“Bapak siapa sebenarnya?” tanya Dinda dengan hati-hati.
Pak Bono menatap langit malam yang mendung. Ia masih saja diam dan belum menjawab. Terlihat, ada aura kesedihan terpancar di wajahnya yang tersorot sinar rembulan malam.
“Bocah kecil, ada urusan apa?”
“Jadi, aku mau bertanya, apakah Bapak kenal Fadil? Seorang anggota dari organisasi itu?” ucap Dinda bertanya lagi padanya.
Kini tatapan Pak Bono berubah menjadi ketegangan yang menggantung. Ia menarik napas panjang. Seolah sedang mengingat masa lalu bersama orang yang dimaksud.
“Fadil ...,” bisiknya. “Ya ... aku mengenalnya. Kami dulu rekan. Hampir setiap waktu bersama dia.”
“Jadi Bapak bagian dari organisasi itu?” Pertanyaan Dinda membuatnya mengerutkan kening antara dia harus menjawab atau tidak. Namun, karena dia pikir sedang berbicara dengan anak kecil, ia pun memilih untuk mengungkap semuanya.
“Dulu. Kami mencoba kabur dari organisasi tersebut. Tapi rencana itu gagal total karena sudah ketahuan organisasi terlebih dahulu. Awalnya, aku pun tak menyangka kalau malam ini aku masih hidup. Saat berusaha kabur, aku terpojok, berada di atas tebing tinggi yang di bawahnya laut luas. Aku tertembak kakinya, dan jatuh ke laut. Untungnya, entah apa yang menolongku, aku masih hidup.”
“Lalu, bagaimana dengan rekanmu, Fadil?”
Pak Bono menunduk. Kesedihan dan kekecewaan bercampur pada raut wajahnya. Sedih karena kehilangan rekan bersama, kecewa karena tak mampu menolongnya.
“Dia tertangkap, dan kemungkinan ... dia sudah dieksekusi mati. Mereka tak membiarkan pengkhianat hidup.”
Dinda mengepalkan tangannya. Pak Bono pun melihat anak itu sedang mengepal, lalu mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kenapa menanyakan Fadil? Kau masih anak-anak, enggak mungkin terlibat dengan organisasi gelap itu, kan?”
“Emmm ... iya ... aku cuma ....” Dinda terdiam sejenak, berpikir panjang, kalau dia menjelaskan sebenarnya bahwa dia ingin mengetahui semuanya tentang Fadil, mungkin Pak Bono akan curiga.
“Aku ingin balas dendam. Mereka punya masalah sama keluargaku.”
Pak Bono mengangkat wajahnya, menatap dalam ke mata bocah itu.
“Kau masih terlalu muda untuk menyentuh dunia mereka. Itu bukan sekadar organisasi, itu mesin pembunuh.”
“Tapi mereka menangkap orang tuaku dan mungkin akan membunuhnya. Aku ingin tahu, apakah mereka benar-benar sudah mati atau masih ada di sana?”
“Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu karena tak tahu.”
“Kumohon, Pak.”
“Nak, aku tadi bilang, kau belum saatnya untuk mengetahui organisasi itu. Perlu kamu ketahui, sebenarnya ... aku juga sedang menyamar.”
“Menyamar?”
“Iya, kalau tidak menyamar, nanti organisasi itu akan tahu kalau aku masih hidup kan?”
“Berarti, nama Pak Bono bukanlah nama asli, melainkan nama buatanmu untuk menyembunyikan identitas?”
“Iya, benar,” ucapnya mengangguk. Dinda pun baru tahu yang sebenarnya dia juga sedang menyamar, menjadi seorang anak sepuluh tahun meski faktanya dia sudah duduk di bangku kuliah.
“Kalau kamu sedang menyamar, nama aslimu siapa?” tanya Dinda.
“Kau mau tahu? Tapi jangan bilang ke siapa-siapa ya. Nama asliku ….”
Sebelum Pak Bono menjawab, ada langkah kaki yang datang dari kejauhan.
“Dinda!” panggilnya. Suara Grace memecah kesunyian.
“Jangan berkeliaran malam-malam begini. Romy mencarimu ke mana-mana.”
“Aku baru saja ….”
Dinda menoleh. Dalam sekejap, Pak Bono sudah tak ada. Hanya bayangan kosong tersisa.
“Pak Bono ...?”
“Maksudmu?” tanya Grace, “Pak Bono itu tersangka, kau jangan dekat dengan dia meski bukan terdakwa. Bisa jadi, dia juga bukan orang baik.”
“I-iya, Bu. Eh, maksudnya Kak.”
Grace pun menuntunnya menuju ke tempat Detektif Romy.
Dinda pun berjalan mengikuti langkah kaki Grace. Sesekali menengok ke belakang. Matanya menatap ke arah tempat Pak Bono berdiri tadi.
‘Siapa kau sebenarnya? Jika kau rekan Fadil, apa kau tahu di mana orang tuaku?’
Setelah itu, dia melihat ke tangannya yang kecil.
