Romansa #CEO #Romansa CEO

Pilihan Pahit

Penulis djoedo
25 January 2026

Kata-kata itu meluncur keluar, membekukan udara di dalam mobil van yang sempit.

"Baik. Aku akan melakukannya."

Erwin tidak tertawa. Ia tidak bertepuk tangan atau merayakan kemenangannya. Ia hanya mengangguk pelan, seolah reaksiku hanyalah variabel yang sudah ia perhitungkan dalam rumus matematikanya yang dingin. Ia mematikan layar ponselnya, memutuskan satu-satunya akses visualku pada Ayah dan memasukkannya kembali ke saku jas.

"Keputusan rasional," gumamnya, lalu mengetuk sekat kaca yang memisahkan kami dengan sopir. "Jalan. Bawa kami ke Vila Cisarua."

Mobil kembali menderu. Guncangan mesin mengirim getaran ke tulang punggungku, atau mungkin itu hanya tubuhku yang mulai gemetar tak terkendali. Aku memeluk diriku sendiri lebih erat. Aroma citrus dan tembakau mahal dari jaket taktis Adrian masih menempel di sana, sisa-sisa kehangatan dari pria yang baru saja kukhianati demi nyawa pria lain.

Di luar jendela, lampu-lampu jalan Jakarta melesat lewat seperti garis-garis neon yang kabur. Kami meninggalkan kota. Kami meninggalkan Mahardika Tower. Kami meninggalkan Reza yang terkapar di lantai lift yang dingin.

Dan aku meninggalkan Adrian dalam ketidaktahuan yang akan menghancurkannya.


Perjalanan itu terasa seperti melintasi lorong waktu yang lambat. Satu jam? Dua jam? Aku kehilangan konsep waktu. Yang kutahu hanyalah jalanan mulai menanjak dan berliku, udara di luar kaca jendela mulai berembun, dan kegelapan di sekeliling kami semakin pekat.

Ketika van akhirnya berhenti, kami berada di halaman sebuah vila modern yang tersembunyi di balik dinding beton tinggi dan pepohonan pinus. Tidak ada penjaga berseragam, hanya kesunyian yang mencekam.

"Turun," perintah Erwin.

Kakiku goyah saat menyentuh tanah berkerikil. Udara pegunungan yang tipis dan dingin langsung menusuk pori-pori, membuat gigiku bergemeretuk. Dua pria berbadan tegap, bukan yang tadi di lift, tapi tim baru, langsung mengapitku. Mereka tidak kasar, tapi cengkeraman mereka di lenganku cukup kuat untuk mengingatkan bahwa aku adalah tawanan, bukan tamu.

"Bawa dia ke kamar utama," instruksi Erwin sambil berjalan santai mendahului kami. "Dan pastikan dia tidak punya akses ke benda tajam, kaca, atau apapun yang bisa dia gunakan untuk... tindakan bodoh."

Mereka menggiringku masuk. Interior vila itu mewah, didominasi marmer hitam dan kaca, namun terasa kosong. Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan dinding personal. Hanya dingin. Persis seperti apartemen Adrian saat pertama kali aku menginjakkan kaki di sana. Bedanya, di tempat Adrian, aku menemukan detak jantung di balik tembok esnya. Di sini, yang ada hanyalah kehampaan.

Pintu kamar ditutup di belakangku. Bunyi kunci yang diputar dari luar terdengar seperti vonis hakim.

Aku sendirian...

Lututku menyerah. Aku merosot ke lantai, bersandar pada pintu kayu yang kokoh. Map yang tadi dilemparkan Erwin masih tergenggam erat di tanganku. Benda itu terasa panas, seolah membakar kulit.

Dengan tangan gemetar, aku membukanya lagi di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

PERNYATAAN PENGAKUAN

Aku memaksa mataku untuk membaca naskah itu sekali lagi, menyiksa diriku sendiri dengan setiap kalimat yang dirangkai Erwin.

...bahwa pernikahan ini hanyalah rekayasa yang saya inisiasi dengan memanfaatkan kondisi psikologis Adrian Mahardika...

...saya mengakui telah menyalin desain cetak biru Proyek Resort Bali dan menjualnya kepada kompetitor...

...saya memohon maaf kepada publik dan pemegang saham Mahardika Group atas kerugian yang saya timbulkan...

Ini bukan sekadar kebohongan. Ini adalah masterpiece manipulasi. Erwin mencampurkan fakta dan fiksi dengan begitu rapi. Pernikahan kontrak itu fakta. Kondisi psikologis Adrian itu fakta. Tapi ia memutarbalikkannya, menjadikan Adrian sebagai korban manipulasi wanitanya, bukan pria dingin yang mengajukan kontrak bisnis.

