Detektif Imut - Mencari Rodhif

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Udara seakan lebih berat, dan Dinda mulai berpikir bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, tapi ada seseorang yang merencanakannya dan sudah tahu, ke mana Rodhif dan di mana lokasinya. Namun, itu semua hanya dugaan Dinda yang mungkin tak sepenuhnya benar.

Mahasiswa itu menarik napas dalam, lalu kembali duduk di kursi berhadapan dengan Romy. “Sebenarnya … ada sesuatu yang belum saya ceritakan pada pihak universitas. Ada seorang saksi mata melihat. Hari terakhir Rodhif terlihat, di dalam bus yang menuju Cedarville itu, dia sempat membantu seorang anak kecil yang terpisah dari keluarganya.”

‘Woy, mahasiswa itu tak lain adalah aku, bukan siapa-siapa lagi,’ batin Dinda dalam hatinya.

Romy mengernyit. “Anak kecil?”

Mahasiswa itu mengangguk. “Ya. Beberapa penumpang bahkan memperhatikannya, karena anak itu tampak ketakutan sekali. Rodhif berusaha menenangkannya, dan membantunya keluar dari dalam bus sebelum bom meledak, tapi di luar sana, ada sniper mengintai. Rodhif berusaha melindunginya, tapi anak kecil itu menghilang dan itu terakhir kali saksi itu melihatnya.”

“Kamu tadi bilang apa? Bus meledak?” tanya Romy mengulang penjelasannya.

‘Sangat detail sekali seperti apa yang aku lakukan dulu. Siapa ya, saksi mata itu?’ pikir Dinda dalam hati.

Suasana mendadak hening. Dinda, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, merasakan dadanya sesak. Ia tahu ke arah mana cerita ini akan pergi, dan itu berbahaya. Sebelum mahasiswa itu bisa melanjutkan, Dinda buru-buru menyela dengan nada santai yang dipaksakan.

“Anak kecil itu … aku. Aku kabur karena situasinya sudah sangat berbahaya.”

Mahasiswa itu menoleh cepat, matanya membesar. “Apa, benarkah itu?”

Dinda tersenyum tipis, meski matanya menyiratkan kecemasan. “Ya, benar. Aku berjalan seorang diri dan ditemukan oleh Paman.”

‘Semoga saja Firman percaya dengan perkataanku barusan.’

Kedua mata Firman membelalak, seolah mencoba menimbang apakah ia sedang dipermainkan atau benar-benar mendengar pengakuan yang mustahil. Romy sendiri terdiam, tapi sorot matanya menusuk ke arah Dinda, seperti baru saja membuka lembar rahasia yang ia tidak siap temui hari itu.

Mahasiswa itu masih menatap Dinda lekat-lekat, tatapan yang sulit dibaca apakah ia percaya atau justru menganggapnya gila. Namun, ia tak melanjutkan perdebatan soal pengakuan tadi. Ia menarik napas perlahan, lalu beralih ke Romy.

“Detektif … kalau boleh, saya ingin tinggal di sini beberapa waktu. Saya … ingin mencari tahu lebih banyak tentang Muhammad Rodhif, juga untuk mencari bahan membuat skripsi.”

Nada suaranya terdengar hati-hati, tapi matanya kembali melirik ke arah Dinda seakan menyiratkan maksud lain. Ada kecurigaan yang jelas terpancar, walau ia berusaha menutupinya dengan alasan formal.

‘Woy, skripsi katamu. Kau paling mau tahu siapa aku sebenarnya, atau penasaran dengan anak Paman Romy, kan?’ batin Dinda cemberut.

Romy awalnya berpikir panjang, tapi pada akhirnya mengangguk ringan, tidak tampak ragu. “Boleh saja. Selama kau tidak mengganggu pekerjaan di sini, aku tak masalah. Siapa tahu kau bisa membantuku juga.”

“Terima kasih,” jawab mahasiswa itu singkat, tapi sudut bibirnya membentuk senyum samar—entah ramah, entah penuh rencana.

“Dan satu lagi, tak ada kamar kosong di sini, kau cuma bisa tidur di kasur lantai di kantor dan tak boleh dekat dengan anak gadisku!” titah Romy.

“Baik, siap Pak Detektif.”

Dinda yang mendengar itu, mendadak merasa tidak nyaman. ‘Tinggal di sini? Dekat denganku?’ pikirnya. Ia tahu, kalau terlalu banyak interaksi, cepat atau lambat rahasianya akan terbongkar. Tapi jika ia menolak atau terlihat cemas, malah akan menimbulkan lebih banyak kecurigaan.

‘Mungkin Firman punya tujuan lain, sehingga memutuskan menginap di sini. Aku harus mewaspadainya.’

