“Oke, kalau begitu. Sesuai analisis dan bukti-bukti yang ada. Pembunuhnya adalah kau, Trisna!” kata Detektif Romy sambil menunjuk ke arahnya.
“Aku? Mana bisa? Kata Bapak tadi, alibiku sempurna bukan?” sangkal Trisna, tak percaya dengan deduksi yang disampaikan Romy.
“Lho, tadi kau mengatakan sendiri, Trisna bukan pembunuhnya? Lha kok ini berubah?” tanya Inspektur Dimas.
“Iya, awalnya sempurna. Tapi, ada kesalahan yang harus aku revisi baik-baik. Tadinya, aku kurang teliti dan tak tahu ada petunjuk kecil yang baru saja kutemukan. Sekarang, coba perlihatkan arlojimu kepada semua orang, Trisna?”
“Arlojiku? Untuk apa, Pak Detektif?” tanya Trisna bingung, keringat tipis bercucuran di wajahnya.
“Lakukan saja biar semua orang tahu.”
Akhirnya, sesuai suruhan Romy, dia melakukannya dengan terpaksa. Rupanya, jam di arloji lebih cepat empat puluh lima menit, atau bisa dikatakan, hampir satu jam bisa dilihat dari jarum panjangnya yang berbeda dari arloji analog yang dipakai Romy.
“Oh, benar juga. Jamnya lebih cepat hampir satu jam. Maka, alibi sempurnanya terhapus dan dia terindikasi pelaku. Saksi mata, yang merupakan teman Trisna mungkin menganggap kalau mereka berdua pulang dari reuni jam sepuluh malam. Padahal, sebenarnya masih jam sembilan lebih lima belas menit,” ungkap Inspektur Dimas.
“Mana mungkin bisa seperti itu? Bisa jadi, Santi sendiri yang mengubah waktunya, kan?” sangkal Trisna.
“Arloji seperti itu, tidak mungkin orang lain bisa mengubah waktu, karena buat apa? Orang lain tak menyadari kalau waktunya berubah. Hanya pemiliknya yang dengan sengaja mempercepat waktu untuk tujuan tertentu.”
“Benar juga, Pak Detektif,” ucap Inspektur Dimas sambil memegang dagunya.
“Kau bohong! Kalau dia tahu, mana mungkin repot-repot mengubah jam? Tujuannya buat apa?” cela Detektif Romy.
“Mungkin ada tujuan lain yang tak kumengerti.”
Ponsel Inspektur Dimas pun kembali berbunyi. Seketika, suasana pun kembali hening, pandangan matanya tertuju pada satu arah, yaitu Inspektur Dimas.
“Gimana, Nathan? Iya, iya.”
Setelah beberapa saat, telepon pun ditutup.
“Ada satu bukti lagi yang tak mungkin disangkal oleh pembunuh,” ujar Inspektur Dimas.
“Apa itu, Inspektur?” tanya Detektif Romy.
“Nathan menemukan sehelai rambut yang disemir merah. Dia sudah menelitinya, kalau rambut itu milikmu, Trisna!” ungkap Inspektur Dimas.
“Kaulah satu-satunya yang memiliki rambut disemir merah,” imbuh Detektif Romy.
Dengan bukti terakhir itu, Trisna pun tertunduk lesu. Badannya lemas seketika. Dia sudah tak bisa menyangkalnya lagi. Bukti terakhir sudah kuat mengungkap kasus tersebut.
“Kamu beneran yang membunuh, Anakku?!” bentak Pak Dodi.
Trisna masih terdiam sambil air matanya mengalir di pipinya.
“Dari dulu, aku mendidikmu agar menjadi perempuan yang baik. Namun, sekarang apa? Kau nekat berani membunuh orang di toko ayahmu ini!”
“Maafkan aku, Ayah. Merry yang sudah keterlaluan. Tidak hanya mengejekku saja, dia pun memerasku. Dia bilang hamil anak Ardi, aku yang sebagai pacarnya turut diperas, agar dia diam dan tidak menyebarkan aibnya itu. Aku lakukan semua ini demi cinta padamu, Ardi?”
“Harusnya kau jangan begini!” sela Ardi yang dari tadi diam.
“Dia udah keterlaluan! Mana bisa, aku diam saja? Aku harus bertindak! Dia sudah mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan!” hardik Trisna.
“Sudah, mari ikut kami ke kantor polisi,” ajak Opsir Ilham sambil memasang borgol pada Trisna.
“Ayah! Lakukan sesuatu! Aku tak mau dipenjara!” pekik Trisna berontak.
“Ayah tak bisa melakukan apa-apa. Hukum tetaplah hukum. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu. Kamu sudah salah besar! Sebaiknya jangan gegabah terlebih dahulu!” bentak Ayahnya.
Trisna hanya bisa tertunduk lesu dan menyadari kalau perbuatannya salah, sedangkan ayahnya menangis melihat anaknya dibawa ke kantor polisi.
