Bab 6 Gejala

Penulis Iman-ha
25 January 2026

Perubahan itu tidak datang sebagai ledakan. Ia datang sebagai kebiasaan kecil yang salah. Uyan pertama kali menyadarinya dari bau.

Bukan bau busuk, bukan pula bau wangi. Bau itu tipis, seperti sisa hujan yang menempel di aspal panas. Ia muncul tanpa sumber jelas, mengambang di antara pagi dan siang, lalu menghilang sebelum sempat dipastikan.

Dewi mengira itu bau selokan. Luna dan Terra memperdebatkan antara bau sampah dan bau hewan. Uyan mengangguk. Penjelasan yang masuk akal selalu lebih mudah diterima daripada kecurigaan yang tak punya nama.

Namun bau itu mengikuti Uyan. Di ruang tamu. Di dapur. Di kamar mandi. Ia menempel pada pakaian bahkan setelah dicuci. Lebih aneh lagi, bau itu terasa akrab. Seolah tubuhnya mengenalnya lebih dulu sebelum pikirannya sempat menolak.

Hari-hari berjalan dengan tempo yang sama, tapi Uyan merasa ada jeda tambahan di antara gerak dan niat. Ketika ia menoleh, kepalanya bergerak sedikit lebih cepat dari keputusannya. Ketika ada suara jatuh, tubuhnya menegang lebih dulu sebelum pikirannya sempat bertanya apa yang terjadi.

Suatu sore, sendok terjatuh dari meja. Uyan tersentak, refleksnya tajam, matanya mengikuti lintasan benda itu sampai berhenti. Terlalu cepat. Terlalu fokus. Dewi menatapnya sebentar.

“Kamu kenapa?” tanya Dewi.

“Enggak,” jawab Uyan. Ia tertawa kecil. Tertawa yang datang terlambat.

Luna dan Terra terbengong tidak ikut tertawa. Mereka merasakan keanehan pada ayahnya.

Malam-malamnya berubah. Bukan mimpi buruk, tapi mimpi yang terlalu jelas untuk dilupakan. Ia bermimpi tentang lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah, tentang bau ikan basi dan sisa nasi, tentang dunia yang dilihat dari bawah. Dalam mimpi itu, suara menjadi lebih penting daripada bentuk. Setiap langkah memiliki makna. Setiap bayangan adalah kemungkinan ancaman.

Ia terbangun dengan jantung berdebar, bukan karena takut, melainkan karena rindu yang tidak ia pahami.

Di siang hari, pendengarannya terasa aneh. Ia mendengar hal-hal kecil yang sebelumnya tidak ia perhatikan: gesekan daun, langkah kaki di ujung gang, suara plastik diremas dua rumah dari tempat ia berdiri. Kadang suara itu membuatnya kesal. Kadang membuatnya waspada tanpa alasan.

Luna pernah menutup pintu terlalu keras. Uyan mendesis tanpa sadar. Suara pendek, nyaris tak terdengar. Ia terdiam, terkejut oleh bunyi yang keluar dari dirinya sendiri. Luna menatapnya bingung. Terra tertawa, mengira itu permainan.

Uyan mengurung diri di kamar mandi dan menatap cermin. Wajahnya sama. Tidak ada yang berubah. Mata masih mata manusia. Gigi masih rapi. Kulit masih kulit yang lelah oleh usia dan kegagalan. Tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang bergerak lebih pelan daripada perubahan fisik, namun lebih pasti.

Ia mulai menyukai duduk di lantai. Sofa terasa terlalu tinggi. Kursi terlalu formal. Lantai dingin memberinya ketenangan yang aneh. Dewi mengira itu tanda stres. Ia tidak sepenuhnya salah.

Makanan juga berubah. Nasi masih ia makan, tapi tanpa gairah. Ikan asin menarik perhatiannya lebih lama. Bau ayam goreng membuat perutnya bereaksi lebih cepat daripada biasanya. Ia menelan ludah lebih sering, malu pada dirinya sendiri.

Suatu malam, ia terbangun oleh suara yang tidak ada. Bukan suara di luar, melainkan gema di dalam kepalanya. Seperti panggilan yang tidak memakai bahasa. Ia duduk di ranjang, mendengarkan, mencoba memahami, tapi yang ia dapatkan hanya perasaan harus diam.

Dewi terbangun sebentar. “Kamu mimpi?”

“Kayaknya,” jawab Uyan. Ia tidak yakin.

Hari-hari berikutnya, ia mulai menghindari cermin. Bukan karena takut, melainkan karena cermin terasa seperti saksi yang terlalu jujur. Ia tidak ingin ditanya oleh pantulannya sendiri.

Bau itu semakin jelas baginya, meski orang lain tidak menyadarinya. Bau wilayah. Bau yang tidak ingin dibersihkan sepenuhnya. Ia mandi lebih sering, tapi selalu ada bagian dari dirinya yang merasa sayang ketika aroma sabun menghapus jejak yang tidak bisa ia sebutkan.

