Romansa #CEO #Romansa CEO

Di Balik Kaca yang Gelap

Penulis djoedo
24 January 2026

"Kalau begitu, jelaskan padaku, Arini. Bagaimana kertas itu bisa ada di tangan mereka?"

Suara itu tidak tinggi. Tidak ada bentakan, tidak ada ledakan amarah yang mengguncang kabin SUV hitam ini. Justru ketenangan dalam nada bicara Adrian yang membuat darahku berhenti mengalir. Dingin. Datar. Seperti hakim yang sedang membacakan vonis mati tanpa perlu menatap mata terpidana.

Aku membuka mulut, tapi oksigen di dalam mobil ini seolah tersedot habis oleh vakum raksasa. AC mobil mendesis pelan, satu-satunya suara yang berani memecah keheningan mencekam di antara kami.

"Aku... aku tidak tahu," jawabku. Suaraku terdengar konyol. Lemah. Pecahan kaca dari ilusi yang kami bangun di Bali kini menusuk kerongkonganku.

Adrian tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke jalanan Jakarta yang memburam di balik kaca jendela berlapis film gelap. Lampu-lampu kota melesat seperti garis-garis neon abstrak, tapi aku tahu pikirannya tidak ada di sana. Pikirannya sedang menyusun kepingan teka-teki yang gambarnya adalah wajahku sebagai pengkhianat.

"Tidak tahu," ulangnya pelan. Ia tertawa kecil, tawa kering yang tidak mencapai matanya. "Jawaban klasik."

"Adrian, dengarkan aku," aku memberanikan diri, menggeser dudukku sedikit mendekat, meski aura di sekitarnya seolah membeku dan membentuk dinding es setebal beton. "Hanya ada tiga salinan kontrak itu. Satu di brankas Kakek, satu di brankas kantormu, dan satu lagi..."

"Satu lagi di laci apartemenmu," potong Adrian cepat. Kali ini ia menoleh.

Tatapan itu.

Selama beberapa minggu terakhir, aku mulai terbiasa dengan tatapan Adrian yang hangat, kadang menggoda, atau bahkan tatapan rapuhnya saat ia membiarkanku masuk ke dalam benteng pertahanannya. Tapi malam ini, pria di hadapanku bukan Adrian yang berdansa denganku di bawah bintang Ubud. Ini adalah Adrian Mahardika, CEO yang menghancurkan lawan bisnisnya tanpa belas kasih.

Mata itu kosong. Hitam pekat tanpa setitik pun cahaya kepercayaan.

"Laci itu terkunci, Adrian," kataku, suaraku mulai bergetar menahan tangis yang mendesak keluar. "Kuncinya selalu aku bawa. Tidak ada yang masuk ke kamar kita selain..."

"Selain siapa?" desaknya. "Pelayan? Mereka tidak punya akses ke laci pribadi. Atau mungkin kau lupa menguncinya? Atau lebih parah lagi..." Ia membiarkan kalimat itu menggantung, tapi aku bisa mendengar kelanjutannya di kepalaku: Atau kau sengaja memberikannya.

Aku menggeleng kuat-kuat. "Kau menuduhku? Setelah semua yang terjadi di Bali? Kau pikir aku yang melakukan ini?"

Adrian membuang muka, kembali menatap kegelapan di luar jendela. Tangannya yang terkepal di atas lutut terlihat memutih pada buku-bukunya. Jas formal yang baru saja ia kenakan kembali—menutupi kemeja yang berantakan—tampak kaku di tubuhnya yang tegang.

"Logika, Arini," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. "Aku selalu bergerak berdasarkan logika. Kakek tidak mungkin membocorkannya; itu akan menghancurkan nama baik keluarga yang ia jaga seumur hidup. Aku? Itu bunuh diri bisnis. Jadi, variabel mana yang paling tidak stabil?"

Air mataku jatuh tanpa izin. Satu tetes, jatuh mengenai jaket taktis miliknya yang masih membalut tubuhku. Jaket ini berbau dirinya, campuran musk, avtur, dan aroma hujan yang khas. Ironi ini menampar kewarasanku. Aku mengenakan perlindungannya, sementara ia menelanjangiku dengan kecurigaan.

"Variabel," bisikku pahit. "Jadi aku hanya variabel bagimu? Variabel yang tidak stabil karena aku butuh uang? Karena ayahku sakit?"

