Romy menatap keempat orang itu bergantian. Keheningan menggantung di udara, hanya terpotong oleh suara kamera wartawan dari kejauhan. Satu dari mereka berempat atau mungkin lebih dari satu memegang kunci misteri itu.
Beberapa waktu pun berlalu, belum ada titik cerah, siapa yang menembak Bupati Sutikno
Ruang interogasi itu dingin. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, menambah suasana tegang. Kini, semua tersangka dikumpulkan, duduk bersebelahan untuk interogasi ke-dua.
Bimo duduk di kursi besi, kedua tangannya terkunci di atas meja. Matanya menatap ke arah pistol yang tergeletak di depan, dibungkus plastik bukti.
Tim forensik yang merupakan anak buah Inspektur Ilham, membawa setumpuk berkas berisikan hasil tes lab. Ilham melihatnya satu persatu dan membacanya. Sementara Dinda masih berada di sebelah pintu untuk mendengar hasil lab tadi. Firman mengamati Dinda yang gerak-geriknya menimbulkan kecurigaan padanya. Seperti sahabat lamanya yang menghilang.
Belum lama, ia pernah menjadi partner Rodhif saat rektor tewas terbunuh karena racun. Ia membantu Rodhif untuk mencari Memo dan Struk di tempat yang mungkin didatangi tersangka. Melihat sosok Dinda di depannya, ia memang teringat dengan sosok Rodhif, tapi bagaimana mungkin Rodhif yang menghilang menjadi Dinda? Begitulah yang ada di pikiran Firman. “Bimo ….” Suara Inspektur Ilham terdengar tenang, tapi matanya tajam. “Senjata ini tidak meninggalkan residu mesiu. Bahkan, pelurunya tidak ada. Kau tahu kenapa?”
Bimo menelan ludah. “Saya … saya nggak ngerti, Pak. Itu pistol saya beli di toko online dengan harga yang murah. Buat jaga diri.”
Ilham meletakkan laporan forensik di meja. “Ini pistol mainan. Hanya menimbulkan suara ledakan palsu, tanpa peluru. Kau bahkan tidak sadar kalau itu bukan asli?”
Bimo menggeleng, wajahnya memucat. “Saya kira asli… penjualnya bilang ini bisa nembak. Saya beli karena… akhir-akhir ini ada orang mengawasi saya di jalan. Saya takut.”
Romy mendekat, mencondongkan tubuh. “Kalau itu benar, berarti kau tidak bisa menembak korban.”
“Kata siapa, Pak? Aku lihat dari mata kepalaku sendiri, ia mengarahkan pistol ke mana-mana hingga aku yang berada di sebelahnya takut!” sangkal orang di sebelahnya yang merupakan tersangka kedua.
“Aku memang mengarahkan pistol ke mana-mana. Dalam kerusuhan itu, aku merasa orang yang mengawasiku berada di dekatku.”
“Tapi Bimo, kau ikut berdemo hari itu, kau punya motif membunuh korban, mungkin kau pun tak setuju dengan kebijakan menaikkan tarif pajak sampai 250% kan? Bisa jadi, kau membawa pistol asli, lalu membuangnya sebelum kami tangkap?” tanya Detektif Romy.
Bimo menatap balik, suaranya bergetar. “Tidak, Pak! Saya cuma bawa itu … nggak ada pistol lain. Saya nggak buang apa-apa.”
Romy mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, matanya tidak lepas dari wajah Bimo. ‘Orang ini sebenarnya punya motif’, pikirnya. ‘Meski senjata di depannya mainan, bukan berarti dia tak bisa terlibat. Jika dia memang menukar senjata asli dengan mainan sebelum pemeriksaan, itu menjelaskan kenapa dia bersih dari mesiu.’
Inspektur Ilham akhirnya memberi isyarat kepada petugas untuk mendekat. “Coba kau cari pistol di luar sana, siapa tahu ada,” bisiknya dekat dengan telinga.
Petugas itu pun mengangguk, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ruang interogasi kali ini terasa lebih tegang. Meski tersangka pertama sudah diinterogasi, tapi belum menemukan titik cerah.
Selanjutnya, tersangka kedua giliran diinterogasi. orang itu duduk dengan kaki terentang, jaket lusuhnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaos yang penuh bercak hitam. Di meja, hasil Gunshot Residue Test tertera jelas: positif bubuk mesiu.
