Siang hari, matahari tampak berada di atas. Detektif Romy sedang menatap tumpukan berkas di mejanya ketika ponselnya berdering. Layar menunjukkan nomor tak dikenal. Ia mengangkatnya dengan nada formal.
“Halo, selamat siang.”
"Selamat siang, dengan Detektif Romy?" suara di ujung sana terdengar tenang, tapi agak cemas.
"Ya, benar. Siapa ini?" tanya Romy sambil mengambil pulpen, siap mencatat. Raut wajahnya seketika cerah. Romy berpikir, mungkin ia akan mendapatkan kasus lagi.
"Saya, Dr. Rendra, dosen dari Universitas Batavia. Mohon maaf mengganggu. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
Romy sedikit mengernyit. "Silakan, Pak."
"Kami sedang mencari seorang mahasiswa kami, namanya Muhammad Rodhif. Dia menghilang sekitar dua minggu yang lalu. Sudah kami coba hubungi nomornya, juga keluarganya, tapi sampai sekarang belum ada kabar."
Romy mencondongkan tubuh. "Muhammad Rodhif? Posisi terakhir dia di mana?"
"Menurut informasi yang kami dapat, terakhir kali dia terlihat menaiki bus dari Batavia menuju rumahnya. Tapi, ada kendala di perjalanan, tepatnya setelah bus itu memasuki kawasan Cedarville."
Romy menajamkan nada suaranya. "Kendala seperti apa?"
Di ujung telepon terdengar jeda singkat sebelum suara itu menjawab pelan, tapi tegas, "Bus itu … meledak."
Alis Romy terangkat. "Meledak?" ia mengulang, memastikan ia tak salah dengar. "Kalau begitu … apakah Muhammad Rodhif termasuk korban? Ada mayatnya ditemukan?"
Akan tetapi, jawaban yang dikatakan membuat Romy terdiam. "Tidak ada. Nama dan ciri-cirinya tidak ada di daftar korban tewas maupun korban selamat. Seakan-akan dia menghilang begitu saja."
“Bagaimana bisa ...?”
“Ledakan itu ditimbulkan oleh bom yang berada di dalam bus. Seseorang sengaja memasangnya untuk membunuh target yang berada di dalam bus. Kebetulan, bus tadi juga dinaiki Rodhif, sehingga dia pun menjadi korban.”
Keheningan menyelimuti sejenak. Pulpen di tangan Romy terhenti di atas kertas. Sebuah misteri baru jelas telah muncul di hadapannya.
Suara di ujung telepon kembali terdengar, kali ini lebih berat.
"Sebenarnya, kami juga sudah mengutus seseorang untuk memeriksa rumahnya di Greenville, seauai alamat yang tertera pada data diri di arsip Universitas tapi di sana …." Dia berhenti sejenak, seperti ragu melanjutkan.
"Tapi apa?" desak Romy.
"Rumahnya sudah hancur … habis terbakar."
Romy terdiam, matanya menatap kosong pada papan catatan di meja. Dalam benaknya mulai terbentuk potongan-potongan peristiwa yang belum tersambung. Ia cukup tahu tentang siapa Muhammad Rodhif. Anak itu pernah membantunya menyelesaikan kasus sesekali. Ia memang terkenal cerdas dan mampu berpikir logis.
Tanpa disadari Romy, percakapan itu didengar oleh Dinda, yang kebetulan sedang duduk di sudut ruangan sambil pura-pura merapikan tasnya. Ia baru pulang sekolah. Mendengar kata "Greenville" dan "terbakar", Dinda teringat sesuatu.
Saat terakhir kali ia melihat rumah itu dari kejauhan, ia merasa bulu kuduknya meremang. Ada sensasi tak enak, seperti tatapan seseorang yang mengawasinya dari balik bayangan. Tapi siapa? Apakah orang dari Universitas atau anggota organisasi yang selama ini mencari informasinya? Pikiran itu mengganggu, membuat Dinda ingin segera mencari jawabannya.
Di telepon, Dr. Rendra melanjutkan, suaranya kali ini terdengar lebih memohon.
"Detektif Romy, kami minta bantuan Anda untuk menemukan mahasiswa itu … Muhammad Rodhif. Jika sewaktu-waktu Anda bertemu atau berpapasan dengannya, tolong segera hubungi pihak Universitas. Ini penting."
