Romansa #Adult romance

Bertemu Leo

25 January 2026

Langit senja menggantung rendah ketika Arema melangkah keluar rumah.

Angin kampung yang lembut menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah dan daun pisang yang basah oleh embun sore.

Sudah lama ia tidak berjalan santai di jalan kecil dekat rumahnya seperti ini.

Taman kecil di ujung gang masih sama, bangku semen setengah retak, ayunan besi yang catnya mulai mengelupas, dan pohon flamboyan besar yang akarnya menonjol di tanah.

Tempat itu dulu jadi saksi masa kecilnya. Arema duduk di bangku paling ujung. Ia menarik napas panjang, mencoba mengosongkan kepala yang beberapa minggu terakhir penuh sesak oleh urusan Rino, Vheronika, pekerjaan baru, dan hidup yang berubah terlalu cepat.

"Rema, ya?"

Suara itu membuat jantungnya melonjak. Arema menoleh.

Seorang pemuda berdiri beberapa langkah darinya. Kulitnya kuning langsat, tubuhnya lebih tinggi dari yang ia ingat, rahangnya tegas, rambutnya dipotong rapi.

Kaos hitam polos dan celana jeans membuatnya terlihat sederhana tapi bersih dan dewasa.

Butuh beberapa detik sebelum ingatan Arema menyambung. "Leo?"

Pemuda itu tersenyum lebar. Senyum yang sama seperti dulu, hangat, tulus, dan sedikit canggung.

"Iya. Kirain kamu udah lupa."

Arema berdiri refleks. "Ya ampun, kamu berubah banget! Makin tinggi, makin beda."

Leo terkekeh pelan. "Beda gimana nih maksudnya?"

Arema ikut tertawa kecil. "Dulu kurus kering kayak lidi, sekarang ya lumayan lah ada isinya, hehe."

"Wah, langsung body shaming," goda Leo.

Mereka akhirnya duduk berdampingan di bangku itu, dengan jarak sopan di antara mereka.

Hening sebentar, tapi bukan hening canggung, lebih ke hening yang penuh kenangan.

"Kamu apa kabar?" tanya Leo lembut.

"Baik," jawab Arema. "Kamu juga kok kayak gak pernah kelihatan. Tante sama Om gimana?"

"Baik. Aku baru pulang dari Taiwan," kata Leo.

Arema langsung menoleh cepat. "Wah TKI ya, hehe."

Leo tersipu, menggaruk belakang lehernya. "Iya nih, cari kerja yang gaji gede. Jadi aku ke luar negeri, kerja di pabrik besi."

"Berapa lama di sana?"

"Hampir tiga tahun."

Mata Arema membulat. "Lama banget! Kamu kuat?"

Leo mengangkat bahu. "Awal-awal berat. Bahasa susah, kerjaan kasar, dingin banget. Tapi lama-lama ya kebiasa. Yang penting tiap bulan bisa kirim uang ke rumah."

Arema menatap Leo dengan sudut pandang baru. Dulu Leo cuma anak kampung yang suka main layangan bareng dia. Sekarang, ada aura tanggung jawab yang berbeda dari dirinya.

"Keren sih kamu," ucap Arema pelan. "Nggak semua orang berani merantau sejauh itu."

Leo tersenyum kecil. "Terpaksa berani. Waktu itu Bapak sakit, biaya berobat mahal. Aku gak tega lihat Ibu pinjam sana-sini."

Hati Arema terenyuh. "Sekarang Bapak kamu gimana?"

"Udah mendingan. Makanya aku pulang. Kontrak selesai juga. Mau coba kerja di sini dulu, deket orang tua."

Mereka terdiam lagi. Angin sore meniup pelan rambut Arema yang tergerai.

"Kamu sendiri gimana, Rem?" tanya Leo hati-hati. "Dulu kan kamu jualan martabak sama orang tua."

Arema tersenyum tipis. "Masih bisa bikin martabak kok. Tapi sekarang aku kerja di kota."

"Kerja apa?"

"Awalnya di toko baju. Sekarang, kerja di perusahaan."

Leo menoleh penuh minat. "Serius? Jadi apa?"

Arema ragu sepersekian detik. Entah kenapa, menceritakan hidup barunya terasa aneh. Tapi melihat mata Leo yang tulus, ia merasa aman.

"Jadi asisten pribadi direktur," jawabnya pelan.