Inspektur Ilham memandangi laporan itu sebelum berbicara. “Tersangka kedua, namamu Doni, hasil tes ini jelas. Bubuk mesiu di tangan dan bajumu cukup pekat. Bagaimana bisa?”
Doni menarik napas panjang. “Saya tukang las, Pak. Las itu juga bikin baju bau seperti ini. Hari itu, sebelum demo, saya kerja dulu di bengkel.”
Romy mengangkat alis, matanya menyipit. “Tukang las? Bubuk mesiu dan debu logam memang sama-sama halus… tapi baunya berbeda. Ini bau mesiu, Doni. Bukan besi terbakar.”
Doni gelagapan. “Ya … mungkin saya kebawa kena orang di demo yang nembak. Saya kan di kerumunan .…”
“Biar saya luruskan. Memang, secara bau itu sama, antara las dan mesiu. Karena sama-sama menimbulkan panas. Namun, hasil analisis, itu memang bubuk mesiu, bukan bau las. Lagian, mana mungkin kau sebelum demo melakukan pekerjaanmu terlebih dahulu? Lantas, bagaimana bisa bau mesiu jelas di bajumu kalau kau barusan memegang pistol? Bisa jadi, kau juga mungkin membuang pistol tadi, kan?”
“Ya sudah, aku mengaku, aku memang pagi-pagi sekali datang ke sini dengan niat berdemo, tidak bekerja ngelas dulu. Tapi, aku tak tahu bau mesiu dari mana dan bagaimana bisa ada di bajuku, Pak. Aku beneran enggak bawa pistol ke sini, lagian untuk apa aku bawa pistol? Aku cuma melihat Bimo yang menodongkan pistol ke segala arah, tangkap saja dia, Pak!”
“Woy, Doni. Atas dasar apa kau menuduhku?!” sergah Bimo, tak mau dijadikan tersangka.
Romy mencondongkan tubuh, suaranya tajam tapi terukur. “Kau berdiri di titik di mana tembakan itu berasal. Kau pun ikut demo. Kau punya alasan untuk marah, sama seperti ratusan orang lain. Bedanya, hanya kau yang bau mesiu seperti habis menembak.”
Doni terdiam, menunduk. Tangannya meremas celana, tapi ia tidak memberi jawaban lain.
Sementara itu .…
Di luar ruang interogasi, suasana markas sementara polisi sibuk dengan tim pencari barang bukti. Salah satu petugas yang tadi memeriksa TKP melapor ada kemungkinan senjata terbuang di area belakang barikade.
Dinda, yang sedari tadi mondar-mandir di dekat sana, langsung mengambil kesempatan. “Biar saya ikut lihat,” katanya sambil mengikuti petugas itu menuju lokasi.
“Woy Bocah. Kau tidak diperkenankan ikut!”
“Tapi, Pak. Ini atas perintah Paman dan sudah diizinkan oleh Inspektur.”
“Iya, kah? Bagaimana bisa, anak kecil ikut campur dalam urusan kriminal?”
“Aku ... asistennya Detektif Romy.”
“Oh, pria yang berkumis memakai jas itu?”
Dinda mengangguk, polisi itu akhirnya mengizinkannya untuk ikut mencari barang bukti.
‘Jika pistol itu tak ditemukan, mungkin ada petunjuk lain di area sini yang mengarah pada orang itu,’ batin Dinda dalam hati.
Ternyata, yang Dinda tidak sadari, Firman memperhatikannya dari jauh. Dahi Firman berkerut. ‘Kenapa dia tiba-tiba tertarik mencari senjata?’ Tanpa membuat suara, ia mulai membuntuti Dinda, menjaga jarak cukup jauh agar tidak ketahuan.
‘Analisisnya seperti dia, gerak-geriknya juga seperti dia. Lantas, siapakah bocah itu sebenarnya? Kuyakin, dia bukan bocah sembarangan,’ pikir Firman dalam hati.
Di lorong sempit yang memisahkan tenda komando dan pagar kawat, langkah mereka perlahan menjauh dari keramaian, menuju sesuatu yang mungkin lebih berbahaya daripada sekadar pistol yang hilang. Satu persatu tempat di area barikade pun diperiksa, tapi setelah sekian lamanya, benda yang dimaksud itu tak ditemukan.
Beberapa saat kemudian, tepat di mana lokasi yang ditandai polisi sebagai sudut asal tembakan, mata Dinda menatap ke suatu benda, bukan pistol, tapi ....