“Inspektur, kami baru saja menemukan senjata pembunuhnya,” kata Grace.
“Kami juga baru saja menemukan puntung rokok di TKP,” sambung Nathan.
“Baik, kerja bagus. Cek sidik jarinya, secepatnya!”
“Dimengerti.”
Grace dan Nathan pun pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk melakukan tugasnya.
Sementara itu, di dekat TKP. Suara jangkrik menyatu dengan desir angin pantai yang menusuk kulit. Petugas forensik masih di sana. Tiba-tiba, ada seseorang yang memakai pakaian menyelam muncul ke permukaan.
“Aku sudah menemukan pisaunya. Sepertinya, tersangka membuangnya jauh-jauh.”
“Bagus, kita serahkan pada Grace dan Nathan.”
“Oke. Mungkin kita bisa mendapatkan sidik jari atau DNA,” ucapnya, lalu dengan cepat memasukkan bukti ke dalam kantong plastik ziplock.
Dinda membuntuti Grace dan Nathan menuju ke ruang penelitian sementara, bersembunyi di balik rimbunan ilalang. Ia ingin tahu siapa yang akan terlibat atau disembunyikan.
‘Aku penasaran, sidik jari dari kedua benda itu milik siapa? Jika pemiliknya sudah terungkap, pasti dialah tersangkanya.”
Sementara itu, di ruang interogasi. Di sana masih terasa tegang.
“Pak Polisi, kapan ini selesainya?” tanya Devi.
“Iya, ini sudah larut malam. Aku harus pulang,” kata Gilang.
“Cepat cari tahu, siapa pembunuhnya agar kasus ini cepat selesai!” hasut Sanji tak sabar.
Inspektur Galih menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tangan di belakang kepala. Ia menatap Detektif Romy, yang masih duduk serius di sudut ruangan sambil menatap foto-foto korban.
“Sebentar lagi akan selesai, tinggal menunggu hasil dari tim forensik,” kata Galih membuat semua tersangka terdiam, tapi tetap memasang ekspresi kecewa dan sesekali melihat waktu.
“Yah ... sepertinya aku tak punya waktu lagi,” gumam Sanji yang ingin segera pulang.
“Romy, kenapa kamu nggak ke toilet saja?” Galih tersenyum menyeringai, “Siapa tahu … kalau kamu ke toilet, tiba-tiba kasus ini selesai.”
Romy mendesah. Ia mengerutkan kening, lalu menjawab sambil memasang ekspresi datar dan sedikit konyol.
“Kau ini, ada-ada saja. Kenapa mengharapkanku pergi ke toilet di saat seperti ini?”
“Yah, siapa tahu, kau akan mendapat pencerahan dari kasus ini.” Galih tertawa kecil, berusaha agar situasi tak terlalu tegang. Usianya sudah paruh baya, ia tak mungkin menyelesaikan kasus rumit. Ia hanya mengandalkan Romy beserta timnya.
‘Memang, ada benarnya, setelah aki keluar dari toilet, ada secarik kertas yang tak tahu dari mana datangnya. Namun, kertas itu membuatku bisa memecahkan kasus dengan baik,’ batin Romy dalam hati, ‘Mungkin. Biasanya ... kalau aku sudah berada di ambang kesulitan, ada seseorang yang menyelipkan petunjuk. Secarik kertas di saku celana, dari ‘si dia’ yang tak pernah mau muncul terang-terangan, tapi siapa orangnya?’
Ia memejamkan mata sejenak, lalu berdiri.
“Baiklah, aku ke toilet sebentar.”
Mendengar Romy akan pergi ke toilet, wajah Galih berseri-seri dan penuh harap, agar masalah tersebut segera tertangani.
“Akhirnya datang juga ... jangan lupa, setelah kembali, pecahkan kasus ini ya.”
Romy pun mengangguk, ia pergi ke toilet meski pun saat itu tidak sedang kebelet.
Sementara, di ruang sebelah, Grace dan Nathan beserta dua orang masih melakukan penelitian.
Grace menyeka keringat di dahinya, lalu meletakkan matanya pada lensa mikroskop untuk.
Waktu menunjukkan pukul 22.47 malam.
Lampu-lampu putih menyinari meja logam tempat hasil analisis diproses. Grace dan Nathan menghentikan penelitiannya, mencatat hasil, lalu meletakkan di dua amplop transparan berisi hasil tes.
