Beberapa detik sunyi, lalu Arman menunduk. Napasnya berat. “Aku .…” suaranya serak. “Ya, memang aku yang menembak.”
Ia mengangkat wajahnya, mata memerah, tapi sorotnya bukan ketakutan, melainkan kemarahan yang sudah lama ia pendam.
“Bupati itu … menaikkan pajak seenaknya. Orang tuaku hanya petani biasa. Mereka diperas habis-habisan oleh pajak tanah yang tidak masuk akal. Coba bayangkan, 250% itu banyak. Dan bukan cuma orang tuaku, banyak petani dan pedagang kecil yang hidupnya makin susah. Aku sudah memohon berkali-kali untuk tidak menaikan pajak, kalau pun naik, jangan sebesar itu. Tapi dia tidak peduli. Katanya demi pembangunan, tapi nyatanya, demi kantongnya sendiri.”
Arman menatap Romy, lalu ke seluruh ruangan. “Aku melakukan ini demi mereka. Demi orang-orang kecil yang tidak pernah punya suara.”
Sari menutup mulutnya, terkejut. Doni hanya menunduk, sementara Bimo menggeleng tak percaya.
Inspektur Ilham menarik napas panjang. “Arman … harus kau tahu, membunuh bukanlah jalan keluar.”
Arman tertawa getir. “Kadang, dengan cara inilah dia menghentikan keangkuhannya.”
Petugas lain segera menghampiri, memborgol Arman, lalu membawanya keluar dari ruang interogasi. Pintu menutup dengan bunyi klik, meninggalkan Romy dan Ilham dalam diam.
Romy hanya berdiri, menatap map kasus yang kini resmi selesai. Tapi ia tahu, kebenaran kadang tidak hanya hitam dan putih.
Ruang interogasi kini sunyi. Kursi Arman yang kosong masih bergoyang sedikit, seperti bayangan amarahnya yang belum hilang. Di meja, map kasus sudah tertutup rapat, dan di luar, suara langkah petugas membawa sang pelaku menjauh semakin sayup.
Inspektur Ilham melepaskan kacamata, mengusap wajahnya perlahan. “Romy … apa kau sadar? Motif Arman bukan hanya sekadar dendam pribadi. Namun, ada ketidakadilan di sini.”
Romy menatapnya, wajahnya lelah namun serius. “Aku tahu, Inspektur. Tapi hukum tetap hukum. Kalau kita biarkan emosi mengatur, akan selalu ada orang yang merasa punya hak menghakimi nyawa orang lain.”
Ilham menghela napas. “Kadang aku pun merasa … sistem ini memang tidak berpihak pada rakyat kecil.”
“Benar,” jawab Romy lirih, “tapi itu justru alasan kita ada di sini. Menegakkan hukum, bukan membalas dendam.”
Keduanya terdiam sejenak, hanya terdengar detik jam di dinding. Romy akhirnya berdiri, merapikan jasnya, lalu melangkah keluar. Di kepalanya, kasus itu memang selesai, tapi luka sosialnya belum. Warga daerah sana masih belum menerika kebijakan kenaikan pajak.
Tak jauh dari kantor polisi, di sebuah tempat yang agak sepi, Dinda duduk di bangku kayu. Pandangannya menatap ke arah seseorang di depannya.
Firman duduk di depannya dengan wajahnya masih penuh tanda tanya. “Oke, Dinda, aku ingin tahu kau sebenarnya. Aku ingin jawaban pasti siapa dirimu?”
Dinda menunduk, tangannya saling menggenggam erat-erat. “Baik, akan aku ceritakan, tapi mungkin hal ini tak bisa masuk akal.”di luar nalar.”
Selama beberapa menit, Dinda menceritakan segalanya. Tentang siapa dirinya sebenarnya. Tentang sesuatu yang membuat tubuhnya menyusut menjadi anak sepuluh tahun. Tentang kejadian yang membuatnya berubah menjadi seperti sekarang, dari Rodhif yang dulu dikenal sebagai mahasiswa, menjadi sosok anak kecil yang masih duduk di bangku SD.
Firman mendengarkan tanpa menyela. Matanya semakin melebar, hingga akhirnya ia terperangah. “Jadi … kau beneran Rodhif?”
