Dingin di lantai ini bukan sekadar suhu; ia adalah makhluk hidup yang merayap naik melalui pori-pori kulitku, mencari jalan ke tulang sumsum. Aku masih meringkuk di sudut Ruang Isolasi 4, lutut menempel di dada, tangan memeluk betis. Di balik lipatan jeans di pergelangan kakiku, benda keras persegi itu menekan kulit.
Kartu memori.
Adrian menyelipkannya padaku di tengah kekacauan pers itu. Detik-detik sebelum aku menghancurkan hidupnya, dia justru memberiku senjata. Kenapa? Apa dia tahu aku akan dipaksa mengkhianatinya? Atau ini rencana cadangan yang bahkan tidak dia sadari akan menyelamatkanku?
“Sarah belum mati.”
Bisikan wanita dari saluran ventilasi itu masih berdenging di telingaku, bersaing dengan dengungan statis dari CCTV di pojok ruangan. Lampu merah di kamera itu berkedip ritmis. Satu detik nyala. Satu detik mati. Seperti detak jantung yang sekarat.
Klik. Hiss.
Pintu baja di depanku terbuka tanpa peringatan. Udara steril yang lebih dingin menyerbu masuk, membawa aroma antiseptik yang menyengat.
Dua penjaga bertubuh tegap melangkah masuk, diikuti oleh wanita itu. Si Kacamata. Jas lab putihnya terlihat terlalu bersih, terlalu rapi untuk tempat yang berbau kematian ini. Dia tidak membawa nampan makanan. Di tangannya ada sebuah tablet yang menyala terang.
"Berdiri," perintahnya. Suaranya datar, tanpa emosi. Efisien.
Aku tidak bergerak. "Di mana Erwin?"
"Pak Erwin sedang menyiapkan tahap akhir. Dan kau," dia mengetuk layar tabletnya dengan pena stylus, "adalah kuncinya."
Kedua penjaga itu tidak menunggu perintah kedua. Mereka maju, mencengkeram lenganku kasar, dan menarikku berdiri. Kakiku goyah, kesemutan karena terlalu lama menekuk, tapi aku memaksakan diri tegak. Aku tidak akan membiarkan mereka menyeret karung beras. Aku Arini Putri, dan meski Adrian mungkin membenciku sekarang, aku masih istrinya.
"Lepaskan," desisku, menyentakkan lenganku.
Anehnya, mereka melepaskannya. Si Kacamata memberi isyarat dengan dagunya ke arah pintu. "Jalan. Jangan membuat ini lebih sulit dari yang seharusnya. Ayahmu sedang tidur nyenyak di Singapura. Kita tidak ingin membangunkannya dengan... kejutan listrik, bukan?"
Ancaman itu ampuh. Darahku mendidih, tapi akalku membeku. Aku melangkah keluar sel, menyusuri lorong panjang berwarna putih menyilaukan. Tidak ada jendela. Hanya deretan pintu baja bernomor. Fasilitas B ini bukan gudang biasa; ini adalah labirin teknologi tinggi yang tersembunyi di perut bumi.
Kami berbelok ke sebuah ruangan besar yang dipenuhi layar monitor. Dindingnya dilapisi kaca tebal. Di tengah ruangan, sebuah kursi yang menyerupai kursi dokter gigi, namun dengan lebih banyak kabel dan penahan logam. Kursi itu berdiri dengan angkuh.
Dan di sana, duduk santai di tepi meja konsol sambil memutar-mutar sebuah pulpen mahal, adalah Erwin.
"Ah, Sleeping Beauty sudah bangun," sapanya. Senyumnya lebar, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Ada kegelisahan di sana. Keringat tipis mengilap di pelipisnya. "Silakan duduk, Arini. Kita harus mengejar waktu. Saham Mahardika Group sedang terjun bebas, dan aku butuh akses ke dana darurat di Swiss sebelum pasar tutup."
"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa," kataku, meski jantungku berdegup kencang saat melihat kursi itu.
"Oh, aku rasa aku akan mendapatkannya," Erwin turun dari meja, berjalan mendekatiku. "Kau tahu, Adrian itu paranoid. Dia mengunci aset pribadinya termasuk 'Proyek Sarah' di sebuah vault digital yang hanya bisa dibuka dengan biometrik ganda. Satu miliknya, dan satu lagi..." Dia menunjuk mataku. "...milik orang yang paling dia percayai."
Aku tertegun. "Dia tidak mungkin mendaftarkanku."
"Cinta itu buta, Arini. Atau mungkin bodoh," kekeh Erwin. "Dalam kontrak pernikahan kalian, ada klausul kuasa penuh yang kau tandatangani tanpa membaca detail lampirannya. Adrian menjadikanmu co-signatory untuk akses level tertinggi. Ironis, kan? Dia memberikan kunci kerajaannya pada wanita yang akhirnya menusuknya dari belakang."
Rasa bersalah menghantam dadaku seperti palu godam. Adrian mempercayaiku sejauh itu?
"Duduk," perintah Si Kacamata, mendorong bahuku pelan.
Aku didudukkan di kursi itu. Logam dingin menyentuh tengkukku. Penjaga mengikat pergelangan tanganku ke sandaran lengan. Aku meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat.
"Mulai pemindaian retina," kata Erwin.
Si Kacamata menggeser sebuah alat optik besar ke depan wajahku. Lensa hitamnya menatapku seperti mata serangga raksasa.