“Putung rokok mengandung sidik jari yang cocok dengan nama ini … Gilang,” kata Grace.
Nathan dan yang lainnya saling berpandangan tak menyangka hasilnya akan seperti itu, mengarah pada Gilang yang kemungkinan besar adalah tersangka sebenarnya.
Lalu, pisaunya?” tanya Nathan cepat.
“Tidak ada sidik jari. Pisaunya bersih total, seperti baru dicuci pakai alkohol atau semacamnya.”
Nathan mengerutkan dahi. “Bersih sempurna? Ini mencurigakan. Baik, kita serahkan saja pada Inspektur dan Detektif.”
Setelah mereka pergi, di ruangan itu tak ada siapa-siapa lagi.
Kesempatan tak datang untuk kedua kalinya. Dinda menyusup masuk, membuka pintu yang tidak dikunci sempurna. Ia tahu, dia tak punya banyak waktu. Dengan mengenakan sarung tangan lateks pada tangan kanannya, ia mendekati meja bukti.
Ia mengambil pisau itu, mengangkatnya perlahan ke arah cahaya.
Lalu, ia mencium … suatu aroma aneh.
“Alkohol. Ada aroma kuat di gagang pisau. Pelaku pasti menghapus jejaknya saat mabuk … atau menggunakan minuman keras untuk bersih-bersih. Pintar, tapi terburu-buru.”
Matanya kemudian menatap papan foto forensik di atas meja, dekat dengan beberapa bukti lainnya.
Salah satu foto tubuh korban, yang sempat diabaikan orang lain, justru menunjukkan sesuatu penting:
luka sayatan di sisi kiri tubuh korban melengkung dari kanan ke kiri, tapi dengan sudut masuk yang tak biasa.
“Sebentar …,” bisik Dinda. “Sudutnya aneh … pelaku pembunuhan ini bukan orang tangan kanan. Goresan ini, dari kiri ke kanan, dengan kekuatan menarik. Sudah pasti, pelakunya kidal.”
Mata Dinda membelalak. Saat itu juga, dia tahu, dia memiliki cukup petunjuk. Namun, jika dia memakai cara dengan menerangkan hal itu pada Romy atau yang lainnya, pasti mereka tak akan percaya dengan omongan anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun.
Ia segera merobek secarik kertas dari notes kecil di saku, lalu menulis cepat.
Setelah itu, ia tersenyum lalu bergumam, “Aku serahkan sisanya padamu, Paman."
Setelah itu, ia mencari keberadaan Romy. Namun, tak ditemukan di ruang interogasi.
‘Pasti orangnya ke toilet,’ pikir Dinda dalam hati, lalu melangkah menuju toilet.
Diam-diam, malam itu juga, Dinda ikut andil menyelesaikan kasus tersebut tanpa ada orang lain yang tahu.
Romy keluar dari toilet masih dengan jas masih dipakai dan wajah letih.
“Hei Bocah, sudah kubilang, jangan keluyuran malam-malam.”
“Tapi, aku kebelet pipis, Paman.”
Dinda mendekat, lalu menyelipkan secarik kertas kecil itu ke dalam saku celana Romy dengan hati-hati.
‘Lanjutkan sisanya, Paman. Aku tahu kau yang bisa mengakhirinya.’
Ia pun masuk ke toilet berpura-pura buang air kecil.
“Paman tinggal saja, aku bisa sendiri, kok.”
“Oke, kau harus tetap hati-hati ya, Bocah.”
Romy pun melangkah, menuju ke ruang interogasi kembali, bergabung dengan Inspektur Galih dan lainnya.
Saat ia duduk, tak sengaja, tangannya merogoh saku, lalu menyentuh sesuatu. Sebuah kertas kecil.
Ia membukanya, membacanya perlahan, lalu tersenyum tipis.
‘Akhirnya ... petunjuknya datang juga.’
Inspektur Galih yang melihatnya pun tersenyum. Ia tahu, kasus dipastikan segera selesai, pelaku pembunuhan akan terungkap.
Mata Romy menatap jauh ke arah papan investigasi, kini siap menuntaskan kasus tersebut. Setelah itu, ia menatap wajah tersangka satu persatu. Wajah Romy serius, sementara semua tersangka terlihat tenang.
Setelah itu, ia mengatakan sesuatu yang tak diduga.
“Kalian berempat, ada yang mau rokok gratis ...?”