Romansa #CEO #Romansa CEO

Naskah Pengkhianatan

Penulis djoedo
25 January 2026

Hentakan itu bukan sekadar gangguan mekanis; rasanya seperti jantung gedung ini mendadak berhenti berdetak. Kami tergantung di sana, terperangkap dalam kotak logam yang kini terasa lebih mirip peti mati vertikal daripada lift eksekutif. Lampu indikator lantai mati total. Hening yang mencekik menyusup masuk, hanya dipecahkan oleh deru napas Reza yang memburu.

"Apa mau Anda, Pak Erwin?" Suara Reza rendah, tapi sarat ancaman. Tubuhnya bergeser, naluri pelindungnya mengambil alih, menempatkan dirinya sebagai perisai hidup di hadapanku.

Pintu lift dipaksa terbuka dari luar. Logam beradu dengan logam, memekikkan suara ngilu yang menusuk telinga.

Erwin berdiri di sana. Senyumnya tipis, santai, seolah kami baru saja bertemu di lobi lounge bintang lima untuk minum teh sore, bukan dalam penyergapan di ruang sempit. Di belakangnya, dua sosok berjas hitam dengan postur tegap memblokir jalan keluar. Aura bahaya menguar pekat dari mereka.

"Aku hanya ingin membantu kakakku membereskan sampah rumah tangganya," ujar Erwin ringan. Matanya beralih padaku, tatapan yang menelanjangi dan merendahkan, membuat perutku mual seketika. "Adrian terlalu sentimental. Mengirimmu ke Safe House? Itu terlalu... sopan. Penipu ulung sepertimu butuh panggung yang lebih dramatis, Arini."

"Saya bukan penipu," desisku. Tanganku mengepal di sisi tubuh, kuku menancap ke telapak tangan untuk menahan gemetar. "Adrian akan tahu kalau kau yang menjebakku dengan transfer itu."

"Oh, dia pasti tahu," Erwin mengangguk, nada bicaranya penuh kepalsuan yang menjijikkan. Ia mengangkat tablet di tangannya, memperlihatkan grafik aliran dana yang rumit dengan garis-garis merah menyala. "Tapi yang dia lihat adalah jejak digital. Alamat IP ponselmu, otorisasi biometrikmu... teknologi tidak pernah berbohong, Arini. Bukankah itu mantra suci Adrian? Data is King."

"Reza, hubungi keamanan," perintahku, meski sudut hatiku tahu itu perintah kosong. Sinyal pasti sudah diblokir.

Reza baru saja akan menekan tombol darurat di panel lift ketika salah satu pengawal Erwin bergerak. Cepat. Terlalu cepat.

Bugh!

Suara hantaman daging bertemu logam terdengar mengerikan. Reza terhuyung mundur, mengerang tertahan sambil memegangi rusuknya. Wajahnya memucat instan. Belum sempat ia menegakkan badan, pengawal kedua sudah menendang lututnya.

Bunyi retakan tulang yang samar membuatku menjerit. Reza jatuh berlutut, napasnya tersengal menahan sakit.

"Reza!" Aku menerjang maju, melupakan rasionalitas, tapi tangan Erwin mencengkeram lengan atasku. Cengkeramannya kuat, menyakitkan, seolah ingin meremukkan tulangku.

"Ssst," desis Erwin tepat di telingaku. Aroma kolonye mahalnya bercampur dengan bau rokok yang menyengat, kontras yang membingungkan dengan situasi mematikan ini. "Jangan jadi pahlawan kesiangan, Arini. Asisten setia ini hanya gangguan kecil. Fokuslah pada masalahmu yang sebenarnya."

Ia menghempaskanku ke dinding kaca di bagian belakang lift. Kaca dingin itu menampar punggungku. Reza mencoba bangkit, darah segar mengalir dari sudut bibirnya, menetes ke lantai marmer lift yang berkilau. Namun, sebuah pistol taser kini terarah tepat ke wajahnya. Kilatan listrik biru memercik di ujung alat itu, memaksanya membeku.

"Pilihan bijak," puji Erwin pada Reza, nadanya seperti memuji anjing yang menurut. Lalu ia kembali menatapku. "Sekarang, Arini. Kita punya jadwal padat. Adrian sedang sibuk meratapi nasib di lantai 50, jadi kita punya waktu sekitar satu jam sebelum dia sadar asisten kesayangannya hilang kontak."

"Aku takkan pergi ke mana pun denganmu," tantangku. Jaket taktis Adrian yang membalut tubuhku terasa berat, satu-satunya pelindung yang tersisa dari pria yang kini mungkin membenciku. "Kau harus membunuhku dulu."

Erwin terkekeh, menggelengkan kepalanya seolah menghadapi anak kecil yang sedang tantrum. "Membunuhmu? Tidak, tidak. Itu terlalu kuno. Lagipula, aku butuh kau hidup. Tapi..."

