Detektif Imut - Mayat di Dermaga (3)

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

Ia menyorotkan senter kecil dari HP-nya ke celah kayu. Tiba-tiba … sinarnya memantul pada sesuatu.

“Apa itu …?” tanya Dinda bermonolog.

Ia merunduk dan dengan hati-hati mengambilnya. Ia menemukan sebuah liontin besi tua berbentuk mata. Ada bercak darah kering di sisinya.

Dinda tak gegabah, ia memungutnya menggunakan tisu agar sidik jari miliknya tak ada di benda tersebut.

Di sana, ada beberapa petugas forensik yang masih berada di lokasi, sedang investigasi lanjutan.

Dinda menghampiri seorang petugas perempuan di sana.

“Bu ... aku tadi di sana menemukan sebuah benda berkilauan yang mencurigakan,” ucap Dinda pelan.

“Bu? Kupikir terlalu tua kau memanggilku ibu. Aku belum berkeluarga dan bersuami,” katanya setengah bercanda, “panggil saja, ‘Kak’ biar lebih akrab. Iya, Kak Grace.”

“Ini, Kak Grace.”

“Iya, juga. Sini aku periksa,” kata Grace lalu mengambilnya, ia menatap Dinda dengan kagum.

Ia menyerahkan liontin itu. Grace langsung menatap benda itu serius.

‘Bagaimana bocah kecil ini tahu, tak menyentuh barang bukti menggunakan tangan?’

Setelah itu, ia melangkah ke meja kecil yang sudah ada lampu bersinar dan beberapa alat untuk meneliti.

Grace mengenakan sarung tangan lateks. Liontin berbentuk mata yang ditemukan Dinda kini tergeletak di bawah mikroskop digital. Di sampingnya, Nathan mencatat hasil sementara.

“Ada bekas goresan kecil di sisi liontin ini dan noda darah yang cocok dengan sampel DNA korban. Ini memang milik Reynald, dan bukan Cuma itu. Lihat bagian belakang liontin.”

Grace membalik liontin. Ada ukiran kecil berbentuk simbol kuno yang hampir tak terl

“Apa ini? huruf? Tertulis nama Devi. Tak diragukan lagi, benda ini milik korban, tadi kau temukan di mana?” tanya Grace.

“Aku nemu di celah papan kayu. Dekat tubuh korban. Sepertinya, ada darahnya, makanya aku ambil,” jawab Dinda.

“Iya, memang ada darah. Setelah kuteliti, golongan darahnya cocok dengan korban.”

“Di liontin ada tulisan nama seseorang, apa kau tahu siapa?” tanya Dinda.

“Sebentar, aku telepon ahli IT kita untuk bisa melacak, siapa sebenarnya ‘Devi’ yang tertulis di benda tersebut.”

Grace mengambil ponsel yang ada di sakunya, mencari kontak, lalu menekan tombol panggilan. Seketika, telepon tersambung. “Halo ... Mike? Aku butuh bantuanmu ....”

Grace pun berbicara pada seseorang di telepon dengan nada serius. Setelah itu, telepon ditutup, menatap Dinda lagi.

“Kau sungguh membantu, Nak. Ada tersangka baru yang kemungkinan terlibat. Dia Devi, tunangan korban yang punya motif membunuh korban.”

Grace melaporkan pada Inspektur Galih dan segera mencari keberadaan Devi dengan bantuan Mike yang berada di markas kepolisian malam itu juga.

Sementara itu, di tempat interogasi sementara, liontin sudah dibawa oleh petugas beserta laporan penelitian dari Grace.

“Melihat bentuk dan darah keringnya ... ini bisa jadi barang bukti penting,” kata Inspektur Galih, matanya dekat pada benda tersebut.

Setelah itu, Romy giliran menelitinya.

“Liontin dengan bentuk unik. Ini bukan sekadar perhiasan. Mungkin pelaku meninggalkannya sebagai pesan?”

“Atau ... korban mencabutnya dari pelaku saat detik-detik terakhirnya,” sela Galih.

“Simbol ini ... sepertinya aku pernah lihat,” kata Detektif Romy tiba-tiba.

Galih yang penasaran pun mendekat.

“Kau lihat di mana?”

“Kasus lima tahun lalu. Seorang pemuda yang juga tewas karena luka tusuk di perutnya. Liontin ini sama dengan korban tersebut.”

“Kau yakin itu bukan kebetulan?”

“Romy menghela napas panjang, lalu berkata, “Terlalu identik. Cara pembunuhan terkesan nekat dan sadis. Seperti ada hubungannya dari kasus tersebut.”