"Buka matamu lebar-lebar," perintah wanita itu. "Dan jangan berkedip."
"Aku tidak mau!" Aku memejamkan mata rapat-rapat.
"Buka, atau kami matikan ventilator ayahmu sekarang juga," ancam Erwin. Suaranya tidak lagi main-main. Dia mengangkat ponselnya, jarinya mengambang di atas tombol panggil.
Air mata merembes dari sudut kelopak mataku yang terpejam. Pilihan yang bukan pilihan. Dengan napas gemetar, aku membuka mata.
Sinar merah menyapu bola mataku. Menyakitkan. Silau.
Bip. Bip. Bip.
Suara komputer terdengar. "Pemindaian Retina: Cocok. Identitas Terverifikasi: Arini Putri Mahardika."
Erwin bersorak pelan. "Bagus. Sekarang tahap kedua. Sidik jari."
Mereka menempelkan jari-jariku ke panel kaca. Hijau lagi.
"Akses Level 1 Terbuka," suara robotik itu bergema di ruangan. "Membutuhkan Verifikasi Suara untuk Akses Level 2: Master Key."
Erwin mencondongkan tubuh ke arahku, wajahnya begitu dekat hingga aku bisa mencium bau kopi basi dari napasnya. "Nah, ini bagian yang tricky. Adrian memasang frasa sandi suara. Apa itu, Arini? Apa kata-kata yang sering dia ucapkan? Tanggal lahir? Nama hewan peliharaan?"
"Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Dia tidak pernah memberitahuku."
"Bohong!" Erwin memukul sandaran kursi dengan keras, membuatku tersentak. "Kalian tinggal serumah! Dia pasti pernah mengigau, atau mengatakannya saat kalian sedang... mesra. Pikirkan! Apa yang berhubungan dengan Sarah?"
Sarah.
Pikiranku berpacu. Kartu memori di kakiku terasa makin panas. Suara di ventilasi tadi... Sarah belum mati. Apakah itu kuncinya?
"Aku tidak tahu, Erwin! Sumpah!" teriakku.
"Coba 'Sarah'!" teriak Erwin pada Si Kacamata.
Wanita itu mengetik sesuatu, lalu sistem meminta input suara. Erwin mencengkeram rahangku. "Katakan 'Sarah'."
"Sarah," ucapku gemetar.
Bip. Salah. Lampu merah berkedip di layar utama.
"Sialan!" umpat Erwin. Dia menjambak rambutnya sendiri, frustrasi. "Coba lagi! 'Mahardika'? 'Keabadian'? 'Pembalasan'?"
Setiap kata yang dipaksakan keluar dari mulutku menghasilkan lampu merah. Tiga kali percobaan gagal. Sistem mulai memberikan peringatan lockdown.
"Satu kali lagi," kata Si Kacamata, suaranya mulai terdengar cemas. "Satu kesalahan lagi, sistem akan mengunci permanen dan mengirim sinyal bahaya ke Interpol."
Erwin menatapku dengan nyalang. Dia mencabut pistol dari balik jasnya dan menempelkan moncong dinginnya ke pelipisku.
"Pikirkan, Arini. Atau otakmu akan berceceran di lantai mahal ini sebelum Interpol sampai di sini."
Keringat dingin membasahi punggungku. Aku mencoba mengingat setiap momen bersama Adrian. Saat dia rapuh. Saat dia mimpi buruk. Saat hujan badai di Bali. Apa yang dia bisikkan?
Tiba-tiba, suara sirene meraung keras di seluruh fasilitas. Lampu ruangan berubah dari putih steril menjadi merah berkedip.
Wiuuu! Wiuuu!
"PELANGGARAN KEAMANAN DI SEKTOR UTARA. PENYUSUP TERDETEKSI."
Erwin terlonjak kaget, hampir menarik pelatuknya. "Siapa? Polisi?"
Si Kacamata mengecek tabletnya dengan panik. Wajahnya pucat pasi. "Bukan polisi, Pak. Sistem keamanan eksternal baru saja diretas total. Semua kamera di luar mati."
"Siapa yang bisa melakukan itu?" bentak Erwin.
Wanita itu menatap Erwin dengan ketakutan. "Hanya ada satu orang yang punya kode backdoor ke sistem keamanan Fasilitas B. Orang yang membangun tempat ini."
Adrian.
Jantungku berhenti berdetak, lalu memompa dua kali lebih cepat. Dia datang. Dia tidak meninggalkanku.
Tapi Erwin tidak terlihat takut. Dia justru tersenyum gila, sebuah seringai putus asa dari orang yang sudah tidak punya jalan kembali. Dia mencengkeram lenganku, menarikku bangun dari kursi dengan kasar.
"Bagus," desisnya. "Kalau dia mau bermain pahlawan, kita akan berikan dia pertunjukan. Bawa gadis ini ke atap. Kita akan lihat apakah Adrian bisa menangkap peluru secepat dia meretas komputer."
"Tapi Pak, helikopter belum..."
"BAWA DIA!" teriak Erwin.
Aku diseret paksa keluar dari ruang kontrol. Di lorong, lampu merah berputar-putar menciptakan bayangan mengerikan. Suara ledakan terdengar samar dari kejauhan, getaran yang merambat lewat lantai dan menembus sol sepatuku.
Adrian ada di sini. Badai itu telah datang. Dan aku berada tepat di pusat pusarannya.