"Motifnya ada," jawabnya singkat. "Saham turun, kau bisa ditekan oleh pihak lawan. Atau mungkin Erwin menawarmu lebih tinggi daripada yang kutawarkan di kontrak."

"Cukup!" teriakku.

Reza, yang duduk di kursi depan di samping sopir, sedikit tersentak. Bahunya menegang, tapi ia tidak menoleh ke belakang. Sopir kami menambah kecepatan, meliuk di antara truk-truk ekspedisi di jalan tol dalam kota, berusaha menjauhkan kami dari kejaran media yang mungkin masih mengekor.

"Pak Adrian," suara Reza terdengar hati-hati, memecah ketegangan yang nyaris meledakkan isi mobil. "Maaf menyela. Tim siber baru saja mengirim laporan awal mengenai penyebaran foto kontrak tersebut."

Adrian tidak menjawab, hanya memberi isyarat tangan agar Reza melanjutkan.

"Sumber pertama bukan dari akun anonim biasa," lapor Reza sambil menatap tablet di pangkuannya. Cahaya layar menyinari wajahnya yang serius. "Foto itu dikirim langsung ke redaksi Lambe Turah dan tiga portal berita bisnis utama secara bersamaan via email terenkripsi. Tapi metadatanya... ada jejak digital yang mengarah ke IP Address yang terdaftar di jaringan Wi-Fi Penthouse."

Jantungku berhenti berdetak.

Adrian menoleh perlahan ke arahku. Kali ini, tidak ada lagi kemarahan. Hanya kekecewaan yang begitu dalam hingga rasanya lebih menyakitkan daripada tamparan fisik.

"Penthouse," ulang Adrian. Suaranya nyaris berbisik. "Rumah kita."

"Itu tidak mungkin," sangkalku panik. "Wi-Fi itu dipakai banyak perangkat. Laptopmu, ponselku, tablet, smart TV... Siapapun bisa meretasnya, kan? Reza, katakan padanya itu bisa diretas!"

Aku menatap punggung kursi Reza, memohon pembelaan. Reza diam sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk layar tablet.

"Sistem keamanan di Penthouse adalah military grade, Bu Arini," jawab Reza pelan, nadanya penuh penyesalan. "Peretasan dari luar hampir mustahil tanpa pemicu dari dalam. Kecuali ada seseorang yang memberikan akses fisik atau... membuka backdoor dari salah satu perangkat yang terhubung."

Aku terperangah. Mereka bicara seolah-olah vonis sudah dijatuhkan. Palu sudah diketuk.

Adrian memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang. Saat ia membuka matanya kembali, dinding itu sudah tertutup sempurna. Ia telah kembali menjadi mesin.

"Ke mana kita, Za?" tanya Adrian, mengabaikan keberadaanku sepenuhnya.

"Mahardika Tower, Pak. Lobi apartemen Bapak sudah dikepung wartawan. Rumah sakit tempat ayah Bu Arini dirawat di Singapura juga sudah mulai dihubungi oleh media internasional. Kami sudah menempatkan keamanan tambahan di sana."

Mendengar nama ayahku disebut, rasa takut yang berbeda menyergapku. Bukan takut pada kemarahan Adrian, tapi takut pada dampak gelombang ini terhadap jantung Ayah yang baru saja dioperasi.

"Jangan libatkan Ayah," pintaku lirih. "Tolong, Adrian. Marah padaku, tuduh aku semaumu, tapi pastikan Ayah tidak tahu soal ini."

Adrian tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya, satu-satunya benda yang masih ia kontrol penuh dan mulai mengetikkan pesan dengan cepat. Jempolnya bergerak agresif di atas layar. Ia sedang berperang. Dan dalam perang ini, aku bukan lagi sekutunya. Aku adalah tawanan perang.

Mobil berbelok tajam, keluar dari jalan tol menuju kawasan bisnis Sudirman. Gedung-gedung pencakar langit menjulang di kiri-kanan kami seperti raksasa yang siap menghakimi. Mahardika Tower berdiri paling gagah di antara semuanya, dengan logo huruf 'M' raksasa yang menyala di puncaknya. Dulu, aku melihat gedung itu sebagai simbol kesuksesan. Sekarang, gedung itu terlihat seperti penjara vertikal.

Saat mobil meluncur masuk ke basement khusus eksekutif, kilatan lampu blitz masih sempat tertangkap mata meski kami masuk lewat jalur rahasia. Beberapa wartawan nekat rupanya sudah mencium lokasi ini.

