Aku terperangkap. Di depanku ada orang gila, di belakangku tembok beton, dan di sekelilingku api mulai menyala.
Panas itu tidak datang perlahan. Ia menyergap, buas dan lapar. Cairan tiner yang ditumpahkan Erwin di lantai beton menyambar nyala api dari Zippo-nya dengan kecepatan mengerikan. Dalam hitungan detik, garis api membelah ruangan sempit itu menjadi dua kubu: aku yang terpojok di sudut bersama tumpukan pipa bekas, dan Erwin yang berdiri di tengah kobaran dengan wajah berlumuran darah.
"Indah, kan?" Erwin merentangkan tangannya. Darah segar masih mengalir dari hidungnya yang patah akibat tendanganku tadi, bercampur dengan jelaga yang mulai menempel di kulitnya yang pucat. Ia tidak terlihat kesakitan. Ia terlihat kegirangan. "Ini panggung terakhir kita, Arini. Tidak ada konferensi pers, tidak ada skandal. Hanya abu."
"Kau gila, Win!" Aku berteriak, suaraku parau karena asap hitam mulai mengisi paru-paru. "Kau mau mati konyol di sini?"
"Aku sudah mati sejak Adrian mengambil semuanya!" balasnya, suaranya melengking di atas gemuruh api. "Mahardika Group, kepercayaan Kakek, dan sekarang kau... satu-satunya hal yang bisa membuat manusia es itu merasakan sakit."
BAM!
Pintu baja di belakang Erwin bergetar hebat. Suara hantaman logam bertemu logam terdengar memekakkan telinga, bahkan mengalahkan suara api yang melahap sisa-sisa kain majun berminyak di sudut ruangan.
"RINI! ARINI!"
Teriakan itu teredam tebalnya pintu, tapi aku mengenalnya. Itu suara Adrian. Bukan suara CEO yang dingin dan penuh kalkulasi, tapi suara seorang pria yang sedang dikuasai kepanikan yang luar biasa.
"ADRIAN!" Aku membalas teriakannya sekuat tenaga, meski tenggorokanku rasanya seperti diparut kaca. "AKU DI SINI! JANGAN MASUK! ADA API!"
"BUKA PINTUNYA! MINGGIR DARI PINTU!" Adrian kembali menghantam daun pintu itu. BAM! BAM! BAM!
Erwin tertawa terbahak-bahak. Ia menendang kaleng tiner kosong ke arah api, membuat jilatan merah itu melambung tinggi, nyaris menyentuh langit-langit ruangan yang rendah. Asap hitam bergulung-gulung, menciptakan awan kematian di atas kepala kami.
"Dengar itu?" Erwin menunjuk ke arah pintu dengan dagunya. "Dia terdengar putus asa. Manis sekali. Si jenius Adrian Mahardika, tidak berdaya melawan selembar pintu baja."
Aku terbatuk hebat, menutup hidung dengan lengan jaketku yang sudah sobek. Mataku perih, air mata refleks keluar bukan karena sedih, tapi karena iritasi asap. Bahu kananku yang cedera saat jatuh dari helipad berdenyut nyeri, seolah tulangku sedang digergaji perlahan.
Aku harus berpikir. Aku harus keluar dari sini.
Tanganku meraba saku celana. Kartu memori itu masih ada di sana. Benda kecil yang berisi bukti kejahatan Erwin, bukti ketidakbersalahan Adrian, dan kunci kebebasan kami. Tapi apa gunanya bukti itu jika kami hangus di sini?
"Erwin, dengarkan aku," aku mencoba bernegosiasi lagi, meski tahu rasanya sia-sia. Aku menatap matanya yang liar. "Adrian tidak pernah membencimu. Dia..."
"DIAM!" Erwin melempar potongan besi ke arahku. Benda itu meleset, menghantam dinding di samping kepalaku, menciptakan percikan bunga api. "Jangan bicara seolah kau tahu apa-apa! Kau hanya istri kontrak! Pelacur korporat yang dia beli untuk menyenangkan Kakek!"
Kata-kata itu menusuk, tapi aku tidak punya waktu untuk tersinggung. Suhu ruangan meningkat drastis. Keringat mengucur deras di punggungku, bercampur dengan debu semen. Oksigen menipis.
Di luar, hantaman berhenti sejenak. Hening yang mengerikan. Lalu terdengar suara mesin yang menderu. Bukan suara mobil, tapi sesuatu yang lebih tajam.
Kreeeek...
Suara logam yang digurinda atau dipaksa bengkok.
"Arini! Mundur ke pojok paling jauh!" Suara Adrian terdengar lebih jelas sekarang, seolah dia menempelkan mulutnya di celah ventilasi kecil di bagian bawah pintu. "Aku akan mendobrak kuncinya!"
"Adrian, jangan!" pekikku. "Erwin berdiri tepat di depan pintu! Dia akan..."
"Biarkan dia masuk!" potong Erwin. Ia mencabut sebatang besi cor dari tumpukan sampah konstruksi, menggenggamnya seperti tongkat pemukul. Wajahnya menyeringai di balik tirai api. "Biar dia lihat sendiri bagaimana wanitanya terbakar."
Aku melihat sekeliling dengan panik. Tidak ada jendela. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu baja itu, yang kini panasnya mungkin sudah bisa melepuhkan kulit. Di depanku, api mulai merambat ke tumpukan kayu bekisting yang kering. Jika tumpukan itu terbakar, seluruh ruangan ini akan menjadi oven raksasa dalam hitungan menit.
