Beberapa saat kemudian, tepat di mana lokasi yang ditandai polisi sebagai sudut asal tembakan, mata Dinda menatap ke suatu benda, bukan pistol, tapi bekas minuman cup yang ia rasa mencurigakan.
Kenapa bisa mencurigakan? Karena botol cup itu terpisah dengan sampah lainnya, tersembunyi di balik semak dan dalam keadaan berdiri. Setelah ia mendekat, ia memeriksa cup itu yang sudah dirobek bagian atasnya, tapi sedotan masih ada di sana. Ia pun mencium baunya dan matanya terbelalak kaget setelah mengetahui baunya.
‘Jadi, seperti itu, ya. Misteri penembakan ini sudah mulai jelas. Namun, aku belum tahu siapa orangnya. Mungkin, aku meminta bantuan polisi untuk memeriksa cup itu.’
“Pak Polisi, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan,” kata Dinda sambil menarik celana salah satu petugas.
“Jadi, kau sudah menemukan pistolnya?” tanya petugas itu tanpa menoleh.
“Bukan pistol, Pak. Tapi ini ...,” jawab Dinda sambil memperlihatkan bekas minuman cup padanya. Petugas itu pun menoleh, lalu tertawa.
“Hei, Nak. Itu cuma sampah tak berguna. Enggak ada hubungannya dengan kasus ini.”
“Tapi, Pak. Coba Anda cium bau bekas minuman cup itu?”
Awalnya, petugas itu pun menolak, menganggap pikiran bocah tak mungkin bisa dipercaya. Namun, Dinda memaksa untuk melakukannya dan akhirnya petugas itu pun kaget, karena bau itu pun aneh.
“Baik, aku serahkan pada tim forensik untuk analisis,” katanya lalu melangkah pergi membawa benda tadi. Dinda mengikuti di belakangnya, penasaran dengan hasilnya. Firman pun mengikutinya tanpa sepengetahuan Dinda.
Sementara itu, di ruang interogasi masih terlihat tegang.
Di kursi interogasi, tersangka ketiga duduk membungkuk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Tatapannya kosong, seolah masih terjebak di momen beberapa jam lalu.
Detektif Romy menatapnya beberapa detik, mencoba membaca gerak matanya yang samar.
“Namamu siapa?” tanya Inspektur Ilham. Namun, perempuan itu belum menjawab. Terlihat ada raut wajah kesedihan dalam dirinya. Saat ia ditangkap, sedang berdiri seperti orang yang baru saja kehilangan ingatan mendadak.
Romy berusaha memenangkannya, menghiburnya dengan sedikit ceritanya. Pada akhirnya, perempuan itu pun mulai membuka mulutnya.
“Namaku Sari, Pak.” “Sari … aku tahu kau masih terguncang. Tapi kita butuh ceritamu. Apa yang terjadi saat itu?”
Sari hanya menelan ludah, matanya berpindah dari meja ke lantai. Keheningan membungkus ruangan hingga Romy hampir mengira ia tidak akan menjawab. Namun, perlahan, suaranya keluar lirih. “Saya … datang bareng teman-teman kuliah. Ramai-ramai. Tap i… di tengah demo, saya … saya terpisah. Saya nggak tahu mereka di mana.”
Romy mencatat cepat. “Lalu?”
Sari menghela napas gemetar. “Tiba-tiba … ada suara pistol. Dekat sekali dengan saya, membuat telinga saya berdengung. Saya … saya takut. Semua orang berteriak. Saya nggak tahu harus lari ke mana lagi.”
“Dari mana arah tembakannya?” potong salah satu penyidik yang berdiri di sudut ruangan.
Sari menggeleng pelan, air matanya mulai menetes. “Saya … lupa. Semuanya blur. Saya cuma ingat … rasanya dunia berputar. Orang-orang dorong-dorongan. Saya hampir pingsan.”
Romy menatapnya lama, mencoba mencari tanda kebohongan, tapi wajah Sari hanya memancarkan keterkejutan. Dia memang negatif bubuk mesiu, tanpa senjata, tapi posisinya di jalur tembak tetap membuatnya relevan.
Akhirnya, Inspektur Ilham menutup mapnya. “Baik. Untuk sementara kau boleh keluar dari ruangan ini agar pikiranmu dan ingatanmu kembali, aku harap kau mau bicara lagi setelah pulih.”
Sari hanya mengangguk lemah, lalu menunduk, seolah ingin menghilang dari pandangan dunia.
