Detektif Imut - Pertemuan Tak Terduga

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

Di sisi ruangan, Dinda yang tadinya duduk tenang tiba-tiba menegang. Matanya membelalak begitu mengenali wajah itu. ‘Tidak mungkin … bagaimana bisa, dia di sini?’ batinnya.

Orang itu bukan sembarang mahasiswa. Ia adalah kawan satu angkatan Dinda dulu, dan sekaligus saingan terberatnya dalam hal prestasi akademik. Nama yang dulu sering disebut-sebut dosen sebagai “otak emas” angkatan mereka. Pertemuan ini terasa aneh, terlebih di tengah misteri menghilangnya Muhammad Rodhif.

“Anak Muda, coba perkenalkan siapa kamu dan apa tujuanmu? Biar aku catat di daftar tamu,” suruh Romy.

"Nama saya Firman. Saya adalah teman dan bisa dibilang, saingan Rodhif dalam bidang akademik," ujarnya, menyisir rambutnya ke belakang dengan gugup. "Beberapa hari terakhir ini, Rodhif menghilang. Kami semua sangat khawatir."

Rodhif, nama itu bagaikan gema di benak Firman. Selama bertahun-tahun, Rodhif adalah bayangan yang selalu mengikutinya. Mereka belajar bersama, berdebat sengit tentang teori-teori rumit, dan saling memacu untuk menjadi yang terbaik. Persaingan mereka memang ketat, bahkan sering kali terasa panas. Namun di balik itu, terjalin ikatan persahabatan yang tulus. Keduanya seakan bersaing secara jantan dan masih menjunjung tinggi pertemanan. Terbukti, Firman dengan tulus mencari keberadaan Rodhif di mana.

"Saya ... saya merasa kehilangan," lanjut Firman, suaranya tercekat. "Kehilangan sahabat terbaik saya."

Kehilangan. Kata itu terasa pahit di lidah Firman. Ia mengakui, ambisinya untuk menjadi mahasiswa berprestasi sering kali membutakannya. Ia terlalu fokus pada nilai, penghargaan, dan pengakuan hingga lupa bahwa di sampingnya, ada Rodhif, sahabatnya yang selalu mendukungnya, bahkan di saat-saat terberatnya.

Dinda yang saat itu mendengar pun hanya bisa melongo, tak bisa berkata-kata.

‘Kau ini dari dulu selalu bisa berdalih,’ batin Dinda dalam hati.

"Beberapa hari ini, saya sempat mengawasi rumah Rodhif," ungkap Firman, menjelaskan usahanya mencari Rodhif. "Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Setelah rumah hancur terbakar, tempat itu ditinggalkan begitu saja."

Kepala Firman menunduk, perasaan bersalah menghantuinya. Apakah ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri hingga tidak menyadari beban yang mungkin sedang ditanggung Rodhif? Apakah persaingan sengit mereka telah merenggangkan persahabatan mereka hingga Rodhif memilih untuk menghilang?

Ia mengingat kejadian beberapa yang lalu sebelum datang ke Greenville. Saat itu, salah seorang dosen, Profesor Anwar, menepuk bahu Firman dengan lembut. "Firman, kami semua mengerti betapa khawatirnya kamu. Universitas mengutusmu karena kami tahu betapa dekatnya kamu dengan Rodhif. Kami percaya kamu adalah orang yang paling tepat untuk menemukannya."

Firman mengangkat kepalanya, menatap Profesor Anwar dengan tekad baru bersemi di matanya. "Terima kasih, Profesor. Saya tidak akan mengecewakan Anda. Saya akan mencari Rodhif sampai ketemu."

Dengan itu semua, ia pun menerimanya, meski hanya seorang diri mencarinya. Ia tahu, sahabat lebih penting dari pada prestasi. Saat Rodhif lama menghilang, ia pun baru menyadari semuanya.

Dengan dukungan dari pihak Universitas, Firman memulai pencarian yang lebih intensif. Ia menghubungi teman-teman Rodhif, keluarga, dan bahkan mencari petunjuk di tempat-tempat yang sering mereka kunjungi bersama. Ia tahu, pencarian ini tidak akan mudah, tetapi ia berjanji pada dirinya sendiri, persahabatannya dengan Rodhif lebih berharga dari apa pun.

Di balik ambisi dan persaingan, Firman menyadari bahwa persahabatan adalah harta yang tak ternilai harganya. Dan kini, ia harus menemukan Rodhif, bukan hanya demi memenuhi amanah universitas, tetapi juga untuk menebus kesalahannya dan memulihkan persahabatan yang sempat renggang. Pencarian Rodhif adalah perjalanan Firman untuk menemukan kembali dirinya sendiri, dan untuk menghargai arti persahabatan yang sesungguhnya.

