Ia segera meraih jasnya, bergegas keluar, dan masuk ke dalam mobilnya. Namun, begitu ia menutup pintu, sesuatu terasa aneh di dalamnya. Ada gerakan dari kursi belakang yang membuatnya kaget. Ia sebenarnya takut, lalu menoleh ke belakangnya dengan perlahan.
“Sudah lama aku menunggumu, Paman.”
Romy tak menyangka, tiba-tiba ada Dinda di sana. Entah kapan bocah itu masuk ke mobilnya. Ia seperti tuyul yang bisa menyelinap masuk tanpa sepengetahuan Detektif Romy.
“Kau ngapain di sini?” Romy mengerutkan dahi. Nada suaranya setengah berteriak.
Dinda menyeringai. “Aku tahu kasus ini menarik. Aku mau ikut, Paman.”
Romy mengusap wajahnya, menggeleng pelan. “Bocah, ini bukan petualangan untukmu. Ini untuk orang dewasa dan polisi. Aku tak mau kau dalam kondisi berbahaya.”
Dinda hanya tersenyum. “Tapi kau tak akan menyuruhku turun, kan?”
Romy mendesah. Tidak ada waktu untuk berdebat. Dengan satu tarikan napas, ia menyalakan mesin dan melaju menuju Pantai Senja, menuju misteri yang sudah menanti mereka. Di sisi lain, ia berpikir bahwa bocah kecil itu pembawa keberuntungan yang tak mungkin ia tinggal begitu saja di rumah.
“Ya sudah kalau itu maumu. Tapi kau janji, jangan ganggu pekerjaanku!”
“Baik, Paman. Tenang aja.”
Langit mulai meremang ketika Detektif Romy menyalakan mesin mobil tuanya. Suara deru mesin terdengar serak, menggambarkan betapa sering kendaraan itu menemaninya menyusuri kota demi menyelesaikan berbagai kasus pelik. Kali ini, ia menuju dermaga, tempat di mana ditemukannya jasad seorang pemuda yang mengapung di antara tumpukan jaring nelayan. Namun, perjalanan ini tak ia lakukan sendiri. Duduk di kursi penumpang, seorang bocah laki-laki bersikeras ikut: Dinda, bocah yang tiba-tiba datang entah dari mana, tapi ia anggap keponakan sendiri yang sedang ia asuh sementara.
"Kenapa harus ikut? Tempat ini bukan untuk anak kecil," gumam Romy saat mereka keluar dari perumahan.
"Aku ingin tahu bagaimana Paman bekerja. Mungkin aku bisa jadi detektif juga nanti," jawab Dinda penuh semangat, matanya berbinar seperti anak-anak yang sedang diajak ke taman hiburan, bukan ke TKP pembunuhan.
Romy menatap Dinda dari kaca spion tengah. “Asal kamu sungguh-sungguh belajar. Nanti akan bisa seperti aku.”
‘Hehe, kau sok jadi orang cerdas ya. Padahal kalau aku enggak bantu kamu, paman mungkin akan kesulitan,’ batin Dinda.
Awalnya, Romy menganggap ini perjalanan singkat. Namun, begitu mereka mulai mendekati kawasan pesisir, harapan itu pupus. Kemacetan mengular panjang, mobil-mobil hanya bisa merayap pelan seperti siput kelelahan. Klakson bersahutan, pengemudi gelisah, dan matahari mulai turun perlahan ke garis cakrawala.
“Sungguh sialnya hari ini.”
Romy menghela napas berat, menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
"Kenapa macetnya parah banget, sih?" tanya Dinda sambil menempelkan wajah ke kaca, melihat kondisi di sekitarnya.
"Air laut naik," jawab Romy pendek. "Seperti biasanya, daerah sini rawan pasang. Kadang bisa sampai ke jalan, makanya aktivitas di pesisir sering terhambat kalau cuaca begini. Kadang, bisa juga ada benda dari laut yang ke daratan saat pasang.”
Dinda mengangguk-angguk, lalu diam cukup lama sebelum melontarkan pertanyaan yang tak disangka-sangka.
"Paman, kenapa dulu bercerai sama istri Paman?"
Romy menoleh cepat, wajahnya seketika berubah. Alisnya berkerut, membentuk pola melengkung.
"Hei, anak kecil mana boleh tanya soal itu!" katanya kaget, suaranya sedikit meninggi.
