"Paman, kalau begini terus, kita cuma buang waktu, bagaimana kalau kita langsung ke Cedarville? Itu tempat terakhir Rodhif terlihat sebelum menghilang, kan?" Kata Dinda.
Romy menoleh. "Cedarville? Bukannya itu jauh dari sini?"
"Iya," jawab Dinda mantap, "tapi mungkin di sana masih ada orang yang ingat kejadian dulu. Apalagi, itu berhubungan dengan serangan teroris di Bank Swasta. Kita nggak bisa mengabaikan kemungkinan itu."
Firman mengangguk setuju. "Benar juga. Kalau di sini buntu, kita harus cari sumber lain."
Keputusan diambil mereka berdua setuju dengan Dinda.
‘Yes, akhirnya pergi juga, untung mereka belum tahu ada tulisan rahasia aneh di sana,’ batin Dinda bernapas lega. Dia pikir, kalau mereka menemukan kode itu, mungkin statusnya sebagai Muhammad Rodhif akan terbongkar.
Mereka segera kembali ke mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mesin dinyalakan, dan suara deru knalpot memecah kesunyian pagi itu. Perlahan, mobil melaju meninggalkan rumah hancur tadi, membelah jalanan menuju Cedarville.
Hampir dua jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi mulai melambat saat memasuki pusat kota Cedarville. Dari kejauhan, jalanan terlihat dipenuhi orang. Spanduk-spanduk berwarna mencolok berkibar di udara, dan suara toa memecah kebisingan lalu lintas.
Firman memicingkan mata. "Ada apa itu?"
“Sepertinya ada demo.”
Begitu mendekat, mereka melihat jelas ratusan warga berkerumun di depan kantor Bupati Cedarville. Wajah-wajah mereka memerah oleh amarah, sebagian memukul-mukul pagar besi, sementara yang lain berteriak mengacungkan papan protes.
“Pajak dinaikkan 250%?!” Firman membaca salah satu tulisan di spanduk, terkejut. "Pantas saja … ini bikin semua orang marah."
Dinda mematikan mesin mobil. "Kita nggak bisa lewat. Mending turun dan lihat lebih dekat, siapa tahu ada yang bisa kita tanyai."
“Atau mungkin, Rodhif ada di sini,” sambung Firman.
‘Woy, aku memang di sini,' batin Dinda dalam hati sambil memasang muka jelek.
Mereka bertiga melangkah dengan hati-hati, menyusup di antara kerumunan. Situasinya semakin panas. Polisi yang berjaga mulai kewalahan, dorong-mendorong dengan massa yang nekat merangsek maju. Suara teriakan bercampur sumpah serapah bergema di udara, sulit dibedakan siapa yang bicara dan siapa yang berteriak.
Tiba-tiba, pagar besi depan kantor bupati roboh. Beberapa warga berhasil menerobos masuk ke halaman. Polisi berusaha menghalau, tapi jumlah mereka kalah jauh.
Romy menelan ludah. "Kalau kaya gini terus, bisa-bisa kita ikut terjebak di tengah kerusuhan."
Di sekitarnya, aroma keringat, debu, dan asap dari flare yang dilempar ke udara mulai terasa menusuk hidung. Di kejauhan, kantor Bupati berdiri angkuh, pintunya tertutup rapat, seakan menjadi benteng terakhir di tengah amukan rakyat.
Kerumunan semakin bergolak. Teriakan bercampur cacian menggema di udara, menuntut satu hal: pajak harus diturunkan. Wajah-wajah lelah tapi penuh kemarahan mendesak maju, mendorong barikade polisi yang semakin keteteran.
Bupati Cedarville, Pak Sutikno, pria berperawakan gemuk dengan jas abu-abu rapi akhirnya keluar dari pintu utama kantor, diapit dua ajudannya. Tangannya terangkat, mencoba memberi isyarat agar massa tenang.
"Saudara-saudara, tolong tenang dulu! Saya paham tuntutan kalian, tapi kebijakan ini sudah dimusyawarahkan … dan keputusan ini tidak bisa diubah!"
Kata-kata itu justru menyulut amarah. Sorakan bernada ancaman menyeruak. “Turunkan pajak atau kantor ini kami hancurkan!”
“Jangan tindas rakyat kecil!”
“Pajak semakin mahal, lahan petani enggak digarap disita, gimana jadinya!”
Beberapa cacian masih berlanjut. Kata-kata kotor dan penyebutan hewan hutan diteriakkan oleh massa.
Dinda melirik Romy. "Ini udah di ambang bahaya."
Massa semakin tak terkendali, bergerak menuju ke posisi bupati yang berusaha menenangkan warganya. Namun, hal itu tidak dipedulikan pendemo. Mereka justru melempar sandal, botol, bahkan batu kerikil kepadanya.