Sementara itu, debar jantung Dinda berpacu seperti mengikuti tempo musik dangdut.

‘Kenapa harus ada Firman di sini?’ Tubuhnya otomatis merunduk, berlindung dari balik tirai ruangan tersebut.

‘Firman. Aku mengenalnya lebih dari siapa pun di Universitas Batavia. Kami tumbuh bersama, bermain bersama dan belajar bersama karena satu frekuensi.’

Firman merupakan mahasiswa yang pintar, cerdasnya bukan main. Dia bisa menelaah sesuatu sampai ke akar-akarnya. Instingnya tajam, bahkan terkadang menakutkan. Jika dia tahu ada dia di sana, jika dia mengenalinya di balik penyamarannya, maka tamatlah riwayatnya. Semua usahanya menyembunyikan identitas asli selama ini akan sia-sia. Identitas barunya akan hancur berkeping-keping.

Dinda mengintip dari celah tirai, berharap dia pergi saja. Sementara Firman masih duduk, badannya lebih berisi dari terakhir kali ia melihatnya. Firman sedang berbicara empat mata, berbincang dengan Romy.

‘Ya Tuhan, lindungilah aku. Kuharap Firman tak tahu, ada aku di sini.’

Sementara itu, Firman, yang memang sedari tadi merasakan ada yang aneh, tanpa sengaja menangkap sosok anak kecil yang berusaha bersembunyi di balik tirai. Anak kecil itu terlihat gelisah, seolah ketakutan.

"Siapa anak itu, Pak?" tanya Firman, matanya tak lepas dari sosok yang mencurigakan itu.

Romy, yang sedikit terkejut dengan pertanyaan mendadak Firman, menoleh ke arah yang ditunjuk. "Oh, itu ... anak kerabatku. Dititipkan di sini karena orang tuanya kerja di luar negeri."

“Orang tuanya kerja di luar negeri? Sungguh tak habis pikir.”

Jawaban Romy terdengar begitu aneh, justru itu yang membuat Firman mengerutkan kening. Ada yang janggal, ia merasa terlalu dibuat-buat. Anak muda itu tampak begitu asing, dan alasan yang diberikan Romy terasa kurang meyakinkan. Ada sesuatu yang disembunyikan. Instingnya berteriak keras, mengatakan bahwa anak kecil yang bersembunyi itu adalah kunci dari sebuah teka-teki yang belum terpecahkan.

Dinda tetap diam, tapi detak jantungnya sedikit bertambah cepat. Ia tak tahu apakah kedatangan orang itu sekadar kebetulan atau justru bagian dari rangkaian peristiwa yang sedang menghantui mereka.

Mahasiswa itu melangkah ke suatu tempat, menatap sekeliling sebentar sebelum pandangannya terhenti pada Dinda. Keningnya sedikit berkerut, lalu ia tersenyum tipis.

"Aneh … kau mengingatkanku pada seseorang," katanya pelan. "Temanku yang hilang. Iya, Muhammad Rodhif. Lucunya … wajah kalian hampir mirip."

Dinda menahan ekspresi datarnya, tapi dalam hati ia sedikit terguncang. Ia tak mau menoleh ke Romy untuk tahu bahwa detektif itu sedang mengamati reaksinya.

Romy menghela napas singkat lalu berkata dengan nada ringan, tapi bernada tegas, "Anak ingusan itu? Tak mungkin dia adalah orang yang kau cari. Dia terpisah dari keluarganya saat berada di Cedarville, waktu ada kawanan teroris yang menyerang kota tersebut."

Mahasiswa itu terdiam. Pandangannya tertuju pada Romy, seakan mencoba membaca kebenaran di balik kata-kata itu. Ada sedikit keraguan di matanya, tapi ia tak segera membantah.

Dinda, yang merasa suasana mulai menegang, memutuskan untuk memancing. Dengan nada seolah hanya basa-basi, ia bertanya, "Jadi … kau yang selalu mengawasi rumah Kak Rodhif belakangan ini?"

Firman menoleh kepadanya dan mengangguk mantap. "Iya. Karena ada kemungkinan Rodhif pulang ke rumahnya tapi sampai saat ini, aku tak pernah melihatnya. Entah dia di mana."

Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Udara seakan lebih berat, dan Dinda mulai berpikir bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, tapi ada seseorang yang merencanakannya dan sudah tahu, ke mana Rodhif ....