Romansa #CEO #Romansa CEO

Neraka di Lantai Dua Lima

Penulis djoedo
25 January 2026

Dunia runtuh dalam satu tarikan napas.

Bukan hanya metafora. Langit-langit beton di atas kami benar-benar menyerah pada gravitasi, mengirimkan hujan debu, kayu membara, dan bongkahan semen sebesar kepalan tangan.

Aku memejamkan mata, meringkuk, menanti hantaman yang akan mengakhiri segalanya.

Namun, rasa sakit itu tidak datang.

Sebaliknya, sebuah beban berat menabrakku. Bukan dingin dan keras seperti beton, melainkan hangat, padat, dan hidup. Tubuh itu membantingku ke lantai, menudungiku sepenuhnya, menciptakan kepompong manusia di tengah kiamat kecil ini.

BRAKK!

Suara reruntuhan menghantam lantai di sekitar kami terdengar seperti ledakan bom. Lantai bergetar hebat. Debu menyengat masuk ke hidung, menyumbat paru-paru. Panas api menjilat-jilat di pinggiran kesadaranku, tapi di sini, di bawah kungkungan tubuh ini, aku merasakan detak jantung yang berpacu gila-gilaan menempel di punggungku.

Aroma itu. Di antara bau thinner yang menyengat dan daging terbakar, aku menciumnya. Musk, cedarwood, dan keringat dingin.

Adrian.

Hening sejenak. Hanya ada suara gemeretak api yang melahap kayu dan desis napas kasar di telingaku.

"Rini?" Suaranya parau, retak oleh asap dan kepanikan. "Rini, jawab aku."

Aku terbatuk, mencoba membalikkan badan. Adrian segera bergeser, memberiku ruang tapi tetap menahan bahuku, seolah takut aku akan hancur jika ia melepaskannya. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.

Ya Tuhan.

Wajah itu kacau. Ada luka gores memanjang di pelipisnya, darah segar mengalir bercampur jelaga. Kemeja putih mahalnya, yang biasa licin tanpa cela kini terkoyak di bagian lengan, memperlihatkan kulit yang memerah karena panas. Tapi matanya... mata itu menatapku dengan intensitas yang membuatku lupa cara bernapas.

Tidak ada kemarahan. Tidak ada tuduhan pengkhianatan. Hanya ada ketakutan yang murni. Takut akan kehilangan.

"Adri..." Suaraku nyaris tak terdengar, tenggorokanku perih seperti diamplas. "Kamu... kenapa kamu masuk? Kamu bisa mati!"

"Diam," desisnya tajam, tapi tangannya gemetar saat menyeka debu dari pipiku. Ia memindai tubuhku dengan cepat, bahu kananku yang memar, lututku yang lecet, lengan kiriku yang melepuh. Rahangnya mengeras saat melihat luka bakar itu. "Apa dia menyentuhmu?"

Sebelum aku sempat menjawab, tawa melengking memecah momen itu.

"Ah, reuni keluarga yang mengharukan."

Adrian menegang. Ia perlahan bangkit, menarikku untuk berdiri di belakang punggungnya. Tubuhnya menjadi tembok di antara aku dan dunia.

Di sudut ruangan, terpisah oleh tirai api yang tercipta dari reruntuhan langit-langit, Erwin berdiri. Ia terlihat seperti iblis yang bangkit dari neraka. Separuh wajahnya tertutup darah dari hidung yang patah, rambutnya hangus di beberapa tempat, tapi ia masih menggenggam besi rebar itu erat-erat. Ia tidak terlihat kesakitan; adrenalin dan kegilaan telah mematikan saraf-sarafnya.

"Kau benar-benar datang, Adrian," seru Erwin, suaranya harus berteriak untuk mengalahkan deru api. "Aku kira kau lebih pintar. Aku kira kau akan membiarkan 'pengkhianat' ini hangus."

"Kau sakit, Erwin," balas Adrian dingin. Suaranya tenang, kontras dengan dadanya yang naik turun menahan amarah. "Letakkan besinya. Kita keluar dari sini."

