Drama

Bab 1 ZIVA

Penulis Chioo
16 September 2025

BAB 1 : Gadis Malang

Ziva mulai melakukan tugasnya. Pertama-tama ia mengambil seluruh sayuran yang akan dimasak, lalu memotongnya menjadi beberapa bagian. Pekerjaan itu terus dipantau oleh Ibu dan adik tirinya, berulang kali mereka mengomentari cara kerja Ziva.

“Memangnya udah bersih itu sayuran?” Wanda melipat kedua tangan, tatkala Ziva baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci sayurannya.

“Sudah, Bu.” Ziva menoleh ke sebuah wadah yang ia bawa.

“Mana? Lihat!” Rere mendekati kakak tirinya tersebut dan melihat benda hijau yang basah akibat terkena air.

“Mending Lo cuci ulang aja, deh! Karena itu masih kotor.” Ia berseru kencang.

Sepasang garis tegas yang berada di atas mata Ziva saling bertubrukan. Ziva sudah mencuci sayurnya dengan amat bersih, lalu kenapa Rere masih bisa berkata demikian? Pasti ini hanya akal-akalannya saja untuk membuat Ziva lelah.

Namun, gadis malang itu tak peduli. Ia terus mengajak tubuhnya guna menghampiri kompor.

“Ziva, Lo budek, ya?” Rere membentangkan kedua tangan, menghalangi Ziva untuk lewat.

Kakaknya itu mengenduskan napas berat, lalu berkata, “Ini sudah bersih, Rere.”

Bagaimanapun Ziva tetaplah sosok yang paling tertindas di rumah itu. Ibunya meminta agar Ziva kembali masuk ke kamar mandi untuk mencuci sayuran. Alhasil, pekerjaan Ziva jadi terhambat.

Muak menyaksikan Ziva yang berkutat di dapur, anak dan ibu itu pun nyelonong ke ruangan lain sambil menanti sarapan pagi mereka. 25 menit berlalu, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Baik Wanda maupun Rere bergegas menuju meja makan.

“Lo mau apa?” Rere melihat tangan Ziva yang sibuk menyendok sayuran di mangkuk.

“Mau makan.”

“Nggak! Lo makannya sisa dari kita aja,” ujar Rere dengan kejam, tak memedulikan bagaimana perasaan dara tersebut.

Tentu saja Ziva kaget. Matanya terbelalak, tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rere barusan. Seluruh menu hidangan yang tersedia di meja makan adalah hasil tangannya sendiri, bahkan uang belanja juga diperoleh dari Ridwan, Ayah kandung Ziva.

“Rere benar! Mending kamu ke belakang aja sana.” Wanda menimpali.

Kejadian seperti itu memang kerap sekali terulang. Ibu dan adik dirinya bebas berbuat sesuka hati selama sang Ayah tidak di sisi Ziva. Tak ingin terlibat adu mulut di pagi hari, akhirnya Ziva pun mengalah. Ia dengan segenap rasa sedih, meluncur ke dapur. Hanya menuang segelas air putih untuk dihabiskan. Ziva tidak mungkin menunggu adik dan ibunya selesai makan, karena itu akan membutuhkan waktu yang lama, sementara Ziva harus segera bekerja. Lagi pula, belum tentu mereka sudi menyisakan makanan. Kalau semuanya tandas, maka Ziva hanya menanti sebuah kesia-siaan.

Tring… Tring…

Ponsel Wanda berdering panjang, tanda sebuah panggilan masuk.

“Mas Ridwan?” Dahinya mengernyit, lalu menekan layar yang menampilkan berlogo hijau.

“Iya, Mas?” Nada suaranya pun berubah kemayu.

“Kalian sedang apa?”

Ridwan yang tengah berada di luar kota, berinisiatif untuk melakukan panggilan video. Dia hendak mengetahui aktivitas keluarga kecilnya di rumah tersebut. Ridwan ingin pulang demi melepas rindu, tetapi pekerjaannya belum sepenuhnya beres.

“Kami lagi sarapan pagi, Mas. Nih, lihat!” Wanda mengaktifkan kamera belakang, hingga tampaklah deretan menu lezat serta Rere di sana.

“Loh, ke mana Ziva?” Ridwan heran, karena tidak menemukan putri pertamanya di sana.

“Ziva baru aja berangkat kerja, setelah makan masakan kami.”

“Oh, jadi kalian yang memasak, ya?”