‘Benar kata Paman, kasus ini mungkin ada sangkut pautnya dengan kasus lima tahun yang lalu. Aku harus mencari tahu, hubungan tersangka dengan korban sebelumnya. Mungkin Paman Agus tahu,' batin Dinda sambil membuka ponselnya, lalu mengirim pesan padanya.

Sementara di ruang interogasi, ketiga tersangka dikumpulkan, duduk bersebelahan. Romy memperlihatkan liontin tadi pada mereka.

“Kau bilang kau teman Reynald. Pernah lihat benda ini?” tanya Romy, pandangannya tertuju pada Gilang yang merupakan temannya.

Gilang terpaku beberapa detik, lalu menggeleng gugup. “Nggak ... saya nggak pernah lihat sebelumnya.”

“Padahal liontin ini ditemukan sangat dekat dari tubuhnya, dan ini miliknya.”

Gilang semakin gugup. “Saya bener-bener nggak tahu, sumpah!”

“Untuk yang lainnya, apakah ada yang tahu?” tanya Romy memperlihatkan liontin tersebut.

Keduanya menggeleng pelan, tapi Sanji berkeringat dingin. Para polisi tak tahu, karena Sanji menyembunyikan ekspresi wajahnya.

Tiba-tiba, dua orang masuk. Ternyata, Opsir Kevin masuk sambil menggandeng seorang gadis muda berwajah tegang. Matanya sembab, tapi tatapannya tajam. Dialah Devi, tunangan korban.

“Duduklah, Devi. Kita hanya ingin tahu apa yang terjadi malam itu,” kata Detektif Romy. Suaranyai terdengar datar, tapi matanya tajam memindai ekspresi Devi.

Opsir Kevin mengambil satu kursi kosong lainnya, di tempatkan di sebelah para tersangka. Devi duduk, melipat tangannya di pangkuan. Nafasnya berat.

“Saya sudah bilang ... saya tidak membunuhnya,” ucapnya pelan, menahan emosi.

“Tapi kamu punya motif, Devi.”

Kevin melemparkan sebuah foto ke atas meja, berupa foto korban sedang bersama seorang wanita lain, yang tak lain adalah mantan kekasihnya.

“Kamu tahu dia masih berhubungan dengan mantannya, bukan?”

Devi menggertakkan gigi. Tangannya mengepal.

“Saya tahu. Saya sempat marah. Tapi saya tak pernah berniat membunuhnya! Nita memang mantannya dan mereka berniat balikan, tapi aku tak peduli.”

“Ada saksi melihatmu bertengkar hebat dengan korban dua hari sebelum dia ditemukan tewas. Kamu bahkan sempat mengatakan, ‘kalau aku mau sama Nita, kau harus tanggung akibatnya!’ begitu.”

Devi terdiam. Air matanya menggenang. Suasana hening selama beberapa detik.

“Saya hanya mengancam karena emosi. Saya mencintainya, tapi saya bukan pembunuh!”

Opsir Kevin berdiri, berjalan memutar mengelilingi Devi seperti singa yang mengintai mangsa. Ia berbicara pelan, namun setiap katanya menusuk.

“Saat ini, kamu adalah satu dari empat tersangka. Dan sayangnya, kamu adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya saat ia masih hidup.”

Dinda yang menyaksikan di sebelah pintu pun berpikir panjang sambil menyentuh dagunya.

‘Menarik, tersangka menjadi empat orang.’

  1. Gilang – Sahabat korban yang janjian bertemu di sini jam sembilan.

  2. Pak Bono – Pemancing yang dari tadi sore tak mendapatkan apa pun.”

  3. Sanji – Orang yang ketiduran dari sore hingga sampai malam.

  4. Devi – Tunangan korban, memiliki motif cemburu dan dendam pribadi.

“Kita lanjut, saat kejadian kau ada di mana?” tanya Romy.

“Tentu saja aku di rumah dan tak ke mana-mana.”

“Adakah komunikasi dengan korban sebelum meninggal?”

“Sore itu, Reynald sempat menghubungiku, tapi aku sengaja tak mengangkatnya. Lagian ngapain juga ngurus tukang selingkuh itu.”

Opsir Kevin mencatat di buku kecilnya, sementara Romy masih bingung, kasus itu terbilang rumit.

“Baik, sekarang antar aku pulang, aku enggak ada urusannya sama dia lagi,” celetuk Devi tiba-tiba.

“Kau belum bisa pulang sebelum kasus isi selesai!” hardik Galih.

“Tapi kan … ini sudah larut malam?”

Tiba-tiba, ada seseorang yang masuk, dia Grace sambil membawa sesuatu ke ruangan.

“Inspektur, kami baru saja menemukan senjata pembunuhnya ….”