Detektif Imut - Mutilasi yang Kejam (2)

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

Benda itu diletakkan di tas keresek dengan bau darah yang menyengat. Setelah dibuka, rupanya adalah organ ginjal yang kemungkinan ginjal dari korban.

“Bagaimana bisa di tempat itu?” tanya Detektif Romy.

“Lebih baik, kita segera menginterogasi mereka semua,” saran Inspektur Galih, “Grace, Nathan! Telepon aku, kalau mendapatkan petunjuk lain.”

“Siap!” sahut mereka berdua.

“Detektif Romy, mari ikut bersama kami!”

“Ngomong-ngomong, tempat interogasi ada di mana?”

“Di aula kecamatan, bukannya kau akan ke sana bersama kami?”

“Aku bawa mobil sendiri.”

Detektif Romy pun berjalan menuju bengkel untuk mengambil mobilnya.

“Pak Romy, ini kunci kontak sama notanya,” ucap kasir tadi.

“Terima kasih.”

Kasir wanita itu mengerutkan keningnya, dia kaget dengan perubahan sikap Detektif Romy yang drastis. Tadinya dia genit, sekarang tatapan matanya tajam. Sepertinya siap untuk memecahkan kasus kejahatan.

Dia masuk ke dalam mobil, menyadari kalau Dinda ketinggalan dan tak tahu di mana dia berada.

“Bocah nakal itu ke mana, ya. Kok tiba-tiba hilang.”

“Paman mencariku?” ucap Dinda yang rupanya sudah di dalam mobil, membuat Romy tersentak kaget.

“Bocah nakal! Seperti hantu saja. Kadang hilang, kadang datang sendiri!”

‘Woy, woy. Kalau aku hantu, pasti akan membunuhmu,’ ancam Dinda dalam hati.

Mobil pun dinyalakan mesinnya. Romy tersenyum setelah starternya sudah diperbaiki. Tidak seperti sebelumnya yang susah.

“Apa Paman merasa ada yang aneh dengan kasus pembunuhan tadi?”

“Aneh bagaimana? Biasa aja, aku kan sudah lebih berpengalaman daripada kamu.”

“Maksudku, mengapa pelaku pembunuhan repot-repot memutilasi korban, dan secara terang-terangan mayatnya tak dibuang?”

“Bodoh! Mungkin saja kan, ada organ yang mau dijual?”

“Bukankah hal itu malahan membuat polisi akan mudah mengidentifikasi?”

Detektif Romy pun terdiam, lalu berpikir panjang.

‘Benar juga, kata Bocah ingusan ini. Biasanya, setelah pelaku memutilasi korban, dia akan mengubur jasadnya secara terpisah.’

“Paman, awas!”

Detektif Romy yang tadi melamun pun berhenti mendadak. Ternyata, ada para penyeberang jalan di depannya. Tadinya dia tidak fokus ke jalanan, hampir sama menabrak orang itu.

“Hampir saja!”

“Paman sih, kurang hati-hati.”

Romy tak menjawab, dia kembali menjalankan mobilnya untuk menuju aula kecamatan.

Setelah sampai, semua orang berkumpul di sana. Interogasi belum dimulai, karena menunggu Detektif Romy datang.

Dinda berdiri di tempat tersembunyi, tapi masih menjaga jarak, agar dia mendengar informasi nanti.

“Kita mulai interogasinya, Pak Dodi, selaku pemilik toko daging, tadi malam Anda di mana?”

“Aku tadi malam di rumah saja, istrikulah saksinya.”

“Berarti, dugaan sementara, Pak Dodi punya alibi. Namun, bagaimana Anda bisa menjawab isi pesan teks ini? Ini di dalam ponsel milik korban yang dikirimkan darimu. Kamu mengancam akan mengambil ginjalnya, ya kan?”

“Omong kosong, itu tidaklah benar, aku mengirim pesan itu karena marah, Merry selalu menjelekkan anak semata wayangku. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Sehingga, aku ancam dia seperti itu.”

“Jadi, Pak Dodi punya motif pembunuhan.”

“Ayolah, Pak Inspektur. Aku berani sumpah, tidak membunuhnya.”

“Lalu, siapa saja yang punya akses masuk ke tokomu?”

“Kunci toko kan ada tiga, yang punya kunci, aku, anakku, dan juga Ardi.”

“Lalu, Trisna?”

“Saat dia dibunuh, aku dalam perjalanan pulang dari acara reuni sekolah. Mana mungkin aku bisa membunuhnya, ya kan?”

Setelah itu, Inspektur Galih menelepon seseorang yang kemungkinan adalah teman Trisna. Setelah selesai, dia pun mengangguk.

“Oke, kamu punya Alibi. Tapi, bisakah kau menjelaskan tentang sobekan buku harianmu ini? Kau mencurahkan semua amarahmu pada tulisan ini, kan?”

“Aku muak dengan sikap Merry yang selalu mengejekku. Dia selalu datang ke toko, karena punya niat untuk merebut Ardi dariku?”

