Bab 9 Mengingat Uyan

Penulis Iman-ha
25 January 2026

“Ibu, bagaimana bisa bertemu ayah?”

Pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari Luna, seminggu setelah Uyan pergi—lebih tepatnya lenyap. Luna menunggu jawaban, Terra juga. Dewi menatap kedua putrinya.

Tiga perempuan itu duduk melingkari meja yang biasa, tanpa kehadiran Uyan.

Dewi menatap dua anaknya bergiliran, lelah. Ia sudah hampir yakin dengan penyebab Uyan pergi. Tapi ia pun tidak tinggal diam. Ia lelah telah mencari suaminya ke sana ke mari, menelepon bos hingga teman-temannya di perusahaan yang memecatnya. Bertanya kepada tetangga dan saudara. Jawaban mereka semua sudah bisa ditebak.

“Ibu,” kata Luna dan Terra, berbarengan.

Dewi kembali menatap anaknya. Berusaha tersenyum. Benaknya melayang jauh ke masa-masa awal mengenal Uyan.

Dewi dan Uyan jatuh cinta pada saat yang sama sekali tidak tepat, di tempat yang tidak pernah mereka rencanakan, dan dengan bekal hidup yang bahkan belum sempat mereka inventarisasi. Mereka masih kuliah di Bandung, di usia ketika kata 'nanti' terasa cukup untuk menggantikan kata 'siap'.

Pertemuan mereka tidak dramatis. Tidak ada hujan, tidak ada gitar akustik, tidak ada percakapan tentang mimpi besar. Mereka bertemu di antrean foto kopi yang bau mesinnya bercampur kertas basah dan keringat. Uyan salah mengambil map. Dewi mengoreksi. Uyan tertawa—terlalu keras untuk kesalahan sekecil itu—seolah dunia memang seharusnya memaafkannya.

Dewi tidak langsung tertarik. Ia hanya mencatat satu hal: lelaki ini tidak punya rasa malu ketika keliru. Sebuah sifat yang, di kemudian hari, akan terbukti sekaligus menyelamatkan dan menghancurkan.

Uyan punya bakat yang jarang dibahas di kurikulum mana pun: keyakinan penuh pada keputusan yang bahkan belum ia pahami. Ia bisa berbicara panjang lebar tentang hidup, masa depan, dan kebebasan finansial, dengan referensi yang setengah ia dengar dari obrolan warung kopi, setengah lagi dari potongan video motivasi berdurasi tiga puluh detik.

“Aku nggak mau hidup biasa-biasa aja,” katanya pada Dewi, suatu sore, sambil menghitung receh di saku celana.

Dewi mengangguk, bukan karena setuju, tapi karena tidak tahu definisi 'biasa-biasa aja' versi Uyan itu seperti apa.

Hubungan mereka bergerak cepat, bukan karena cinta yang mendesak, melainkan karena tidak ada rem. Dewi sebenarnya tidak kekurangan pilihan. Ada mahasiswa tingkat akhir yang sudah kerja sambilan di bank, ada pegawai leasing dengan motor baru, ada satu lelaki mapan yang sudah bisa bicara soal cicilan rumah. Semua lebih masuk akal.

Uyan datang tanpa apa-apa, kecuali keyakinan mentah bahwa hidup akan mengerti niat baik. Orang tuanya bilang, Uyan mendapatkanmu hanya bermodalkan alat reproduksi.

Kehamilan datang seperti catatan kaki yang tiba-tiba berubah menjadi judul utama.

Orang tua Dewi marah dengan cara yang rapi dan berjarak. Tidak ada bentakan. Hanya kalimat dingin, jeda panjang, dan keputusan yang tidak bisa ditawar. Pernikahan dipercepat. Dewi berhenti kuliah di semester akhir—bukan karena tidak mampu, tapi karena orang tuanya menolak membiayai anak yang “terlalu berani mengambil jalan sendiri”.

Uyan berjanji bertanggung jawab. Ia mengucapkannya dengan penuh percaya diri, seperti orang yang baru saja membeli tiket kereta tanpa tahu tujuan akhirnya.

