Dinda membeku. ‘Jadi itu senjatanya,’ pikirnya, dan dari ekspresi serta gumaman singkat petugas, ia menangkap sebuah nama yang langsung membuat matanya membesar. Pelaku sebenarnya ada di daftar tersangka dan bukan orang yang paling dicurigai selama ini.
Senyum tipis muncul di wajahnya. Ia sudah bisa mengungkap kasus itu terlebih dahulu sebelum orang lain.
‘Ini berita besar dan Paman Romy harus tahu,’ batin Wily. Namun, ia tidak bisa mengatakannya langsung di depan semua orang. Sebab, mana mungkin orang-orang akan percaya dengan ocehan anak kecil? Benar, Dinda harus melakukan metode andalannya. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan buku catatan kecil, dan mulai menulis cepat.
Begitu selesai, Dinda menyobeknya, lalu melipat kertas itu kecil-kecil dan menyimpannya di telapak tangannya. Ia menunggu waktu yang tepat. Saat nanti Romy pergi ke toilet, kertas itu akan ia selipkan ke saku celana Romy tanpa menarik perhatian siapa pun.
Akan tetapi, yang Dinda tidak sadari, dari kejauhan, Firman masih mengikutinya. Firman jelas melihat Dinda menulis sesuatu dan penasaran dengan tindakan apa yang akan dilakukan bocah kecil itu. Tatapan curiga di wajahnya semakin dalam.
Sementara itu, di ruang interogasi, jam dinding berdetak lambat, seolah mengejek semua orang di ruangan itu. Tumpukan map berisi hasil analisis masih terbuka di meja. Detektif Romy duduk dengan siku bertumpu di tepi meja, matanya menatap daftar nama yang sudah ia hafal di luar kepala:
Bimo – Pistol mainan, negatif bubuk mesiu, punya motif.
Doni – Positif bubuk mesiu, tak bawa pistol, latar belakang meragukan, tapi juga punya motif.
Sari – Negatif bubuk mesiu, tanpa senjata, tapi tepat berada di jalur tembak.
Petugas Arman – Positif mesiu di rompi, tapi ujung pistol dingin, reputasi bersih.
Inspektur Ilham berdiri di sampingnya, melipat tangan. “Kita sudah periksa satu per satu, Romy. Tapi, belum ada yang benar-benar mengerucut. Menurutmu, kita harus gimana lagi?”
Romy memijat pelipisnya, matanya tak lepas dari kertas. “Semua ada celah, semua punya alasan untuk terlihat bersih, tapi juga alasan untuk dicurigai.”
Ilham mengangguk pelan. “Kalau tidak ada bukti tambahan, kita akan stuck di sini.”
Romy tiba-tiba mendesah panjang, kursinya berdecit saat ia berdiri. “Pak Inspektur, aku izin keluar sebentar. Mau ke toilet sekalian cuci muka. Kepala rasanya penuh asap.”
Ilham menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, cepat kembali ya. Kita masih punya empat orang yang harus dijaga.”
Sementara itu, di sisi lain ruangan, empat tersangka menunggu dalam ketidaksabaran yang berbeda-beda. Bimo mengetukkan kakinya ke lantai dengan resah. “Ayo dong…! Ini sampai kapan? Saya sudah bilang saya nggak salah!” teriaknya.
Doni ikut meninggikan suara. “Saya juga! Ini pemborosan waktu! Lepasin saya!”
Sari berbeda, ia hanya duduk diam, tatapannya kosong menembus meja di depannya, seolah pikirannya masih terjebak di tengah kerumunan demo.
Sementara Petugas Arman duduk tegak, tenang, sesekali memandang ke jam di pergelangan tangannya tanpa ekspresi.
Ketegangan itu membuat udara di ruang interogasi terasa padat. Belum ada yang tahu, siapa pelaku penembak sebenarnya. Kasus itu masih belum bisa dituntaskan.
Toilet markas sementara itu sepi, hanya terdengar suara keran yang menetes pelan. Romy melepaskan jasnya dan menggantungnya rapi di gantungan baju di dekat pintu, lalu masuk ke toilet. Ia menyalakan keran, membasuh wajah, mencoba mengusir rasa lelah yang menekan kepalanya sejak pagi.
Beberapa detik setelah Romy masuk, Dinda menyelinap dari koridor. Gerakannya cepat, matanya terus mengawasi pintu toilet kemungkinan tak lama lagi terbuka. Begitu memastikan Romy sibuk mengejan di dalam toilet, ia melangkah perlahan, mendekati gantungan baju.