Adrian akan hancur. Bukan karena saham perusahaan anjlok, dia terlalu jenius untuk jatuh miskin hanya karena satu skandal tapi karena egonya. Harga dirinya. Kepercayaannya yang rapuh, yang baru saja mulai ia berikan padaku, akan hancur berkeping-keping.

Dia akan mengingat malam di vila Bali saat hujan badai, saat dia membiarkanku melihat ketakutannya. Dia akan berpikir bahwa saat itu aku sedang mencatat kelemahannya untuk kujual.

"Maafkan aku, Adri," bisikku pada ruangan kosong itu. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jebol.

Aku meraba cincin di jari manisku. Logam dingin itu melingkar di sana, simbol dari janji yang dimulai sebagai kepalsuan tapi berakhir menjadi satu-satunya hal nyata yang kami miliki. Dan besok pagi, aku harus melepasnya di depan kamera.

Aku menyeret tubuhku ke arah jendela besar yang menghadap ke lembah gelap. Tidak ada teralis, tapi kaca itu tebal, kaca anti peluru, tebakku. Di bawah sana, kerlap-kerlip lampu kota Bogor terlihat seperti hamparan bintang yang jauh. Begitu dekat, namun tak terjangkau.

Apakah Adrian sudah tahu aku hilang?

Apakah dia sedang mencariku? Atau dia sudah melihat bukti transfer palsu itu dan sekarang sedang membanting gelas whiskey-nya ke dinding, mengutuk namaku?

Bayangan wajahnya yang keras namun menyimpan luka itu menari di pelupuk mataku. Tatapan tajamnya saat dia cemburu, sentuhan ragunya saat dia mencoba bersikap lembut, cara dia memakan nasi goreng buatanku dengan lahap meski dia bilang rasanya "standar".

Aku mencintainya.

Kesadaran itu menghantamku lebih keras daripada pukulan pengawal Erwin. Aku mencintai Adrian Mahardika. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai penyelamat utang ayahku, tapi sebagai pria yang terluka yang mencoba belajar bernapas lagi.

Dan karena aku mencintainya, aku harus menghancurkannya.

Karena jika aku tidak melakukannya, Ayah akan mati. Erwin tidak main-main. Video live stream tadi adalah bukti bahwa dia memegang kendali penuh atas nyawa Ayah di Singapura sana. Aku tidak bisa berjudi dengan nyawa Ayah.

Aku berjalan menuju tempat tidur besar di tengah ruangan. Di atas nakas, ada segelas air dan nampan berisi roti lapis yang tak tersentuh. Aku mengabaikannya. Perutku terasa seperti diaduk-aduk.

Aku membaringkan tubuh, masih mengenakan jaket Adrian. Aku menarik kerahnya menutupi hidungku, menghirup sisa aromanya dalam-dalam, membiarkan aroma itu menjadi obat bius bagi sarafku yang tegang.

Tunggu aku, Adri. Bencilah aku besok. Tapi biarkan aku memilikimu malam ini, setidaknya dalam ingatanku.


Cahaya matahari pagi tidak membawa harapan. Ia datang seperti intruder, menyelinap lewat celah tirai dan memaksaku membuka mata untuk menghadapi mimpi buruk yang nyata.

Kepalaku berdenyut nyeri. Aku tidak tidur, hanya terombang-ambing dalam kesadaran yang kabur.

Suara kunci diputar. Pintu terbuka.

Erwin masuk, diikuti oleh seorang wanita paruh baya yang membawa garment bag hitam dan kotak rias. Erwin sudah berganti pakaian. Ia mengenakan setelan jas abu-abu charcoal yang sempurna, rambutnya disisir rapi ke belakang. Ia terlihat seperti eksekutif sukses yang siap memimpin rapat umum pemegang saham, bukan penculik yang menyandera kakak ipar sendiri.

"Selamat pagi, Sleeping Beauty," sapanya ceria. Terlalu ceria. "Tidur nyenyak? Kuharap begitu. Kau butuh tenaga untuk penampilan terbaikmu."

Aku bangkit duduk, merapikan rambutku yang kusut dengan jari. "Di mana Ayahku?" tanyaku serak. "Aku butuh bukti dia masih hidup sebelum aku melangkah keluar dari kamar ini."

Erwin tersenyum tipis. Ia mengeluarkan ponselnya dan memutarnya ke arahku. Layar itu menunjukkan panggilan video langsung. Ayahku masih di sana, di ranjang ICU, dadanya naik turun perlahan. Monitor detak jantung di sebelahnya berbunyi bip berirama. Stabil.