“Jadi, kau dan Merry memperebutkan Ardi, dan timbullah cinta segitiga. Benar itu, Ardi?” tanya Inspektur Galih.

Ardi berkeringat dingin setelah ketahuan punya hubungan gelap dengan korban.

“Benar, Inspektur.”

Trisna yang baru saja mendengarkan ungkapan itu pun secara refleks menampar Ardi.

“Dasar cowok ga tau diri! Kupikir, kau magang di tempat jualan Bapakku, untuk mendekatiku. Tapi apa yang kau lakukan?!” bentak Trisna.

“Aku ... tak bermaksud.”

“Tak bermaksud apaan?!”

“Tenanglah!” Sekarang Ardi, kau tadi malam ke mana?”

“Aku tadi malam di rumah saja. Ga keluar sama sekali.”

“Bagaimana Opsir Dina?”

“Dia berkata jujur, aku sempat bertanya dengan pemilik kos. Dia ada di kamarnya.”

“Baik, kamu punya alibi juga. Lalu, bisakah kau menjelaskan dengan benda ini yang ada dalam kamarmu?” ucap Inspektur Galih sambil mengeluarkan celana dalam milik wanita.

Sementara itu, Ardi bingung mau menjawab apa. Trisna memasang wajah cemburu, sepertinya ingin segera maluapkan emosi padanya.

“Aku ....”

“Celana dalam ini terkonfirmasi milik korban, Merry. Bagaimana bisa berada di kamarmu?”

“Jujur saja, aku pernah membawa Merry ke kamarku. Dia juga sebenarnya sedang hamil.”

“Apa kau bilang?!” bentak Trisna ingin menampar Ardi untuk kedua kalinya. Namun, ditahan oleh Opsir Dina yang berdiri di belakangnya.

“Setelah semalam bersenang-senang dengannya. Celana dalam itu tertinggal di kamarku. Kubuat jimat keberuntunganku. Merry sempat bertanya padaku. Namun, aku bilang tak tahu keberadaan celana dalam itu.”

“Jadi, kau punya motif juga,” ucap Inspektur Galih.

“Aku tidak membunuhnya!” sangkal Ardi.

“Sekarang Bu Dewi, selaku ibu korban.”

“Bukankah tadi malam aku di kantor polisi untuk mencari anakku?”

“Iya, Bu. Alibi Anda kuat, tapi bagaimana Anda bisa menjelaskan benda ini?” kata Inspektur Galih sambil memamerkan organ ginjal yang dibungkus plastik transparan.

“Apa itu?”

“Ini ginjal, Opsir Dina menemukan di rumahmu. Apakah Anda mengorbankan anakmu untuk diambil ginjalnya?”

“Apa-apaan ini! Tuduhan yang rak bermoral! Mana mungkin ibunya tega mengambil ginjal anaknya!”

“Pak Inspektur! Benar kata dia. Bisa jadi, orang lainlah yang menaruh ginjal itu di rumahnya,” sela Detektif Romy.

“Baik, kalau begitu, kalian berempat punya alibi kuat, tapi punya motif. Pak Detektif! Aku serahkan padamu untuk menentukan pembunuhnya!”

Data-data hasil autopsi dan semua data penting diberikan kepada Detektif Romy. Namun, dia berkeringat dingin, bingung menentukan siapa pelaku pembunuhan itu.

Bu Dewi pun menangis meratapi nasibnya. Air mata mengalir deras akibat Masalah yang dialaminya.

“Aku sudah kehilangan anakku. Juga dituduh membunuhnya!” ucap Bu Dewi tak terima.

“Tenang dulu, Bu! Serahkan saja kepada kami. Nanti akan ketahuan siapa yang membunuh Putrimu,” ujar Opsir Dina menenangkan.

Detektif Romy berpikir keras ,dia bingung menentukan siapa pembunuhnya dengan membolak-balikkan data yang sudah dicetak di kertas putih.

“Jadi, begini ya. Korban adalah Merry, usia 27 tahun, anak dari Bu Dewi. Semua tersangka punya alibi kuat. Menurut petugas forensik, mereka menemukan puntung rokok di TKP yang air liurnya bukan milik korban. Bisa jadi, pelaku pembunuhan itu perokok, tapi semua tersangka perokok. Kemudian, ada jejak sepatu berukuran 42. Tim forensik sudah mengukurnya. Hasilnya, yang punya sepatu berukuran 42 adalah, Pak Dodi, Trisna, dan Ardi. Berarti kita bisa mempersempit menjadi tiga tersangka, dengan mengecualikan Bu Dewi, sebagai tersangka,” ucap Inspektur Galih.

‘Begitu, ya. Namun, aku akan kesulitan untuk membantu Paman, karena lokasi TKP yang jauh,’ batin Dinda, ‘kalau dilihat dari motif pelaku, kemungkinan orang itu pelakunya ....’