Tersangka keempat pun giliran diinterogasi lagi. Tidak ada tatapan panik atau gugup seperti tersangka lain. Di hadapan Romy, duduk seorang pria berseragam lengkap, dengan postur tegap dan wajah yang menatap lurus tanpa keraguan. Namanya Petugas Arman, anggota polisi senior yang sudah bertugas lebih dari lima tahun.
Di meja, pistol dinasnya tergeletak dalam kantong plastik bukti. Ujung moncongnya dingin saat disentuh oleh teknisi forensik, yaitu tanda jelas bahwa senjata itu tidak ditembakkan baru-baru ini. Namun, hasil Gunshot Residue Test di rompi dan sarung tangannya tetap positif.
Inspektur Ilham memulai dengan nada datar. “Petugas Arman … hasil tes menunjukkan bubuk mesiu di rompi dan sarung tangan Anda. Bisa jelaskan?”
Arman menghela napas panjang, matanya tetap menatap Romy. “Itu wajar, Pak. Tadi saya sudah jelaskan. Saya sudah pakai rompi ini berbulan-bulan tanpa dicuci. Senjata saya juga digunakan rutin untuk latihan menembak, terakhir minggu lalu. Bau mesiu pasti menempel. Tapi hari ini, saya tidak menembak sama sekali.”
Romy yang duduk di sudut ruangan ikut berbicara. “Tetapi Anda berada di lokasi, membawa senjata, dan jarak Anda ke korban cukup dekat. Banyak orang bisa menganggap itu kesempatan.”
Arman menggeleng tegas. “Dengan hormat, Pak, saya ini polisi. Mana mungkin saya nekat membunuh seorang bupati di depan ratusan orang dan kamera media? Saya tahu prosedur, saya tahu konsekuensinya. Saya tidak gila. Lagian, tak ada saksi mata yang melihat aku menembak, kan? Hanya tersangka pertama yang terlihat membawa dan menggunakan pistol.”
Ilham membuka map tebal berisi catatan kariernya. Ia membaca pelan-pelan, sengaja membuat suasana menekan. “Lima tahun bertugas. Tidak pernah jadi tersangka, tidak pernah terlibat kasus pelanggaran disiplin, tidak ada catatan penyalahgunaan wewenang. Bahkan, Anda pernah dapat penghargaan ‘Anggota Teladan’ tahun lalu. Reputasi Anda bersih.”
Arman menatap balik tanpa goyah. “Saya hanya melakukan tugas saya, Pak. Saya menjaga keamanan demo itu. Satu-satunya alasan saya dekat dengan korban adalah karena saya mengawal baris depan ketika massa mulai ricuh.”
Ilham menutup map perlahan. ‘Kemungkinannya memang kecil’, pikirnya. Namun, meski secara logis Arman nyaris tak punya motif, prosedur tetaplah prosedur.
“Baik, Petugas Arman. Untuk saat ini, Anda tetap berada di bawah pengawasan. Bukan berarti Anda bersalah, tapi sampai pelaku sebenarnya ditemukan, semua orang yang relevan akan kami periksa.”
Arman hanya mengangguk tenang. Tidak ada nada ketakutan, tidak ada tanda kebohongan yang jelas. Namun bagi Romy, ketenangan itu sendiri adalah alasan untuk tetap waspada.
Sementara itu, petugas forensik mulai melakukan tugasnya dengan mengenakan sarung tangan lateks. Senter kecil di tangannya untuk memeriksa detail kecil yang mungkin terlewat. Dinda berdiri beberapa meter di belakang, pura-pura melihat-lihat sambil mengunyah permen karet, tapi matanya fokus pada setiap gerakan tim itu.
Salah satu petugas akhirnya berseru pelan, “Dapat sesuatu!” Lalu, ia menulis hasil penelitiannya ke sebuah berkas dan akan diserahkan ke Inspektur.
Sementara itu, pistol milik Petugas Arman diambil lagi untuk diperiksa kembali kecocokannya.
Pistol itu segera dibawa ke meja portabel. Proses cepat dilakukan — nomor seri dicek, ujung larasnya diinspeksi, dan tes awal residu mesiu dilakukan. Tak butuh lama sebelum salah satu teknisi mengangguk sambil berkata pada rekannya, “Senjata ini baru saja digunakan … dan cocok dengan kaliber peluru yang membunuh korban. Tapi bagaimana bisa, ujungnya dingin?”
Dinda membeku. ‘Jadi itu senjatanya,’ pikirnya, dan dari ekspresi serta gumaman singkat petugas, ia menangkap sebuah nama yang langsung membuat matanya membesar. Pelaku sebenarnya ada di daftar tersangka dan bukan orang yang paling dicurigai selama ini ....