Detektif Imut - Mayat di Dermaga (1)

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

“Paman ... Paman ...!” panggil Dinda, menyadari sesuatu. Rupanya Romy dalam keadaan bengong, dan di depannya, kendaraan sudah mulai bergerak. Sementara di belakangnya, suara klakson terus-terusan berbunyi.

Segera, Romy melepas hand-rem dan koplingnya perlahan, lalu injak gas. Mobil pun maju, meski masih merayap.

Sementara itu, di TKP. Kilatan lampu polisi menyinari gelapnya malam di dermaga. Kabut tipis menyelimuti udara lembab, bau amis laut menyatu dengan aroma darah yang masih segar. Seorang pemuda ditemukan tergeletak di dekat tiang pancang kayu, perutnya tertusuk benda tajam. Darah membentuk genangan kecil di lantai kayu tua.

Tim forensik – Grace dan Nathan, sibuk memotret dan mencatat. Di dekatnya, Inspektur Dimas berdiri dengan tangan menyilang, menatap jenazah dengan sorot mata serius. Di sampingnya, Opsir Toni mengobrol pelan dengan Opsir Dina.

“Toni, pastikan area steril. Jangan ada warga mendekat. Dan tolong catat semua saksi yang tadi berada di sekitar sini,” suruh Inspektur Dimas dengan nada serius.

“Siap, Pak. Sepertinya tak ada orang lain di sini. Hanya para petugas. Tak mungkin ada orang yang melewati garis polisi. Petugas masih berjaga dari tadi sore. Jadi, kemungkinan tersangka masih di area sini.”

Opsir Dina menganalisis masih dalam posisi jongkok di dekat mayat, “Tusukannya bersih dan dalam. Kemungkinan pelaku langsung menyasar organ vital korban.”

“Tidak ada tanda perlawanan. Kemungkinan besar korban mengenal pelaku, atau diserang tiba-tiba,” ucap Grace.

“Waktu kematian sekitar 2-3 jam yang lalu,” kata Nathan sambil menyentuh kepala korban.

Tiba-tiba, ada suara mobil yang terdengar dari kejauhan mendekat ke area TKP.

Sebuah mobil tua berhenti agak jauh dari garis polisi. Dari dalamnya, turun Detektif Romy, mengenakan jaket panjang dengan rambut yang tertata rapi.

Sebelum keluar dari mobil, ia berkata pada seseorang di dalam mobil. “Bocah, kau tetap di mobil. Ini bukan tempat untukmu.”

“Tapi, Paman … aku bisa bantu,” sangkal Dinda yang ingin ikut ke tempat tersebut.

“Jangan membantah. Tetap di sana. Ini bisa berbahaya,” larang Romy.

Romy melangkah melewati garis polisi, disambut oleh Dimas. Ia berjalan cepat bergabung dengan para polisi di sana.

“Romy … akhirnya kau datang juga,” ucap Inspektur Dimas bernapas lega.

“Melihat tempat ini, rasanya waktu memang tak banyak. Kita harus segera tahu, siapa pelaku sebenarnya,” lanjut Detektif Romy.

“Identitas belum pasti, tapi ada kartu pelajar di saku korban. Namanya: Reynald Satria, usia 18. Warga lokal,” ungkap Grace.

Sementara itu, tidak jauh dari sana. Di dalam mobil, Dinda duduk gelisah. Ia menatap ke arah dermaga, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. Tak tahan lagi, ia membuka pintu perlahan dan keluar diam-diam. Ia menyelinap ke sisi samping dermaga, mencari celah untuk mengintip TKP tanpa ketahuan.

Ia benar-benar tak takut akan ancaman yang bisa saja datang tiba-tiba, pikirannya dewasa meski tubuhnya masih anak-anak

**

Analisis siapa pembunuhnya belum selesai, Detektif Romy menatap tajam pada luka tusukan. “Sepertinya, pelaku bukan sembarang pembunuh. Entah siapa pelakunya, tapi dia tahu apa yang dia lakukan.”

“Ada sesuatu lagi, Pak Detektif. Di tangan korban ditemukan secarik kertas kecil yang tergenggam erat,” sahut Nathan.

Opsir Dina menyerahkan kertas pada Romy untuk dianalisis olehnya.

“Sepertinya sengaja diberikan sebelum atau sesudah ditusuk.”

Setelah itu, Romy membuka kertas, lalu membaca keras pelan.

"Laut menyimpan rahasia. Tapi tak selamanya tenggelam."

Para petugas saling pandang dengan ekspresi bingung.

“Ini ... bukan pembunuhan biasa,” gumam Detektif Romy.

Sementara itu, tak jauh dari sana, di sudut dermaga, Dinda yang diam-diam menyelinap, tak sengaja menginjak papan kayu lapuk, menimbulkan suara "KRAK!" yang nyaring. Semua kepala menoleh ke arah sumber suara tersebut.

“Siapa di sana!?” Inspektur Dimas berteriak.

Romy melangkah ke arah sumber suara tersebut. Menyipitkan matanya, mengenali sosoknya.

“Astaga, Dinda!? Ngapain di sini? Sudah kubilang agar di dalam mobil saja biar aman.”

