aturan yang kutetapkan sendiri lima menit lalu: Jangan buka media sosial.
Tanganku gemetar saat menggeser layar ponsel yang tadi sempat diambil Adrian. Cahaya layar menusuk mata, tapi kata-kata yang terpampang di sana jauh lebih menyakitkan.
Lambe Turah sudah memposting foto itu. Foto di mana aku menangis di sudut Safe Room, terlihat begitu rapuh, begitu ketakutan. Caption-nya provokatif: "Istri Sultan Mahardika Group menangis ketakutan? KDRT atau Drama Orang Kaya? Swipe untuk bukti lebam!"
Mereka memanipulasi bayangan di lenganku menjadi seolah-olah itu luka lebam. Kolom komentar adalah neraka.
"Gila ya, padahal suaminya ganteng banget. Ternyata psycho." "Kasihan banget mbaknya, pasti tertekan demi harta." "Adrian Mahardika itu kan emang dingin, pantesan abusive." "Uang gak bisa beli kebahagiaan, Sist. Lari aja!"
Ribuan komentar. Ribuan hakim jalanan yang tidak tahu apa-apa, tapi merasa berhak memvonis Adrian sebagai monster. Dadaku sesak. Mereka tidak tahu bahwa pria yang mereka hujat ini baru saja menyelamatkan nyawaku. Mereka tidak tahu bahwa "monster" ini sedang menggenggam tanganku erat-erat di kursi belakang mobil, seolah takut aku akan menguap jadi debu.
"Jangan dibaca," suara Adrian terdengar datar, tapi aku tahu dia sedang menahan amarah yang luar biasa. Dia mengambil ponsel itu dari tanganku dengan lembut, lalu mematikannya dan melemparnya ke jok depan, ke arah Reza. "Itu racun, Sayang. Mereka hanya bidak yang digerakkan oleh Burhan."
"Mereka membencimu, Adri," bisikku, mataku terasa panas. "Ini tidak adil."
Adrian menatap lurus ke jalanan gelap di depan. "Dunia bisnis tidak pernah adil. Reputasi hanyalah persepsi. Dan persepsi bisa diubah. Yang penting sekarang adalah fakta bahwa kamu aman, dan Ayahmu aman di Singapura."
Kata-katanya logis, tapi aku bisa merasakan ketegangan di otot lengannya. Dia terluka. Bukan karena hujatan itu, tapi karena hujatan itu menggunakan aku sebagai senjatanya. Burhan tahu persis di mana harus menusuk. Dia tidak menyerang saham perusahaan secara langsung; dia menyerang moralitas Adrian.
Landasan pacu pribadi itu tersembunyi di balik perkebunan, jauh dari bandara komersial Ngurah Rai yang pasti sudah dikerumuni wartawan. Sebuah jet pribadi Gulfstream G650 berwarna hitam matte sudah menunggu, mesinnya menderu halus membelah kesunyian malam.
Biasanya, ada pilot berseragam yang menyambut kami. Tapi malam ini, Adrian melepas jas formalnya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang menonjol. Dia melempar dasinya ke sembarang arah.
"Reza, kamu jaga kabin. Pastikan komunikasi dengan tim Cyber Security di Jakarta tidak putus," perintah Adrian sambil melangkah menuju kokpit.
"Kamu yang menerbangkan pesawat ini?" tanyaku, sedikit terperangah. Aku tahu dia memiliki lisensi pilot, tapi menerbangkan jet dalam kondisi mental yang sedang digempur habis-habisan?
Adrian berhenti di tangga pesawat, menoleh padaku dengan tatapan intens. Angin malam mengacak rambutnya, membuatnya terlihat lebih liar, lebih berbahaya, dan - sialnya - jauh lebih menarik.
"Aku tidak percaya nyawamu pada orang lain malam ini, Rini. Tidak ada pilot lain. Hanya aku."