Ia kembali teringat kejadian itu—kucing yang mengencinginya, rasa asin yang tertelan tanpa sadar. Ingatan itu muncul bukan sebagai penyesalan, melainkan sebagai petunjuk yang terlambat dibaca.

Tubuh sering kali tahu lebih dulu daripada pikiran.

Uyan mulai bermimpi siang hari. Bukan tertidur, tapi melamun dengan intensitas yang aneh. Ia membayangkan atap-atap rumah sebagai jalur. Membayangkan lompatan, jarak, keseimbangan. Ia menguji kakinya di lantai, merasakan tekanan, berat, distribusi tubuh.

Ia tidak melompat. Tidak pernah. Tapi bayangan itu hadir dengan detail yang terlalu teknis untuk disebut khayalan.

Suara-suara di malam hari semakin ramai. Motor lewat terdengar seperti ancaman. Klakson kereta api seperti peringatan. Langkah orang asing membuat bahunya menegang. Sebaliknya, suara tikus di got membuatnya terjaga dengan rasa penasaran yang memalukan.

Pada suatu sore, Dewi menegurnya karena Uyan terlalu lama berdiri di depan jendela, menatap kegelapan yang belum sepenuhnya turun.

“Kamu lihat apa sih?” tanya Dewi.

Uyan membuka mulut untuk menjawab, lalu menutupnya lagi. Tidak ada jawaban yang bisa menjelaskan bahwa ia sedang menghitung jarak, memetakan wilayah, memastikan tidak ada yang mengintai.

“Enggak apa-apa,” katanya akhirnya.

Ia mulai berbicara lebih sedikit. Bukan karena tidak ingin, tapi karena kata-kata terasa lambat. Begitu juga saat ia mendengar orang bicara. Mendengarkan kata-kata Dewi atau Luna dan Terra seperti menyimak orang asing dengan bahasa asingnya. Tubuhnya ingin merespons dunia dengan cara lain—diam, waspada, mendengar.

Suatu malam, ketika Dewi melipat pakaian sambil menonton sinetron dengan volume terlalu keras, suara kucing berkelahi terdengar dari luar rumah. Tajam, melengking, penuh ancaman. Uyan yang duduk di lantai mendadak berhenti bergerak. Ada dorongan aneh dari tenggorokannya—bukan untuk bicara, melainkan untuk membalas dengan nada yang tepat. Ia menutup mulut, menahan diri, seperti orang yang hampir bersin di tempat ibadah.

“Kamu kenapa?” tanya Dewi tanpa menoleh.

“Gatal,” jawab Uyan cepat. “Perasaan.”

Tenggorokannya terasa panas, dan ketika ia menarik napas, yang keluar hanya bunyi serak, hampir mengeong. Dewi menoleh, menatapnya dengan curiga yang sudah sangat terlatih.

Di luar, suara kucing itu terdengar lagi, lebih dekat. Dada Uyan menghangat. Ia merasa nyaman dengan cara yang tidak masuk akal, seperti menemukan posisi duduk yang akhirnya pas. Tangannya refleks melengkung, kuku terasa lebih keras.

Ia menyadari sesuatu yang membuatnya takut sekaligus lega: perubahan itu tidak sakit. Tidak ada jeritan, tidak ada drama. Justru terasa sesuai.

Tidak ada yang berubah secara resmi. Tidak ada dokter. Tidak ada diagnosis. Tidak ada konflik rumah tangga besar. Dunia masih berjalan seperti biasa. Luna dan Terra masih sekolah. Dewi masih bekerja. Bandung masih macet di jam yang sama.

Tapi di bawah semua itu, Uyan sedang belajar bahasa baru tanpa guru. Bahasa bau. Bahasa suara. Bahasa jarak.

Pada suatu pagi, ketika matahari belum tinggi, Uyan terbangun dengan perasaan aneh: ia tahu siapa yang sudah lewat depan rumah. Bukan karena melihat, melainkan karena mencium sisa kehadiran yang tertinggal di udara.

Ia duduk di tepi ranjang, napasnya pelan. Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya kenapa. Ia hanya menerima bahwa.

Jika ini penyakit, pikirnya, ia terlalu sunyi untuk disebut penyakit. Jika ini hukuman, ia terlalu lembut untuk disebut hukuman.

Mungkin ini hanya dunia yang menemukan cara lain untuk menjelaskan kegagalan seorang lelaki—tanpa pidato, tanpa pengadilan, tanpa kata-kata.

Uyan berdiri, melangkah pelan ke ruang tamu, dan duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding. Ia menutup mata. Mendengarkan. Menghafal.

Di luar, seekor kucing oren melintas. Berhenti sejenak. Menoleh ke arah rumah. Seolah merasakan sesuatu yang berubah, tapi belum bisa dipastikan.

Uyan membuka mata.

Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat—bukan sebagai manusia, bukan sebagai ayah yang gagal dengan keputusan-keputusannya yang keliru, dan kadang konyol, melainkan sebagai makhluk yang sedang menuju sesuatu.

Dan di antara bau, refleks, mimpi, dan suara, tubuhnya melangkah lebih dulu, bersiap meninggalkan pikirannya untuk mengejar dari belakang.