"Keluar?" Erwin tertawa lagi, kali ini lebih keras, lebih gila. Ia menunjuk ke arah pintu baja tempat Adrian tadi menerobos masuk.

Aku menoleh dan menahan napas.

Reruntuhan langit-langit tadi telah memblokir pintu itu sepenuhnya. Tumpukan beton dan kayu yang terbakar membentuk barikade setinggi dua meter. Kami terjebak. Benar-benar terjebak di dalam kotak beton yang kini berubah menjadi oven raksasa.

"Tidak ada jalan keluar, Kakakku sayang," Erwin menyeringai, matanya berkilat memantulkan lidah api. "Kita akan selesai di sini. Bersama. Seperti yang seharusnya."

Adrian tidak melihat ke arah pintu. Ia terus menatap Erwin, waspada terhadap setiap gerakan. Tangan kirinya meraba ke belakang, mencari tanganku, lalu menggenggamnya erat. Jemarinya dingin, tapi genggamannya sekuat baja.

"Dengar aku," bisik Adrian tanpa menoleh, suaranya rendah hanya untukku. "Saat aku bergerak, kau lari ke sudut dekat pipa air itu. Ada celah di sana. Berlindunglah."

"Tidak," tolakku cepat. "Aku tidak akan meninggalkanmu."

"Arini, ini perintah!"

"Persetan dengan perintahmu!" Aku meremas tangannya balik, air mata mulai mengaburkan pandanganku. Asap semakin tebal, membuat kepala terasa ringan. "Kau pikir aku akan membiarkanmu mati konyol di sini setelah kau menuduhku macam-macam? Kita harus bicara, Adrian! Aku punya bukti! Aku tidak pernah mengkhianatimu!"

Adrian tersentak. Ia menoleh sedikit, menatapku dari sudut matanya. Ada keraguan di sana, tapi juga harapan yang menyakitkan. "Bukti?"

"Memory card," kataku cepat, menepuk saku celanaku yang kotor. "Semua rekaman Erwin. Semuanya ada di sini."

"Cukup berbisiknya!" raung Erwin.

Ia tidak menunggu lagi. Dengan teriakan liar, Erwin menerjang menembus api, mengayunkan besi rebar itu ke arah kepala Adrian.

"Awas!" teriakku.

Adrian bergerak cepat. Ia mendorongku menjauh hingga aku terjerembap ke lantai, lalu menangkis ayunan besi itu dengan lengan kirinya yang terbalut jas.

BUKK!

Bunyi tulang beradu dengan logam membuat perutku mual. Adrian mengerang tertahan, tapi ia tidak mundur. Ia memanfaatkan momentum itu, menghantamkan bahu kanannya ke dada Erwin.

Mereka berdua jatuh berguling di lantai yang panas. Debu berterbangan. Erwin, yang didorong oleh gila, memiliki tenaga yang tidak masuk akal. Ia mencekik leher Adrian, menekan tubuh Adrian ke lantai beton.

"Mati kau! Mati kau mengambil semuanya dariku!" teriak Erwin, ludahnya muncrat ke wajah Adrian.

Adrian memukul rusuk Erwin, tapi Erwin tidak bergeming. Wajah Adrian mulai memerah, napasnya tersendat.

Aku tidak bisa hanya diam. Rasa sakit di kakiku, perih di lenganku, semua itu tidak penting. Aku melihat sekeliling, mencari senjata. Mataku menangkap kaleng thinner kosong yang tadi ditendang Erwin. Tidak berguna.

Lalu aku melihatnya. Pecahan beton seukuran bata dengan ujung runcing, tergeletak tak jauh dari kakiku.

Aku menyambar batu itu, mengabaikan rasa panas yang menyengat telapak tangan, dan berlari ke arah mereka.

"Lepaskan dia!" jeritku.

Aku menghantamkan batu itu sekuat tenaga ke bahu Erwin.

Erwin melolong kesakitan. Cengkeramannya pada leher Adrian melonggar. Adrian tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menendang perut Erwin hingga pria itu terpental mundur, menabrak dinding yang mulai retak karena panas.

Adrian terbatuk-batuk, menghirup oksigen dengan rakus. Ia merangkak ke arahku, menarikku ke dalam pelukannya lagi.

