Romansa #CEO #Romansa CEO

Puing-puing Kepercayaan

Penulis djoedo
25 January 2026

Bau amonia yang menyengat menarik paksaku kembali dari kegelapan.

Aku tersentak bangun, paru-paruku meraup udara dengan rakus seolah aku baru saja tenggelam ke dasar lautan. Pandanganku berputar-putar, langit-langit ruangan yang tinggi, lampu kristal yang buram, dan wajah-wajah cemas yang perlahan memudar menjadi satu sosok yang paling kubenci.

Erwin.

Ia duduk di kursi beludru merah di seberang sofa tempatku berbaring, menggoyangkan botol kecil berbau tajam di tangannya. Senyum tipis menghiasi bibirnya, senyum kemenangan yang membuat perutku terasa kembali mual.

"Pingsan di akhir pidato?" Erwin berdecak, menggelengkan kepala seolah sedang menilai akting aktor amatiran. "Sentuhan yang dramatis, Arini. Sedikit overacting, tapi sangat efektif. Lihatlah..."

Ia melemparkan tabletnya ke pangkuanku. Layarnya menyala, menampilkan siaran berita terkini. Berita itu membuat perutku terasa diobrak-abrik, rasa mual itu kembali muncul hingga ke ujung tenggorokan.

BREAKING NEWS: ISTRI CEO MAHARDIKA GROUP MENGAKU MEMANIPULASI SAHAM & DATA PERUSAHAAN.

Judul berita itu tertulis dengan huruf kapital merah yang menyala, seakan membakar retina mataku. Di bawahnya, video pengakuanku diputar berulang-ulang. Wajahku yang pucat, suaraku yang gemetar saat menghancurkan nama baik suamiku sendiri.

"Saham Mahardika Group turun 12% dalam dua puluh menit terakhir," lapor Erwin dengan nada riang. Dia seolah-olah sedang membacakan skor pertandingan bola. "Para pemegang saham panik. Dewan Komisaris sudah menjadwalkan rapat darurat besok pagi untuk melengserkan Adrian. Rencana berjalan mulus."

Aku mendorong tablet itu menjauh, rasa bersalah menghantam dadaku lebih keras daripada dihantam palu godam. "Ayahku..." suaraku serak, tenggorokanku terasa seperti diamplas. "Kau sudah janji..."

"Tenang, Ipar Tersayang." Erwin mengambil kembali tabletnya dan menggeser layar. Sebuah video live feed muncul. Monitor detak jantung Ayah terlihat pada angka 98 dengan stabil. Bunyi bip-bip yang teratur terdengar seperti musik terindah di telingaku. "Orang-orangku di Singapura sudah mundur ke koridor. Selama kau tetap manis, ventilator itu akan tetap menyala."

Aku memejamkan mata, tanpa terasa air mata panas merembes keluar. Aku berhasil. Ayah selamat. Tapi harga yang harus kubayar adalah nyawa Adrian, bukan nyawa fisiknya, tapi jiwanya. Kehormatannya.

Tiba-tiba, potongan memori terakhir sebelum aku pingsan menyentak benakku. Ponsel Erwin. Pesan itu.

Rencana C dimulai. Pastikan gadis itu tidak bicara soal 'Proyek Sarah'.

Aku membuka mata, menatap Erwin tajam. Rasa takutku perlahan berganti menjadi rasa ingin tahu yang berbahaya.

"Siapa 'Unknown'?" tanyaku.

Gerakan tangan Erwin yang hendak memasukkan ponsel ke saku jas seketika terhenti. Matanya menyipit, waspada. "Apa maksudmu?"

"Pesan yang masuk tepat sebelum aku jatuh," desisku, memaksakan diri untuk duduk tegak meski kepalaku masih berdenyut hebat. "Tentang 'Proyek Sarah'. Apa itu?"

Hening.

Atmosfer di ruangan VIP belakang panggung itu berubah drastis. Udara terasa lebih dingin. Senyum mengejek di wajah Erwin lenyap tak berbekas, digantikan oleh topeng kekejaman yang murni. Ia melangkah mendekat, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan mukaku.

"Kau terlalu banyak melihat hal yang bukan urusanmu, Arini," bisiknya. Nada suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang lebih menakutkan daripada teriakan. "Sarah adalah masa lalu. Kuburan yang sebaiknya tidak kau gali."

"Adrian bilang Sarah adalah kecelakaan," tantangku, teringat cerita Adrian tentang wanita yang tewas dalam kecelakaan mobil lima tahun lalu. "Tapi pesan itu menyebutnya 'Proyek'. Sejak kapan kecelakaan disebut proyek?"