"Turun," perintah Adrian begitu mobil berhenti.

Pintu dibuka oleh pengawal yang sudah menunggu. Udara basement yang pengap menyambutku, bercampur dengan bau bensin dan beton lembap. Kakiku terasa lemas saat menapak lantai. Aku masih memakai sneakers putih yang kupakai dari Bali, kini terlihat kusam. Penampilanku sangat kontras dengan Adrian yang, meskipun berantakan, tetap memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi.

Adrian berjalan cepat menuju lift pribadi, langkah kakinya menggema keras di lantai beton. Aku harus setengah berlari untuk menyamainya. Reza mengikuti di belakang, memegang dua ponsel, salah satunya milikku yang sudah dimatikan.

Di dalam lift, kami berdiri bersisian, namun rasanya ada jurang menganga yang memisahkan kami. Aku melihat pantulan kami di dinding logam lift. Adrian berdiri tegak, rahangnya mengeras, matanya menatap angka lantai yang berganti dengan lambat. Aku berdiri di sebelahnya, kecil, tenggelam dalam jaket kebesarannya, dengan mata bengkak dan wajah pucat.

Kami terlihat seperti pasangan yang baru saja selamat dari kecelakaan pesawat, hanya untuk menyadari bahwa kami mendarat di pulau kanibal.

"Lantai 50," perintah Adrian pada sistem suara lift.

"Akses diterima," jawab suara robotik wanita.

Pintu lift terbuka langsung ke ruang kerjanya yang luas. Dinding kaca besar menampilkan panorama Jakarta di malam hari, kota yang tidak pernah tidur dan selalu lapar akan skandal. Ruangan itu dingin, jauh lebih dingin dari mobil tadi.

Adrian melepaskan jas formalnya dan melemparnya sembarangan ke sofa kulit. Ia melonggarkan kerah kemejanya, napasnya mulai terdengar berat. Ia berjalan menuju meja kerjanya yang besar, menumpukan kedua tangannya di sana, dan menunduk.

"Reza," panggilnya tanpa mengangkat kepala.

"Ya, Pak."

"Amankan semua akses Bu Arini. Kartu kredit, akses pintu apartemen, akses ke sistem perusahaan jika ada. Bekukan semuanya malam ini juga."

Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada tamparan fisik.

"Adrian..."

"Diam!" bentaknya. Kali ini suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding kaca. Ia berbalik, menunjuk wajahku dengan telunjuk yang gemetar karena amarah yang ditahan. "Jangan bicara. Jangan membela diri. Setiap kata yang keluar dari mulutmu sekarang hanya terdengar seperti kebohongan di telingaku."

Ia berjalan mendekatiku, langkahnya predator. Aku mundur selangkah hingga punggungku menabrak dinding dingin di samping rak buku. Adrian berhenti tepat di depanku, menurungku dengan tubuhnya yang tinggi. Aroma maskulinnya yang dulu menenangkan kini terasa mencekik.

"Kau tahu apa yang paling menyakitkan?" tanyanya dengan suara serak, matanya menelusuri wajahku seolah mencari sisa-sisa wanita yang ia cium di Bali. "Aku mulai berpikir kita bisa nyata. Aku mulai berpikir kontrak bodoh itu bisa kita bakar dan kita mulai dari awal. Tapi kau..." Ia tertawa getir. "Kau mengingatkanku kenapa aku membuat kontrak itu sejak awal. Karena cinta adalah variabel yang menghancurkan logika."

"Itu tidak benar," isakku. "Aku mencintaimu, Adrian. Demi Tuhan, aku mencintaimu!"

"Jangan sebut kata itu," desisnya. "Cinta tidak menjual pasangannya demi uang. Cinta tidak membocorkan rahasia yang bisa menghancurkan hidup orang lain."

Ia memukul dinding di samping kepalaku. Suara hantaman itu membuatku menjerit tertahan. Tapi ia tidak menyentuhku. Ia tidak akan pernah menyakiti fisikku, aku tahu itu. Tapi ia sedang membunuh jiwaku perlahan.

"Reza," panggilnya lagi, kali ini suaranya kembali dingin dan terkontrol.

"Siap, Pak."

"Bawa dia ke Safe House di Bogor. Bukan yang di Sentul. Yang terisolasi. Jauhkan dia dari internet, televisi, dan telepon. Aku tidak mau dia bicara dengan siapa pun, terutama media atau... Erwin."