Ia merogoh saku jasnya. Bukan senjata yang ia keluarkan, melainkan ponsel. Layarnya menyala, menampilkan sebuah video live streaming.

Duniaku berhenti berputar.

Layar itu tidak menampilkan berita saham atau grafik perusahaan. Itu rekaman CCTV. Lorong rumah sakit dengan dinding putih steril dan lantai yang mengilap dingin. Tulisan Intensive Care Unit terpampang jelas di atas pintu ganda. Di depan pintu kaca itu, dua pria berjaket kulit duduk santai, mata mereka tak lepas mengawasi pintu kamar nomor 304.

Kamar Ayah di Singapura.

"Orang-orangku di Mount Elizabeth sangat tidak sabar," bisik Erwin, nadanya selembut sutra namun setajam belati. "Mereka bilang, sistem penunjang hidup di sana sangat sensitif terhadap gangguan listrik. Atau mungkin, sekadar kunjungan mendadak dari segerombolan wartawan yang 'tak sengaja' menerobos masuk ruang ICU untuk mewawancarai ayah dari seorang penipu korporat?"

Darahku mendidih, lalu membeku seketika menjadi es. "Jangan sentuh Ayah..."

"Itu tergantung padamu, Ipar Tersayang," potong Erwin. Senyumnya lenyap, digantikan tatapan dingin yang menusuk sampai ke tulang. "Ikut aku tanpa perlawanan, mainkan peranmu sesuai skenarioku, dan ayahmu tetap bernapas dengan tenang. Tapi jika kau berteriak, atau mencoba lari..." Ia menjentikkan jarinya di depan wajahku. "Poof. Serangan jantung kedua bisa sangat fatal, kau tahu?"

Air mata merebak, panas dan menyengat di sudut mata. Bukan karena takut pada nasibku sendiri, tapi karena ketidakberdayaan yang begitu total. Adrian sudah membuangku, dan sekarang Erwin memegang nyawa satu-satunya keluargaku di ujung jarinya. Aku tidak punya kartu untuk dimainkan. Skakmat.

Aku menoleh ke arah Reza. Pria itu menatapku dengan sorot mata putus asa, menggeleng pelan, memintaku untuk tidak menyerah. Tapi ia tidak melihat layar ponsel Erwin. Ia tidak tahu taruhannya.

"Maafkan aku, Za," bisikku lirih.

Tubuhku melemas, pasrah. Perlawanan menguap dari otot-ototku.

"Gadis pintar," seringai Erwin kembali merekah. Ia memberi isyarat dagu pada pengawalnya. "Bereskan dia."

Tanpa peringatan, salah satu pengawal memukul tengkuk Reza dengan gagang pistol. Suara benturan tumpul itu membuatku memejamkan mata. Reza ambruk tak sadarkan diri di lantai lift. Aku memekik tertahan, tapi Erwin sudah menyeretku keluar dari lift.

Kami tidak berada di basement eksekutif. Lift itu berhenti di lantai parkir B3, area gelap dan lembap yang jarang terjamah. Sebuah van hitam dengan kaca gelap sudah menunggu, mesinnya menderu pelan seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.

Pintu geser van terbuka. Erwin mendorongku masuk ke kursi belakang. Bau kulit jok yang dingin dan asing menyambutku, bercampur dengan aroma samar pengharum mobil yang murahan. Sebelum pintu tertutup, aku sempat melihat celah pintu lift tempat Reza terbaring mulai menutup kembali. Kegelapan menelannya. Satu-satunya saksi bahwa aku diculik, bukan melarikan diri, kini tak sadarkan diri.

Bagi Adrian, hilangnya aku dan Reza secara bersamaan hanya akan berarti satu hal: Aku kabur. Dan Reza mungkin dianggap bersekongkol, atau celaka karena ulahku. Apapun itu, narasi di kepala Adrian akan semakin sempurna. Arini si Pengkhianat telah melarikan diri setelah mentransfer 5 Miliar.

"Jalan," perintah Erwin pada sopirnya.

Mobil melesat keluar dari gedung Mahardika Tower, membelah malam Jakarta yang kejam. Aku duduk memeluk lutut di sudut kursi, menggigil meski AC mobil tidak terlalu dingin. Jaket Adrian masih melekat di tubuhku, dan ironisnya, aroma citrus dan tembakau mahal yang tertinggal di kain itu kini terasa menyiksa. Dulu aroma ini adalah rumah; sekarang, ini adalah kenangan dari tempat yang telah mengusirku.

"Mau dibawa ke mana aku?" tanyaku parau. Tenggorokanku kering.

Erwin sibuk mengetikkan pesan di ponselnya, mungkin memberi perintah pada pasukannya di Singapura. Ia tak menoleh saat menjawab. "Ke tempat di mana kau akan mempersiapkan debut besarmu."

"Debut?"

