Detektif Imut - Mutilasi yang Kejam - Bab 32

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

‘Kalau dilihat dari motif pelaku, kemungkinan orang itu pelakunya. Haruskah aku membuat catatan untuk Paman? Tapi aku belum yakin kalau dia pelaku pembunuhannya, aku masih butuh bukti lagi,' gumam Dinda dalam hati yang bingung harus bagaimana lagi.

Dinda dalam kebimbangan memikirkan siapa pelaku sebenarnya. Sebenarnya, dia sendiri sudah mempersempit pelakunya menjadi dua. Namun, tidak mungkin keduanya yang melakukan pembunuhan itu. Tak ada indikasi kerja sama menurut keterangan para tersangka. Dia pun bingung, siapa salah satu dari keduanya yang berbohong?

Sementara itu, Detektif Romy pamit pergi ke toilet seperti biasanya. Dia sudah tak tahan lagi, karena beban pikiran yang mengganggunya serta hajatnya yang sudah sampai di ujung.

“Silakan, Pak Detektif. Jangan lupa, seperti biasanya. Setelah kembali dari toilet, pecahkan kasus ini!” ujar Inspektur Galih sedikit bercanda padanya.

“Dasar!” umpat Romy padanya. Namun, ada benarnya juga, setelah keluar dari toilet, ia akan lebih mudah dalam memecahkan kasus. Bukan karena hajatnya yang sudah dikeluarkan, melainkan sobekan kertas dengan tulisan yang tak tahu dari mana asalnya.

Dinda melihat Romy pergi dari tempat interogasi. Sebenarnya, saat itulah yang dia tunggu-tunggu untuk memulai aksinya meletakkan kertas deduksi padanya. Namun, dia belum tahu pelaku sebenarnya.

‘Menurutku, jika di antara korban, Trisna dan Ardi menjalin hubungan segitiga, pastilah Trisna marah padanya. Apalagi, hubungan Ardi dan Merry yang di luar batas. Apalagi, dengan hubungan itu menyebabkan korban hamil.’

Telepon Inspektur Galih pun kembali berdering, dia mengangkat teleponnya dan kaget.

“Apa? Kau serius?” ucapnya kaget mendengar laporan dari lawan bicaranya, lalu telepon dimatikan.

“Ada apa, Inspektur?” tanya Opsir Kevin.

“Petugas forensik menemukan janin di dalam perut korban.”

“Jadi, korban benar-benar hamil?”

“Iya, korban sudah mengandung kira-kira usia dua bulan.”

Dinda mendengar kabar itu dari tempatnya berdiri, ‘korban benar-benar hamil’ tapi informasi itu belum cukup untuk mengungkap siapa pembunuh sebenarnya.

‘Sudah pasti, yang menghamili korban adalah Ardi. Namun, kalau dia pelakunya, mengapa dia tega membunuhnya? Bukankah korban mengandung anaknya? Atau mungkin untuk menyembunyikan tindakan bejatnya kepada Trisna?’

‘Lalu, kalau Trisna pembunuhnya, mengapa kalau menerima penghinaan saja, dia tega membunuh? Mereka berdua punya motif kuat, tapi mengapa?’

Tiba-tiba, ada seorang perempuan yang mendatangi lokasi.

“Santi, ada apa kau ke mari?” tanya Trisna sambil berdiri dari duduknya, lalu mendekati Santi.

“Aku cuma ingin mengembalikan arloji milikmu. Aku pinjam sebentar untuk ketemu sama cowok,” katanya sambil menyerahkan arloji itu.

“Terima kasih ya, dengan arloji keberuntungan itu, dia akhirnya mau nembak aku.”

“Iya kah? Aku turut senang mendengar kabar itu,” jawab Trisna.

“Ngomong-ngomong, ini ada apa? Kok banyak polisi di sini?”

Trisna menyuruhnya berbicara dengan pelan, lalu menjelaskan detailnya pada Santi.

“Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu ya. Jelaskan pada mereka kalau kau bukan pelakunya dan tak perlu takut,” bisik Santi.

Trisna mengangguk padanya.

Kemudian, Santi bergegas pergi dari tempat itu dan tak ingin mengganggu mereka.

Dengan pandangan mata elang, Dinda melihat ada kejanggalan pada mereka berdua. Tak hanya itu saja, ia melihat gerak-gerik mereka berdua dan juga mendengarkan percakapan mereka berdua yang mana merupakan petunjuk penting untuk memecahkan kasus tersebut.

‘Arlojinya ada yang aneh? Mungkinkah dia pelakunya? Aku harus segera membuat catatan kepada Paman. Sebelum dia balik.’

Dinda menulis analisisnya di sobekan kertas seperti biasanya, lalu berlari menuju ke toilet untuk menunggu Romy keluar.

Untung saja, momentumnya tepat. Pintu toilet pun terbuka. Saat Romy keluar, dia diam-diam menyelampitkan secarik kertas itu ke saku celana tanpa sepengetahuannya. Lalu, segera bersembunyi seperti biasanya.