“Bu Dewi. Aku mewakilkan anakku. Minta maaf sebesar-besarnya padamu,” ucap Pak Dodi meminta jabat tangan.
Awalnya Bu Dewi ragu, tapi pada akhirnya, dia pun mau berjabat tangan.
“Akulah yang meminta maaf kepada Bapak dan Ibu semua,” sela Ardi, “karena tindakanku, semuanya jadi begini, aku yang memacari keduanya.”
Mereka bertiga pun saling berjabat tangan. Suasana di tempat itu seketika haru.
“Nak Ardi, mulai hari ini, kau harus jadi pribadi yang baik,” kata Detektif Romy.
“Baik, Pak Detektif.”
“Oke, kasus hari ini ditutup!” kata Inspektur Dimas.
Tersangka dibawa menuju kantor polisi untuk ditindak lanjut. Sementara yang lain pun bubar setelah kasus itu terpecahkan.
“Pak Romy Prasetyo, kau adalah detektif yang hebat,” puji Inspektur Dimas.
“Inspektur, aku hanya ...,”
“Ya sudah, kami pergi dulu. Jika ada kasus lagi, akan dihubungi ya. Kami butuh bantuanmu agar kasus bisa ditangani.”
“Oh iya, baik.”
Romy baru menyadari, dia sudah kehilangan Dinda.
“Ke mana ya, bocah nakal itu? Sudah saatnya pulang kok tak ada di sini?”
“Paman!” panggil Dinda sambil melambai ke arahnya.
“Woi Bocah Tengik. Ayo pulang, dari mana saja kau?”
“Oke, Paman.”
Mereka berdua pun menuju ke bengkel untuk mengambil mobilnya.
**
Keesokan harinya, di SD Brooksville ada seorang perempuan yang akan melamar menjadi guru di sana.
Maya pun berangkat untuk tes seleksi menjadi detektif. Sepertinya, dia sedang diinterview langsung oleh kepala sekolah.
“Eva Setiyani ya? Nilai akademikmu bagus,” ucap kepala sekolah, “kau bisa bekerja di sini sebagai guru kelas dua untuk menggantikan guru sebelumnya.”
Eva mengangguk pelan, dia tersenyum lebar setelah berhasil mendapatkan pekerjaan di sekolah itu.
Bel istirahat berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah. Siswa-siswi segera berhamburan keluar kelas, termasuk Dinda, Maya, Freddy, dan Luna yang berkumpul di taman sekolah.
“Kalian sadar nggak sih? Bu Eva itu aneh,” bisik Maya sambil melirik ke arah guru baru yang tengah berjalan menuju ruang guru.
“Aneh gimana?” tanya Dinda skeptis, menggigit roti bekalnya.
“Dia itu guru baru. Saat jam makan siang, dia mondar-mandir sambil menelepon seseorang,” imbuh Luna.
Freddy mengangguk. “Dan tadi pagi, aku melihat dia mengendap-endap ke ruang arsip. Dia kelihatan gelisah.”
Dinda menghela napas. “Mungkin dia cuma guru baru yang masih beradaptasi. Kalian terlalu banyak berimajinasi.”
Maya mendesah. “Tapi feeling-ku mengatakan ada yang nggak beres, Ted. Kita harus menyelidikinya.”
Luna dan Freddy mengangguk setuju. Mereka bertiga lalu saling bertukar pandang, lalu menoleh ke Dinda, menunggu persetujuannya.
Dinda menatap mereka ragu, lalu menggeleng. “Aku rasa kalian cuma berlebihan, tapi terserah. Aku ikut, tapi kalau nanti ternyata Bu Eva nggak menyembunyikan apa pun, kalian harus terima, ya?”
Maya tersenyum penuh semangat. “Siap, detektif sekolah!”
“Baiklah, kalau begitu, kita harus selalu awasi dia. Apa yang dilakukan di sekolah ini?” ujar Maya.
Sementara itu, Dinda yang tidak percaya tebakan mereka pun hanya santai saja. Dia melirik ke arah Bu Eva yang saat itu memang sedang menelepon. Tanpa dia duga, Bu Eva pun melihatnya, lalu tersenyum pada Dinda, membuatnya jadi salah tingkah.
Mereka pun akhirnya sepakat untuk mencari tahu lebih dalam tentang guru baru itu. Apakah Bu Eva memang mencurigakan, atau hanya prasangka mereka saja? Jawabannya masih menjadi misteri.
**
Matahari mulai condong ke barat, cahayanya membiaskan semburat jingga di langit. Detektif Romy baru saja menyesap kopi terakhirnya ketika ponselnya bergetar.
“Romy di sini, ada apa, Pak Inspektur?”
Suara tegang di seberang sana langsung menyergap telinganya. “Ada mayat di Pantai Senja. Ini bukan kecelakaan, sepertinya pembunuhan.”
Romy menghela napas berat. “Baik, aku segera ke sana ....”