Polisi bertameng pun bertambah, mendorong massa agar menjauh dari Bupati. Namun, sia-sia karena massa lebih banyak dan lebih kuat.
“Pak Detektif, kita harus gimana?” tanya Firman.
Belum sempat Romy menjawab, suara letusan keras memecah udara.
“Duar!”
Semua terdiam sepersekian detik, sebelum teriakan histeris mulai terdengar.
Pak Sutikno terhuyung ke belakang, lalu ambruk. Darah mengalir dari luka tembak di tengah keningnya. Ajudan berusaha menolong, tapi sudah terlambat, napasnya sudah berhenti. Dipastikan ia tewas seketika.
Kepanikan pecah. Sebagian massa berlarian, sebagian lagi menjerit, sementara polisi bingung membentuk barikade.
Romy bergerak cepat. "Tutup gerbang sekarang! Jangan biarkan siapa pun keluar!" perintahnya pada komandan polisi setempat. "Pelaku masih di sini. Lihat arah luka, jaraknya dekat! Ini bukan tembakan sniper, tapi dari dalam kerumunan!”
“Siapa Anda?!” tanya salah satu polisi.
“Tak penting! Lakukan saja! Sebelum pelaku keluar dari area!”
Polisi itu pun mengangguk. Gerbang besar besi ditutup rapat, mengurung ratusan orang di halaman kantor. Udara penuh ketegangan.
Di setiap pagar pembatas dijaga dengan ketat, tak satu pun boleh memanjat.
Firman menatap sekitar. "Masalahnya … ada terlalu banyak orang. Gimana kita nemuin pelakunya di tengah situasi kayak gini?"
Romy menghela napas, matanya menyapu lautan kepala yang bergerak resah. "Kita harus bergerak cepat membantu polisi mempersempit tersangka. Satu kesalahan, pelaku bisa menyelinap dan mungkin akan ada korban berikutnya."
“Lalu, gimana caranya?”
“Entah, aku juga bingung,” jawab Romy blak-blakan.
“Paman, mungkin aku punya ide yang brilian,” kata Dinda.
“Ide apa itu?”
Di tengah hiruk pikuk, Dinda tiba-tiba mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Romy. Matanya menatap tajam ke arah kerumunan, seolah ia sudah punya gambaran siapa yang harus dicurigai.
Entah kenapa, di saat seperti itu, Romy langsung percaya dengan kata Dinda. Padahal sebelumnya, ia hanya menganggap Dinda hanya bocah kecil yang masih ingusan dan tak tahu apa-apa. Mungkin, karena situasinya sudah gawat darurat dan tidak memungkinkan lagi berlama-lama, karena pelaku masih mencari cara untuk keluar dari area tersebut.
Romy mengangguk singkat, lalu memanggil komandan polisi.
“Polisi!”
“Iya, Pak, gimana?”
"Tangkap orang-orang yang aku sebutkan ini, cepat! Sisanya, bubarkan dan keluarkan dari area."
Romy membisikkan sesuatu pada polisi tadi mengenai detailnya, agar pelaku bisa dipersempit dan situasi tak ricuh lagi.
Setelah mendengar perkataan Romy, dia pun kembali bertanya.
“Ngomong-ngomong, Anda siapa kok banyak tahu dan punya solusi pada saat seperti ini?”
Romy pun menggerutu, polisi tadi cerewet dan seba ingin tahu.
“Aku Romy, Detektif Swasta dari Brooksville.”
“Kau Detektif yang beberapa waktu masuk surat kabar itu?”
Romy mengangguk, lalu menyuruhnya segera pergi.
Polisi tadi pun pergi memberitahu ke rekan lainnya sesuai dengan perintah Romy.
Perintah itu segera dilaksanakan. Polisi bergerak cepat, merengsek ke kerumunan dan menyeret beberapa orang yang terlihat panik. Dari ratusan diperiksa, ada puluhan yang sempat diperiksa sekilas, demikian seterusnya, hal itu pun berlanjut dengan tujuan mempersempit tersangka agar interogasi lebih mudah.
Beberapa saat kemudian, hanya tiga orang yang dipisahkan, mereka berada di posisi yang memungkinkan untuk melakukan tembakan dari jarak dekat. Serta ada bukti lain yang memperkuat mereka untuk dijadikan tersangka.
Sementara, sisanya dipulangkan, melewati gerbang yang kini kembali terbuka. Polisi menyemprotkan gas air mata agar massa bubar.
Massa pun pergi, keluar dari area tersebut. Sementara Romy, Firman dan Dinda berlindung di koridor agar tak terkena gas tersebut.
Beberapa waktu pun berlalu, halaman kantor bupati menjadi jauh lebih lengang, tapi suasananya masih penuh ketegangan.
Beberapa polisi menyeret tiga orang.
"Kita dapat tiga orang yang kemungkinan pelaku penembakan ....”