Gaun sutra gading ini seharusnya terasa lembut di kulit, tetapi pagi ini, ia membalut tubuhku seperti lapisan es. Dingin. Menusuk. Kain yang sama yang kukenakan saat Adrian pertama kali menatapku bukan sebagai aset bisnis, melainkan sebagai wanita, kini menjadi kostum untuk eksekusi publikku sendiri.
Erwin tahu betul cara bermain dengan psikologi. Ia tidak hanya ingin menghancurkan Adrian; ia ingin menodai setiap kenangan indah yang pernah kami miliki.
"Sempurna," suara Erwin memecah keheningan kamar. Ia berdiri di ambang pintu, setelan jas arangnya licin tanpa cela, kontras dengan kekacauan di kepalaku. "Kau terlihat seperti bidadari yang jatuh, Arini. Persis seperti yang disukai media. Rapuh, cantik, dan... bersalah."
Aku tidak menoleh. Tatapanku terpaku pada cermin rias, menatap sosok asing dengan riasan flawless yang menutupi mata bengkakku. Di belakangku, Make-up Artist itu membereskan peralatannya dengan tangan gemetar, tidak berani menatap mataku. Ia tahu ada yang salah, tapi rasa takut membungkam nuraninya.
"Waktunya berangkat," perintah Erwin.
Aku bangkit perlahan. Kakiku terasa berat, seolah lantai marmer ini memiliki gravitasi ganda. Sebelum melangkah, mataku melirik sekilas ke arah ventilasi AC di sudut atas dinding. Lampu merah kecil itu masih berkedip samar di balik kisi-kisi.
Jantungku berdegup nyeri. Aku meninggalkan satu-satunya harapan di sini. Jika Adrian melacak sinyal itu, ia akan menemukan kamar kosong. Vila ini akan menjadi jalan buntu.
Tapi aku tidak punya pilihan. Ayahku ada di ujung tombol ponsel Erwin.
"Jangan berpikir macam-macam," bisik Erwin saat ia mencengkeram sikuku, menuntunku keluar kamar. "Dua orangku akan mengapitmu di mobil. Satu gerakan mencurigakan, dan monitor jantung ayahmu di Singapura akan bergaris datar sebelum kau sempat berkedip."
Aku menepis tangannya kasar. "Jangan sentuh aku."
Erwin terkekeh, tidak tersinggung. "Simpan apimu untuk di panggung, Ipar. Kau butuh energi itu untuk menangis nanti."
Perjalanan menuju Jakarta terasa seperti melintasi lorong waktu yang lambat. Aku duduk terjepit di kursi tengah SUV hitam, diapit dua penjaga berbadan tegap yang baunya seperti campuran musk murah dan bahaya. Jendela mobil gelap gulita, memisahkan aku dari dunia luar. Aku tidak tahu kami ada di mana, tapi dari guncangan jalan, kami sudah meninggalkan area pegunungan.
Aku memejamkan mata, mencoba memanggil aroma Adrian, tembakau mahal dan sitrus, untuk menenangkan mual di perutku.
Adri... kamu di mana?
Bayangan wajahnya berputar di benakku. Senyum tipisnya yang langka. Caranya memijat pelipis saat lelah. Dan tatapan terluka itu... tatapan yang akan ia berikan padaku setelah konferensi pers ini selesai.
Ponsel di saku jas Erwin bergetar. Ia melirik layar, lalu tersenyum miring.
"Berita bagus," gumamnya. "Saham Mahardika Group mulai goyah di sesi pembukaan. Desas-desus tentang 'skandal internal' sudah bocor. Wartawan sudah memadati lobi hotel seperti hiu mencium darah."
Ia menoleh padaku, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kau siap menjadi bintang utama, Arini?"
Aku mencengkeram tas tanganku erat-erat. Di dalamnya, lembaran "Pernyataan Pengakuan" itu terasa panas, seolah membakar kulitku menembus lapisan kulit tas.
"Kau tidak akan menang selamanya, Win," suaraku serak, tapi stabil. "Adrian lebih pintar darimu. Dia selalu tiga langkah di depan."
Wajah Erwin mengeras. Rahangnya mengetat, satu-satunya tanda bahwa kata-kataku mengenai sasaran. "Adrian itu sombong. Dan kesombongan adalah lubang kuburnya. Dia terlalu sibuk mencari siapa yang menyerangnya dari luar, sampai lupa melihat musuh di dalam selimut. Kau."
Mobil melambat, lalu berbelok tajam. Suara riuh rendah mulai terdengar, bahkan dari balik kaca kedap suara. Kilatan cahaya blitz kamera menembus kaca film yang gelap saat kami memasuki area drop-off VIP.
Kami sampai. Gerbang neraka telah terbuka.
Ruang tunggu VIP di belakang ballroom hotel terasa sesak, meski ukurannya luas. Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu mewah, karpet tebal meredam suara langkah kaki, tapi udara di sini terasa tipis. Oksigen seolah disedot habis oleh kepanikan yang merayap di dadaku.
Sebuah televisi layar datar di dinding menayangkan siaran langsung dari ballroom di sebelah. Ruangan itu penuh sesak. Logo-logo stasiun TV nasional berjejer di barisan depan. Di layar, teks berjalan (running text) berbunyi: BREAKING NEWS: ISTRI CEO MAHARDIKA GROUP AKAN BERIKAN KLARIFIKASI TERKAIT DUGAAN KEBOCORAN DATA.
