"Kita dapat tiga orang yang kemungkinan pelaku penembakan.”
Beberapa polisi menyerat ketiganya ke sebuah ruang untuk diinterogasi. Sementara Romy melangkah, melihat jasad Pak Sutikno yang terkulai tak berdaya dan bersimbah darah di kepalanya. Ia meneliti tembakan tadi, sudut asal tembakan dan suara tembakan yang tadinya samar, karena bisingnya orang demo.
Rupanya, Dinda pun diam-diam melihat jasad itu juga tanpa sepengetahuan orang-orang.
Suara sirene memecah udara sore yang panas. Beberapa mobil polisi berdatangan, memisahkan ratusan demonstran dari barisan petugas yang bersenjata lengkap. Para pendemo sudah keluar dari area, tapi masih berada di jalanan. Udara penuh debu, bau asap, dan ketegangan.
“Paman, berkat kamu, polisi tahu siapa yang ditangkap,” bisik Dinda, suaranya nyaris tak terdengar di tengah langkah sepatu para petugas.
Romy mengangguk, lalu mengalihkan perhatiannya pada sosok berjas hitam yang baru saja keluar dari mobil polisi, lalu melangkah memasuki halaman. Posturnya tegap, dengan tatapan dingin yang langsung menilai situasi.
Romy menyipitkan matanya, memfokuskan pandangannya dengan orang tadi yang sepertinya begitu familier.
Orang itu adalah Inspektur Ilham dari kepolisian pusat dikenal karena ketegasannya menangani kasus-kasus kelas berat. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung mengambil alih komando.
"Pembunuhan pejabat daerah ini bukan perkara kecil. Mulai sekarang, semua prosedur dilakukan sesuai protokol pusat. Tidak ada satu pun yang keluar sampai pemeriksaan selesai."
Udara terasa makin berat. Tiga orang yang dicurigai duduk di kursi lipat darurat, tangan mereka diborgol. Tatapan mereka gelisah, tapi masing-masing membisu.
Romy, Dinda, dan Firman saling pandang. Mereka tahu, inilah awal dari investigasi dadakan yang bisa saja membuka rahasia jauh lebih besar daripada sekadar pembunuhan di depan umum.
Detektif Romy melangkah menuju ke titik di mana kemungkinan orang menembaknya dari tempat tersebut yang sekarang area itu sepi, matanya menyapu ke sesosok wajah. Ia pun melangkah menuju ke seseorang yang merupakan polisi, dan bertanya sesuatu padanya.
Sementara itu, di ruang interogasi. Ketiga tersangka masuk dengan dikawal polisi. Di sana sudah ada Inspektur Ilham – kepolisian Batavia yang ditugaskan untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
“Inspektur, kami sudah mempersempit tersangka menjadi tiga orang dan yang lainnya sudah kami bubarkan agar tidak menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.”
Inspektur Ilham menyipitkan matanya, menatap seorang polisi tadi.
“Siapa yang menyuruhmu? Bagaimana kalau pelaku penembakan itu adalah orang yang dibubarkan juga?”
Polisi yang rupanya bernama Reno tadi pun kaget, baru menyadari hal itu. Ia pun takut pada atasannya karena sudah salah langkah.
“Aku tak mau ada keteledoran di sini. Kita harus bekerja dengan baik dan teliti. Lantas tadi kau menangkap tiga orang itu atas perintah siapa?”
“Aku ....” Reno gugup, tak bisa menjawab.
“Saya yang nyuruh dia, Pak Inspektur,” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul.
“Kau ...?”
“Iya Pak Inspektur, aku menyuruhnya menangkap ketiga tersangka itu karena hanya merekalah yang mungkin bisa melakukannya karena posisi mereka tepat di sudut tembak.”
“Lalu, kalau pelakunya bukan dari ketiganya gimana? Bisa saja kan dari sniper yang mengincar dari kejauhan atau ada peluru yang memantul?” tanya Inspektur Ilham.
“Kebetulan aku berada di lokasi kejadian saat itu. Dilihat dari sudut asal tembakan, lalu suara tembakan, bukanlah dari seorang sniper. Tapi penembak masih di area sini.”
“Jadi ...?”
“Ada seseorang yang memanfaatkan keramaian itu untuk melakukan aksinya, dan satu orang yang patut kita curigai,” kata Romy sambil menunjuk ke seorang polisi yang berdiri di samping Inspektur Ilham.
“Opsir Arman maksudmu?” tanya Inspektur Ilham.
“Kau memasukkanku ke dalam daftar tersangka?” tanya Arman kaget, wajahnya pucat dan berkeringat dingin.