Mereka menikah di ruangan sederhana. Kursi plastik berderet. Makanan seadanya. Uyan tersenyum seperti seseorang yang merasa baru saja melewati gerbang besar kehidupan. Dewi tersenyum tipis, lebih sebagai kebiasaan bertahan daripada kegembiraan.

“Hidup kita mulai sekarang,” kata Uyan.

Dewi menahan diri untuk tidak bertanya: mulai ke arah mana?

Setelah menikah, dunia tidak berubah menjadi lebih ramah. Ia tetap sama: keras, sempit, dan tidak peduli pada keyakinan.

Uyan menyelesaikan kuliahnya dengan susah payah. Ia beberapa kali hampir drop out, bukan karena bodoh, melainkan karena terlalu yakin bisa menyelesaikan semuanya nanti. 'Deadline' baginya adalah saran, bukan peringatan. Skripsinya hampir tidak selesai kalau bukan karena dosen pembimbing yang akhirnya menyerah lebih dulu.

Ia melamar pekerjaan ke mana-mana dengan CV yang dipenuhi kata “potensi”, “fleksibel”, dan “cepat belajar”—kata-kata yang terdengar hebat di kertas, tapi jarang diuji dalam kenyataan.

Akhirnya, ia diterima di sebuah perusahaan farmasi untuk mengerjakan tugas-tugas administrasi. Ia hanya bertahan dua tahun karena alasan yang cukup rumit. Perusahaan sedang kesulitan keuangan sehingga harus melakukan efisiensi.

Ada beberapa karyawan yang akan dirumahkan, Uyan tidak termasuk. Salah satu karyawan adalah teman dekat Uyan yang istrinya sedang mengandung anak ketiga. Uyan yang mudah kasihan dan percaya niat baik, mengajukan diri dirumahkan dengan syarat temannya tetap dipekerjakan. Bosnya heran, tapi setuju.

Dewi mendapat cerita itu hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada. Uyan menganggur dengan kepala tegak. Ia lalu sibuk mencari kerja ke sana-sini.

Ia kemudian diterima kerja di perusahaan distributor alat kesehatan, sampai kemudian dipecat karena, lagi-lagi, menolong teman yang kesusahan. Tadinya Uyang sangat bangga dengan pekerjaannya di bagian administrasi keuangan. Pekerjaan yang tidak benar-benar ia pahami, tapi cukup prestisius untuk diucapkan di depan mertua yang terang-ierangan memusuhinya.

Sejak awal menikah mereka mengontrak rumah kecil di Kiaracondong, kampung kota yang dilintasi rel kereta. Rumah itu tidak buruk, hanya terlalu jujur. Dindingnya tipis. Suaranya tembus. Masa depannya tidak disembunyikan.

Uyan menyebut fase ini sebagai 'batu loncatan' dari gerbong yang satu ke gerbong lainnya. Ia selalu menyukai metafora.

Setiap keputusan besar selalu ia bungkus dengan kata 'sementara'.

“Ini cuma sementara.”

“Nanti juga naik.”

“Nanti juga pindah.”

“Nanti kita ke gerbong eksekutif.”

Masalahnya, 'nanti' tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa tagihan.

Kekonyolan Uyan tidak datang dalam satu ledakan besar, melainkan dalam rangkaian keputusan kecil yang tampak masuk akal jika dilihat sekilas, tapi absurd jika dipikirkan ulang.

Suatu hari, ia memutuskan membeli ponsel baru—dengan cicilan—karena menurutnya “di era digital, alat kerja itu penting”. Pekerjaannya di administrasi keuangan sebenarnya lebih sering berurusan dengan kertas, kalkulator, dan komputer tapi Uyan yakin ponsel itu investasi.

Bulan berikutnya, ia membeli headset mahal karena “butuh fokus”. Dewi mencatat diam-diam: fokus pada apa?

Ia pernah mengikuti seminar motivasi berbayar yang diadakan di hotel, pulang dengan sertifikat, buku tipis, dan keyakinan baru bahwa ia “tinggal satu langkah lagi” menuju sukses. Langkah itu, sayangnya, selalu bergeser.