“Iya, Mas. Ziva bangunnya selalu kesiangan, jadi aku dan Rere yang turun tangan.”

Semua obrolan palsu itu dapat Ziva tangkap dari tempatnya berdiri. Perempuan bernasib tragis itu mengelus dada serta menarik udara semampunya. Andai Ayahnya tahu apa yang terjadi di kediaman mereka saat ini.

Ia tak sanggup lagi mendengar seluruh kebohongan Wanda. Ziva pun memutuskan untuk pergi tanpa suara. Biarlah Wanda dan Rere mengarang semuanya. Ziva berharap, suatu saat nanti akan ada keajaiban yang membawanya pada sebuah kebahagiaan.


Wanita berkulit putih itu berjalan cepat menuju bagian buntut perusahaan Maxwell Group. Namun, di pertengahan koridor kantor ia bertubrukan dengan seorang pria bertubuh jenjang dan rahang tegas. Ziva terpental dan akhirnya mendarat keras di lantai.

“Aduh!” Sekujur tubuhnya terasa sakit.

Ziva mendongak ke atas. Pria yang sedang bersama dua rekannya itu tampak acuh tak acuh, membuat Ziva menjadi geram sendiri. Bukannya meminta maaf, ia malah pergi begitu saja.

Ia yang tak terima diperlakukan demikian, lantas mengejar sosok tegap tersebut. Memberi sebuah pelajaran pada hal terbaik.

“Hei, kamu punya mata, enggak?” Ziva mengimbangi langkah orang di depannya.

Mendengar kalimat itu, sang pelaku mendadak menghentikan langkah. Bola matanya bergulir ke sisi kanan. Ternyata ada seorang gadis berseragam office girl tengah menentangnya.

“Kamu menabrakku sampai jatuh, bahkan tidak meminta maaf. Memangnya kamu pikir kamu siapa, hah?” Ziva mengerakkan seluruh energi untuk memarahi laki-laki itu.

Dua orang temannya tampak begitu kalut. Sesekali melotot ke arah Ziva, seakan ada makna dari pandangan itu. Namun, Ziva tak peduli. Dia hanya ingin pelaku yang menabraknya tadi meminta maaf.

Kemudian beberapa karyawan termasuk teman satu bidang Ziva turut menonton kejadian itu. Mereka berbisik-bisik, membicarakan entah apa.

“Kenapa diam saja? Kamu bisu, ya?” Ziva semakin menjadi-jadi.

Bagi lelaki itu, Ziva hanyalah serpihan kecil yang tak pantas untuk dilihat apalagi didengarkan. Kaki jenjangnya melangkah ke arah lain. Apapun yang Ziva sampaikan, ia tak ambil pusing. Namun, lihatlah apa yang akan dilakukannya nanti.

Ziva yang tidak mendapat jawaban, akhirnya memutuskan untuk mengalah dan putar haluan. Menurutnya lelaki itu amat sombong dan tidak beradab. Ziva memanjatkan doa di dalam hati, semoga ia tak pernah bertemu dengan sosok itu lagi.

Baru saja hendak mengangkat kaki, tiba-tiba dua orang temannya menghampiri Ziva. Mereka memajang raut kesal dan terburu-buru.

“Ziva, kamu lancang banget!”

“Lancang apanya?” Ziva tidak mengerti.

“Kamu memarahinya tadi.”

“Pria itu? Aku enggak mengenalnya, lagi pula memang dia yang salah. Dia enggak menggunakan matanya untuk berjalan.” Gadis itu meluapkan kekesalan.

“Ziva, apa kamu tahu siapa laki-laki itu?” Mimik temannya semakin tegang saja.

“Memangnya siapa?”

“Dia CEO baru di perusahaan ini.”

“Apa?!”

Bak disambar petir di siang bolong. Dada Ziva bergemuruh kencang disertai desiran darahnya yang tak menentu. Kedua manik matanya melebar. Ziva sungguh-sungguh tidak tahu, kalau sosok yang menabraknya tadi adalah CEO baru di kantor tersebut.

“Ziva, kamu dalam bahaya!” ungkap rekannya, lalu pergi begitu saja.

Tinggallah Ziva seorang diri merenungi nasibnya. Apa yang sudah ia lakukan? Ziva menyesal atas keteledorannya sendiri. Bayangan wajah sang CEO kembali berlarian. Rahangnya yang mengeras tadi dan tatapan tajam, cukup membuktikan, bahwa ia menyimpan sebuah dendam.