"Kamu..." Adrian menatapku, napasnya memburu. "Kamu menyelamatkanku."

"Impas," jawabku, menyeka darah di pelipisnya dengan ujung lengan bajuku yang sobek.

Tapi kemenangan kecil itu semu.

Suara gemuruh baru terdengar dari atas. Struktur bangunan ini sudah mencapai batasnya. Panasnya kini tak tertahankan. Kulitku terasa seperti ditarik paksa. Asap hitam bergulung turun dari langit-langit, menekan kami semakin rendah ke lantai. Oksigen menipis.

Erwin tertatih-tatih bangkit di dekat dinding. Ia memegangi bahunya yang berdarah, tapi seringai di wajahnya semakin lebar.

"Kalian merasakannya?" tanya Erwin dengan suara serak. "Gedung ini... dia menangis. Lantai ini tidak akan bertahan lima menit lagi."

Adrian menarikku mundur hingga punggung kami menempel pada pipa-pipa panas di sudut ruangan. Ia memindai sekeliling dengan putus asa. Pintu tertutup reruntuhan. Langit-langit siap runtuh lagi. Dan Erwin menghalangi satu-satunya area yang belum terbakar hebat.

Adrian menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Matanya yang tajam kini basah. Bukan oleh air mata, tapi oleh keringat dan kepedihan yang dalam.

"Rini," bisiknya. "Maafkan aku."

Jantungku berhenti. "Jangan bicara seperti itu. Jangan bicara seperti perpisahan."

"Aku tidak percaya padamu," katanya, suaranya pecah. "Aku membiarkan egoku menguasai logika. Aku membiarkanmu sendirian menghadapi ini."

"Kita bahas itu nanti," potongku, menahan isak tangis. "Nanti, saat kita sudah keluar."

"Tidak ada jalan keluar, Sayang," balas Adrian lirih. Ia menempelkan keningnya ke keningku. "Lihat sekeliling."

Aku melihat. Api sudah mengepung kami 360 derajat. Asap semakin pekat, membuat pandangan menjadi gelap. Kesadaran mulai terasa licin, sulit dipegang.

Tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari bawah kaki kami.

Lantai beton itu miring.

Kami merosot. Aku menjerit, mencengkeram kerah kemeja Adrian. Adrian memeluk pinggangku dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencoba meraih pipa di dinding.

"Pegangan!" teriak Adrian.

Lantai di tengah ruangan ambrol, menciptakan lubang menganga yang memperlihatkan kerangka baja membara dan kegelapan lantai di bawahnya. Erwin, yang berdiri di sisi lain, tertawa histeris saat ia melompat mundur ke pijakan yang lebih aman.

Kami tergantung di sisa lantai yang miring, hanya ditahan oleh cengkeraman tangan Adrian pada pipa panas yang mulai melengkung.

"Adrian!" Aku melihat ke bawah. Jurang api menanti. "Pipa itu tidak akan kuat menahan kita berdua!"

Adrian menatapku. Tatapan yang sama saat ia melamarku di ruang kerjanya yang dingin. Penuh perhitungan. Penuh tekad.

"Kau benar," katanya pelan.

Lalu ia menatapku dengan senyum paling sedih yang pernah kulihat.

"Bertahanlah, Rini."

Sebelum aku mengerti apa maksudnya, Adrian mulai melonggarkan satu tangannya yang memelukku, bersiap untuk melakukan sesuatu yang gila. Sesuatu yang akan membuatnya jatuh sendirian.

"TIDAK!" jeritku, mempererat pelukanku di lehernya. "Jangan berani-berani! Kalau kau jatuh, aku ikut jatuh!"

Pipa di atas kami berderit panjang, sebuah baut terlepas, melenting ke dalam api. Kami meluncur turun sepuluh senti lagi.

Dan di seberang sana, di balik asap, bayangan Erwin mengangkat kembali besi rebar-nya, bersiap melemparnya ke arah tangan Adrian yang menjadi tumpuan hidup kami.

"Selamat tinggal, Brother," bisik Erwin.