Ia akhirnya meletakkan ponselnya. Di bawah sorot lampu jalan yang menerobos masuk lewat kaca jendela, wajahnya terlihat mirip dengan Adrian. Garis rahang yang sama, hidung yang sama. Tapi jika mata Adrian menyimpan badai yang terpendam, mata Erwin hanya berisi kekosongan yang tamak.

"Besok pagi, saham Mahardika Group akan anjlok begitu berita soal kebocoran kontrak itu viral. Dewan Komisaris akan panik. Kakek tua bangka itu akan kena serangan jantung kalau dia tahu cucu kesayangannya menikahi wanita yang menjual rahasia perusahaan," jelas Erwin dengan nada bangga, seolah sedang mempresentasikan proyek bisnis triliunan rupiah.

"Kau menghancurkan perusahaan keluargamu sendiri hanya untuk menjatuhkan Adrian?"

"Aku menyelamatkannya!" bentak Erwin tiba-tiba. Emosinya meledak sesaat, retakan pada topeng tenangnya. "Perusahaan itu seharusnya milikku! Ayahku yang membangunnya sebelum dia meninggal, bukan Adrian! Tapi Kakek selalu pilih kasih. Adrian si Jenius. Adrian si Sempurna. Dan aku? Aku cuma cadangan."

Ia menarik napas panjang, menata kembali kerah jasnya. "Tapi besok, narasi itu berubah. Adrian akan terlihat lemah. Seorang CEO yang tak becus mengurus istri sendiri, sampai-sampai istrinya menjual aset perusahaan. Pemegang saham akan kehilangan kepercayaan. Dan saat itulah, aku akan masuk sebagai pahlawan yang membereskan kekacauan ini."

"Dan aku?"

Erwin tersenyum miring. Ia mengambil sebuah map dari tas di samping kakinya dan melemparkannya ke pangkuanku. Map itu mendarat dengan suara pelan yang mengerikan.

"Kau, Arini, adalah kunci kemenanganku. Di dalam map itu ada naskah konferensi pers untuk besok pagi."

Tanganku gemetar hebat saat membuka map itu. Hanya ada satu lembar kertas. Tulisan di dalamnya singkat, tapi setiap katanya adalah paku untuk peti matiku.

PERNYATAAN PENGAKUAN

Saya, Arini Putri, dengan ini mengakui bahwa saya telah memanipulasi Adrian Mahardika untuk menikahi saya demi keuntungan finansial. Saya juga mengakui telah mencuri data rahasia perusahaan dan mentransfer dana sebesar 5 Miliar Rupiah ke rekening pribadi saya tanpa sepengetahuan suami saya...

Aku membaca baris demi baris dengan napas tercekat. Huruf-huruf itu berdansa mengejekku. Ini bukan sekadar pengakuan kejahatan. Ini adalah pembunuhan karakter. Jika aku membacakan ini di depan media, hidupku tamat. Aku akan dipenjara, dicaci maki seluruh Indonesia, dan Ayah... Ayah akan mati karena malu. Nama baik yang ia jaga seumur hidup akan hancur karena putrinya.

"Aku takkan membacanya," kataku, meremas kertas itu hingga kusut. "Ini bohong."

"Oh, kau akan membacanya," balas Erwin santai. Ia mengetuk layar ponselnya lagi, menampilkan foto terbaru. Seorang perawat di Singapura sedang menyuntikkan sesuatu ke selang infus Ayah. "Zat ini tidak mematikan seketika, Arini. Tapi bisa memicu aritmia yang... kompleks. Dokter akan mengira itu komplikasi pascaoperasi. Sangat bersih. Sangat rapi."

"Kau iblis," bisikku, air mata menetes jatuh ke atas kertas naskah itu.

"Aku pebisnis, Arini. Dan dalam bisnis, selalu ada negosiasi." Ia mendekatkan wajahnya padaku, seringainya lebar. "Bacakan naskah itu, hancurkan reputasi Adrian, dan buat dia menceraikanmu. Sebagai gantinya, ayahmu selamat dan utang keluargamu lunas. Tolak, dan kau akan kehilangan segalanya, ayahmu, kebebasanmu, dan tetap saja Adrian akan hancur."

Mobil mulai melambat. Kami memasuki sebuah gerbang besi tinggi yang asing. Kegelapan di luar sana sama pekatnya dengan masa depanku.

Aku menatap cincin pernikahan di jari manisku. Cincin yang dipasangkan Adrian dengan wajah dingin, namun pernah kugenggam saat ia rapuh. Jika aku melakukan ini, Adrian tidak akan pernah memaafkanku. Cinta yang baru saja mulai tumbuh itu akan mati, dicekik oleh kebohongan ini.

Tapi bayangan wajah Ayah yang pucat di ranjang rumah sakit melintas di benakku.

Aku menarik napas panjang, menghirup sisa aroma Adrian di kerah jaket untuk terakhir kalinya.

"Baik," suaraku terdengar asing, dingin dan mati. "Aku akan melakukannya."