Romansa #CEO #Romansa CEO

Gravitasi dan Gema

Penulis djoedo
25 January 2026

"Dunia berputar. Suara besi berderit ngeri. Dan tanah di bawah kakiku hilang."

Angin malam menampar wajahku, merampas napas dari paru-paru. Gravitasi bukan lagi teori fisika; ia adalah monster yang menarikku ke neraka. Aku tidak sempat berteriak. Jeritan itu tertahan di tenggorokan, tersumbat oleh sensasi jatuh bebas yang membuat perutku mual luar biasa.

Di atasku, langit Jakarta yang hitam menjauh dengan cepat. Di bawahku, kegelapan menganga.

BRAKK!

Tubuhku menghantam sesuatu yang keras namun membal. Jaring. Jaring pengaman proyek.

Napasku tersentak keluar dalam satu hembusan kasar. Rasa sakit meledak di bahu kanan dan pinggulku. Jaring nilon tebal itu melesak ke bawah menahan bobot kami, berderit protes, lalu memantul liar. Aku terpelanting, berguling di atas anyaman kasar yang menggesek kulitku seperti amplas.

"Argh!"

Erwin mendarat dua meter dariku. Dia mengerang, berguling memegangi rusuknya. Pistolnya terlempar entah ke mana, hilang ditelan gelap malam.

Kami tersangkut di safety net yang terpasang di lantai 25, lima lantai di bawah helipad. Di bawah jaring ini, tidak ada apa-apa selain udara kosong dan beton parkiran yang menunggu ratusan meter di bawah sana.

"RINI! ARINI!"

Teriakan itu datang dari atas. Suara Adrian. Pecah, panik, dan begitu putus asa hingga merobek hatiku lebih sakit daripada hantaman tadi.

Aku mendongak. Di bibir helipad yang kini terlihat jauh, sebuah siluet membungkuk di atas pagar yang jebol. Lampu sorot helipad membentuk halo di belakang tubuhnya, membuatnya tampak seperti malaikat yang jatuh.

"Adri..." suaraku nyaris tak terdengar, hilang ditelan angin kencang.

"Jangan bergerak! Aku turun!" teriak Adrian lagi. Suaranya bergetar. Sang CEO yang selalu tenang, yang selalu memegang kendali, kini terdengar seperti anak kecil yang ketakutan.

Tapi Erwin bergerak lebih dulu.

Pria itu merangkak di atas jaring yang bergoyang-goyang, matanya liar seperti binatang terpojok. Darah mengalir dari pelipisnya, membuat wajahnya tampak seperti topeng setan. Dia tidak peduli pada rasa sakit. Kebencian murni menggerakkan otot-ototnya.

"Kita belum selesai, Ipar Sayang," desisnya. Napasnya memburu, uap putih keluar dari mulutnya.

Dia menerjangku.

"Lepas!" Aku menendang wajahnya dengan sisa tenaga. Tumit sneakers-ku menghantam hidungnya.

Krak.

Erwin melolong, tapi tangannya justru mencengkeram pergelangan kakiku. Cengkeramannya sekuat besi. Dia menarikku mendekat, membuat jaring di bawah kami berguncang hebat. Kami terombang-ambing di atas jurang kematian.

"Kalau aku mati, kau ikut mati!" raungnya. Darah segar mengucur dari hidungnya, menetes ke wajahku.

"Lepaskan dia, Erwin!" Suara Adrian terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Dia pasti sedang menuruni tangga darurat atau scaffolding.

Sebuah titik merah laser tiba-tiba menari di dada Erwin. Sniper.

"Tembak!" teriakku dalam hati. "Tembak bajingan ini!"

Tapi Erwin tahu. Dia menyentakkan tubuhku, memelukku dari belakang, menjadikan tubuhku sebagai tameng hidup. Titik merah itu berpindah ke bahuku, lalu menghilang. Para penembak jitu tidak berani mengambil risiko.

"Pintar," gumam Erwin di telingaku. Bau keringat, darah, dan kegilaan menguar darinya. "Ayo, kita cari tempat yang lebih privat."

Dia menyeretku paksa ke arah balkon beton yang belum jadi—kerangka bangunan Fasilitas B yang masih terekspos. Jaraknya hanya satu meter dari ujung jaring.

"Jalan!" bentaknya sambil memelintir lenganku.

Aku meringis, air mata menumpuk di sudut mata. Lututku yang memar gemetar hebat saat aku memanjat keluar dari jaring menuju lantai beton yang dingin dan berdebu. Begitu kaki kami memijak lantai keras, Erwin langsung mendorongku masuk ke dalam kegelapan gedung.

Kami berada di lantai yang belum selesai. Tidak ada dinding penyekat, hanya pilar-pilar beton raksasa dan tumpukan material konstruksi. Kabel-kabel menjuntai dari langit-langit seperti usus yang terburai. Gelap gulita, hanya diterangi bias cahaya kota yang masuk samar-samar dari kejauhan.

"Adrian!" teriakku, berharap suaraku bisa menjadi penunjuk arah.

"Diam!" Erwin menampar pipiku. Keras. Panas menjalar di wajahku, telingaku berdenging.

Dia menyeretku lebih dalam, menjauh dari sisi luar gedung, menjauh dari jangkauan pandangan sniper. Kami masuk ke labirin beton yang sunyi.

Tiba-tiba, suara kresek statis terdengar, diikuti suara yang memenuhi seluruh lantai. Suara itu datang dari speaker darurat yang terpasang di pilar-pilar.

"Erwin."

