Romansa #CEO #Romansa CEO

Konfrontasi di Ufuk Senja

Penulis djoedo
25 January 2026

Lorong itu berkedip merah, seirama dengan raungan sirine yang memekakkan telinga. Setiap detiknya seperti hantaman palu di kepala. Cengkeraman Erwin di lengan atasku bukan lagi pegangan manusia, melainkan capit besi yang putus asa. Keringat dingin membasahi telapak tangannya yang menempel di kulitku, menjijikkan dan licin.

"Cepat, sialan!" teriak Erwin, suaranya pecah di antara gema alarm. Ia menyentakkan tubuhku kasar, memaksaku mempercepat langkah meski kakiku serasa mau copot.

Wanita berkacamata di depan kami, si asisten yang tadi begitu dingin dan efisien kini tampak seperti tikus yang terperangkap dalam labirin yang terbakar. Jemarinya menari panik di atas tablet yang layarnya terus menampilkan pesan ACCESS DENIED dalam blok merah menyala.

"Lift dimatikan, Pak!" teriak wanita itu tanpa menoleh. Suaranya bergetar. "Sistem utara terkunci total. Seseorang memblokir akses kita ke helipad!"

"Bobol manual! Pakai kode darurat!" Erwin meraung, wajahnya merah padam, urat-urat lehernya menonjol seperti kabel tegang. Pistol di tangan kanannya melambai liar, moncongnya sesekali mengarah padaku, lalu ke langit-langit, lalu ke punggung wanita itu.

"Sudah dicoba! Tidak bisa! Firewall-nya... ini bukan standar keamanan biasa. Ini enkripsi level nol. Hanya Adrian yang punya kuncinya!"

Mendengar nama itu, jantungku yang sedari tadi berpacu gila-gilaan justru merasakan sengatan aneh. Bukan takut, melainkan... kelegaan yang menyakitkan.

Adrian.

Dia benar-benar melakukannya. Dia tidak hanya datang; dia sedang meruntuhkan tempat ini batu demi batu. Getaran halus di lantai beton di bawah kakiku bukan sekadar efek mesin, tapi resonansi dari kemarahannya. Pria yang selama ini membenci kekacauan, kini menciptakan badai demi menemukanku.

"Lewat tangga darurat!" perintah Erwin, menyeretku memutar arah menuju pintu besi berat bertuliskan EMERGENCY EXIT.

Ia menendang pintu itu hingga terbuka. Angin dingin berbau oli dan debu menyembur keluar. Tangga beton itu curam, melingkar naik menuju kegelapan.

"Jalan!" Erwin mendorong punggungku dengan laras pistolnya. Dingin logam itu menembus kain tipis bajuku, mengirimkan sinyal bahaya langsung ke tulang belakang.

Aku tersandung di anak tangga pertama, lututku menghantam beton. Rasa perih menjalar instan, tapi aku menggigit bibir, menahan teriakan. Jangan terlihat lemah. Jangan beri dia kepuasan.

"Bangun!" bentaknya.

Aku memaksakan diri berdiri. Di pergelangan kakiku, di balik lipatan jeans, memori card kecil pemberian Adrian terasa menekan kulit. Benda sekecil kuku jari itu adalah satu-satunya senjataku, tapi apa gunanya kepingan data saat nyawaku ada di ujung pelatuk pistol orang gila?

Kami mendaki dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu darurat remang-remang. Napas Erwin memburu di belakangku, terdengar seperti geraman binatang buas yang terluka. Dia bukan lagi Erwin si manipulator licin yang bicara soal saham dan warisan. Dia adalah orang yang kehilangan segalanya, dan itu membuatnya jauh lebih berbahaya.

"Kau pikir dia akan menyelamatkanmu?" bisik Erwin tiba-tiba, suaranya menggema di lorong tangga yang sempit. Tawa kecil yang gila menyusul. "Adrian tidak peduli padamu, Arini. Dia cuma peduli pada egonya. Dia tidak terima mainannya diambil orang lain."

"Dia suamiku," jawabku, napasku tersengal. Entah dari mana keberanian itu datang. Mungkin karena aku tahu Adrian sedang mendengarkan, atau setidaknya, sedang mengawasi lewat sistem yang ia retas.

