Detektif Imut - Bupati Angkuh Ditembak (6)

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

Romy hanya mengangguk, matanya beralih ke salah satu tersangka. “Iya, aku sudah menemukan siapa pembunuhnya, siapa yang nekat membunuh bupati di saat keadaan ricuh. Sebentar lagi, kita akan mendengar pengakuannya.”

Di kursi mereka, keempat tersangka mulai saling melirik. Sebagian tegang, sebagian bingung. Mereka belum tahu, dalam hitungan menit, rahasia terbesar di ruangan itu akan pecah.

Suasana ruang interogasi mendadak tegang. Semua mata tertuju pada Romy, yang kini berdiri tegak di tengah ruangan. Jemarinya merapikan lipatan jasnya, lalu ia melangkah pelan, mendekati meja panjang di depan para tersangka.

“Baiklah,” ucapnya datar, tapi cukup keras untuk memecah keheningan. “Sebelum kita lanjut, izinkan saya menjelaskan situasi ini dari awal, supaya semua pihak, termasuk kalian berempat, mengerti bagaimana kejadian sebenarnya.”

Inspektur Ilham mengangguk tipis. Ia tahu, saat Romy mulai bicara dengan nada seperti itu, artinya puzzle kasus sudah tersusun rapi di kepalanya.

Rekonstruksi pun dimulai, kejadian sebenarnya diungkap oleh Romy.

“Tadi, ratusan demonstran berkumpul di depan kantor bupati. Awalnya, hanya orasi biasa. Tapi, suasana semakin memanas saat bupati yang diminta keluar, tidak mau muncul di hadapan para warga. Teriakan mulai berubah menjadi dorongan dan desakan.”

Ia menatap satu per satu tersangka.

“Lalu, massa menghancurkan pintu gerbang. Ratusan orang berdesakan ingin masuk ke halaman kantor bupati. Namun, langkah mereka terhenti , karena ada barisan polisi bertameng yang membentuk pagar manusia.”

Romy menatap Ilham, memastikan ia ikut membayangkan adegan itu.

“Bupati saat itu keluar, berdiri di depan tangga kantor. Ia mencoba menenangkan massa, meminta agar tidak ada kericuhan.”

Romy berbalik menatap Bimo. “Di area belakang, berdirilah Bimo. Ia melihat gerakan mencurigakan di antara kerumunan. Seseorang, entah siapa, tampak mengamatinya. Karena takut, ia mengeluarkan pistol yang ia bawa untuk pertahanan diri yang ternyata hanya pistol mainan. Pistol itu ia genggam erat, tapi tidak pernah ia tembakkan. Sebab, aku cuma mendengar satu kali suara tembakan saat berada di tempat kejadian.”

Bimo menunduk, rahangnya mengeras. Namun, ia bernapas lega, karena dirinya sudah pasti bukan pembunuhnya.

Pandangan Romy pun berubah ke arah Doni. “Lalu ada Doni yang saat itu berada lebih dekat ke barisan polisi. Ia mengatakan tidak tahu-menahu, hanya ingin ikut demo. Tapi Doni, kau tidak sadar, ada seseorang menyenggolmu dari belakang saat keributan pecah.”

Doni mengangkat wajahnya, sedikit bingung.

“Menyenggolku?”

“Iya. Senggolan itu, bukan senggolan biasa. Orang itu adalah penembak sebenarnya. Dia baru saja melepaskan tembakan, lalu mencoba menembus kerumunan untuk melarikan diri. Aroma bubuk mesiu yang masih menempel di bajunya dan berpindah ke pakaianmu. Itulah mengapa forensik mencatat bau mesiu di tubuhmu, meskipun kau tidak membawa senjata.”

Inspektur Ilham mencondongkan badan. “Kalau begitu, Sari yang menembak?” tanyanya, menatap perempuan berambut sebahu yang duduk pucat di kursinya.

Sari terkejut, matanya membesar. Ia hendak membantah, tapi belum sempat bicara, Romy mengangkat tangannya.

“Bukan,” tegasnya. “Sari memang berada tepat di jalur tembakan, tapi ia hanya korban situasi. Dia linglung karena jarak antara dirinya dan sumber suara tembakan sangat dekat. Saat itu, ia dikejutkan dengan suara tembakan yang memekikan telinganya. Penembak sesungguhnya berada di belakang Sari. Dia bersembunyi di balik kerumunan, memanfaatkan momentum kacau untuk mengarahkan senjata, lalu menarik pelatuk.”