Rasa takut yang sesungguhnya mulai merayap naik. Bukan takut sakit, tapi takut kehilangan kesempatan.
Aku teringat tatapan Adrian. Dingin, kecewa, penuh tuduhan. Dia mengira aku mengkhianatinya. Dia mengira aku menjualnya demi uang. Dan sekarang, dia ada di balik pintu itu, mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku, tanpa tahu bahwa aku tidak pernah berniat meninggalkannya.
Aku tidak mau mati dengan menyisakan kesalahpahaman ini.
"Adri..." bisikku, air mata mulai mengalir, kali ini karena rasa sesak di dada yang tak tertahankan.
Aku memaksakan kakiku untuk berdiri, mengabaikan rasa sakit di pinggul dan lutut. Aku tidak akan mati meringkuk seperti korban. Jika ini akhir ceritaku, aku akan menghadapinya dengan berdiri.
"Kau mau ke mana, Tuan Putri?" ejek Erwin, melangkah maju menerobos asap. Panas api membuat kulit wajahnya memerah, tapi dia seperti tidak merasakannya. Adrenalin dan kebencian telah mematikan saraf-sarafnya.
"Aku tidak takut padamu, Win," kataku, meski lututku gemetar. "Kau mungkin bisa membunuhku, tapi kau tidak akan pernah menang. Adrian akan tetap hidup, dan dia akan membangun kembali semuanya. Tanpamu."
Rahang Erwin mengeras. Provokasiku berhasil. Dia meraung marah dan menerjang menembus lidah api, mengayunkan besi di tangannya ke arahku.
Aku menghindar ke samping, tapi gerakanku lambat karena cedera. Besi itu menghantam tembok di belakangku, merontokkan plesteran semen. Puing-puing kecil menghujani rambutku.
Erwin berbalik, bersiap mengayun lagi. Jarak kami hanya dua meter sekarang. Panas dari tubuhnya—atau mungkin dari api di belakangnya—terasa menyengat.
BLAM!!!
Hantaman dari luar kali ini begitu keras hingga engsel pintu bagian atas terlihat melengkung ke dalam. Cahaya senter menyelinap masuk dari celah yang terbuka, membelah kegelapan asap seperti pedang cahaya.
"ARINI!"
Itu suara Adrian. Jelas. Dekat.
Erwin teralihkan. Dia menoleh ke pintu yang mulai menyerah itu. Kesempatan.
Aku tidak berpikir panjang. Dengan sisa tenaga terakhir, aku menerjang Erwin. Bukan untuk memukulnya, tapi untuk mendorongnya menjauh dari pintu, memberi ruang bagi Adrian untuk masuk.
Tubuhku menabrak tubuh Erwin. Kami berdua terhuyung. Erwin kehilangan keseimbangan karena lantai yang licin oleh tiner, dan kami jatuh berguling ke arah yang salah.
Ke arah api.
Panas yang menyengat langsung menyambar lengan kiriku. Aku menjerit, berguling menjauh secara insting. Bau kain terbakar dan rambut hangus menusuk hidung.
Erwin mengerang, tapi dia lebih cepat bangkit. Dia menendang perutku, membuatku terlempar kembali ke sudut dingin. Napasku putus. Pandanganku berkunang-kunang.
"Dasar bodoh!" teriak Erwin, mengangkat besinya tinggi-tinggi.
Di saat yang sama, pintu baja itu akhirnya menyerah. Dengan suara krak yang mengerikan, kunci slot besar itu patah. Pintu terbuka lebar setelah ditendang dengan kekuatan penuh.
Sosok tinggi dengan kemeja putih yang sudah kotor dan lengan digulung berdiri di sana, siluetnya diterangi lampu darurat koridor. Adrian.
Dia tampak berantakan. Rambutnya acak-acakan, ada luka gores di pelipisnya, dan dadanya naik turun memburu oksigen. Tapi matanya... matanya mencari satu hal.
Matanya menemukanku yang terkapar di sudut.
Lalu tatapannya beralih ke Erwin yang berdiri di atasku dengan besi terangkat.
Waktu seolah berhenti.
"Lepaskan dia," geram Adrian. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang begitu pekat hingga rasanya lebih panas dari api di ruangan ini.
Erwin tersenyum, darah menetes dari dagunya. Dia tidak menurunkan senjatanya. Dia justru memutar tubuh, menjadikan aku sebagai tameng hidup, dan mendekatkan besi itu ke kepalaku.
"Satu langkah lagi, Kakakku sayang," desis Erwin, matanya berkilat gila, "dan aku akan pecahkan kepala istrimu seperti semangka."
Api di belakang Erwin membesar, menjilat langit-langit, dan mulai meruntuhkan instalasi kabel di atas kami. Puing-puing berapi mulai berjatuhan, menciptakan hujan bara di antara Adrian dan kami.
Adrian membeku di ambang pintu. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, buku-buku jarinya memutih. Dia menatapku. Ada kepedihan, ketakutan, dan cinta yang begitu besar di sana.
"Jangan lakukan hal bodoh, Win," kata Adrian, suaranya melunak, mencoba taktik negosiasi. Tapi aku melihat kakinya bergeser sedikit, menumpukan berat badan, bersiap untuk menerjang.
"Terlambat," bisik Erwin.
Suara gemeretak di atas kami semakin keras. Balok kayu penyangga perancah bekisting yang sudah terbakar habis patah.
"AWAS!" teriak Adrian.
Dia tidak peduli pada ancaman Erwin. Dia berlari menembus tirai api, menerjang ke arah kami tepat saat langit-langit runtuh.