‘Paman, tadi kau makan apa? Kok baunya menyengat kaya gini?’ gumam Dinda dalam hati sambil menutup hidungnya. Ia sebenarnya akan mutah, tapi ia tahan agar tak ketahuan.
Setelah itu, tangannya merogoh saku jas itu, lalu menyisipkan lipatan kertas kecil yang sudah ia siapkan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, yang ada hanya sekali selip, dan selesai. Dinda segera mundur, menutup napas, lalu berbalik untuk pergi sebelum Romy selesai.
Akan tetapi, langkahnya terhenti mendadak. Firman sudah berdiri di lorong, menghadangnya. Tatapannya tajam, seperti pisau yang mencari celah. “Siapa sebenarnya kamu?” suaranya rendah, tapi tegas.
Dinda menahan ekspresi terkejutnya. “Aku … ya aku, Dinda. Kenapa nanyanya aneh gitu?”
Firman tidak tersenyum. “Aku perhatiin kamu dari tadi. Kamu terlalu banyak tahu untuk orang yang ‘kebetulan’ ada di sini. Kamu ikut petugas forensik, kamu nyatet sesuatu, itu bukan tingkah anak biasa. Bagaimana mungkin anak seusiamu tahu semua hal itu?”
Dinda menunduk sebentar, mencoba merangkai jawaban. “Aku cuma … penasaran. Kan nggak salah kalau aku ingin tahu apa yang terjadi.”
Tapi Firman, dengan matanya yang tajam, tidak membeli penjelasan itu. “Penasaran? Atau kamu punya urusan sendiri di kasus ini? Kalau begitu, aku bisa bilang ke Romy sekarang juga.”
“Eh, jangan!”
Dinda terdiam sepersekian detik, cukup lama untuk membuat Firman tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
Udara di lorong itu menjadi tegang, hanya terisi tatapan saling mengukur, sementara di dalam toilet, Romy masih belum tahu bahwa di sakunya sekarang tersimpan kunci menuju pelaku sebenarnya.
“Kalau kau ingin tahu, aku bisa jelaskan semuanya, tapi jangan di sini ....”
Romy keluar dari toilet, menepuk wajahnya dengan tisu. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya. Ia mengambil jas yang tergantung, mengenakannya kembali sambil berjalan menuju ruang interogasi.
Begitu masuk, pemandangan yang sama menyambutnya: empat tersangka duduk di kursi masing-masing.
Bimo masih resah, mengetukkan kakinya. Doni bersandar malas, tatapan gelisah. Sari tetap diam, tatapannya kosong. Petugas Arman duduk tegap, tenang seperti batu karang.
Romy menghela napas panjang. Pikirannya terasa buntu, seperti berjalan di lorong gelap tanpa ujung. Di sebelahnya, Inspektur Ilham hanya membolak-balik map hasil analisis, seperti berharap ada detail yang terlewat.
Tanpa sadar, tangan Romy merogoh ke saku jasnya. Jarinya menyentuh sesuatu yang asing, sepertinya ia menemukan lipatan kertas kecil. ‘Ini apa?’ pikirnya. Ia bergumam pelan, ‘Biasanya di saku celana, kok ini di saku jas?’
Rasa penasaran mengalahkan niat untuk mengabaikannya. Ia membuka lipatan itu. Tulisan tangan rapi tapi tergesa-gesa terbaca jelas. Karakter tulisan dan bentuknya sama seperti sebelumnya.
Mata Romy membesar sejenak. Ia membaca cepat detail singkat yang dituliskan di bawahnya, dan semakin dalam ia membaca, semakin jelas jalur pikirannya. Potongan puzzle yang selama ini berserakan tiba-tiba tersusun rapi di kepalanya.
Lalu, senyum tipis muncul di wajahnya. Padahal sesaat sebelumnya ia merasa buntu. Ia menutup kertas itu, menyelipkannya kembali ke saku jas.
“Inspektur,” katanya pelan tapi tegas, “kasus ini sudah selesai.”
Inspektur Ilham menatapnya terkejut. “Apa maksudmu? Kau menemukan sesuatu?”
Romy hanya mengangguk, matanya beralih ke salah satu tersangka. “Iya, aku sudah menemukan siapa pembunuhnya ....”