Ketika Luna lahir, Uyan merasa hidupnya mendapat makna baru. Ia berjanji akan menjadi ayah yang tidak setengah-setengah. Janji itu ia ucapkan sambil tetap mengambil lembur yang tidak dibayar, dengan alasan “pengalaman”.

Beberapa tahun kemudian, Terra lahir. Kali ini Uyan lebih yakin lagi bahwa hidup sedang mengarah ke sesuatu yang besar. Ia hanya belum tahu apa.

Ketika dunia kripto mulai ramai dibicarakan, Uyan merasa menemukan bahasa yang selama ini ia cari. Grafik hijau, cerita orang kaya mendadak, istilah-istilah asing yang terdengar ilmiah. Ia menonton video-video dengan judul bombastis: "Cara Keluar dari Kemiskinan Sebelum Usia 40", "Rahasia Orang Kaya yang Tidak Diajarkan di Sekolah", "Kiat Sukses Tanpa Mandi Keringat", dan "Paham Trading dalam 5 Menit", dan seterusnya dan seterusnya.

“Ini bukan judi,” katanya pada Dewi.

“Ini teknologi.”

Dewi tidak paham teknologinya, tapi ia paham pola: Uyan selalu jatuh cinta pada ide yang menjanjikan jalan pintas.

Ia mulai menyisihkan uang. Tidak banyak. Sedikit demi sedikit. Selalu dengan janji: uang dingin. Padahal hidup mereka sendiri tidak pernah benar-benar hangat.

Kekonyolan berikutnya datang dalam bentuk keyakinan buta. Ketika satu koin naik, Uyan merasa jenius. Ketika turun, ia merasa sabar. Dua-duanya berbahaya.

Saat Terra Luna—bukan anak-anaknya—naik, Uyan seperti menemukan pembenaran kosmis.

“Lihat,” katanya, menunjukkan layar ponsel. “Namanya Luna. Kayak anak kita.”

Ia tertawa, seolah semesta sedang berkedip padanya. Dewi tidak ikut tertawa. Ia melihat angka, bukan tanda.

Ia menamai anak keduanya Terra dengan keyakinan serupa. Dunia, menurut Uyan, sedang memberi kode. Bahwa hidup mereka, yang selama ini berjalan tanpa rencana, ternyata menuju sesuatu yang besar.

Ia tidak pernah melihat ke bawah grafik. Ia hanya menatap ke atas.

Ketika koin Terra Luna jatuh—cepat, brutal, tanpa belas kasihan—Uyan tidak langsung panik. Ia menyebutnya koreksi. Ia menyebutnya ujian mental. Ia menyebutnya kesempatan beli murah.

Dewi menyebutnya: uang sekolah.

Pertengkaran mereka tidak pernah dramatis. Tidak ada piring pecah. Tidak ada teriakan panjang. Hanya kalimat pendek yang diulang seperti mantra yang kehilangan kekuatan.

“Kamu harus realistis.”

“Aku lagi usaha.”

“Usaha nggak cukup.”

“Kalau nggak berani, kita gini-gini terus.”

Uyan selalu berbicara tentang masa depan. Dewi hidup di masa kini, tempat kontrakan harus dibayar dan beras tidak bisa ditunda.

Di kampung kota Kiaracondong, kegagalan jarang datang sebagai tragedi besar. Ia datang sebagai kelelahan yang menumpuk. Dan Uyan, tanpa sadar, adalah kolektor kelelahan.

Ia tidak jahat. Ia tidak malas. Ia hanya terlalu percaya bahwa niat baik cukup untuk menutup celah perhitungan.

Dan ketika ia akhirnya menghilang—bukan sebagai lelaki utuh, tapi sebagai sesuatu yang tercerai—Dewi menyadari ironi paling pahit: Uyan selalu ingin hidup lebih baik dengan niat baiknya. Ia hanya tidak pernah belajar bagaimana caranya berhenti percaya terlalu cepat.

Mendengar cerita itu, Terra yang ceplas-ceplos langsung berkata:

“Aku tidak mau seperti Ayah.”

Luna yang lebih menahan diri, hanya menatap ibunya dengan perasaan iba.