Cengkeraman tangan Erwin mendarat di rahangku, memaksaku menatap matanya. "Dengar baik-baik. Tugasmu sudah selesai. Kau sudah menghancurkan Adrian. Sekarang, kau hanya ampas. Jangan memancingku untuk mempercepat reuni ayahmu dengan Tuhan."

Ia menghempaskan wajahku kasar, lalu berdiri dan merapikan jasnya. "Ayo. Kita pergi. Wartawan di luar sana sudah seperti serigala kelaparan. Kita lewat jalur belakang."

Dua pengawal berbadan tegap masuk, menarikku berdiri. Kakiku masih goyah, tapi mereka tidak peduli. Mereka menyeretku keluar dari ruangan mewah itu, melewati lorong-lorong beton yang dingin dan lembap di belakang panggung.

Suara gemuruh dari ballroom masih terdengar samar-samar. Aku membayangkan Adrian di luar sana. Apakah dia sudah dibawa polisi? Apakah dia sedang mencariku? Atau... apakah dia sudah membenciku setengah mati?

Adrian, maafkan aku...

Kami tiba di area loading dock. Sebuah mobil van hitam dengan kaca gelap sudah menunggu, mesinnya menderu pelan. Hujan mulai turun di luar, menciptakan tirai air yang memburamkan lampu-lampu kota Jakarta.

Saat pintu van terbuka, aku melihat seseorang sudah duduk di dalamnya.

Bukan Reza. Bukan pengawal.

Seorang wanita paruh baya dengan setelan kerja yang rapi, kacamata bingkai tebal, dan sebuah laptop di pangkuannya. Ia tidak menoleh saat aku didorong masuk ke kursi di hadapannya.

"Ini paketnya?" tanya wanita itu datar, matanya tetap terpaku pada layar laptop.

"Ya," jawab Erwin, ikut masuk dan duduk di sampingku. "Bawa kita ke Fasilitas B."

"Fasilitas B?" tanyaku panik. "Kau bilang aku akan dilepaskan setelah konferensi pers!"

Erwin tertawa pelan, suara yang terdengar mengerikan di tengah deru hujan yang menghantam atap mobil. "Oh, Arini. Naif sekali. Kau pikir aku akan membiarkan saksi kunci berkeliaran bebas saat Adrian sedang jatuh-jatuhnya? Tidak. Kau masih berguna."

Wanita di depanku akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya dingin, analitis, seolah sedang melihat sebuah spesimen laboratorium, bukan manusia.

"Data biometriknya sudah siap?" tanya wanita itu pada Erwin.

"Sudah. Sidik jari, retina, suara. Semua yang dibutuhkan untuk mengakses brankas pribadi Adrian di Swiss," jawab Erwin dengan santai.

Jantungku berhenti berdetak. Brankas Swiss? Adrian pernah bilang itu adalah tempat dia menyimpan satu-satunya hal yang bisa menghancurkan kakeknya atau menyelamatkannya.

"Tunggu..." Aku menatap Erwin dan wanita itu bergantian. "Kalian bukan hanya ingin menjatuhkan Adrian dari posisi CEO. Kalian ingin..."

"Mengambil alih segalanya," potong wanita itu. Ia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas. "Dan 'Proyek Sarah' bukan sekadar masa lalu, Nona Arini. Itu adalah masa depan Mahardika Group."

Mobil melaju menembus malam, membawaku semakin jauh dari Adrian, semakin jauh dari jalan pulang. Dan untuk pertama kalinya malam ini, aku menyadari bahwa pengakuanku di panggung tadi hanyalah pembuka dari mimpi buruk yang sebenarnya.

Aku meraba-raba saku jas Adrian yang masih kupakai. Kosong. Ponselku sudah disita. Tapi jariku menyentuh sesuatu yang kecil dan keras terselip di lapisan dalam jahitan saku.

Sebuah memory card kecil.

Napasku tertahan. Kapan Adrian menaruh ini? Apakah saat dia memelukku di safe house? Atau saat dia dipaksa keluar tadi?

Aku tidak tahu apa isinya, tapi di tengah keputusasaan ini, benda kecil yang dingin di ujung jariku itu terasa seperti satu-satunya bara api yang tersisa di tengah badai salju.

Aku menggenggam barang itu dengan erat-erat, menyembunyikannya dalam kepalan tanganku. Perang belum berakhir.