BAB 2 : CEO Baru
Hari ini Ziva menjalankan tugasnya dengan tidak tenang. Pikirannya hanya tertuju pada nasibnya kelak di perusahaan itu. Ia menunduk menahan sebah di dada, hingga sebuah sepatu mendarat di ujung sapunya.
“Pak Reynald?” Buru-buru Ziva mengusap wajahnya.
“Kenapa melamun?” tanya orang yang sejak tadi diam-diam mencuri pandang pada Ziva.
“Ah, enggak, Pak.” Sosok yang menjawab menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Bapak kenapa ada di sini? Bukannya masih jam kerja?” Ziva melanjutkan kalimatnya.
“Sebentar lagi bakalan ada serah terima jabatan di Aula Maxwell Group dan saya terlibat di dalamnya.”
Kata-kata itu baru terlontar dari bibir Reynald, tetapi segerombolan orang sudah datang dari penjuru lain. Mereka adalah petinggi-petinggi kantor, tamu undangan dan … Sang CEO.
Ziva kembali melihat wajah sangar itu, hingga membuatnya mengingat kejadian tadi. Ziva dan Reynald menepi sejenak, membiarkan sekumpulan pria itu mendahului mereka.
“Yang di tengah itu namanya Erlando, dia CEO baru kita, Ziva. Kalau yang dua itu Willy dan Gio, mereka sepupu Erlando dan termasuk sebagai penerus Maxwell Group juga.” Reynald menjelaskan tanpa diminta.
Tidak ada respon sama sekali dari Ziva, meskipun ia mendengarkan ucapan Reynald. Pemandangan seperti itu membuat Reynald mulai curiga dan bertanya-tanya.
“Ziva, ada yang salah? Kamu kayak orang ketakutan?” Reynald mengutarakan apa yang ia saksikan.
“Pak Reynald, saya tadi ditabrak sama Erlando, tapi saya enggak tahu kalau dia CEO baru Maxwell Group.” Ziva menjeda kalimatnya.
“Terus?”
“Dan, saya marahin dia, Pak Reynald. Tamat sudah riwayat saya.”
Pada akhirnya Ziva berkata jujur tentang apa yang ia pendam beberapa jam belakangan ini. Alangkah terkejutnya Reynald, kala mendengar cerita yang Ziva sampaikan. Pantas saja wanita itu berkelakuan aneh tak seperti biasanya.
“Kalau begitu kamu harus cepat-cepat minta maaf pada Erlando. Nasibmu ada di tangannya, Ziva.”
Reynald memang termasuk orang penting di Maxwell Group, tetapi bukan berarti ia dapat menjamin nasib para pekerja, termasuk diri Ziva. Reynald iba sekali pada gadis itu. Sayangnya, ia tidak bisa membuat pembelaan, apalagi Ziva sudah berani-beraninya membentak Erlando.
“Setelah ini saya bakal temui CEO kita itu.” Ziva berseru agak gentar.
Siapapun tentu tak ingin kehilangan pekerjaan, apalagi kalau itu adalah mata pencaharian satu-satunya. Ziva sebagai korban, mau tak mau harus meminta maaf pada sang pelaku. Semua ia lakukan demi mempertahankan pekerjaan.
Ziva pun rela menanti hingga Erlando menyelesaikan urusannya di Aula. Dia akan melakukan apa saja, asal bisa mendapat maaf dari lelaki itu.
Acara berjalan lancar dan kondusif, kini resmi sudah Erlando menjadi CEO di Maxwell Group. Seberes kegiatan tersebut, ia dan kedua sepupunya masuk dalam sebuah ruangan. Mereka membicarakan banyak hal mengenai perusahaan, termasuk kejadian tadi pagi.
“Aku bakal memecat perempuan tidak tahu diri itu!” Erlando berseru ketus. Ia duduk dibangku kebesarannya, sementara Gio dan Willy ada di depan. Ketiganya terpisahkan oleh sebuah meja.
“Aku lagi banyak masalah dan dia malah datang memberi masalah.” Kembali Erlando mengeluarkan isi hatinya.
Willy tahu siapa gadis yang tadi memarahi Erlando. Dia adalah Ziva si Office girl berwajah cantik dan begitu rajin. Erlando tidak bisa memecatnya, karena peristiwa tadi, apalagi memang Erlando yang bersalah. Ia bisa rugi, jika kehilangan pekerja segigih Ziva.
“Jangan!” Sebuah kata yang membuat Erlando dan Gio menoleh ke arah Willy.
