Romansa #CEO #Romansa CEO

Pergulatan Hidup Mati

Penulis djoedo
25 January 2026

Kata-kata itu belum sempat menguap di udara panas ketika Erwin mengayunkan besi rebar di tangannya. Gerakannya liar, penuh nafsu membunuh yang tak lagi ditutup-tutupi.

"Adrian!" jeritku.

Bukan ke arah kepalaku atau tubuh Adrian besi itu melayang, melainkan ke arah jemari Adrian yang mencengkeram pipa panas, satu-satunya hal yang menahan kami dari jurang api di bawah sana.

TRANG!

Suara logam beradu dengan logam memekakkan telinga. Meleset. Besi itu menghantam pipa, hanya beberapa sentimeter dari jari manis Adrian. Getarannya merambat cepat, membuat pegangan Adrian goyah. Pipa tua itu mengerang, suara decitannya mirip jeritan hewan yang sekarat. Karat dan debu rontok, menimpa wajahku yang mendongak.

"Sial," umpat Erwin. Ia menyeka darah yang mengalir dari hidungnya yang patah dengan punggung tangan, lalu menyeringai. Gigi-giginya merah oleh darah. "Target bergerak memang lebih seru."

"Rini..." Suara Adrian terdengar parau, tercekik asap dan rasa sakit. Napasnya memburu, setiap tarikan udara terdengar menyakitkan. "Dengar aku."

"Tidak!" potongku cepat. Aku tahu arah pembicaraan ini. Aku bisa melihatnya dari cara Adrian menatapku, tatapan pasrah yang sama seperti saat ia menceritakan tentang Sarah. Tatapan orang yang siap pergi. "Jangan berani-berani kau berpikir untuk melepaskan tanganmu!"

"Pipa ini... tidak akan kuat menahan kita berdua," Adrian terbatuk hebat, wajahnya memerah padam karena darah yang mendesak ke kepala dan panas yang memanggang kulit. Keringat bercampur jelaga menetes dari dagunya, jatuh tepat di pipiku. "Erwin tidak akan berhenti. Kalau aku jatuh... beban berkurang. Kau bisa memanjat naik."

"Dan membiarkanmu mati konyol? Tidak!" Aku mempererat cengkeramanku pada lengan kemejanya yang robek. Kain mahal itu licin oleh keringat dan darah, tapi aku menanamkan kukuku menembus kain, menembus kulit, apa saja agar ia tidak lepas. "Aku punya buktinya, Adrian! Kartu memori itu... rekaman suara Erwin... semuanya ada di sakuku! Kita bisa memenjarakannya. Kita bisa kembali!"

Mata Adrian melebar sedikit. Harapan sekilas melintas di sana, namun segera tertutup bayangan besi rebar yang kembali terangkat di atas kami.

"Manis sekali," cemooh Erwin. Ia memutar-mutar besi itu di tangannya. Lantai tempatnya berdiri mulai retak, api menjilat-jilat dari celah beton di belakangnya, tapi kegilaan membuatnya buta pada bahaya. "Tapi pengadilan tutup hari ini. Vonis dijatuhkan sekarang."

Ia mengayun lagi. Kali ini lebih rendah. Lebih terarah.

Adrian menyentakkan tubuhnya, mencoba mengayunkan kami menjauh. Gerakan itu membuat bahuku serasa ditarik keluar dari soketnya. Rasa sakit meledak, membuat pandanganku memutih sesaat.

BUK!

Ujung besi menghantam bahu kiri Adrian.

Adrian mengerang, suara tertahan yang menyayat hati. Cengkeraman tangan kirinya pada pipa terlepas. Tubuhnya melorot. Kini, seluruh bobot tubuh kami, dua orang dewasa, hanya bertumpu pada satu tangan kanannya yang gemetar hebat dan cengkeramanku pada lengannya.

"ADRIAN!"

Pipa di atas kami melengkung tajam. Mur-mur penahannya di langit-langit mulai mencuat keluar satu per satu. Ting... ting... suara sekrup yang menyerah pada gravitasi.

"Lepaskan aku, Rini!" bentak Adrian. Ini pertama kalinya ia membentakku dengan nada sepanik itu. Bukan karena marah, tapi karena teror. "Kau akan ikut jatuh!"

"Biar saja!" Aku menangis, air mata langsung menguap karena panasnya udara. "Aku tidak mau hidup kalau cuma untuk mengingatmu mati!"

Di atas sana, Erwin tertawa terbahak-bahak melihat kami bergelantungan seperti mainan rusak. Ia mengangkat kakinya, bersiap menginjak jari-jari Adrian yang memutih karena menahan beban.

"Habislah kalian," desis Erwin.

Sepatu kulitnya melayang turun.

Namun, sebelum sol sepatu itu meremukkan tulang jari Adrian, sebuah ledakan tumpul terdengar dari dasar gedung. Bukan bom, tapi struktur utama yang akhirnya menyerah. Lantai tempat Erwin berdiri berguncang hebat. Beton di bawah kakinya retak seribu, miring curam ke arah kobaran api.

