“Kalian berempat, ada yang mau rokok gratis?”
Mendengar Romy yang nyeleneh, Galih pun mendekat ke Romy.
“Hei, Bung. Apa yang kau katakan tadi tak salah?” tanya Galih, “dengan memberikan rokok gratis pada ke-empat tersangka?”
“Lihat saja nanti,” jawab Romy yang membuat Galih mengerutkan keningnya.
Romy memberikan beserta korek pada mereka semua. Namun, Devi menolak karena ia bukan seorang perokok. Romy dengan cermat mengamati mereka bertiga yang sedang menyalakan api dari korek dan mengisap rokok bergantian.
Ruang Interogasi – Pukul 23.35
“Pak Detektif, kenapa kami disuruh merokok?” tanya Gilang.
“Kami menemukan sidik jari di puntung rokok dekat lokasi mayat.”
Gilang duduk gelisah. Tangannya terus bermain dengan ujung lengan jaketnya, sementara tangan lain masih asyik memegang batang rokok. Di hadapannya, Detektif Romy berdiri bersandar di dinding, memperhatikannya dengan tenang.
“Dan ... sidik jari itu milikmu. Jadi, aku ingin membuktikan kau beneran merokok atau tidak, atau ada orang lain yang juga perokok?” ungkap Romy, “sekarang, mengaku saja, kau pernah ke dermaga sebelum kau dimintai datang oleh korban kan?”
Gilang menelan ludah. Ia mengangguk pelan.
“Aku memang ke dermaga itu petang hari, sekitar jam lima. Aku mencari hoodie milikku yang pagi harinya tertinggal. Tapi, saat itu belum ada mayat di sana.”
“Lalu?”
“Setelah dipastikan hoodie hilang, aku pulang. Setelah maghrib, aku udah di rumah. Lalu sekitar jam delapan malam, saya ditelepon Reynald mengatakan bahwa dia ngajak ketemu. Tapi awalnya aku tolak karena capek. Namun, ia mengatakan bahwa menemukan hoodieku di sana. Sehingga, aku tertarik untuk ke sini lagi.”
Romy memperhatikan gerak tubuh Gilang. Tidak ada kegugupan berlebihan. Jawaban konsisten. Alibinya lemah, tapi belum cukup untuk dijadikan tersangka utama.
“Jadi, akhirnya kau segera datang?”
Gilang mengangguk pelan.
“Iya .…”
‘Tapi, sekitar petang, jalanan macet karena genangan air, gimana dia bisa sampai rumah secepat itu, ya. Eh, enggak penting, aku harus bertanya pada yang lainnya,’ batin Romy.
Setelah itu, Romy dan Galih pun mendiskusikan sesuatu dengan saling berbisik. Galih mengangguk, menyetujui semua perkataan Romy.
Akhirnya, Romy, Galih, dan beberapa penyidik melakukan pengujian kecil pada seluruh tersangka. Satu per satu diminta melakukan hal sederhana tanpa sadar, seperti membuka tutup botol, mengangkat kursi, melempar bola ke arah target.
Ke-empat tersangka bingung, tapi mereka lakukan karena dipaksa.
Romy memperhatikan detail yang nyaris tak terlihat oleh yang lain.
Beberapa menggunakan tangan kanan. Namun, seseorang justru melakukan semuanya dengan tangan kiri, dan dia seorang perokok. Saat menyalakan pemantik tadi, ia menggunakan tangan kiri, alih-alih tangan kanan seperti yang lainnya.
Romy mencatat, lalu menatap Galih.
Sebuah anggukan kecil dibalas dengan isyarat mata: “Ini dia.”
Romy berdiri dari kursinya setelah membolak-balik berkas. Ia menjelaskan deduksinya sesuai dengan bukti yang ada.
“Jadi, pelaku sebenarnya adalah kau ... Sanji Perwira!” seru Romy sambil mengacungkan jari telunjuk padanya.
Sanji Perwira mengerutkan keningnya, lalu berdiri dari tempat duduknya. Matanya berputar cemas setelah Romy membentangkan serangkaian bukti.
“Aku pelakunya? Bagaimana mungkin?”
“Bukti yang paling jelas adalah kamu kidal, Sanji. Luka tusukan di tubuh korban jelas berasal dari tangan kiri. Pisau yang dibuang ke laut berhasil kami temukan. Bekas alkohol di permukaan logam cocok dengan jenis minuman yang kamu biasa bawa. Dan malam itu, kamu melakukan aksi itu dengan memakai hoodie Gilang agar kalau ada yang melihat, Gilanglah pembunuhnya. Lalu, kau sempat menghubungi Gilang. Kami yakin, kau akan menjatuhkan Gilang agar tuduhan berpihak padanya?”