"Suami kontrak!" Erwin meludah ke samping. "Jangan lupa posisimu. Kau cuma aset. Dan aset yang rusak... biasanya dibuang."

Kami mencapai pintu teratas. Pintu menuju atap.

Wanita berkacamata itu sudah di sana, memukul-mukul panel kunci elektronik yang mati total. "Terkunci, Pak! Mekanisme magnetiknya di-override."

"Minggir!"

Erwin melepaskan cengkeramannya padaku sejenak, lalu mengarahkan pistolnya ke panel kunci.

DOR! DOR! DOR!

Tiga tembakan memekakkan telinga di ruang tertutup itu. Aku menjerit, menutup telinga dan merunduk. Percikan api dan pecahan plastik berhamburan. Bau mesiu yang tajam langsung memenuhi udara, menyengat hidung.

Erwin menendang pintu itu sekuat tenaga. Sekali. Dua kali.

Dengan suara krak yang menyedihkan, pintu besi itu menyerah. Terbuka lebar ke arah malam.

Angin kencang langsung menampar wajahku. Kami menghambur keluar ke area atap gedung, sebuah helipad luas yang dikelilingi pagar jaring baja. Langit Jakarta di atas kami memerah, di ufuk senja. Suasana yang dramatis, seolah semesta ikut menahan napas.

Namun, tidak ada helikopter.

Landasan itu kosong. Hanya ada lampu-lampu penanda landasan yang mati, dan angin yang menderu kencang, mengacak-acak rambutku hingga menutupi pandangan.

"Di mana pilotnya?!" Erwin berteriak, berputar liar mencari tanda-tanda kehidupan. "Sialan! Mereka meninggalkanku!"

Wanita asistennya mundur perlahan, wajahnya pucat pasi. "Pak... sepertinya komunikasinya diputus sejak sepuluh menit lalu..."

"DIAM!" Erwin berbalik dan menodongkan pistol ke arah wanita itu. Si wanita memekik, mengangkat kedua tangannya gemetar.

"Erwin, hentikan!" teriakku.

Erwin menoleh padaku, matanya liar. Senyum miring yang mengerikan terukir di wajahnya. "Ah, benar. Masih ada kau. Tiket emasku."

Ia menerjang maju, mencengkeram leherku dan menyeretku ke tengah landasan helipad. Angin malam menusuk tulang, tapi rasa dingin dari pistol yang kini ditekan kuat ke pelipis kananku jauh lebih membekukan.

Tiba-tiba, sirine di seluruh gedung mati.

Hening...

Keheningan yang datang begitu mendadak itu lebih mengerikan daripada kebisingan sebelumnya. Bahkan deru angin terasa senyap. Lampu-lampu merah yang berkedip di sekeliling atap padam, menyisakan kami dalam kegelapan remang yang hanya dibantu cahaya bias dari gedung-gedung pencakar langit di kejauhan.

Lalu, suara itu muncul.

Bukan dari manusia yang berdiri di sana, tapi dari pengeras suara besar yang terpasang di empat sudut helipad. Suara bariton yang rendah, tenang, dan sangat familiar. Suara yang biasanya membuatku kesal karena nadanya yang terlalu datar, tapi kini terdengar seperti melodi paling indah di dunia.

"Lepaskan dia, Erwin."

Suara Adrian. Teramplifikasi, bergema di seluruh atap, seolah-olah dia adalah malaikat penyelamat yang berbicara dari langit.

Erwin tersentak, kepalanya berputar mencari sumber suara. Ia mempererat pitingannya di leherku hingga aku terbatuk. "Keluar kau, pengecut! Tunjukkan wajahmu!"

"Kau sudah kalah," suara Adrian kembali terdengar. Tidak ada emosi di sana, hanya fakta dingin. "Akses rekening Swiss diblokir. Otoritas Singapura sudah mengamankan rumah sakit. Orang-orangmu sedang diringkus saat kita bicara."

"BOHONG!" jerit Erwin. "Aku masih punya kuncinya! Aku punya istrimu!"

"Kau tidak punya apa-apa selain keputusasaan."

Ada jeda sejenak. Suara statis halus terdengar dari speaker, lalu nada suara Adrian berubah. Sedikit lebih rendah. Lebih... manusiawi.