Suara Adrian. Menggelegar, dingin, dan tajam. Dia telah meretas sistem audio gedung ini sepenuhnya. Gema suaranya memantul di dinding-dinding beton, menciptakan efek horor yang mencekam. Seolah-olah Adrian adalah gedung ini sendiri.

Erwin berhenti, menatap langit-langit beton dengan napas tersengal. Dia tertawa kecil, tawa yang tidak waras.

"Lepaskan istriku," lanjut suara Adrian. "Gedung itu sudah dikepung. Asetmu sudah beku. Kau tidak punya apa-apa lagi. Jangan tambah daftar dosamu."

"Dosa?" Erwin berteriak pada pilar beton, suaranya pecah. "Kau bicara soal dosa, Kak? Kau yang mencuri segalanya dariku! Perhatian Kakek, posisi CEO, dan sekarang kau mau berlagak jadi pahlawan?"

Dia mencengkeram rahangku, memaksaku menatapnya. Matanya nanar. "Dengar itu, Arini? Suamimu terdengar sangat heroik. Sayang sekali dia terlambat."

Erwin menarikku lagi. Kami berlari—atau lebih tepatnya, dia menyeretku—melewati lorong-lorong gelap. Kakiku tersandung tumpukan besi, tapi dia tidak membiarkanku jatuh. Rasa perih di lutut dan siku sudah tak terasa lagi, tertutup oleh adrenalin.

Otakku bekerja cepat. Pikir, Arini. Pikir.

Aku masih punya kartu memori itu di saku celanaku. Satu-satunya bukti yang bisa membersihkan nama Adrian dan menghancurkan Erwin. Tapi benda kecil itu tidak berguna jika aku mati di sini.

Aku harus memisahkan diri.

Di depan kami, ada percabangan lorong. Ke kiri tampak seperti area lift barang yang belum jadi, ke kanan adalah area dengan banyak sekat ruangan—mungkin calon kantor.

"Adrian ada di tangga darurat sisi utara," bisikku dalam hati, mengingat denah yang sempat kulihat sekilas di tablet asisten wanita tadi. Kami sekarang bergerak ke selatan. Semakin jauh dari Adrian.

"Aku tahu kau di Lantai 25, Erwin," suara Adrian kembali menggema, kali ini nadanya lebih rendah, lebih mengancam. "Aku mematikan semua akses lift. Kau terkurung bersamaku."

Erwin menggeram. Dia melihat sebuah pintu besi tebal bertuliskan UTILITY ROOM. Dia menendang pintu itu terbuka dan melemparku masuk.

Aku jatuh tersungkur di lantai yang penuh debu semen. Ruangan itu sempit, penuh dengan pipa-pipa besar dan panel listrik. Tidak ada jalan keluar lain.

Erwin masuk dan membanting pintu besi itu tertutup. Dia memutar kunci slot besar di bagian dalam.

Klik.

Bunyi itu mematikan harapanku.

Erwin bersandar di pintu, napasnya berat. Dia merosot duduk, menatapku dengan seringai lelah namun puas. Di dalam ruangan sempit ini, hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari ventilasi udara di bagian atas dinding. Cukup untuk melihat kilatan gila di matanya.

"Nah," katanya parau. Dia merogoh saku celananya. Aku menahan napas, mengira dia akan mengeluarkan senjata lain.

Tapi dia mengeluarkan sebuah pemantik api besi Zippo. Dia memainkannya. Ctek. Ctek. Api kecil menari-nari, menerangi wajahnya yang penuh darah.

"Kau tahu kenapa aku memilih tempat ini, Arini?" tanyanya pelan.

Aku mundur sampai punggungku menabrak pipa dingin. "Karena kau pengecut yang suka bersembunyi di lubang tikus?"

Erwin tertawa. "Mulutmu tajam juga. Cocok untuk Adrian." Dia mematikan api, membuat ruangan kembali remang. "Bukan. Karena ruangan ini kedap suara. Dan sistem pemadam apinya... well, belum terpasang."

Dia melangkah maju perlahan. Bayangannya memanjang, menelanku.

"Adrian bisa meretas lift, lampu, dan speaker. Tapi dia tidak bisa meretas fisik. Dia tidak bisa menembus pintu baja ini tanpa alat berat. Dan saat dia berhasil masuk nanti..."

Erwin menyalakan pemantiknya lagi, kali ini mendekatkannya ke tumpukan kain majun berminyak dan kaleng tiner yang tergeletak di sudut ruangan, sisa-sisa pekerjaan tukang cat.

"Dia hanya akan menemukan abu."

Jantungku berhenti. Dia tidak berencana menyanderaku lagi. Dia berniat membakar kami berdua.

"Kau gila," bisikku.

"Aku sudah kalah, Arini," bisiknya lembut, nyaris mesra. Api mulai menyambar kain di ruangan itu. Lidah api oranye mulai menjilat naik, menerangi ruangan dengan cahaya neraka. "Kalau aku tidak bisa memiliki Mahardika Group, maka Adrian juga tidak boleh memilikinya. Dan cara terbaik menghancurkan Adrian bukanlah dengan mengambil perusahaannya..."

Dia menatapku, matanya memantulkan kobaran api yang mulai membesar.

"...tapi dengan mengambil satu-satunya hal yang membuat jantungnya berdetak lagi."

Asap hitam mulai mengepul, menyesakkan dada. Panas mulai menyengat kulit. Di luar pintu, aku mendengar gedoran keras dan teriakan Adrian yang teredam.

"ARINI! BUKA!!!"

Erwin hanya tersenyum, berdiri diam di antara aku dan pintu, membiarkan api merayap di belakang punggungnya.

Aku terperangkap. Di depanku ada orang gila, di belakangku tembok beton, dan di sekelilingku api mulai menyala.