Jantungku berdegup kencang. Bukan karena takut terbang, tapi karena kalimat itu. Aku tidak percaya nyawamu pada orang lain.
Kami lepas landas lima menit kemudian. Guncangan saat pesawat menanjak menembus awan tebal terasa seperti metafora hidup kami saat ini. Meninggalkan daratan yang aman, menuju langit gelap yang penuh ketidakpastian.
Setelah tanda sabuk pengaman dipadamkan, aku tidak bisa duduk diam di kursi penumpang yang mewah itu. Aku berjalan menuju kokpit. Pintunya terbuka sedikit.
Adrian duduk di sana, dikelilingi ratusan tombol bercahaya dan layar navigasi. Tangannya mantap di yoke kemudi, matanya fokus menatap cakrawala gelap di depan. Di ketinggian 40.000 kaki, di atas samudra yang hitam pekat, dia terlihat berada di elemennya. Di sini, dia memegang kendali penuh. Di sini, tidak ada gosip, tidak ada Burhan, tidak ada kakek yang menuntut.
Aku melangkah masuk pelan-pelan, duduk di kursi ko-pilot yang kosong. Adrian tidak menoleh, tapi aku tahu dia sadar akan kehadiranku.
"Pemandangannya indah," gumamku, mencoba memecah ketegangan statis di antara kami. Di bawah sana, lampu-lampu kapal nelayan terlihat seperti bintang yang jatuh ke laut.
"Di sini tenang," jawab Adrian, suaranya sedikit lebih lunak dari sebelumnya. Dia menekan beberapa tombol di panel overhead. "Aku dulu sering terbang sendirian saat Sarah meninggal. Itu satu-satunya cara untuk lari dari suara bising di kepalaku."
Aku terdiam. Ini pertama kalinya dia menyebut nama Sarah tanpa disertai guncangan emosi yang hebat. Mungkin karena fokusnya terbagi pada instrumen pesawat, atau mungkin... dia mulai berdamai.
"Maafkan aku, Rini," ucapnya tiba-tiba.
Aku menoleh, menatap profil samping wajahnya yang tegas. "Untuk apa?"
"Menyeretmu ke dalam lumpur ini. Kontrak itu... seharusnya melindungimu dan keluargamu secara finansial, bukan menjadikanmu target pembunuhan karakter." Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku meremehkan betapa busuknya Burhan dan Erwin."
Aku mengulurkan tangan, menyentuh lengannya yang tegang. Ototnya sekeras batu. "Hei, lihat aku."
Adrian menoleh perlahan. Tatapan matanya lelah, ada lingkaran hitam samar di bawahnya.
"Aku yang menandatangani kontrak itu. Aku tahu risikonya," kataku tegas, menyalurkan keyakinan yang baru saja kutemukan di vila tadi. "Dan kau tidak perlu minta maaf karena melindungiku. Kalau bukan karena kau, Ayah mungkin tidak akan mendapatkan perawatan terbaik di Singapura sekarang. Kalau bukan karena kau, mungkin aku masih menangis di pojokan vila itu."
Adrian melepaskan satu tangannya dari kemudi, lalu menggenggam tanganku yang ada di lengannya. Dia membawanya ke bibir, mengecup punggung tanganku lama. Getaran hangat menjalar dari titik sentuh itu, menyebar ke seluruh tubuhku, mengalahkan dinginnya AC kokpit.
"Kita akan mendarat di Halim dalam satu jam," katanya setelah melepaskan ciumannya, namun masih menggenggam tanganku. "Tim PR sudah menyiapkan skenario. Kita tidak akan membantah foto itu."
Dahiku berkerut. "Maksudmu? Kita akan membiarkan mereka berpikir kau memukulku?"
"Tidak," Adrian menyeringai, sebuah seringai tipis yang dingin namun penuh perhitungan. "Membantah secara defensif hanya akan membuat kita terlihat bersalah. Kita akan memutar narasi. Foto itu diambil saat kamu menangis, benar? Tapi bukan karena aku memukulmu."