Ia memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan barang-barangnya, sementara di kepalanya muncul satu pertanyaan besar, ‘Bagaimana aku harus bersikap di hadapan orang yang mungkin sedang memburuku tanpa ia tahu siapa aku sebenarnya?’

Beberapa saat kemudian, setelah Romy keluar untuk membeli rokok, Rania pulang dari sekolah dengan wajah yang ceria. Namun, ketika dia memasuki ruangan kantor ayahnya, dia terkejut melihat seorang cowok yang tidak dia kenal sedang berada di ruangan tersebut. Rania merasa kaget dan penasaran tentang siapa cowok itu dan apa yang dia lakukan di sana.

"Siapa kamu?" tanya Rania.

Firman menjawab, "Aku Firman dari Universitas Batavia, datang jauh-jauh untuk mencari sahabatku - Muhammad Rodhif, yang menghilang sekitar dua minggu yang lalu."

Firman pun menjelaskan semuanya pada Rania tentang tujuannya dan malam itu akan menginap selama beberapa hari demi memenuhi tugas skripsi.

Rania mendengarkan penjelasannya dengan saksama. Sementara itu, Dinda, yang merupakan teman dekat Rania dulu, mengintip mereka dari jauh. Dinda memiliki perasaan cemburu ketika melihat Rania dan Firman berbincang-bincang dengan santai. Dinda tahu bahwa Rania adalah fans berat Rodhif, dan dia juga tahu bahwa Rodhif kecil itu sebenarnya menyukai Rania sejak awal.

Dinda merasa tidak nyaman melihat Rania dan Firman berinteraksi dengan begitu akrab. Dia merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres, meskipun dia tidak bisa menjelaskan apa itu. Dinda hanya bisa mengawasi mereka dari jauh, sambil berpikir tentang apa yang mungkin terjadi jika Firman dan Rania semakin dekat.

Sementara itu, Rania dan Firman terus berbincang-bincang tentang Rodhif dan kehilangannya. Rania sangat peduli dengan Rodhif dan ingin membantu Firman menemukannya. Firman juga sangat menghargai bantuan Rania dan berjanji akan bekerja sama untuk menemukan Rodhif.

Dalam beberapa hari ke depan, Rania dan Firman akan bekerja sama untuk mencari Rodhif. Mereka akan mengunjungi tempat-tempat yang pernah dikunjungi Rodhif, berbicara dengan teman-temannya, dan mencari petunjuk apa pun yang bisa membantu mereka menemukan Rodhif. Dinda akan terus mengawasi mereka, sambil berpikir tentang apa yang mungkin terjadi jika Rania dan Firman semakin dekat.

Di saat Rania menuju ke kamarnya, Dinda pun mendekat.

“Ada apa, Dinda?”

“Kak, aku tak mau kamu dekat dengan mahasiswa itu!”

“Lho, kenapa?”

“Kak, asal kau tahu, dia bukan orang baik-baik, lho,” dalih Dinda.

“Iya, kah. Tapi setahuku, dia sopan deh.”

“Sopan dari luarnya. Intinya, jangan bantu dia mencari Kak Rodhif, biar aku saja yang membantunya.”

“Baiklah kalau itu maumu.”

Sore pun menjelang malam, Dinda sembunyi-sembunyi mengamati Firman. Namun, Firman tak ada gerak-gerik mencurigakan. Hanya sesekali ada seseorang yang meneleponnya.

Ia berbaring di kasur lantai di ruangan kantor Detektif seorang diri.

Pagi itu, udara segar berembus. Romy, Dinda, dan Firman terbangun dari tidurnya. Sesuai rencana Romy dan Firman, mereka berdua akan mencari Rodhif di rumahnya terlebih dahulu.

Dinda tiba-tiba datang dan meminta ikut, karena hari itu tepat hari Minggu dan sekolah pun libur. Romy awalnya menolak, tapi Firman menyangkalnya dan dia diperbolehkan untuk ikut saja, siapa tahu dapat membantu mencari petunjuk yang hilang.

Persiapan pun selesai, mereka menaiki mobil, menuju ke Greenville, menuju ke sebuah alamat.

Setelah sampai, mereka bertiga berdiri di depan reruntuhan bangunan yang dulunya adalah rumah Muhammad Rodhif dan orang tuanya. Plafon yang ambruk, dinding yang retak, dan sisa arang di beberapa sudut menjadi saksi bisu peristiwa kelam yang telah lama berlalu.

Mereka menyisir setiap sudut, berharap menemukan sesuatu—dokumen, foto, atau bahkan barang kecil yang bisa memberi petunjuk. Namun, setelah hampir satu jam, hasilnya nihil.

Dinda menghela napas panjang sambil menatap ke arah jalan yang sunyi.

“Paman, kalau begini terus, kita cuma buang waktu, bagaimana kalau kita langsung ke Cedarville ...?”