Dinda maju perlahan dengan canggung.

“Maaf … aku cuma … merasa harus ada di sini.”

Romy marah padanya, tapi masih tetap khawatir padanya. Terlihat jelas pada raut wajahnya.

“Kau bisa dalam bahaya! Kau bahkan tidak tahu siapa yang masih mengawasi kita dari bayang-bayang!”

Tepat saat itu, di kejauhan, sebuah bayangan bergerak cepat di balik kontainer tua. Opsir Toni mengangkat senter, tapi sosok itu sudah lenyap.

“Ada yang lari! Dari arah selatan! Menuju jalan utama!” teriak Opsir Toni.

“Kejar! Tapi jangan ceroboh!” suruh Inspektur Dimas.

“Baik.”

Opsir Toni segera berlari, diikuti anggota polisi lain yang bertugas sebagai pengamanan.

Romy menatap sekeliling, mendadak merasakan sesuatu yang jauh lebih besar sedang berlangsung.

Romy bermonolog dalam hati, ‘Reynald … siapa yang kau tantang hingga kau harus mati malam ini? Dan kenapa semua ini terasa seperti ... awal dari sesuatu yang lebih mengerikan?”

Sorot senter berkedip cepat. Opsir Toni dan rombongannya berlari menerobos kabut, mengejar sosok yang sempat terlihat lari menjauh.

Opsir Toni berteriak, “Berhenti! Polisi!”

Sosok itu terpeleset di kayu basah dan terjatuh. Dia mencoba bangkit, tapi terlambat. Polisi sudah datang. Toni dengan sigap mengamankan pria muda, mengenakan hoodie lusuh dan celana sobek-sobek

Anehnya, orang tadi berusaha kabur, seperti tak punya urusan dengan polisi.

Opsir Toni pun membentaknya, “Siapa kamu?! Kenapa lari?!”

Pria itu panik dan gemetar “Aku … aku cuma lewat! Aku lihat ada mayat di sana, aku takut, makanya aku lari!”

Kolega Opsir Toni segera memborgolnya.

“Tak ada yang lari kalau tak punya alasan kuat. Kau ikut kami. Kita lihat seberapa takutmu nanti di ruang interogasi,” kata Opsir Toni.

Sementara itu, di dermaga, masih ada kejanggalan lain. Opsir Dina menyinari ujung dermaga lain, mendekati seorang pria paruh baya yang tengah memancing santai, seolah tak terjadi apa-apa.

Opsir Dina menyorotkan senter ke arahnya, melihat seorang bapak-bapak sendirian di sana sambil mengantuk, menunggu jorannya bergerak.

“Bapak, diam di tempat. Siapa nama dan apa keperluan Anda di sini?”

“Waduh, saya baru aja dateng, Bu. Biasa, mancing di malam hari, karena saat malam hari, ikan lebih mudah memakan umpan.”

Dina memandangnya tajam.

“Ada yang terbunuh di sini. Dan bagaimana Anda bisa masuk ke area? Sedangkan ada garis polisi di luar sana?”

Orang itu pun terkejut dan bingung.

“Ya Allah … saya nggak tahu apa-apa, Bu. Demi Tuhan, saya baru sampai!”

“Siapa nama Anda, Pak?”

“Namaku Bono.”

“Baik, Pak Bono, sekarang ikut kami.”

“Baik, Bu,” ucapnya sambil mengemas peralatan memancingnya.

“Tetap tenang. Kami cuma ingin bertanya pada Anda.”

**

Suasana mulai reda saat itu. Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah tergesa dari arah jalan masuk dermaga. Seorang pemuda berkeringat yang sepertinya sedang gelisah, mendekat ke polisi, menuju tempat TKP yang di sana ada mayat korban tergeletak.

“Maaf … maaf, saya teman Reynald! Saya harusnya jemput dia di sini, sesuai kata Reynald tadi, jam sembilan.”

Inspektur Dimas berdiri tegak sambil menatap ke arah pemuda tadi.

“Nama kamu?”

“Gilang … saya Gilang. Kami janjian mau ketemu. Tapi dia nggak muncul-muncul. Saya tunggu lama dan mencoba menghubunginya, tapi nomornya tidak aktif … lalu dengar suara sirene polisi di sini.”

Romy menatapnya dengan kaku, sementara Dinda diam-diam mencatat hasil pengamatannya setelah melihat kondisi mayat, dan kondisi tempat di sekitar mayat, dan benda apa saja yang mungkin berada di dekat korban.

"Jadi, kau langsung ke sini?” tanya Romy.

“Iya, nomor yang kau hubungi tidak aktif karena ponselnya menghilang bersama nyawa pemiliknya,” sela Inspektur Dimas.

“Maksudnya, temanku dibunuh?” tanya Gilang dengan raut wajah tak jelas. Antara sedih atau puas.

Inspektur Dimas mengangguk pelan, tapi tak menjawab.

“Benarkah? Aku ... aku ... nggak nyangka … Tuhan … dia benar-benar dibunuh?”

Semua orang menatapnya tajam, menganalisis, apakah pemuda tadi pura-pura sedih, atau karena faktor lain ...?

.