Dinda mengangguk pelan. Kini, sorot matanya serius, bukan lagi seperti anak-anak, tapi menyerupai orang dewasa.
Senyap menyelimuti meja mereka, sebelum akhirnya Firman tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena campuran kaget, sedih, dan tak percaya. “Astaga … kita sahabat sejak awal pertama masuk Universitas Batavia, lalu, setelah kau berhasil mengungkap kasus, kau menghilang. Aku pikir kau sudah hilang selamanya.”
Mata Dinda sedikit berkaca-kaca. “Aku juga nggak nyangka kita bakal terjadi seperti ini. Tapi, Firman … kau harus janji padaku.” Suaranya menurun setengah berbisik, tapi masih serius, “kau tak boleh membocorkan hal ini pada siapa pun. Ini bisa membahayakan diriku sendiri dan orang di sekitarku, termasuk kau.”
“Lho, kenapa bisa?”
“Aku adalah saksi mata perampokan bank di kota ini,” ungkap Dinda sambil pandangannya melihat ke sekitar, mendeteksi apakah tak ada orang yang menguping pembicaraan. “Mungkin, kalau mereka melihat wujud dewasaku bisa jadi mereka masih mengincarku, meski aku sudah dianggap mati akibat serum yang mereka suntikkan padaku.”
Firman menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk tegas. “Aku janji, Dhif. Mulai sekarang, ini rahasia kita berdua.”
Keduanya saling menatap lama, sebelum akhirnya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak lama, dua sahabat yang terpisah oleh nasib kini kembali bersatu, meski dalam keadaan yang tak pernah mereka bayangkan.
“Jadi, kau datang jauh-jauh untuk mencariku sampai di sini?” tanya Dinda.
“Iya, benar. Awalnya aku berniat untuk menginap sebentar di rumah Detektif Romy, tapi hal itu aku urungkan, sekarang aku akan kembali.”
“Kembali? Kenapa?”
“Tujuanku menginap di rumahnya karena aku curiga dengan sosok anak kecil yang kecerdasannya melebihi anak seusianya. Setelah aku selidiki, rupanya kaulah sebenarnya.”
‘Kukira kau suka sama anak Romy, tak akan kubiarkan hal itu terjadi,’ gumam Dinda dalam hatinya yang rupanya terbaca oleh Firman.
“Jangan salah, aku tak ada maksud untuk mendekati gadis itu, karena aku tahu ....”
“Tahu apa?”
“Kau juga suka padanya kan? Tenang saja, aku tak akan mengambil yang bukan hakku.”
“Kau dari dulu sama, Firman.”
Setelah menghabiskan waktu lama berbincang di sebuah tempat yang sepi – jauh dari orang-orang, Dinda dan Firman akhirnya berdiri. Siang yang terik digantikan dengan sore yang hangat, angin menyapu debu jalanan kota metropolitan. Keduanya melangkah pelan menuju mobil yang terparkir di area gedung bupati.
Di sana, Romy sudah menunggu mereka dengan kedua tangan disilangkan di dada, bersandar pada pintu mobil. Namun kali ini, tak ada raut wajah tegang ataupun tatapan penuh amarah yang biasa melekat pada dirinya. Justru ekspresinya terlihat tenang, seolah ada sesuatu yang sudah reda dalam hatinya.
Firman menarik napas, pandangan matanya tertuju ke arah Romy sambil berkata lirih, “Pak Detektif, aku pamit. Aku harus kembali ke Batavia sekarang.”
Romy langsung menoleh dengan kening berkerut. “Lho, katanya mau beberapa hari di sini? Kok buru-buru?” tanyanya dengan nada tak percaya.
Senyum tipis muncul di wajah Firman. “Aku sudah dapat yang kucari. Kasus tadi cukup jadi bahan buat skripsiku. Semua itu berkat kamu, Detektif Romy,” ucapnya tulus.
Ucapan itu membuat Romy terdiam sejenak, jelas ia tak menyangka Firman akan mengucapkan hal seperti itu. Ada sorot mata bingung, sekaligus lega, namun di balik ucapan Firman, ada sesuatu yang lain. Firman tahu betul, tanpa Dinda, ia tak akan sampai pada titik ini.
“Lho, bukannya kita akan mencari seseorang yang bernama Rodhif ...?”