Romy berhenti bicara sejenak, lalu memutar tubuhnya, menatap satu orang terakhir di ruangan itu.

“Dan orang yang masih tersisa dalam hitungan saya adalah kau ... Petugas Arman.” Suara Romy cukup lantang sambil mengacungkan jari telunjuk padanya.

Ruangan itu mendadak sunyi. Bimo mendongak tajam, Doni membeku, Sari menatap bingung.

Romy berjalan mendekati Arman, langkahnya tenang tapi matanya menusuk.

“Petugas Arman,” katanya pelan, “kau adalah polisi yang dikenal punya reputasi baik. Tak pernah terlibat skandal, tak pernah melanggar disiplin. Tapi reputasi baik tidak berarti imun dari kebenaran.”

Arman menggeleng cepat. “Itu tidak mungkin! Ujung pistolku dingin! Dan wajar saja kalau ada bau mesiu di rompi, aku memang sering berjaga, rompi ini jarang dicuci.”

Romy tersenyum tipis. “Ya … wajar memang. Tapi yang membuatmu terbongkar bukan itu.” Ia mengeluarkan beberapa foto hasil forensik dari map. “Lihat ini. Tim forensik meneliti ulang dengan lebih detail. Analisis lintasan peluru menunjukkan tembakan berasal dari titik yang berada persis di belakang kerumunan.”

Romy melanjutkan, “memang, tak ada orang berpakaian polisi di titik tersebut karena polisi itu bersembunyi. Polisi yang seharusnya menjaga ketertiban, tapi saat itu berada di posisi yang tidak sesuai SOP barisan.”

Romy menatapnya tajam. “Dan orang itu adalah kau.”

Arman menatap Romy dengan sorot mata penuh perlawanan. “Tidak mungkin,” katanya dengan nada tinggi. “Aku ini polisi, tugasku melindungi masyarakat, bukan menembak pejabat. Reputasiku sudah jelas bersih. Dan ujung pistolku dingin saat diperiksa. Kalau aku menembak, pasti panas.”

Suasana ruang interogasi mendadak tegang. Semua mata beralih pada Romy, yang kini tersenyum tipis.

“Ya,” kata Romy pelan, “ujung pistolmu memang dingin. Tapi, bagaimana kalau setelah menembak, kau mencelupkan pistol itu ke dalam minuman cup-mu?”

Ruang interogasi seketika hening. Seperti udara tersedot keluar dari ruangan. Bimo mengerutkan dahi, Doni menelan ludah, dan Sari menatap tak percaya.

“Minuman cup?” gumam Inspektur Ilham, bingung. Ia tak menyangka, bagaimana bisa, hanya minuman cup biasa, bisa menjadi bukti penting yang bisa mengarahkan kasus tersebut menuju jalan terang?

Inspektur Ilham menggeleng pelan tak percaya, secara tak langsung, ia memuji Romy. Atas kecerdasannya, juga ketelitian dalam menangani kasus. Namun, ia belum tahu, pahlawan sebenarnya adalah seorang anak kecil. Romy hanyalah alat atau perantara saja.

Romy berjalan pelan ke meja, lalu membuka sebuah kantong plastik bukti. Di dalamnya, ada sebuah cup minuman berwarna cokelat, isinya tinggal setengah, dengan sedotan yang masih terpasang.

“Petugas forensik,” panggil Romy.

Dua orang petugas forensik masuk, membawa laporan singkat. Salah satunya menjelaskan, “Benar, setelah diperiksa, di ujung laras pistol milik Arman terdeteksi aroma cokelat yang sama persis dengan minuman ini. Dan sebaliknya, di dalam minuman ini terdeteksi partikel bubuk mesiu yang identik dengan hasil tembakan.”

Romy menambahkan, “Sedotannya juga sudah kami periksa. Sidik jari utama yang ditemukan adalah milikmu, Arman.”

Arman terdiam. Rahangnya mengeras. Tangannya yang terkunci di meja mulai bergetar. Sementara orang lain yang berada di sana hanya bisa melongo, tak percaya pelakunya adalah seorang polisi.

“Tapi, kau tadi bilang, kalau aku kemungkinannya kecil, kan?”

“Iya, tadinya, tapi itu sudah cukup bukti, bubuk mesiu di minuman cupmu, aroma cokelat di ujung pistolmu, lalu sidik dari pada sedotan itu,” ujar Romy, menatapnya lurus. “Kau tidak mungkin bisa menyangkal lagi.”

Beberapa detik sunyi, lalu Arman menunduk. Napasnya berat. “Aku .…”