Romansa #CEO #Romansa CEO

Sangkar Besi dan Keping Harapan

Penulis djoedo
25 January 2026

Hujan menghantam atap van dengan ritme yang memekakkan telinga, seolah langit Jakarta turut menangis menyaksikan pengkhianatan yang baru saja kulakukan. Bau amonia samar masih menempel di hidungku, sisa dari obat bius yang membuatku pingsan setelah konferensi pers terkutuk itu. Namun, sensasi yang paling nyata bukanlah pening di kepalaku atau rasa mual di perutku, melainkan benda kecil, keras, dan dingin yang kini menyatu dengan telapak tanganku.

Sebuah kartu memori.

Aku menggenggamnya begitu erat hingga sudut-sudut tajamnya menusuk kulit. Adrian menyelipkannya. Di saat-saat terakhir, ketika dia mencengkeram bahuku di podium, ketika dunia mengira dia sedang murka, dia menyelipkan benda ini ke dalam saku jaketku.

Perang belum berakhir. Kalimat itu berulang di kepalaku seperti mantra.

"Kau lihat grafiknya, Win?" Suara wanita itu memecah keheningan. Dingin, analitis, tanpa emosi. Dia duduk di kursi depan, mengetuk layar tabletnya dengan pena stylus. "Saham Mahardika Group terjun bebas. Dua belas persen dalam satu jam. Rekor baru."

Erwin, yang duduk santai di seberangku sambil menyilangkan kaki, tertawa puas. Tawa yang sama yang kudengar saat dia menculikku di lift. "Sudah kuduga. Pasar membenci ketidakpastian, dan mereka lebih membenci CEO yang istrinya seorang penipu."

Dia mencondongkan tubuh ke arahku, menatapku dengan sorot mata kemenangan yang menjijikkan. "Aktingmu di panggung tadi luar biasa, Arini. Sangat meyakinkan. Kalau aku jadi produser film, aku sudah memberimu Piala Citra."

Aku membuang muka, menatap jendela yang gelap gulita. Hanya kilatan lampu jalan yang sesekali menerobos masuk, menyinari interior mobil yang suram. "Bagaimana kondisi Ayah?" tanyaku, suaraku parau.

"Stabil," jawab Erwin acuh tak acuh. "Selama kau menurut, ventilatornya akan tetap menyala. Tapi ingat, satu langkah salah di Fasilitas B nanti... klik." Dia membuat gerakan memutus sakelar dengan tangannya.

Jantungku berdegup kencang. Fasilitas B. Tempat apa itu? Mereka tidak membawaku ke kantor polisi atau membebaskanku seperti janji manis mereka. Mereka membawaku ke tempat di mana "Proyek Sarah" disimpan.

"Jangan terlalu senang dulu, Erwin," tegur wanita itu tanpa menoleh. "Kita belum mendapatkan akses ke brankas Swiss. Biometrik gadis ini adalah kuncinya. Jika dia stres berlebihan, pola retinanya bisa berubah atau detak jantungnya tidak sinkron dengan sensor. Jaga dia tetap tenang."

"Tenang?" Erwin mendengus. "Dia ada di tangan kita. Adrian sudah tamat. Siapa yang akan menolongnya? Reza? Dia masih koma di rumah sakit."

Nama Reza membuat dadaku nyeri. Rasa bersalah kembali menghantamku seperti ombak pasang. Aku telah menghancurkan segalanya. Adrian, Reza, nama baik keluargaku... semuanya hancur demi menyelamatkan satu nyawa.

Tapi kemudian, jariku kembali meraba kartu memori itu. Adrian tahu. Dia tahu Erwin akan melakukan ini. Dia tidak marah padaku di atas panggung tadi, atau setidaknya, dia mengerti. Kartu ini adalah sekoci penyelamat yang dia siapkan. Atau mungkin, ini adalah senjata.

Aku harus menyembunyikannya. Jika mereka menggeledahku saat kami tiba, tamatlah riwayatku.

Perlahan, sangat perlahan, aku menggerakkan tanganku ke bawah, berpura-pura memeluk lutut karena kedinginan. Aku memanfaatkan guncangan mobil saat melintasi jalan berlubang untuk menyelipkan kartu memori itu ke dalam lipatan hem celana jinsku, di bagian mata kaki yang tertutup sepatu boots. Itu tempat persembunyian yang riskan, tapi aku tidak punya pilihan lain.

"Kita sampai," umum wanita itu.

Mobil melambat, lalu berbelok tajam. Suara kerikil beradu dengan ban terdengar kasar. Dari balik kaca jendela yang basah, aku melihat gerbang besi tinggi yang perlahan terbuka. Tidak ada plang nama, tidak ada pos satpam yang mencolok. Hanya sebuah bangunan beton tua yang tampak seperti gudang terbengkalai di pinggiran kota.

Fasilitas B.

Pintu van digeser terbuka. Udara malam yang lembap dan dingin langsung menampar wajahku. Dua orang pengawal berbadan tegap, yang wajahnya sudah tidak asing karena merekalah yang menyeret Reza, menarikku keluar dengan kasar.

"Pelan-pelan!" bentakku, mencoba mempertahankan sisa harga diriku. "Aku bisa jalan sendiri."

"Jalan," perintah Erwin, mendorong punggungku.