“Apa maksudmu, Wil? Kamu suka ngelihat aku dijatuhkan sama dia di depan umum?” seru Erlando tak suka.
“Aku yakin, kalau Ziva enggak kenal sama kamu, Erlando. Dia hanya ingin memperjuangkan kebenaran. Ya, jujur aja, memang kamu yang salah.”
“Ck!”
Kesal sekali ketika tahu, bahwa sepupunya sendiri membela orang lain. Erlando mengulum senyum licik. Kelak, dia akan melakukan pembalasan untuk gadis itu.
Willy dan Gio keluar ruangan setelah obrolan mereka usai. Keduanya membiarkan Erlando berkutat dengan tugas barunya.
Sementara itu di luar sana, seorang office girl berusaha untuk mengatur deru napasnya yang tak normal. Pekerjaannya sedang dipertaruhkan sekarang.
Ziva mengangkat tangan kanannya yang sedikit bergetar itu, lalu mengetuk pintu ruangan CEO baru Maxwell Group. Ia menarik kaki ragu-ragu, ketika ada perintah masuk dari dalam sana.
Ziva disambut dengan pandangan sinis dari sang CEO. Ia memilin ujung baju, menanti disuruh duduk. Naasnya, Erlando tak berkenan untuk mempersilakan ia bergerak dari tempat semula.
“Kamu perempuan yang tadi mencari masalah dengan saya, kan?”
“Maafkan saya, Mas, eh Pak.” Saking gugupnya Ziva sampai salah memberi sebutan.
“Mas? Siapapun boleh memanggil saya dengan sebutan Mas, selagi itu di luar jam kerja.” Erlando mengingatkan.
Bingung harus melakukan apa, akhirnya Ziva menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Ia kembali memohon maaf.
“Enggak ada pintu maaf untuk pekerja yang berani melawan atasannya,” kata Erlando dengan lantang.
“Saya enggak tahu, kalau ternyata Bapak adalah CEO baru di sini. Maafkan saya, Pak. Saya mohon.”
Biar pun dikatakan sebagai pengemis, Ziva rela tanpa mempermasalahkan itu semua. Dia benar-benar menyesali perbuatan dan berjanji tak akan membentak Erlando lagi apapun perkaranya.
“Lebih baik kamu keluar saja!”
Tidak ada yang tahu, kalau sebenarnya Erlando tengah terlibat masalah dengan kekasihnya yang bernama Celline. Beberapa waktu lalu wanita itu ketahuan selingkuh dan Erlando tidak tahu bagaimana kejelasan hubungan mereka, tetapi yang jelas ia amat murka. Pikirannya yang menumpuk itu kian ditimpa beban baru oleh kehadiran Ziva. Jika sudah begini, maka Erlando dapat melakukan apa saja, termasuk memecat Ziva sungguhan.
“Tapi saya membutuhkan pekerjaan ini, Pak. Tolong beri saya kesempatan sekali lagi. Saya rela melakukan apa saja asal mendapat maaf dari Bapak.” Sepasang matanya memejam, bersungguh-sungguh memohon maaf.
Ziva menyampaikan niat baiknya untuk memperbaiki diri. Namun, hal itu justru ditanggapi tidak serius oleh Erlando. Ia menyeringai mendengar kalimat akhir yang diucapkan oleh Ziva. Seketika ide untuk membuat perhitungan pada anak itu muncul. Ziva harus menerima pelajaran yang setimpal.
“Oh, begitu, ya? Kamu rela melakukan apa saja yang saya perintahkan?” Erlando bersandar pada kursi kebesarannya.
“Iya, Pak. Saya berjanji.” Ziva kelihatan benar-benar serius.
“Sekarang buatkan aku secangkir kopi!”
“Baik, Pak.”
“Tunggu!” Erlando menegakkan badannya begitu Ziva hendak berlari. “Kamu tidak boleh menggunakan lift, kamu harus menggunakan tangga darurat.”
Wanita itu meneguk salivanya sendiri dengan susah payah. Perusahaan itu telah mengizinkan agar seluruh pekerja di sana untuk naik turun gedung dengan lift, karena lantai yang begitu banyak. Konyolnya, Erlando malah meminta supaya Ziva menggunakan tangga darurat yang berarti dia harus menuruni ratusan anak tangga, karena ruangan untuk membuat kopi ada di lantai dua, sementara yang sekarang ini ia pijak adalah lantai enam.
“Apa?!”