“Anda juga berada di titik lokasi asal penembakan. Lalu, Anda membawa senjata. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi bisa jadi kau melakukannya, kan?”
“Mana mungkin, Pak? Aku seorang polisi telah diajari benar-benar dan dididik dengan baik. Masa sampai beraninya menembak pejabat?”
Inspektur Ilham menatap tajam ke arah Romy.
“Kau tadi yang menyuruh Reno untuk menangkap ketiga tersangka, lalu kau juga mencurigai Opsir Arman sebagai pembunuhnya, kau sendiri siapa?”
“Dia Pak Romy, Detektif Swasta asal Brooksville yang sudah menangani banyak kasus,” sela Firman menjawab pertanyaan dari Inspektur Ilham.
“Paman Romy orangnya cerdas dan bisa diandalkan,” sambung Dinda.
“Woy, kalian berdua. Ini bukan tempat untuk mengatakan lelucon.”
“Dinda, kau keluar saja, biar aku yang nangani,” bisik Romy, lalu Firman dan Dinda pun keluar dari tempat itu.
Seorang polisi membisikkan sesuatu pada Inspektur Ilham, hingga dia mengangguk-angguk. Setelah itu, raut wajahnya berubah cerah dan menatap Romy dengan senyuman.
“Pak Romy, aku mohon bantulah kami menangani kasus ini,” pintanya yang membuat orang-orang di sana pun kaget. Mereka belum tahu siapa Romy sebenarnya karena belum terkenal. Dia hanya seorang Detektif swasta yang reputasinya belum banyak yang tahu.
“Pak Inspektur, apa aku tidak salah dengar?” tanya Romy kaget.
“Iya, aku serius. Setelah mendengar dari bawahanku, kau pandai dalam menangani kasus rumit. Jadi, saat ini kebetulan Anda berada di sini. Tenang saja, jika kasus ini selesai, aku akan memberimu upah.”
“Upah?” Romy mengulangi kata tadi dengan wajah gembira. Ia begitu antusias setelah tahu akan dibayar olehnya.
“Baiklah, kalau begitu, saya akan membantu sebisaku.”
Romy pun akhirnya mengungkapkan prosedur dan sebab, kenapa ke-empat orang tadi dinyatakan tersangka dan prosedur lanjutan untuk menemukan siapa penembak aslinya.
Prosedur dimulai. Satu persatu diinterogasi bergiliran. Ditanyai latar belakang mereka dan tujuan datang, serta penggeledahan barang yang ia bawa. Mereka bekerja sama dengan tim forensik untuk menyelesaikan kasus.
Setelah semuanya diinterogasi, hasil pemeriksaan awal keluar.
-
Tersangka Pertama, yakni pria berjaket kulit hitam, usia 30 tahun, pistol terselip di pinggangnya. Namun, hasil Gunshot Residue Test menunjukkan negatif bubuk mesiu. Senjatanya bersih, seolah belum digunakan. “Bisa saja dia hanya membawa, atau dia sengaja membersihkannya,” gumam Romy.
-
Tersangka Kedua itu lelaki muda bertopi lusuh. Usia 20 tahun. Tangannya positif bubuk mesiu, bahkan baunya menyengat. Namun, ia tidak membawa senjata sama sekali. “Kalau dia menembak, kemana perginya pistol itu?” tanya Inspektur Dimas, mencatat setiap gerak-geriknya.
-
Tersangka Ketiga merupakan perempuan berusia 25 tahun berwajah pucat, duduk di tanah sambil menatap kosong. Ia berada persis di jalur tembak, tapi tak ada senjata, dan hasil tesnya negatif. “Tapi tatapannya seperti orang yang baru melihat mimpi buruk. Ia linglung dan seperti menyembunyikan sesuatu yang belum lama ia lihat.”
-
Tersangka Keempat adalah seorang polisi. Senjatanya jelas-jelas digunakan, hasil tes mesiu positif. Tapi ia bersikeras, “Saya jaga di sini sejak pagi. Wajar kalau ada bau mesiu, rompi ini sudah lama tidak dicuci, dan senjata saya sudah dipakai latihan minggu lalu.” Dalihnya terdengar masuk akal atau mungkin terlalu masuk akal. Setelah pistol miliknya diperiksa, ujungnya dingin dan tidak timbul rasa panas atau hangat, membuktikan kalau pistol itu belum digunakan.
Romy menatap keempat orang itu bergantian. Keheningan menggantung di udara, hanya terpotong oleh suara kamera wartawan dari kejauhan. Satu dari mereka berempat atau mungkin lebih dari satu memegang kunci misteri itu ....