Kami memasuki bangunan itu melalui pintu samping. Kontras dengan luarnya yang suram, bagian dalamnya terang benderang dengan lampu neon putih yang menyilaukan. Lantainya epoksi mengkilap, dindingnya putih steril. Tempat ini bukan gudang. Ini laboratorium. Atau penjara modern.

Wanita misterius itu—aku harus memberinya nama, mungkin 'Si Kacamata'—berjalan cepat memimpin di depan. Bunyi hak sepatunya menggema di lorong panjang yang sunyi.

"Bawa dia ke Ruang Isolasi 4," perintahnya pada para pengawal. "Siapkan prosedur pemindaian untuk besok pagi. Aku mau data retina, sidik jari, dan sampel suara diambil pukul 08.00 tepat."

"Tunggu," sergahku, menghentikan langkah. "Kalian mau apa sebenarnya? Kalian sudah menghancurkan Adrian. Kalian sudah mendapatkan perusahaan. Kenapa kalian butuh brankas itu?"

Erwin berhenti dan berbalik. Dia tersenyum miring, lalu melangkah mendekatiku hingga jarak kami hanya tinggal beberapa sentimeter.

"Kau pikir Adrian itu suci, Arini?" bisiknya. "Kau pikir dia menikahi wanita sepertimu hanya karena desakan Kakek? Tidak. Adrian menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kontrak nikah. Dan rahasia itu ada di Swiss. Sesuatu yang bisa mengubah... sejarah."

"Sejarah?"

"Cukup," potong Si Kacamata tajam. "Jangan buang waktu dengan dongeng, Erwin. Masukkan dia."

Para pengawal kembali menyeretku. Aku meronta, tapi tenaga mereka terlalu kuat. Mereka membawaku ke sebuah pintu baja tebal dengan jendela kaca kecil di bagian atasnya. Salah satu pengawal menempelkan kartu akses, dan pintu itu mendesis terbuka.

Mereka mendorongku masuk hingga aku tersungkur ke lantai yang dingin.

"Selamat menikmati malam pertamamu di penthouse baru, Nyonya Mahardika," ejek Erwin sebelum pintu itu tertutup kembali dengan suara dentuman logam yang berat.

BAMMM.

Hening.

Aku sendirian.

Napas tersengal, aku bangkit dan mengedarkan pandangan. Ruangan itu kecil, hanya berisi satu dipan besi dengan kasur tipis, sebuah wastafel stainless steel, dan toilet duduk tanpa penutup. Tidak ada jendela keluar. Hanya ada kamera CCTV yang berkedip merah di sudut langit-langit, menatapku seperti mata Cyclops.

Aku meraba pergelangan kakiku. Kartu memori itu masih di sana. Aman.

Aku duduk di tepi dipan, berusaha menenangkan gemuruh di dadaku. Adrian... di mana kau sekarang? Apakah kau sedang duduk di kantor polisi, diinterogasi atas kejahatan yang tidak kau lakukan? Atau kau sedang di rumah, menatap kosong ke arah lemari pakaianku yang kini hanya berisi kenangan?

Rasa rindu yang menyakitkan tiba-tiba menyeruak. Aku merindukan aroma kopinya di pagi hari. Aku merindukan cara dia membetulkan dasinya yang miring. Aku bahkan merindukan omelan sarkasnya tentang masakanku yang terlalu banyak bawang.

"Maafkan aku, Adri," bisikku pada dinding kosong. "Aku harus melakukannya demi Ayah."

Tiba-tiba, suara berdenging pelan terdengar dari arah pintu. Bukan suara kunci dibuka, tapi suara... interkom?

"Arini."

Aku tersentak. Suara itu bukan suara Erwin. Bukan juga suara Si Kacamata. Itu suara wanita, tapi terdengar lebih lembut, namun penuh dengan nada mendesak yang aneh. Suara itu berasal dari lubang ventilasi kecil di dekat lantai.

Aku merangkak mendekat, menempelkan telingaku. "Siapa itu?"

"Jangan percaya pada mereka," bisik suara itu, terdengar seperti hantu yang terjebak di dalam dinding. "Adrian tidak seperti yang mereka katakan. Dan... Sarah... dia belum mati."

Darahku membeku seketika.

"Apa maksudmu?" tanyaku mendesak, suaraku bergetar. "Siapa kau?"

Hening.

"Halo?"

Tidak ada jawaban. Hanya dengungan statis yang mengisi kekosongan.

Aku mundur perlahan, punggungku menabrak kaki dipan. Sarah belum mati? Tapi Adrian bilang dia kehilangan sosok terdekatnya lima tahun lalu. Semua orang tahu Sarah meninggal dalam kecelakaan itu. Makamnya bahkan ada di San Diego Hills.

Tanganku kembali meremas kartu memori di balik jinsku. Apakah ini jawabannya? Apakah isi kartu ini adalah bukti bahwa Sarah masih hidup? Dan jika dia masih hidup... lalu siapa yang selama ini kuhadapi?

Di dalam sangkar besi tanpa kunci ini, aku sadar satu hal: Aku tidak hanya sedang berjuang untuk nyawa ayahku atau reputasi Adrian. Aku sedang berdiri di atas jaring laba-laba raksasa yang benangnya terbuat dari kebohongan.

Dan aku, lalat kecil yang terperangkap ini, baru saja menemukan gunting untuk memutusnya.