Suara bariton Adrian masih menggema di seluruh penjuru ballroom, memantul di dinding-dinding berlapis marmer, membekukan ratusan manusia di ruangan ini.
"Bacakan pengakuanmu. Atau kau ingin aku yang memutarkan pengakuan yang sebenarnya?"
Hening.
Satu detik. Dua detik.
Lalu, kekacauan meledak.
Ratusan kepala menoleh serentak ke arah pintu ganda yang terbuka lebar. Cahaya lampu kilat kamera yang tadinya membabibuta kini terhenti sejenak, seolah para jurnalis itu lupa cara bernapas. Di sana, berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan kemeja hitam yang kusut, Adrian Mahardika tampak seperti dewa perang yang baru saja turun dari medan laga.
Matanya... Tuhan, matanya.
Tidak ada kehangatan yang biasa kulihat saat kami berbagi sarapan di penthouse. Tidak ada binar jahil saat ia menggodaku. Hanya ada api dingin. Kemarahan yang begitu pekat hingga rasanya bisa membakar kulitku dari jarak sepuluh meter.
"Adrian..." Nama itu lolos dari bibirku, nyaris tanpa suara.
Erwin, yang berdiri di sebelahku, menegang. Cengkeramannya di siku kiriku mengerat, kuku-kukunya menancap menembus kain sutra gaunku. Namun, wajahnya—topeng sempurna itu—hanya menunjukkan sedikit keterkejutan sebelum kembali tenang.
"Keamanan!" seru Erwin, suaranya lantang namun terkendali. Ia menatap para jurnalis dengan senyum meminta maaf yang dipaksakan. "Mohon maaf, rekan-rekan media. Kakak saya sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil. Seperti yang saya katakan, skandal ini sangat memukul mentalnya."
Empat orang petugas keamanan bertubuh kekar bergerak mendekati Adrian. Namun, Adrian tidak mundur. Ia justru mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memperlihatkan benda hitam kecil berbentuk persegi panjang.
Sebuah voice recorder.
"Satu langkah lagi kalian mendekat," ancam Adrian, suaranya rendah tapi terdengar jelas melalui mikrofon podium yang masih menyala, "dan seluruh Jakarta akan mendengar rekaman percakapan di lift kemarin malam. Percakapan tentang siapa sebenarnya yang mentransfer uang lima miliar itu."
Langkah para petugas keamanan terhenti. Keragu-raguan melintas di wajah mereka.
Erwin tertawa kecil di sampingku. Suara tawa yang membuat bulu kudukku meremang.
"Bluffing yang bagus, Adrian," bisik Erwin, cukup keras untuk ditangkap mikrofon di kerah bajuku, tapi cukup pelan untuk terdengar intim. "Tapi kau lupa satu hal."
Erwin menggeser tubuhnya, menghalangi pandangan kamera ke arahku, seolah sedang menenangkan adik iparnya yang histeris. Di balik punggungnya, ia mengangkat tablet yang sejak tadi ia pegang.
Layar itu menyala tepat di depan wajahku.
Grafik detak jantung di layar monitor ICU itu masih bergelombang, tapi ada yang berubah. Angka saturasi oksigen yang tadinya 98, kini berkedip merah.
95... 92... 89...
"Orangku di Singapura sedang memegang selang ventilator ayahmu, Arini," desis Erwin tepat di telingaku. "Jika Adrian memutar rekaman itu, atau jika kau tidak segera membacakan naskahmu... tangannya akan 'tergelincir'. Dan oops, selamat tinggal Ayah."
Duniaku berputar.
Lantai panggung terasa bergoyang. Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatiku.
"Jangan..." rintihku.
"Usir dia, Arini," perintah Erwin dingin. "Hancurkan dia. Sekarang. Atau kau jadi yatim piatu dalam tiga puluh detik."
Adrian sudah menaiki tangga panggung. Ia mengabaikan protes panitia dan tatapan bingung para pemegang saham di barisan depan. Ia berjalan lurus ke arahku, tatapannya mengunci mataku.
"Rini," panggilnya. Nadanya berubah. Amarah itu retak, memperlihatkan keputusasaan di baliknya. "Jangan lakukan ini. Aku tahu kau dijebak. Kita bisa luruskan ini. Reza sudah siuman, dia memberitahuku semuanya."
Jantungku mencelos. Reza selamat. Syukurlah.
"Kemarilah," Adrian mengulurkan tangannya. Tangan yang kokoh, tangan yang pernah memelukku saat aku menangis karena petir, tangan yang selalu membuatku merasa aman. "Turun dari panggung ini bersamaku. Kita hadapi Erwin. Kita punya buktinya."
Aku menatap tangan itu. Tangan yang menawarkan kebebasan.
Lalu aku melirik tablet di tangan Erwin.
Angka itu turun lagi. 85...
Air mata panas merebak di pelupuk mataku, mengaburkan pandangan. Jika aku meraih tangan Adrian, aku memenangkan cintaku, tapi aku membunuh ayahku. Ayah yang bekerja keras membesarkanku sendirian. Hanya Ayah keluarga yang kumiliki. Satu-satunya.