Erwin kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung mundur, tangannya menggapai-gapai udara kosong. Besi rebarnya terlepas, jatuh berdentang-dentang ke dalam jurang api di bawah kami, lalu lenyap ditelan asap hitam.

"Sialan!" teriak Erwin, kini merangkak menjauh dari tepi lantai yang runtuh, melupakan kami sejenak demi nyawanya sendiri.

Guncangan itu merambat ke pipa tempat kami bergantung.

KREK!

Suara logam patah itu lebih mengerikan daripada ledakan mana pun.

Pipa itu tidak putus, tapi engsel penahan di sisi terjauh, sisi yang dekat dengan dinding yang aman, tercabut dari beton.

"Pegangan!" teriak Adrian.

Dunia berputar.

Kami tidak jatuh lurus ke bawah. Karena salah satu ujung pipa masih menempel (meski sekarat), kami berayun. Seperti pendulum raksasa di dalam jam kiamat, kami terlempar melintasi chasm api, menjauh dari Erwin, menjauh dari lantai 25, menuju dinding kaca gedung di sisi seberang.

Angin panas menampar wajahku. Asap hitam mengisi paru-paru.

"Lindungi kepalamu!" Adrian menarikku ke dalam pelukannya, memutar tubuhnya di udara sehingga punggungnyalah yang akan menghantam apapun yang ada di depan kami. Ia menjadikan dirinya perisai daging untukku. Lagi.

PRANG!!

Kami menabrak dinding kaca tebal lantai 24. Kaca itu tidak pecah sepenuhnya, hanya retak membentuk jaring laba-laba raksasa, tapi benturannya cukup untuk membuat tulang rusuk Adrian berbunyi.

Kami terpental balik, lalu berayun lagi, kali ini lebih pelan, terombang-ambing di atas neraka. Pipa di atas sana berderit, menahan beban di sudut yang mustahil.

"Adrian?" panggilku lirih. Telingaku berdenging.

Tidak ada jawaban.

Kepala Adrian terkulai di bahuku. Matanya terpejam. Darah segar mengalir dari pelipisnya, membasahi kemeja putihnya yang kini lebih banyak berwarna merah dan abu-abu. Ia pingsan. Atau lebih buruk.

Tapi tangannya... tangan kanannya masih mencengkeram pipa itu. Kaku. Terkunci dalam spasme otot yang menolak melepaskan, bahkan dalam ketidaksadaran. Insting purba untuk tidak membiarkanku jatuh.

Kami tergantung mati langkah.

Di seberang sana, di tengah asap tebal, aku melihat bayangan Erwin bangkit lagi. Ia berdiri di sisa lantai yang masih utuh, menatap kami dengan napas tersengal. Jarak kami kini terlalu jauh untuk dijangkau dengan lompatan, tapi ia tersenyum.

Ia memungut sesuatu dari lantai. Bukan senjata. Tapi sebuah jerigen merah yang terguling, sisa-sisa bahan bakar konstruksi.

"Kalian keras kepala sekali," teriak Erwin, suaranya menggema aneh di ruang beton yang membara. Ia membuka tutup jerigen itu. "Kalau tidak bisa jatuh, biar kupanggang saja sampai matang."

Ia memiringkan jerigen itu. Cairan bening tumpah, mengalir deras ke tepi lantai, menetes tepat ke arah tumpukan puing kayu di bawah posisi kami bergelantungan.

Api di bawah sana menyambar cairan itu dalam sekejap. Lidah api melonjak naik, bukan lagi oranye, tapi biru dan putih menyilaukan. Panasnya langsung menyengat kakiku.

Aku menatap wajah Adrian yang pucat. Kami tidak bisa bertahan di sini. Pipa ini akan meleleh, atau kami yang akan terpanggang hidup-hidup dalam hitungan menit.

Aku harus melakukan sesuatu. Tapi dengan satu tangan memeluk pinggang Adrian yang tak sadarkan diri, dan satu tangan mencengkeram kain bajunya, pilihanku nyaris nol.

Mataku menangkap sesuatu di balik dinding kaca yang retak di depan kami. Ruangan kantor yang belum jadi. Kosong. Gelap. Tapi ada satu hal yang membuat jantungku berpacu: sebuah scaffolding (steger) besi yang berdiri dekat jendela.

Jaraknya mungkin dua meter dari posisi kami berayun.

Jika aku bisa mengayunkan tubuh kami... menabrak kaca itu sampai pecah... mungkin kami bisa melompat masuk.

Tapi itu artinya aku harus membangunkan Adrian. Aku butuh tenaganya. Aku tidak bisa mengayunkan beban dua orang sendirian.

"Adrian," bisikku, menepuk pipinya yang panas. "Bangun, Sayang. Kumohon, bangun."

Api di bawah kami meraung semakin tinggi. Panasnya mulai membakar sol sepatuku.

Adrian tidak bergerak.

Dan di seberang sana, Erwin mulai melempar korek api menyala ke arah sisa tumpahan bensin yang mengarah ke pangkal pipa kami.