"Rini... tutup matamu."

Perintah itu begitu lembut, kontras dengan situasi mematikan ini. Instingku langsung bereaksi. Tanpa berpikir, aku memejamkan mata rapat-rapat.

BLAR!

Cahaya putih menyilaukan meledak dari empat sudut atap. Lampu sorot stadion yang tersembunyi tiba-tiba menyala dengan kekuatan penuh, semuanya terfokus ke satu titik: Erwin.

Erwin menjerit kesakitan, matanya yang terbiasa dengan kegelapan mendadak buta sesaat oleh intensitas ribuan watt cahaya itu. Pegangannya di leherku melonggar karena kaget.

Ini kesempatanku.

Aku tidak berpikir. Aku tidak merencanakan. Tubuhku bergerak sendiri, didorong oleh adrenalin murni. Aku menyentakkan siku kananku sekuat tenaga ke belakang, menghantam ulu hati Erwin.

"Argh!" Erwin terbungkuk, pistolnya terayun menjauh dari kepalaku.

Aku melepaskan diri, berlari sempoyongan menjauh darinya, menuju ke arah pintu tangga darurat.

"JANGAN LARI, JALANG!"

Suara letusan pistol terdengar lagi. Sekali.

Sesuatu yang panas dan tajam menggores lengan kiriku, membuatku terhuyung. Tapi aku tidak berhenti. Aku tidak boleh berhenti.

"Adrian!" teriakku, entah pada siapa.

Di depan pintu tangga darurat, aku melihat bayangan bergerak. Pintu yang tadi kami dobrak kini terbuka lagi. Sosok tinggi tegap melangkah keluar dari balik cahaya lampu sorot, siluetnya tegas melawan latar belakang cahaya yang menyilaukan. Jas hitamnya berkibar ditiup angin, langkahnya panjang dan mantap, tidak ragu sedikitpun meski ada pistol yang mengarah padanya.

Erwin menyipitkan mata, berusaha melihat di tengah kebutaan sementaranya. Ia mengangkat pistolnya lagi, mengarahkannya lurus ke sosok itu.

"Mati kau, Adrian!"

"TIDAK!" Aku berbalik, hendak memperingatkan Adrian.

Tapi Adrian tidak melambat. Ia bahkan tidak berkedip. Ia terus berjalan maju, tatapannya terkunci pada Erwin dengan intensitas yang bisa membekukan neraka.

"Tembak saja," tantang Adrian, suaranya tidak lagi lewat pengeras suara, tapi langsung, berat, dan nyata. "Tembak aku, dan kau akan kehilangan satu-satunya alat tawar yang membuat polisi tidak menembak mati kepalamu detik ini juga."

Erwin ragu. Tangannya gemetar.

Dalam keraguan sepersekian detik itu, aku melihat titik merah laser muncul di dada Erwin. Satu titik. Dua titik. Tiga titik.

Dari gedung-gedung tinggi di sekitar Fasilitas B, para penembak jitu kepolisian sudah mengambil posisi.

Erwin menyadari situasi itu. Ia melihat titik merah di dadanya, lalu menatap Adrian, dan terakhir menatapku yang berdiri terpaku di pinggir helipad.

Wajahnya berubah. Dari kemarahan menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap. Keputusasaan total.

"Baik," bisik Erwin, senyum gila itu kembali. "Kalau aku tidak bisa menang... tidak ada yang bisa menang."

Bukannya menyerah, Erwin justru berbalik cepat. Bukan ke arah Adrian. Bukan ke arah polisi.

Dia berlari ke arahku.

Jarak kami hanya tiga meter. Aku mencoba mundur, tapi tumitku membentur pagar pembatas helipad. Di belakangku hanya ada jurang kosong setinggi dua puluh lantai.

"RINI!!!" Teriakan Adrian pecah, penuh kepanikan yang belum pernah kudengar seumur hidupku.

Erwin menerjangku, bukan untuk menangkap, tapi untuk mendorong. Tubuhnya menabrakku dengan kekuatan penuh, membawa kami berdua menghantam pagar jaring baja yang tua dan berkarat.

Dunia berputar. Suara besi berderit ngeri. Dan tanah di bawah kakiku hilang.