"Dia baik-baik saja. Untuk saat ini," kata Erwin, lalu mematikan layar. "Sekarang, bersiaplah. MUA ini akan membuatmu terlihat... pantas. Kita butuh tampilan 'istri yang menyesal dan tertekan', bukan 'korban penculikan yang berantakan'. Pucat sedikit boleh, tapi jangan terlihat seperti mayat."

Ia memberi isyarat pada wanita di belakangnya. "Dandani dia. Dan pakaikan gaun itu."

Wanita itu mengangguk takut-takut, lalu meletakkan garment bag di atas kasur dan membukanya.

Napasku tercekat.

Itu bukan baju tahanan atau pakaian formal biasa. Itu adalah dress selutut berwarna putih gading dengan potongan sederhana namun elegan. Bahan sutranya terlihat familiar.

Itu adalah gaun yang sama persis dengan yang kupakai saat makan malam pertama dengan Kakek Darmawan. Malam di mana Adrian pertama kalinya membelaku di depan keluarganya.

"Kenapa baju ini?" tanyaku, suaraku bergetar.

"Simbolisme, Arini," jawab Erwin sambil memeriksa jam tangannya. "Putih melambangkan kepolosan yang ternoda. Publik suka ironi. Lagipula, aku ingin Adrian mengenali baju itu. Aku ingin dia ingat momen manis kalian saat kau menancapkan pisau ke punggungnya."

Kekejamannya begitu terukur, begitu artistik, hingga membuatku mual.

"Lima belas menit," kata Erwin sebelum berbalik menuju pintu. "Mobil sudah siap. Konferensi pers dimulai pukul sembilan tepat di lobi hotel milik teman lamaku. Jangan terlambat."

Pintu tertutup. Wanita perias itu mendekatiku dengan spons bedak di tangan, matanya memancarkan rasa kasihan yang tidak kusukai.

"Nona, mari..." katanya.

Aku berdiri, membiarkan jaket Adrian melorot dari bahuku dan jatuh ke lantai. Dingin AC ruangan langsung menggigit kulitku. Aku menatap pantulan diriku di cermin besar lemari. Mata bengkak, bibir pucat, rambut berantakan.

Aku bukan lagi Arini si Arsitek. Aku bukan lagi Nyonya Mahardika. Aku hanyalah boneka dalam etalase Erwin.

Tapi saat wanita itu mulai menyapukan bedak ke wajahku, mataku menangkap sesuatu di pantulan cermin. Di sudut ruangan, di atas meja kerja yang kosong, ada sebuah lampu indikator kecil berwarna merah yang berkedip di balik ventilasi AC.

Kedipan yang sangat teratur.

Satu panjang. Dua pendek. Jeda. Satu panjang.

Itu bukan lampu indikator AC. Itu pola.

Jantungku, yang tadinya berdetak lemah karena pasrah, tiba-tiba memacu kencang. Aku mengenal pola itu. Reza pernah mengajarkannya padaku saat kami terjebak macet dan dia bercerita tentang masa lalunya di militer sebelum menjadi asisten Adrian.

Morse?

Tidak, terlalu sederhana untuk morse. Itu sinyal pairing. Sinyal perangkat yang sedang mencoba terhubung dengan server induk.

Apakah ruangan ini disadap? Oleh siapa? Erwin?

Atau... apakah mungkin Reza tidak sepenuhnya lumpuh tadi malam? Apakah asisten serba bisa itu sempat menyelipkan sesuatu ke dalam saku jaket Adrian yang kupakai atau menempelkan pelacak pada van ini sebelum dia tumbang?

Harapan, sekecil debu, menyusup masuk ke dadaku. Namun harapan itu berbahaya. Jika aku salah langkah, Ayah mati.

"Nona? Tolong jangan banyak bergerak," pinta si perias.

Aku menatap matanya lewat cermin, lalu menatap lampu merah kecil itu lagi.

Jika itu pelacak Adrian, berarti dia sedang menuju ke sini. Tapi jika aku tidak muncul di konferensi pers, Erwin akan menyakiti Ayah.

Aku harus tetap mengikuti permainan ini. Tapi sekarang, aku tidak lagi bermain sendirian.

"Buat aku terlihat cantik," kataku pada perias itu, suaraku kini terdengar lebih tegas, lebih dingin. "Buat aku terlihat seperti pembohong paling meyakinkan di dunia."

Aku akan naik ke panggung itu. Aku akan memegang mikrofon itu. Dan aku akan membeli waktu, detik demi detik, sampai Adrian Mahardika datang merobohkan pintu neraka ini.