Sanji menggeleng.
“Apa?! Kau ingin aku yang bertanggung jawab atas perbuatanmu itu?!” seru Gilang merespons dengan menarik hoodie yang dipakai Sanji.”
“Itu bukan aku. Aku ... aku memang minum malam itu, tapi bukan aku pelakunya!”
Romy maju selangkah, matanya tajam.
“Kamu mabuk. Kamu tak bisa mengendalikan dirimu. Kamu marah karena Reynald ingin kembali pada Nita. Padahal … Nita kekasih bayanganmu.”
Devi, yang juga hadir di ruang itu, menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca.
“Apa? Itu benar, Sanji? Kamu dan Nita …?”
Sanji terdiam sejenak, lalu mulutnya mulai terbuka perlahan. “Aku tak mau mereka balikan … Reynald itu sok suci! Dia ninggalin Devi, lalu balik ke Nita seperti nggak terjadi apa-apa?!”
Romy menatapnya, tanpa emosi.
“Lalu kamu bunuh dia?! Kau pikir kau bisa hapus semua jejak? Tapi kamu lupa, pisau tak sepenuhnya tenggelam. Dan sidik jari bisa dihapus, tapi arah tusukan tak bisa dibohongi.”
Akhirnya, Sanji lunglai. Ia yang tadinya berdiri pun perlahan terduduk dengan lemas.
“Aku ... aku nggak sengaja. Aku cuma ... kehilangan kendali. Maafkan aku, Gilang, kau hampir saja menjadi tersangka. Memang, aku yang bunuh Reynald dengan menusuknya. Selanjutnya, sudah dijelaskan oleh Pak Detektif.
Polisi pun segera memborgol Sanji. Ia dibawa keluar dari ruangan, meninggalkan keheningan yang berat.
Inspektur Galih menepuk bahu Romy.
“Kamu memang luar biasa, Romy. Kasus ini nyaris tak bisa dipecahkan tanpa naluri tajammu. Kau cerdas seperti biasanya.”
Romy hanya tersenyum tipis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Aku ... cuma ... hehehe.”
‘Padahal kertas itu yang membantuku menyelesaikan kasus. Di sana, ada informasi yang tidak aku ketahui.’
Dalam hati, ia menggenggam secarik kertas kecil itu, lalu kembali membukanya, tulisannya bagus dan rapi. Bukti dari seseorang yang diam-diam bergerak di balik layar. Seseorang yang sudah pasti bukan orang biasa.
Monolog Romy dalam hati, “Kadang, pahlawan tak selalu berdiri di cahaya. Dia hanya butuh satu pena … satu petunjuk kecil … dan keberanian untuk percaya.”
Inspektur Galih menundukkan kepala ke semua orang yang hadir.
“Terima kasih atas kerja samanya. Mohon maaf telah mengganggu waktu kalian.”
Setelah semuanya bubar, lampu kantor polisi mulai padam satu per satu. Para saksi dan tersangka telah dipulangkan.
Orang-orang mulai berjalan menjauh. Malam kembali sunyi, hanya ditemani gemuruh ombak dari kejauhan.
Di tempat gelap menuju tempat parkir belakang mobil, Pak Bono, pria dewasa berpenampilan sederhana itu berjalan sendirian. Suaranya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku harus melangkah ke mana lagi?”
Tiba-tiba, seseorang muncul dari balik bayangan.
“Pak Bono ...?”
Pak Bono terhenti. Dari kegelapan, rupanya sesosok anak kecil berusia sepuluh tahun - Dinda melangkah maju. Wajahnya serius, penuh kecurigaan. Namun, kecurigaan itu sirna setelah mengetahui kalau sosok itu hanyalah anak kecil biasa.
“Aku sudah mencurigai Bapak sejak awal. Bapak berpura-pura jadi pemancing. Tapi nyatanya, Bapak bukan pemancing.”
Pak Bono menatapnya tajam dalam diam. Matanya masih tetap menelisik bocah kecil tadi.
“Dari mana kau tahu aku bukan pemancing?”
“Saya lihat cara Bapak membuka tas pancing korban ... alat-alatnya ditata dengan cara yang salah. Itu bukan gaya pemancing. Lagian, tanganmu halus tidak kapalan. Kalau Anda pemancing pemula, kenapa tak mengajak teman memancing?”
Pak Bono tersenyum kecil, lalu menunduk.
“Anak cerdas.”
“Bapak siapa sebenarnya ...?”