Bab 8 Kucing Oren

Penulis Iman-ha
25 January 2026

Pagi datang seperti biasa. Jam dinding berdetak tanpa rasa bersalah. Cahaya matahari menyelinap melalui celah gorden, menyentuh lantai ruang tamu tempat Uyan biasa duduk.

Dewi bangun mendapati dirinya sendiri. Tidak ada Uyan di sampingnya. Mungkin suaminya telah bangun lebih dulu. Ia ke dapur, Uyan tidak ada. Meja yang menjadi tempat Uyan menatap layar ponsel masih kosong.

Dewi menyalakan kompor, memanaskan air. Rutinitas berjalan dengan ketepatan yang ia pelajari selama bertahun-tahun. Ia baru menyadari ada yang salah ketika ia memanggil nama Uyan dan tidak ada jawaban.

Ia mengira Uyan di sofa ruang tamu.

Luna keluar kamar sambil mengucek mata. Terra menyusul, rambutnya berantakan. Dewi menyiapkan sarapan, piring disusun seperti biasa. Satu piring tambahan diletakkan tanpa disadari, lalu dipandangi sebentar.

“Ayah belum bangun?” tanya Luna.

Dewi menggeleng. Ada perasaan janggal, tapi ia belum berani menamainya. Ia memeriksa kamar mandi. Lowong.

Sepatu Uyan masih ada. Tasnya juga. Tidak ada pesan. Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan yang bisa ditunjuk.

Anak-anak sarapan dalam diam yang canggung. Televisi menyala, menampilkan acara pagi yang terlalu ceria. Dewi menjawab pertanyaan Luna dengan kalimat pendek. Terra lebih banyak mengamati daripada bertanya.

Ketika mereka hendak berangkat sekolah, Terra lebih dulu berteriak, “Kucing!”

Ia berlari ke dapur. Ia tidak suka kucing. Sama seperti Dewi.

Dewi dan Luna tiba di ruang tamu. Di dekat jendela yang terbuka mereka menemukan pakaian yang semalam dikenakan Uyan, beberapa bulu kucing oren menempel di sana. Mereka saling pandang dan tidak mau menduga-duga.

Di atas keset teras seekor kucing oren meringkuk dengan kepala sedikit menengadah, terbangun karena teriakan Terra.

“Heeey, Oren. Namamu siapa? Sudah makan?” Luna memecah kebisuan, membungkuk di depan si Oren.

“Sebaiknya kau bergegas, Luna.”

“Boleh aku kasih makan dulu, Bu?”

“Tidak. Kau akan terlambat.”

“Boleh aku kasih nama dulu, Bu?”

Si Oren mengibas-ngibaskan ekornya. Dewi mendengus. Waspada.

“Namamu Durov. Ya, Durov, seperti grup di HP ayah. Cocok untukmu,” kata Luna.

Si Oren, yang kini bernama Durov, mengeong pelan. Mungkin setuju. Mungkin tidak peduli.

Tiba-tiba Terra datang membawa air dengan gayung.

“Terra jangan!” teriak Luna.

Tapi sudah terlambat. Terra keburu menyiramkan air itu ke tubuh Durov. Sebelum air itu mendarat Durov sudah meloncat ke gang. Di sana ia sempat berdiri dengan wajah terkejut dan menyesal yang ganjil. Matanya menatap tiga perempuan yang mengawasinya, seakan tak percaya.

Durov mundur. Ia hanya tahu satu hal dengan kejelasan yang tidak bisa diperdebatkan: rumah itu bukan lagi miliknya.

“Kenapa sih kamu? Suka banget menyiram kucing.”

Terra tertawa. “Aku mengikuti cara-cara Ibu.”

“Tidak boleh ada kucing di rumah ini,” kata Dewi.

“Tapi tidak harus disiram,” Luna memprotes, hampir menangis.

“Udah-udah. Sebentar lagi bel sekolah.”

Ketika anak-anak menghilang di jalan, Dewi masih berdiri di teras. Ia menatap jalan, Durov sudah lenyap. Ia berharap Uyan muncul dari sudut gang dengan wajah lelah dan alasan yang bisa diterima.

Tidak ada siapa-siapa.

Rumah terasa berbeda bukan karena kosong, tapi karena kehilangan pusat gravitasi. Benda-benda masih di tempatnya, tapi tidak tahu lagi untuk siapa ia ada.

Dewi membereskan pakaian Uyan di lantai, mengamatinya lama. Benaknya tak berhenti berpikir. Ia belum tahu bahwa beberapa pertanyaan tidak ingin dijawab terlalu cepat.