Aku tidak bisa.
Aku tidak boleh egois.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil naskah "Pernyataan Pengakuan" dari podium. Kertas itu terasa berat, seberat dosa yang akan kutanggung.
"Arini?" Adrian mengerutkan kening, tangannya masih terulur di udara. "Apa yang kau lakukan? Buang kertas itu."
Aku menarik napas panjang, menghirup aroma parfum mahal dan kemunafikan di atas panggung ini. Aku harus melakukannya. Aku harus mematahkan hatinya agar ia selamat. Agar Ayah selamat.
Aku menatap Adrian. Menatap pria yang, sialnya, baru kusadari betapa aku mencintainya.
"Cukup, Adrian," kataku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Dingin. Datar. Mati.
Adrian tertegun. "Apa?"
Aku mendekatkan bibir ke mikrofon. Memastikan setiap kata terekam jelas oleh puluhan kamera yang menyorot kami.
"Berhenti bersikap seolah kamu pahlawan," ucapku, menekan rasa perih yang menyayat tenggorokan. "Pak Erwin benar. Kamu... kamu memang tidak stabil."
Mata Adrian melebar. Tangannya perlahan turun. "Rini, kau sadar apa yang kau ucapkan?"
"Sadar. Sangat sadar." Aku memaksakan sebuah senyum sinis, senyum yang kupelajari dari Erwin. "Hentikan sandiwara ini, Adrian. Rekaman itu? Itu pasti palsu, kan? Sama palsunya dengan pernikahan kita."
Gumam kaget terdengar dari arah audiens. Kilatan lampu kamera semakin menggila.
"Arini..." Suara Adrian tercekat. Bukan marah. Tapi terluka. Luka yang dalam, seperti kaca yang retak perlahan.
"Saya akan membacakan pernyataan saya," kataku lantang, memutus kontak mata dengan Adrian karena aku tidak sanggup melihat kehancuran di wajahnya lebih lama lagi.
Aku menunduk, membaca teks di kertas itu dengan suara lantang yang bergetar.
"Saya, Arini Putri, mengakui bahwa segala tuduhan mengenai kebocoran data dan manipulasi saham adalah benar adanya. Saya melakukannya atas inisiatif sendiri karena ketidakpuasan saya terhadap... terhadap suami saya, Adrian Mahardika."
"BOHONG!" teriak Adrian.
Ia menerjang maju, hendak merampas mikrofon, tapi Erwin dengan sigap memberi isyarat. Empat petugas keamanan yang tadi ragu kini langsung menyergap Adrian.
"Lepaskan aku! Arini! Tatap mataku!" Adrian meronta, tenaganya luar biasa hingga butuh dua orang tambahan untuk menahannya. "Kenapa kau lakukan ini?! Apa yang dia ancamkan padamu?!"
Aku terus membaca, mempercepat temponya, ingin mimpi buruk ini segera berakhir.
"...dan dengan ini saya menyatakan mundur dari segala posisi di Mahardika Group, serta siap menanggung konsekuensi hukum."
"Bawa Pak Adrian keluar," perintah Erwin dengan nada kemenangan yang memuakkan. "Dia butuh penenang."
Adrian diseret paksa menuruni panggung. Jas hitamnya semakin kusut, dasinya miring. Tapi matanya tidak lepas dariku. Tatapan itu bukan lagi api amarah, melainkan kekecewaan yang sunyi. Kekecewaan yang mengatakan bahwa aku baru saja membunuh satu-satunya bagian dari dirinya yang masih percaya pada manusia. "Aku mempercayaimu, Rini," bisiknya, nyaris tak terdengar di tengah keriuahan, tapi gerakan bibirnya menghantamku lebih keras dari tamparan fisik.
Pintu ballroom tertutup, menelan sosok Adrian.
Di sampingku, Erwin menurunkan tabletnya. Di layar itu, grafik jantung Ayah kembali stabil. Angka saturasi naik ke 98.
"Bagus sekali, Ipar," bisik Erwin, merangkul bahuku seolah memberikan dukungan moral di depan kamera. "Akting yang meyakinkan. Sayang sekali Adrian tidak sempat memberikan piala Oscar untukmu."
Kakiku lemas. Lututku membentur lantai panggung yang dingin.
Dunia menjadi gelap, dan suara riuh wartawan yang memberondong pertanyaan terdengar semakin jauh, seperti dengungan lebah di dalam toples kaca.
Satu hal yang pasti: Aku baru saja menyelamatkan nyawa Ayah, tapi aku juga baru saja membunuh Arini yang dicintai Adrian.
Dan di saku jas Erwin, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk yang tidak sengaja kulihat sekilas sebelum pandanganku memburam sepenuhnya.
Sender: Unknown Isi: Rencana C dimulai. Pastikan gadis itu tidak bicara soal "Proyek Sarah".
Proyek Sarah?
Kesadaranku hilang sebelum aku sempat mencerna arti pesan itu.