Leo terdiam sesaat, lalu terkekeh kagum. "Gila, keren banget. Dari anak tukang martabak jadi kerja di perusahaan besar."

Arema tertawa kecil. "Hidup kadang aneh ya. Aku juga gak nyangka."

Leo memandang wajah Arema lebih lama dari sebelumnya. "Tapi kamu keliatan capek."

Kalimat itu membuat senyum Arema memudar sedikit.

"Capek?" ia mencoba bercanda.

Leo mengangguk pelan. "Bukan capek fisik. Capek di mata kamu."

Arema terdiam. Entah kenapa, dadanya terasa hangat sekaligus perih.

Sudah lama tidak ada yang benar-benar melihatnya seperti itu, bukan sebagai mantan pacar Rino, bukan sebagai cewek yang diselingkuhi, bukan sebagai karyawan baru. Tapi sebagai dirinya.

"Aku cuma lagi banyak pikiran," ucapnya jujur.

Leo mengangguk pelan. "Kalau mau cerita, aku dengerin. Dulu juga kamu yang sering dengerin aku ngeluh gara-gara dimarahin guru."

Arema tersenyum mengingat masa itu. "Iya, kamu dulu cengeng banget hihihi."

"Eh!" Leo pura-pura protes. "Itu namanya sensitif tau."

Mereka tertawa bersamaan. Tawa yang ringan, tidak dibuat-buat.

Setelah tawa reda, Arema menatap langit yang mulai gelap.

"Leo, menurut kamu, orang bisa berubah gak?"

Leo berpikir sebentar. "Bisa. Tapi gak semua berubah jadi lebih baik."

Arema menelan ludah. "Kalau orang yang pernah nyakitin kita, selalu muncul, kayak ganggu gitu, harus gimana?"

Leo tidak langsung menjawab. Ia menatap tanah, lalu kembali menatap Arema.

"Kalau lukanya masih sakit tiap diingat, jangan dibuka lagi," katanya pelan. "Nanti berdarah lagi."

Kata-kata itu sederhana, tapi menghantam tepat di hati Arema.

"Aku dulu pernah suka sama kamu, Ma."

Arema menoleh kaget. "Hah?"

Leo tertawa kecil, tapi pipinya memerah. "Waktu SMP. Kamu nggak tau kan?"

Arema menggeleng pelan, masih terkejut.

"Iya, tapi kamu waktu itu udah deket sama Rino. Jadi ya aku diem aja. Lagian aku juga minder, cuma anak tukang kayu."

Nama itu membuat dada Arema sesak, tapi kali ini tidak sekuat dulu.

"Sekarang?" tanya Arema pelan, entah kenapa.

Leo menatapnya lama. Tidak menggoda, tidak memaksa. Hanya jujur.

"Sekarang aku cuma seneng bisa ketemu kamu lagi. Itu aja."

Jantung Arema berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang berbeda dari Leo, bukan cinta yang membara, tapi rasa aman yang perlahan menyusup.

"Em, ngomong-ngomong ... apa kamu masih sama Rino?"

Deg!

Pertanyaan itu membuat jantung Arema berdetak, ia bingung harus menjawab apa. Ia juga malu kalau Leo sampai tahu dirinya ditinggal nikah.

Bertepatan dengan itu, dari kejauhan, suara azan magrib mulai terdengar.

"Udah magrib," kata Leo. "Aku anter kamu pulang yuk. Kamu boleh jawab besok kok."

"Rumah cuma di ujung situ," kata Arema merasa lega.

"Gak papa," kata Leo.

"Ya udah deh." Arema pasrah.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan kecil yang mulai gelap. Lampu-lampu rumah satu per satu menyala.

Di depan rumah, Leo berhenti. "Rema."

"Iya?" Arema menatap Leo.

“Apapun yang lagi kamu hadapin, kamu gak sendirian lagi. Minimal sekarang kamu punya teman cerita," ujar Leo seolah dapat membaca apa yang Arema rasakan.

Mata Arema terasa hangat. "Makasih, Leo."

Leo tersenyum. "Besok kalau kamu masih di rumah, aku mampir lagi ya."

Arema mengangguk. "Iya."

Leo pun melangkah pergi, siluetnya perlahan menghilang di tikungan jalan.

Arema berdiri beberapa detik di depan rumahnya, memandangi arah kepergian Leo. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya tidak terasa seberat biasanya.