‘Yups! Selanjutnya, aku serahkan padamu, Paman. Aku tak mungkin bisa menjelaskannya sendiri. Karena aku cuma anak kecil. Mereka tak mungkin percaya dengan ocehan bocah sepuluh tahun.’ Dinda bergumam dalam hati sambil tersenyum puas.

Sementara itu, Romy melangkah menuju tempat interogasi dan rupanya, semua yang ada di sana sudah menantinya agar kasus segera selesai.

“Bagaimana, Pak Detektif? Apa kau sudah dapat petunjuk?” tanya Inspektur Galih sedikit meledek, tapi penuh keyakinan.

“Sepertinya belum,” kata Detektif Romy sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Kenapa belum? Biasanya, setelah kau keluar dari toilet, kau selalu mendapat hidayah untuk memecahkan kasus ini kan?”

Detektif Romy terdiam, ia mendapatkan kertas lagi di sakunya. Merogohnya dalam-dalam, lalu mengambilnya.

‘Hah? Ada kertas aneh ini lagi. Siapa yang meletakkan di saku?’

Romy langsung membuka secarik kertas itu yang berupa catatan analisis. Tulisannya itu sangat jelas dibaca, tidak seperti tulisan anak SD, sehingga, Detektif Romy tidak mencurigai Dinda.

“Katanya kamu belum tahu siapa pelakunya? Tapi kau sudah mencatatnya di kamar mandi. Alasanmu sungguh bagus, kau sungguh genius,” kata Inspektur Galih sedikit memujinya.

Detektif Romy tak menjawab, dia fokus membaca tulisan di secarik kertas itu sambil menganggukkan kepalanya.

Di lain tempat, Dinda tersenyum puas setelah melihat Detektif Romy menganggukkan kepalanya. Karena bisa jadi, dia sudah memahami tulisannya.

“Aku sebenarnya merasa ada keanehan pada kasus ini. Jadi, aku baru menyadari sesuatu yang merupakan kunci terpecahnya kasus pembunuhan ini,” ujar Detektif Romy.

“Lanjutkan, Pak Detektif!” suruh Inspektur Galih dengan mata berbinar.

“Jadi, menurut tulisan ini. Eh, maksudku menurut catatan analisisku, pembunuh menggantung kepala, tangan dan kaki korban itu ada sebabnya. Memang, pertanyaannya, mengapa mayat yang baru dimutilasi tidak dikubur saja?”

“Masuk akal juga.”

“Pembunuh melakukan itu karena rasa sakit hatinya yang besar terhadap korban. Dia mengalami emosi yang berlebihan, yang menyebabkan hilang akal sehatnya untuk sementara waktu. Sehingga, tidak ada pikiran untuk membuang jasad tersebut.”

“Iya, lalu bagaimana?”

“Pelaku mengambil ginjal itu dan mengirimkannya ke rumah Bu Dewi menggunakan kurir atau seseorang yang disuap olehnya. Tujuan aslinya, agar Bu Dewilah yang akan dituduh melakukan pembunuhan terhadap anaknya.”

“Aku tidak membunuh anakku. Mana mungkin pula mengambil ginjal miliknya?” sangkal Bu Dewi.

“Tenang, Bu Dewi. Anda bukan pelakunya,” ucap Detektif Romy.

“Lantas, siapakah pembunuhnya?”

“Sabar, ini masih aku jelaskan motif pembunuhan itu.”

“Berhubung tadi ada petunjuk berupa puntung rokok di lokasi TKP, rokok itu positif milik pelaku. Opsir Kevin secara diam-diam menawarkan batang rokok kepada semua tersangka. Hasilnya, semua tersangka merupakan perokok. Namun, setelah ukuran sepatunya dicocokkan dengan jejak kaki itu, tersangka dipersempit menjadi tiga, bukan begitu, Inspektur?”

“Iya benar, Pak Detektif.”

“Motif yang paling menonjol adalah skandal cinta segitiga antara korban dan kedua tersangka. Namun, bisa jadi, Pak Dodi juga bisa melakukannya, karena tak terima dengan ejekan korban kepada anaknya.”

“Woy, aku sudah bilang, aku bukan pembunuhnya.”

“Aku jelaskan intinya dulu, Pak. Pelaku di saat pukul 22.00 dipastikan berada di lokasi TKP. Namun, alibi dari semua pelaku sempurna.”

“Kelamaan, Pak Detektif. Siapa pelakunya di antara kami!” cecar Ardi yang tidak sabar menunggu keputusan Detektif Romy.

Suasana di tempat itu seketika hening, tanpa ada yang berani buka suara, karena menunggu Romy yang mengungkap kasus itu.

Detektif Romy kembali membuka secarik kertas itu, lalu kembali membacanya dan mencocokkan dengan data yang ada di depannya.

‘Ayolah, Paman. Kau pasti tahu siapa pembunuhnya. Tak usah kelamaan!’ gumam Dinda dalam hati.

“Oke, kalau begitu. Sesuai analisis dan bukti-bukti yang ada. Pembunuhnya adalah ....”