Di tangannya, ia masih mengenakan smartwatch yang diberikan oleh Profesor Agus untuk membantunya menyelesaikan kasus dan sebagai pertahanan diri jika ada sesuatu yang tidak diinginkan.
Kini, jalan yang akan dia tempuh tak lagi hanya tentang memecahkan kasus, melainkan tentang mengungkap asal-usul kenapa organisasi ada sangkut pautnya dengan orang tuanya.
Organisasi kelam yang telah membuat tubuhnya menyusut menjadi anak kecil mungkin belum sepenuhnya lenyap. Ia akan mencari informasi, menggali lebih dalam yang tujuan utamanya mencari orang tuanya dan mengembalikan tubuh aslinya.
Sementara di tempat lain, Detektif Romy masih sibuk berbincang serius dengan Inspektur Galih di pinggir garis polisi, membahas detail kecil yang mungkin terlewat. Tiba-tiba, suara langkah cepat memecah fokus mereka. Grace muncul, wajahnya sedikit berkeringat, satu tangan menggenggam lengan Dinda yang tampak kikuk.
"Detektif Romy, aku menemukan Dinda di dekat dermaga, persis di area TKP tadi," ujar Grace tanpa basa-basi.
Romy langsung menoleh tajam. “Dinda? Apa yang kau lakukan di sana?” suaranya meninggi, setengah marah, tapi masih ada raut wajah cemas pada dirinya.
Dinda mengangkat kedua tangannya, berusaha tampak tenang. “Aku nggak ngapa-ngapain, Paman. Jam tanganku jatuh tadi, aku mencarinya ke mana-mana, dan akhirnya sudah kutemukan di sana.”
Romy menyipitkan mata, tatapannya tak lepas dari raut gugup Dinda. “Jam tangan, ya?” Nada suaranya terdengar penuh keraguan, seolah setiap kata Dinda adalah puzzle yang harus dibongkar.
Inspektur Galih hanya menatap bergantian, menunggu penjelasan yang lebih meyakinkan, sementara angin laut membawa aroma asin yang semakin menekan suasana.
“Jam tangan ini buatan dari Profesor Agus. Sehingga, kalau hilang, pasti dimarahi oleh dia.”
“Jam tangan? Ini seperti jam tangan yang canggih yang mahal dan sulit ditemukan,” kata Inspektur Galih.
“Iya, modelnya hampir mirip dengan yang sudah umum, tapi softwarenya berbeda,” jawab Dinda.
“Kau ini seperti biasa, keluyuran enggak jelas!” timpal Romy.
“Maaf, Paman, aku teledor, karena menjatuhkan jam tangan itu di sebelah dermaga.”
“Kau ini! Menyusahkan saja! Sudah kubilang agar tetap di mobil!”
“Tapi, anak itu punya kontribusi dalam kasus ini lho, sempat menemukan liontin sebagai bukti kuat kalau kasus ini merupakan pembunuhan,” sela Grace.
“Iya kah? Bukannya bocah ingusan ini cuma menjadi beban saja?”
‘Woy, Paman. Kalau aku tak memberimu secarik kertas, kau tak mungkin bisa memecahkan kasus ini,' gerutu Dinda dalam hati.
“Tanpa dia, kasus ini mungkin belum selesai saat ini juga.”
‘Sebenarnya bukan bocah ini, tapi entah siapa yang memberiku secarik kertas misterius itu. Awal mula ada kertas itu, saat aku menyelesaikan kasus di Taman Anak-anak, sebelumnya belum pernah ada kertas itu. Apa mungkin ...?’ gumam Detektif Romy dalam hati.
“Paman! Ayo pulang! Sudah malam,” kata Dinda yang mengagetkan dari lamunannya. Romy pun sadar dan berjalan menuju ke mobil, para polisi sebagian besar sudah meninggalkan tempat tersebut dan garis polisi sudah dilepas.
Mobil pun berjalan, di sana air pasang dari laut masih tergenang. Namun, kemacetan tak separah tadi sore. Kini, jalanan sudah lancar.
Di dalam mobil, Dinda tak tidur, ia masih memikirkan orang tadi yang bernama Pak Bono tentang siapakah sebenarnya dirinya? Terlihat dari wajahnya, memang ia mantan organisasi gelap tersebut.
Beberapa jam pun berlalu, waktu memasuki dini hari, mereka baru sampai rumah. Sementara Rania menunggu kepulangan mereka dengan khawatir. Ia lebih mengawatirkan Dinda – anak yang ia anggap adik kecilnya yang imut. Wajahnya mirip dengan idola SMA di Greenville yang rupanya adalah Irwan, kini ia menjadi Dinda karena suntikan serum beracun.
Malam itu, Dinda pun beristirahat, besok berangkat sekolah.
**
Pagi harinya, Dinda terbangun, bersiap melakukan aktivitas kesehariannya – bersekolah. Seperti biasanya, ia berangkat bersama Rania, setelah dekat dengan sekolah, Rania meninggalkannya.
Siang hari, matahari tampak berada di atas. Detektif Romy sedang menatap tumpukan berkas di mejanya ketika ponselnya berdering. Layar menunjukkan nomor tak dikenal ....