Thriller #Intelijen #Thriler

BAB II — “PERANG” PERSEPSI

Penulis mardom
24 January 2026

“Kenapa sih kamu repot-repot amat, mau agar kita membela pemerintah di rapat tadi?” tanya Mujib, Senior Editor di kantornya. Kalimat itu meluncur ringan, nyaris santai. Seolah ia sedang bertanya tentang menu makan siang.

Mujib dan Lunara duduk berhadapan di ruang rapat kecil, di kantor majalah tempat mereka bekerja. Rapat mingguan redaksi baru usai. Dindingnya dilapisi papan gabus penuh kliping lama: wajah-wajah selebritas, headline tren fashion 2026. Beberapa halaman di majalah, menyiapkan wadah untuk liputan lingkungan. Tema yang terasa seperti tamu yang tak benar-benar diundang.

Lunara mengangkat wajahnya perlahan. Ia sudah mengantisipasi pertanyaan itu sejak semalam. Sejak membaca draft artikel Mujib, yang judul sementaranya berbunyi: “Banjir, Hutan Gundul, dan Negara yang Gagal Mendengar”.

“Aku bukan bermaksud membela pemerintah, Mas,” jawab Lunara. Suaranya datar, tetapi terjaga. “Aku menunda.”

Mujib menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia mengamati Lunara dengan mata seorang jurnalis yang terlalu lama berkawan dengan konflik. “Masyarakat tidak suka ditunda, Lun.”

Dalam hati, Lunara berkata, “Intelijen justru hidup dari itu.”

“Kamu takut, Lun?” tanya Mujib sambil tertawa pendek. Itu bukan tawa geli, melainkan sinis. Bisa juga sebagai refleks, cara tubuh menolak ketegangan yang tak ingin diakui.

Lunara tidak tersenyum. Ia tahu, di dunia Mujib, kalimat adalah senjata. Di dunia “abu-abu” Lunara, kalimat adalah medan ranjau. “Takut itu fungsi biologis, Mas,” jawab Lunara. “Yang berbahaya adalah kepastian.”

Ia tidak mengatakan sisanya. Kalimatnya dibiarkan menggantung.

Bagi Lunara, menunda amarah kolektif adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan negara dari dirinya sendiri. Bahwa negara tidak runtuh karena kritik, tetapi karena kemarahan yang kehilangan arah. Bahwa sejarah Indonesia penuh dengan momen ketika emosi publik disederhanakan, lalu dipinjam oleh tangan-tangan jahat yang pandai memanaskan konflik.

Mujib menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. “Kamu tahu, pembaca kita ingin penjahat yang jelas.”

“Karena itu aku tidak menulis untuk mereka,” jawab Lunara. “Hal yang Mas sebut sebagai ‘pembelaan’ tadi,” sering kali hanya jeda agar pikiran tidak langsung berubah jadi senjata.”

Lunara berdiri, sambil meraih tasnya. “Aku menulis untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk, Mas.”

“Apa misalnya?” tanya Mujib, cepat. “Takut chaos? Anarkis? Pemerintahan bubar? Presiden di-Maduro-kan? Mencegah apa, Lunara?” Mujib mengejar jawaban.

Lunara berhenti di ambang pintu. “Pengulangan, Mas. Sejarah punya sifat mengulang-ulang pola yang sama.”

Empat puluh menit kemudian, Lunara sudah turun dari ojek, di sebuah warung kopi kecil yang buka dua puluh empat jam. Di sana, ia bertemu Kailani.

Kailani duduk di sudut, membelakangi dinding. Kebiasaan lama yang tidak pernah ia hilangkan, meski sekarang ia bekerja sebagai perwira penghubung. Sebuah jabatan yang terdengar administratif, tetapi pada praktiknya berarti menjadi jembatan antara hal-hal yang tidak boleh saling tahu.

“Kamu terlambat dua menit,” kata Kailani tanpa menoleh.

“Sorry, Bang. Aku ditahan moralitas jurnalistik,” jawab Lunara, sambil nyengir.

Kailani mendengus. “Wah, kata-kata lebih berbahaya dari senjata ya.”

Mereka memesan kopi hitam. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pertanyaan tentang keluarga. Hubungan mereka dibangun dari kesadaran bahwa setiap detail personal adalah celah.

“Kamu mau bilang bahwa semua keriuhan ini rekayasa? Basi itu.” kata Kailani membuka percakapan. Ia berbicara pelan, penuh senyum, tetapi matanya waspada. Seolah setiap meja punya telinga.

“Aku mau bilang ini terlalu tepat waktu,” jawab Lunara. “Banjirnya nyata. Hutannya rusak. Tapi lihat urutannya.”

Kailani mengeluarkan tablet kecil.Lalu menunjukkan tampilan pada layarnya: peta Indonesia dengan titik-titik merah: banjir merata.

“Aku tidak menyangkal data, Bang,” kata Lunara. “Aku membaca ritmenya.” Ia mengeluarkan buku catatan tipis. Tidak ada judul. Hanya tanggal dan garis-garis.