"Lalu?"
"Karena kita bertengkar hebat soal... kecemburuan," Adrian menatapku lekat. "Narasi yang akan kita bangun adalah: Istri muda yang emosional karena cemburu buta, dan suami yang frustrasi mencoba menenangkannya. Kita akan menjadikan ini drama rumah tangga romantis, bukan kasus kriminal."
Aku ternganga. "Kau ingin kita bersandiwara lagi?"
"Ini panggung terbesar kita, Sayang. Kita harus memainkan peran terbaik dalam hidup kita. Jika kita berhasil meyakinkan publik bahwa kita adalah pasangan yang saling mencintai, sangat mencintai hingga menjadi toxic dan posesif, maka tuduhan KDRT itu akan gugur dengan sendirinya. Orang lebih suka cerita cinta yang dramatis daripada kasus hukum yang membosankan."
Rencana itu gila. Berisiko tinggi. Tapi menatap mata Adrian yang kembali menyala dengan determinasi, aku tahu tidak ada pilihan lain. Aku harus menjadi aktris terbaik malam ini.
Jakarta menyambut kami dengan hamparan lampu kota yang berkelap-kelip seperti lautan berlian, namun aku tahu di bawah sana, serigala-serigala media sedang mengasah taring mereka.
Reza masuk ke kokpit. "Pak, kita ada masalah."
Adrian tidak menoleh dari panel navigasi. "Apa lagi?"
"Info pendaratan bocor. Ada kerumunan wartawan di gerbang hanggar pribadi Halim. Bukan hanya wartawan hiburan, tapi juga wartawan bisnis dan kriminal. Erwin sepertinya sengaja membocorkan flight plan kita."
Adrian mengumpat pelan. "Sialan."
"Kita bisa minta keamanan bandara untuk membubarkan mereka," saran Reza.
"Tidak," potong Adrian cepat. Dia mulai menurunkan ketinggian pesawat. Roda pendaratan berdebum keluar, menggetarkan lantai kabin. "Jika kita mengusir mereka, itu akan terlihat seperti kita menyembunyikan sesuatu. Kita hadapi mereka. Sekarang."
Dia menoleh padaku. "Rini, pakai kacamata hitammu. Jangan bicara satu patah kata pun kecuali aku memberimu isyarat. Biar aku yang bicara. Kamu hanya perlu terlihat... lelah, sembab, dan menempel padaku. Seperti istri yang baru saja baikan dengan suaminya setelah pertengkaran hebat."
Aku mengangguk, jantungku berpacu lebih cepat dari putaran turbin mesin jet.
Pesawat mendarat mulus di landasan. Saat kami taxiing menuju hanggar, aku bisa melihat kilatan-kilatan cahaya blitz kamera dari kejauhan, bahkan menembus kaca jendela pesawat yang tebal. Jumlahnya ratusan. Seperti pasukan semut yang mengerubungi gula.
Pintu pesawat terbuka. Udara Jakarta yang panas dan lembap langsung menyerbu masuk, bercampur dengan bau avtur. Adrian mengenakan kembali jasnya, merapikan kerahnya, lalu mengulurkan tangan padaku.
"Ingat," bisiknya di telingaku, napasnya hangat menggelitik leherku. "Kamu mencintaiku. Kamu cemburu padaku. Dan aku adalah segalanya bagimu."
Aku menyambut tangannya. "Dan kau juga mencintaiku, Adri. Jangan lupa bagian itu."
Dia meremas tanganku erat. "Aku tidak perlu berpura-pura untuk bagian itu."
Kata-katanya membuat langkahku terhenti sejenak. Apa?
Namun belum sempat aku mencerna pengakuan tersirat itu, kami sudah berada di tangga pesawat. Dunia meledak dalam cahaya putih.
KLIK! KLIK! KLIK! KLIK!
Ribuan kilatan flash membutakan mata. Teriakan wartawan terdengar seperti auman binatang buas yang kelaparan.