"Lima menit lagi," ujar Erwin. Ia berdiri di depan cermin, merapikan dasinya dengan ketenangan seorang psikopat. "Ingat skenarionya. Kau masuk, duduk, baca pernyataan itu dengan suara bergetar, air mata akan jadi nilai tambah, lalu tinggalkan ruangan tanpa menjawab pertanyaan. Sisanya biar aku yang urus."
Ia berbalik, menyodorkan tabletnya padaku. Di layar, video live dari ruang ICU masih menyala. Ayahku terbaring diam, dadanya naik turun perlahan dibantu mesin.
"Lihat dia, Arini. Dia alasanmu berdiri di sini."
Aku menatap wajah pucat Ayah. Rasa bersalah menghantamku seperti ombak pasang. Aku mengorbankan pria yang kucintai demi pria yang membesarkanku. Apakah ini definisi anak berbakti, atau istri pengkhianat? Batasnya kabur, terhapus oleh air mata yang mulai menggenang di pelupuk mataku.
"Aku akan melakukannya," bisikku. "Tapi berjanjilah kau tidak akan menyentuh Ayah setelah ini."
"Aku pebisnis, bukan monster. Setelah Adrian hancur, ayahmu tidak lagi berguna bagiku. Dia aman." Erwin mengambil kembali tabletnya. "Sekarang, hapus air matamu. Simpan untuk kamera."
Pintu ruang tunggu terbuka. Seorang staf hotel dengan headset mengangguk pada Erwin. "Sudah siap, Pak."
Erwin memberi isyarat padaku. "Silakan, Nyonya Mahardika. Panggungmu sudah siap."
Aku berdiri. Kakiku terasa bukan milikku. Setiap langkah menuju pintu ganda itu terasa seperti melangkah menuju tiang gantungan.
Dengung suara dari ballroom semakin keras saat pintu dibuka. Ratusan kepala menoleh serentak. Ratusan lensa kamera terarah padaku seperti moncong senjata.
Klik. Klik. Klik.
Cahaya flash meledak-ledak, membutakan. Aku menunduk, membiarkan rambutku menutupi sebagian wajah, persis seperti instruksi Erwin untuk terlihat "malu dan bersalah".
Aku berjalan menuju meja panjang di tengah panggung. Di sana, satu mikrofon berdiri tegak, menunggu untuk merekam kehancuranku. Di sampingnya, segelas air yang tidak akan pernah kuminum.
Aku duduk. Kursi itu terasa dingin.
Erwin duduk di sampingku, memasang wajah prihatin yang ia latih dengan sempurna. Ia menepuk punggung tanganku pelan, sebuah gestur yang di mata kamera terlihat menenangkan, tapi bagiku terasa seperti patukan ular.
"Silakan," bisiknya tanpa gerak bibir.
Aku membuka map di depanku. Kertas itu bergetar di tanganku. Huruf-hurufnya tampak menari, mengejekku.
Saya, Arini Putri...
Aku menarik napas panjang. Udara di ruangan ini berbau parfum mahal dan keringat antusiasme wartawan. Aku mendekatkan bibir ke mikrofon. Suara denging feedback terdengar sekilas, membuat ruangan hening seketika. Semua orang menunggu.
"Selamat pagi," suaraku bergetar. Bukan akting. Ini ketakutan murni.
"Saya... Arini Putri..."
Tenggorokanku tercekat. Aku melirik Erwin. Matanya menyipit tajam, sebuah peringatan sunyi. Baca, atau ayahmu mati.
Aku memejamkan mata sejenak. Maafkan aku, Adri. Maafkan aku.
"Saya berdiri di sini hari ini untuk..."
Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari pintu utama di ujung ballroom. Bukan suara pintu dibuka biasa, tapi suara hantaman keras.
BRAK!
Pintu ganda yang berat itu terpentang lebar, menghantam dinding dengan kekuatan yang membuat beberapa wartawan terlonjak kaget. Cahaya dari lorong luar membanjiri ruangan, memotong kegelapan ballroom seperti pedang.
Jantungku berhenti.
Di ambang pintu, siluet seorang pria berdiri tegak. Ia mengenakan setelan jas hitam yang tampak kusut, seolah ia baru saja berlari menembus badai. Napasnya memburu, terlihat dari naik turun bahunya yang lebar.
Meski melawan cahaya, aku tahu postur itu. Aku tahu cara berdirinya yang dominan, seolah ia memiliki setiap inci ruangan yang ia masuki.
Lampu blitz kamera beralih liar, mencari sosok pendatang baru itu.
Pria itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Suara sepatu kulitnya menghantam lantai marmer dengan irama yang menakutkan, menggema di seluruh ruangan yang kini sunyi senyap.
Ia mengangkat wajahnya, dan cahaya lampu sorot menangkap sepasang mata yang menyala dengan kemarahan dingin, kemarahan yang sanggup membakar seluruh gedung ini hingga menjadi abu.
Adrian...
Ia tidak menatap Erwin. Ia tidak menatap wartawan.
Matanya terkunci lurus padaku.
Dan di tangannya, ia tidak memegang senjata. Ia memegang sebuah benda kecil berwarna hitam yang ia acungkan tinggi-tinggi. Sebuah perekam suara.
"Lanjutkan, Istriku," suaranya rendah, namun menggelegar tanpa perlu mikrofon, membelah keheningan seperti petir. "Bacakan pengakuanmu. Atau kau ingin aku yang memutarkan pengakuan yang sebenarnya?"