“Tiga hari sebelum puncak banjir Jakarta,” lanjut Lunara, “tagar tertentu mulai dipanaskan. Narasi oligarki disematkan ke semua level, tanpa diferensiasi. Dua hari kemudian, akun-akun yang sama mendorong ajakan aksi dengan framing moral absolut. Tidak ada tuntutan spesifik, hanya kemarahan.”

Kailani menatap dan ‘membaca’ pola yang disuguhkan Lunara. “Kamu pikir ini operasi, Lun?”

“Bukan operasi klasik, Bang,” jawab Lunara, sambil menyalakan rokok. “Tidak ada manifesto. Tidak ada klaim. Ini lebih mirip… latihan.”

Kailani terdiam. Kata itu tidak nyaman. Latihan berarti ada pengamat. Ada penilai. Ada evaluasi.

“Pihak mana yang latihan?” tanyanya.

Lunara meneguk kopinya. “Pihak yang ingin tahu seberapa cepat masyarakat kita bisa disinkronkan oleh emosi.”

Sinkronisasi.

Itulah kata yang terus berputar di kepala Lunara sejak beberapa hari terakhir. Ia meminjam istilah itu dari fisika dan biologi: cara sistem yang terpisah bisa tiba-tiba bergerak bersama, ketika dipengaruhi sinyal tertentu.

Dalam konteks sosial, sinkronisasi adalah ketika kemarahan muncul serempak, dengan kosakata yang sama, target yang sama, dan waktu yang hampir bersamaan. Bukan mustahil. Tetapi jarang terjadi dalam skala besar, bila secara alami.

“Kamu yakin?” tanya Kailani. “Kita harus uji keyakinanku, Bang. Intelijen mati karena menganggap sesuatu berlebihan. Negara jatuh karena menganggapnya biasa,” jawab Lunara.

“Ada hubungannya dengan HAARP? Ada beberapa akun anonim yang menyebutnya,” tanya Kailani, membuat Lunara terbelalak.

“HAARP bukan mesin cuaca, Bang,” katanya. “Itu hantu.”

“Hantu? Maksudnya?”

“HAARP itu kata yang terus dipanggil setiap kali orang ingin menjelaskan kekacauan dengan satu tombol raksasa,” jawab Lunara. “Tapi aku tidak tertarik pada mesinnya. Aku tertarik pada kenapa nama itu selalu muncul.”

Kailani menyilangkan tangan. “Kamu bicara seperti novel.”

“Betul itu, Bang. HAARP itu khan teknologi era industri berat ya. Ada antena raksasa, energi besar, jejak fisik jelas. Cocok untuk riset ionosfer. Maka, dalam literatur dan budaya populer, HAARP diposisikan sebagai simbol kendali absolut—cuaca, gempa, pikiran. Tapi apa cocok untuk perang modern? Menurut Abang, apakah dunia intelijen hari ini, masih ingin menggerakkan alam?

“Enggak. Fitrah intelijen: menunggangi perilaku. Maka teknologinya pun tidak berisik, tidak heroik, dan tidak meninggalkan kawah,” jelas Kailani. “Dan memang, dalam kajian ilmiah, HAARP hanyalah fasilitas riset ionosfer. Tidak lebih. Tidak kurang. Tapi bukankah penting untuk punya sebuah simbol?” tambah Kailani.

“Penting, Bang. Karena simbol memberi musuh imajiner. Dan musuh imajiner lebih mudah dipakai. Pertanyaannya: dipakai untuk apa, dan oleh siapa?” jawab Lunara.

“Untuk mengalihkan,” kata Kailani, setengah bergumam. “Dari operasi yang lebih sederhana dan lebih efektif.”

Malam itu, Lunara pulang dengan kepala penuh. Ia membuka laptop, mencari arsip laporan lawas. Mulai dari studi tentang operasi psikologis, latihan militer asing yang dibungkus “simulasi bencana”, hingga eksperimen sinkronisasi opini di media sosial.

Ia menemukan satu catatan kecil dari jurnal akademik yang hampir tak pernah dikutip media populer: information resonance! Bagaimana pesan tertentu, jika disebar pada frekuensi emosional yang tepat, bisa memperkuat satu sama lain, sehingga menciptakan ilusi konsensus?

Lunara tersenyum tipis. “Not that bad,” gumamnya.

Bukan berarti situasinya ringan. Justru sebaliknya. Kalimat itu adalah alarm sunyi. Ketika sesuatu tidak seburuk itu, orang cenderung lengah. Padahal justru di sanalah manipulasi bekerja paling halus.

Lunara menulis di catatannya: Red alert: sinkronisasi kemarahan. Tugas: mematahkan irama tanpa mematikan suara.

Ia menutup laptop. Di luar, hujan turun lagi. Tidak deras. Tidak dramatis. Seperti latihan. Dan Lunara tahu, ketika latihan dimulai, ujungnya adalah serangkaian pengujian.

—--.