"PAK ADRIAN! APA BENAR ANDA MEMUKUL ISTRI ANDA?" "IBU ARINI! APAKAH ANDA DIPAKSA UNTUK DIAM?" "BAGAIMANA DENGAN SAHAM MAHARDIKA YANG ANJLOK?"
Adrian merangkul pinggangku protektif, menarikku menempel ke sisi tubuhnya. Dia berjalan membelah kerumunan dengan wajah dingin, mengabaikan mikrofon yang disodorkan ke wajahnya. Petugas keamanan kami berusaha keras membuat barikade tubuh, tapi massa terlalu padat.
Kami hampir mencapai mobil jemputan ketika seorang wartawan pria dengan kemeja lusuh berteriak lantang, suaranya mengatasi kebisingan lainnya.
"PAK ADRIAN! APAKAH KDRT INI TERJADI KARENA IBU ARINI MENOLAK PERPANJANGAN KONTRAK?"
Langkah Adrian terhenti total.
Hening.
Seketika, kerumunan itu senyap. Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pisau guillotine yang siap jatuh.
Darahku membeku. Kontrak? Bagaimana mereka tahu soal kontrak?
Wartawan itu menyeringai, mengangkat sebuah dokumen fotokopi yang terlihat familiar di tangannya. "Kami mendapat bocoran draf perjanjian pra-nikah yang menyebutkan pernikahan ini hanya berlaku satu tahun dengan kompensasi pelunasan hutang perusahaan ayah Arini. Jadi, apakah lebam di tangan Ibu Arini itu hukuman karena dia melanggar klausul bisnis?"
Duniaku berputar. Rahasia terbesar kami. Fondasi dari sandiwara ini. Semuanya telanjang di depan ratusan kamera yang menyala.
Aku merasakan tangan Adrian di pinggangku menegang, bukan lagi memeluk, tapi mencengkeram dengan kekuatan yang menyakitkan. Dia tidak melihat ke arah wartawan itu. Dia menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan di balik lampu sorot, dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Itu bukan ekspresi marah. Itu ekspresi seseorang yang baru saja menyadari bahwa ada pengkhianat di dalam lingkaran terdalamnya.
"Satu tahun?" gumam wartawan lain, dan bisik-bisik mulai berubah menjadi gelombang pertanyaan baru yang lebih ganas.
Adrian menunduk menatapku. Matanya gelap, kelam, dan penuh tanda tanya. Apakah dia mencurigaiku? Apakah dia berpikir aku yang membocorkannya?
"Masuk mobil," perintahnya, suaranya begitu dingin hingga membuat tulangku ngilu. "Sekarang."
Kami didorong masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup, meredam teriakan massa, tapi kerusakan sudah terjadi. Bom waktu itu sudah meledak, dan kami terlambat menyadarinya.
Sandiwara "Cemburu Romantis" kami hancur bahkan sebelum dimulai. Sekarang, ini bukan lagi soal KDRT. Ini soal penipuan publik.
Dan di kursi belakang mobil yang melaju kencang meninggalkan bandara, Adrian melepaskan genggaman tangannya dariku. Dia duduk menyandar, memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah, dia terlihat benar-benar kalah.
"Siapa..." suaranya serak, "Siapa lagi yang memegang salinan fisik kontrak itu selain aku, kamu, dan Kakek?"
Aku menggeleng lemah, air mata mulai menggenang. "Hanya kita, Adri. Demi Tuhan, hanya kita."
Adrian membuka matanya, menatapku dengan tatapan kosong yang mengerikan. "Kalau begitu, jelaskan padaku, Arini. Bagaimana kertas itu bisa ada di tangan mereka?"
Pertanyaan itu bukan tuduhan langsung, tapi rasanya seperti belati yang menancap tepat di jantung. Di luar jendela, Jakarta tampak buram, seburam masa depan pernikahan kami yang tinggal menghitung hari.