"Kau mengurungku?" tanyaku tak percaya. "Seperti tahanan?"

"Aku melindungimu," koreksinya tajam. "Atau mungkin, aku melindungi diriku dari kerusakan lebih lanjut yang bisa kau buat."

"Aku tidak mau pergi!"

"Kau tidak punya pilihan, Arini. Di luar sana, media akan memakanmu hidup-hidup. Publik sudah mencapmu sebagai penipu, pelakor, wanita materialistis yang menjebak CEO kaya. Jika kau keluar dari gedung ini sendirian, aku tidak jamin keselamatanmu."

Ia berbalik memunggungiku, kembali menatap kota Jakarta. "Bawa dia pergi, Za. Sekarang."

Reza melangkah maju, wajahnya tampak serba salah. "Mari, Bu. Tolong jangan mempersulit keadaan."

Aku menatap punggung Adrian. Bahunya yang lebar terlihat turun, seolah memikul beban dunia. Aku ingin memeluknya, meyakinkannya bahwa ini semua salah paham, bahwa ada orang lain yang bermain di balik layar. Tapi aku tahu, malam ini, logika Adrian telah mengalahkan hatinya. Dan dalam kalkulasi logikanya, aku adalah error yang harus karantina.

"Kau akan menyesal, Adrian," bisikku sebelum berbalik. "Suatu hari nanti, saat kau tahu kebenarannya, kau akan menyadari bahwa kaulah yang menghancurkan satu-satunya hal nyata yang kau miliki."

Adrian tidak menjawab. Ia bahkan tidak bergerak.

Aku membiarkan Reza menuntunku kembali ke lift. Pintu logam itu tertutup perlahan, memotong pandanganku pada sosok pria yang kucintai, pria yang kini berdiri sendirian di puncak menara gadingnya, dikelilingi oleh kekayaan namun miskin kepercayaan.

Saat lift turun, Reza merogoh saku jasnya. Ponselku bergetar di tangannya. Bukan getaran panggilan biasa, tapi getaran panjang berulang-ulang. Alarm. Atau notifikasi prioritas tinggi.

Reza mengerutkan kening, menatap layar ponselku yang seharusnya mati. Wajahnya memucat.

"Bu Arini," katanya pelan, suaranya tegang. "Bapak tadi mematikan ponsel ini. Saya memegangnya sejak di mobil. Tapi..."

Ia membalikkan layar ponsel ke arahku. Layar itu menyala sendiri, menampilkan sebuah baris kode yang berjalan cepat, disusul sebuah notifikasi transfer bank yang baru saja berhasil.

TRANSFER BERHASIL KE: ERWIN MAHARDIKA NOMINAL: RP 5.000.000.000 STATUS: TERKONFIRMASI DARI PERANGKAT INI.

Duniaku runtuh seketika.

"Itu bukan aku," bisikku, suaraku hilang ditelan dengungan lift yang meluncur turun. "Reza, ponsel itu ada di tanganmu!"

Reza menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara kasihan dan keraguan. "Secara fisik, ya. Tapi jejak digital mengatakan transfer ini diotorisasi dengan biometrik Ibu. Sidik jari atau Face ID."

"Bagaimana mungkin..."

Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, lift tersentak berhenti di lantai basement. Bukan lantai dasar tempat mobil menunggu. Pintu terbuka.

Gelap.

Hanya ada satu sosok yang berdiri di depan pintu lift, diterangi lampu remang-remang lorong darurat. Sosok itu tersenyum miring, memegang sebuah tablet yang menyala.

"Selamat malam, Kakak Ipar," sapa suara yang familiar dan penuh bisa itu.

Erwin Mahardika.

Reza refleks bergerak maju melindungiku, tapi dua orang berbadan tegap muncul dari bayangan di belakang Erwin.

"Jangan repot-repot, Reza," kata Erwin santai sambil melangkah masuk ke dalam lift, memaksa kami mundur. "Adrian mungkin jenius dalam bisnis, tapi dia terlalu emosional malam ini. Dia mengirim istrinya pergi tanpa pengawalan yang cukup... kesalahan fatal."

Erwin menekan tombol Emergency Stop pada panel lift. Kotak logam ini berhenti total, menggantung di antara lantai, menjebak kami bersama monster yang sesungguhnya.

"Nah, Arini," Erwin menatapku lekat-lekat, senyumnya semakin lebar. "Mari kita buat drama ini sedikit lebih... meyakinkan untuk media."