Tanpa disangka, Dinda menatapnya dengan wajah serius. “Tapi aku ingin tahu. Aku ingin mengerti, Paman.”
Romy diam cukup lama, ia kembali menghela napas panjang. Di luar, air laut yang meluber mulai membasahi aspal jalan. Orang-orang turun dari kendaraan mereka, memotret atau sekadar mengeluh pada nasib.
Akhirnya, Romy bicara, nadanya tenang tapi getir.
"Kami belum benar-benar bercerai, Dinda. Baru pengajuan saja. Rumah tangga itu ... seperti menyusun puzzle besar yang rumit. Aku berusaha menyusun semuanya, tapi potongan-potongannya terasa tidak pernah cocok. Henny ... dia jaksa yang hebat, aku sering bertemu saat kuliah bersama dan timbul rasa cinta padanya. Namun, jadi istri bukan cuma soal karier. Ia terlalu sibuk, terlalu ambisius, kadang lupa kalau dia punya rumah untuk pulang. Harusnya, meski ia disibukkan oleh pekerjaannya, tanggung jawab sebagai istri harus tetap ia lakukan.”
Ia mengusap wajahnya dengan tangan, lalu menatap kaca depan yang mulai berembun karena cuaca lembap.
"Kurasa ... mungkin aku juga bukan suami yang cukup baik untuknya," lanjut Romy dengan suara nyaris berbisik. “Aku sibuk juga, kasus demi kasus aku tangani, terkadang sampai larut malam dan pulang telat. Kami mungkin terlalu fokus jadi hebat di luar rumah, tapi lupa bagaimana menjadi satu di dalamnya.”
Dinda menunduk. Ia menggenggam jari-jarinya sendiri.
"Kalau begitu, jangan nyerah, Paman. Kalau belum resmi cerai, mungkin ... masih ada harapan buat kembali, kan?"
Romy menoleh. Untuk sesaat, tak ada sinis dalam matanya. Ia menatap bocah kecil itu yang pikirannya ternyata tak jauh lebih dewasa dari umurnya, dan dia hanya tersenyum samar.
‘Terkadang, anak kecil juga bisa berkata lebih bijak dari orang dewasa,’ gumam Romy dalam hati.
Sementara itu, kendaraan masih merayap, sedangkan perjalanan masih panjang, dan dermaga masih jauh. Namun, di dalam mobil tua itu, dua hati berbeda usia mulai saling memahami.
Seketika, Romy terdiam di balik kemudi, menatap kosong ke depan. Jalanan macet total, tapi pikirannya melaju ke masa yang jauh tertinggal di belakang. Hening di dalam mobil seakan memanggil kenangan lama. Saat ia dan Henny masih menjadi sepasang suami istri yang saling melengkapi.
Dulu, semuanya terasa damai. Belum ada amarah, luka, maupun ada tangisan yang tersembunyi dalam diam. Rumah kecil mereka penuh canda tawa dan harapan. Henny dengan senyum manisnya, dan Romy dengan peluk hangat setelah pulang kerja. Waktu itu, mereka adalah dua insan yang saling percaya dan saling menjaga.
Lalu Monica hadir. Kabar kehamilan itu disambut dengan suka cita, tapi perlahan menjadi titik mula dari retakan kecil. Di antara kesibukan pekerjaan dan persiapan menjadi orang tua, muncul perbedaan-perbedaan kecil yang dulu tak pernah mereka pedulikan. Cara mendidik, siapa yang harus mengalah, hal sepele seperti menu sarapan atau waktu pulang kerja, semuanya berubah menjadi pemicu pertengkaran ringan. Awalnya bisa ditertawakan, tapi kemudian mulai menyisakan luka.
Semakin lama, luka-luka kecil itu tak pernah benar-benar sembuh. Mereka saling menyalahkan, bukan karena benci, tapi karena tak tahu cara lain untuk dipahami. Romy menyadari, di balik tatapan lelah Henny, masih ada cinta yang tak pernah pergi. Begitu pun dirinya. Namun, entah sejak kapan, cinta saja tak cukup untuk menyatukan mereka kembali.
Ia menarik napas panjang. "Maaf, Henny ...," gumamnya lirih, tak terdengar siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Hatinya masih mencintai, tapi realita tak selalu berpihak pada mereka yang mencinta dalam diam.
Romy melamun memikirkan masa lalunya. Alhasil, kurang fokus dalam berkendara.
“Paman ... Paman ...!” panggil Dinda, menyadari sesuatu ....