Menjelang siang, Dewi mencoba menelepon. Tidak aktif. Ia mengirim pesan. Tidak terkirim. Ia duduk di sofa, menatap layar ponsel yang tidak memberi apa pun selain pantulan wajahnya sendiri.

Ia tidak menangis. Belum. Ada mekanisme di dalam dirinya yang menunda perasaan sampai urusan praktis selesai.

Sore datang. Anak-anak pulang. Mereka bertanya. Dewi menjawab dengan kalimat yang tidak benar-benar bohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur.

“Ayah lagi pergi.”

Pergi ke mana, Dewi tidak tahu. Pergi menjadi apa, Dewi tidak bisa membayangkan.

Malam turun. Lampu dinyalakan. Piring dicuci. Rumah melakukan segala sesuatu yang biasa ia lakukan, kecuali satu: ia tidak menunggu Uyan pulang.

Malam itu Dewi benar-benar menangis, dalam diam.

Belakangan, Dewi baru menyadari bahwa tanda-tandanya selalu datang dalam bentuk yang terlalu kecil untuk dicurigai.

Uyan duduk di rumah tanpa melakukan apa pun yang jelas. Televisi menyala, tapi volumenya kecil. Ponsel sering dipegang, lalu diletakkan kembali, seolah layar itu terlalu terang untuk sesuatu yang ingin ia simpan sendiri.

Ia jarang mengeluh sakit. Justru itu yang aneh. Tubuhnya tampak baik-baik saja, tetapi geraknya melambat. Ia berjalan lebih sering tanpa tujuan, berhenti di depan jendela, membuka sedikit, lalu menutupnya lagi. Seperti lupa apa yang sebenarnya ingin ia cari dari udara luar.

Dewi memperhatikan caranya mencium bau. Bukan mencium bunga atau masakan, tapi hal-hal sepele: kain jemuran yang baru diangkat, sudut sofa, sepatu yang baru dilepas. Dewi sempat bercanda, bertanya apakah hidungnya bermasalah. Uyan tertawa singkat. Terlalu singkat untuk orang yang biasanya suka menimpali.

Ia mulai makan sedikit, tapi sering. Lebih suka sisa ikan goreng daripada lauk lain. Lebih sering duduk di lantai daripada di kursi. Ketika Dewi menyuruhnya duduk yang benar, ia menurut tanpa membantah, tapi tubuhnya terlihat canggung, seolah kursi itu bukan lagi tempat yang ia pahami.

Tidurnya berubah. Ia tidak mendengkur seperti biasa. Ia sering terbangun, duduk, lalu berbaring kembali tanpa suara. Dewi pernah terbangun dan mendapati Uyan menatap gelap, matanya terbuka, napasnya pelan. Bukan tatapan orang cemas. Lebih mirip orang yang sedang mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar oleh orang lain.

Uyan juga mulai jarang berbicara tentang masa depan. Dulu, walau rencananya sering meleset, ia selalu punya versi optimis untuk disampaikan. Kini, ketika Dewi bertanya soal bulan depan, ia hanya mengangguk. Ketika ditanya soal pekerjaan, ia menjawab singkat, sedang diusahakan.

Yang paling membuat Dewi gelisah justru hal yang tampak paling sepele: Uyan menjadi sangat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya gelisah oleh tagihan, oleh angka, oleh kemungkinan gagal. Ketika Dewi bertanya apakah ada masalah, ia menggeleng. Bukan menghindar, bukan berbohong. Menggeleng seperti orang yang sudah tidak lagi menganggap masalah sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan.

Dewi sempat berpikir mungkin ini dewasa. Mungkin ini fase pasrah. Mungkin ini tanda orang yang akhirnya berdamai dengan hidup yang tidak berjalan sesuai rencana.

Ia tidak pernah berpikir bahwa ketenangan itu adalah bentuk lain dari kepergian.

Ketika malam itu Uyan benar-benar tidak pulang, semua gejala itu kembali, satu per satu, seperti potongan kecil yang baru menemukan susunannya. Dewi duduk di lantai, menangis tanpa suara, bukan karena kehilangan, tapi karena sadar: ia sudah lama ditinggal, hanya belum diberi tahu bentuknya.

Di luar, si kucing Durov duduk di bawah lampu jalan. Ia menatap rumah itu dengan jarak yang tepat—cukup dekat untuk mengenali bau, cukup jauh untuk tidak disalahpahami.