Romy menarik napas panjang. "Baik, saya mengerti. Kalau ada informasi, saya akan segera menghubungi Anda."
"Terima kasih, Detektif."
Sambungan telepon pun terputus, meninggalkan keheningan yang hanya dipecah oleh detak jam dinding. Romy bersandar di kursinya, matanya menyipit. Di sudut ruangan, Dinda masih terpaku, pikirannya berputar cepat. Baik Romy maupun Dinda tahu, ini bukan sekadar kasus orang hilang biasa, tapi ada sesuatu yang jauh lebih gelap menunggu di baliknya.
Pintu pun terbuka, Detektif Romy pandangannya tertuju ke arah pintu.
“Oh, rupanya kau, Dinda. Kupikir siapa?”
“Paman pikir Client datang dengan kasus harus ditangani?”
“Kau tahu juga, Bocah Kecil.”
"Lantas, tadi siapa yang menelepon, Paman?" tanya Dinda polos, dengan menarik celananya.
Detektif Romy, pria dewasa dengan tatapan tajam yang menyiratkan segudang pengalaman, menghela napas. Ia sebenarnya tak mau menjawab pertanyaan dari anak kecil itu. Namun, apa daya, Dinda selalu menarik celananya kalau ia tak menjawab.
"Dari dosen Universitas Batavia," jawabnya dengan nada malas dan penuh paksaan.
Kening Dinda berkerut. "Kenapa dia menelepon Paman?"
"Mereka dan pihak Universitas sedang mencari mahasiswa yang bernama Muhammad Rodhif," jawab Romy, suaranya terdengar datar, tapi menyimpan sesuatu yang tak terucap.
Dinda mengangguk pelan. Ia menatap Paman Romy dengan tatapan menyelidik, seolah ingin membaca pikiran sang paman. Sekilas, dari balik pintu yang sedikit terbuka saat Romy menerima telepon, Dinda menangkap mimik wajah paman yang tampak terkejut, bahkan sedikit khawatir.
Rupanya dugaan Dinda benar. Ada yang mencari Rodhif setelah lama absen dari dunia perkuliahan. Universitas Batavia mencari keberadaan mahasiswa yang menghilang tanpa jejak. Namun, di balik panggilan telepon itu, tersimpan misteri yang lebih dalam, misteri yang hanya diketahui Dinda dan masa lalunya yang kelam.
Tidak ada seorang pun yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Muhammad Rodhif di kota kecil Cedarville. Di sana, ia menjadi korban percobaan keji. Ia disuntik serum beracun yang mengerikan, yang perlahan tapi pasti mengubahnya menjadi anak berusia sepuluh tahun.
Kini, Muhammad Rodhif terperangkap dalam tubuh Dinda. Ia terpaksa menyembunyikan identitas aslinya, bersembunyi di balik sosok anak kecil, menunggu saat yang tepat untuk mengungkap kebenaran dan membalas dendam. Panggilan telepon dari Universitas Batavia menjadi pengingat yang menyakitkan akan kehidupan yang telah direnggut darinya. Akankah identitasnya terbongkar? Akankah ia mampu mengembalikan tubuhnya dan menuntut keadilan? Masa lalu yang kelam kini menghantuinya, membayangi setiap langkah yang ia ambil dalam wujud seorang anak kecil bernama Dinda. Waktu terus berjalan, dan misteri Muhammad Rodhif semakin kompleks, menunggu untuk dipecahkan.
Dinda berpikir panjang, dia merasa sudah lama absen, makanya pihak Universitas mencarinya.
Tiba-tiba, terdengar ketukan tegas di pintu kantor Detektif Romy. “Tok … tok … tok ….” Suaranya teratur, seakan orang di balik pintu itu yakin betul ingin ditemui.
Romy berdiri dari kursinya, melangkah cepat, lalu memutar kenop pintu. Saat daun pintu terbuka, terlihat seorang pria muda berdiri tegak. Ia mengenakan seragam mahasiswa berwarna biru tua dengan emblem di dada, yaitu almamater Universitas Batavia yang tampak rapi dan mengkilap.
Romy langsung memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki, matanya menangkap postur percaya diri yang jarang dimiliki anak seusianya.
Di sisi ruangan, Dinda yang tadinya duduk tenang tiba-tiba menegang. Matanya membelalak begitu mengenali wajah itu. ‘Tidak mungkin … bagaimana bisa, dia di sini?’ batinnya ....